
"Ehem," papanya Karin berdehem, lalu menarik piring. "Yu kita makan? keburu dingin nih."
Samudra menoleh lalu mengangguk. "Oh iya, Om."
"Mama harap kamu pikirkan lagi soal kesiapan menikah, jangan sampai kau menyesal," ujar Bu Katrin, matanya tertuju pada Karin yang terdiam.
"Tapi, Mama. Aku ingin berkarier dulu, ngerti dong." Karin kesal.
"Berkarier bisa setelah menikah, yang penting kamu ingat dan pandai membagi waktu. itu saja." Timpal Bu Katrin kembali.
"Gak bisa Mama. Gak bisa begitu," ketus Karin.
"Sudah-sudah, gak baik berdebat di depan makanan. Lain kali saja debatnya setelah makan." Pak Rudi menengahi.
"Mama nih," Karin mendelik pada mamanya.
"Sudah, kata mama emang benar! sudah, makan saja dulu." Kata papanya Karin menunjuk makanan.
Kemudian mereka menyantap makan malam yang Samudra buat. Karin, biarpun merasa kesal dan hatinya berasa gendok. Namu karena perutnya sudah sedari tadi lapar, akhirnya menikmati dan memuji kekasihnya itu. Samudra yang bukan cuma tampan, pintar. Pandai juga memasak.
Samudra hanya mengangguk dan tersipu malu mendapat pujian dari sang kekasih di hadapan calon mertua.
"Karin benar, kau bukan cuma tampan. Pinter, namun juga pandai memasak atau memanjakan lidah keluarga." Sambung pak Rudi sambil mengacungkan jempolnya.
"Akh, jadi malu, biasa saja kok!" Samudra jadi salah tingkah dibuatnya.
"Benerkan sayang, papa juga setuju sama pendapatku." Karin tersenyum ke arah Samudra.
Samudra menggaruk tengkuknya. "Sudahlah sayang, jangan buat aku mati kutu di sini."
Selesai makan, Samudra langsung berpamitan. Hatinya sudah ingin pulang teringat di apartemen hanya ada Rasya dan Ubai, mereka berdua saja di sana.
"Kenapa gak menginap aja sih sayang ... masih kangen nih," ucap Karin sembari merangkul pundak Samudra di tatapnya lekat.
"Lain kali kita bisa bertemu lagi, yang ... aku pulang saja." Balas Samudra.
"Hem ... sayang dulu?" Karin menunjuk kedua pipinya.
Samudra pun mengecup mesra pipi Karin kanan dan kiri. "Sampai jumpa lagi sayang!"
"Dah ..." ucap Karin sambil melambaikan tangannya.
Kini Samudra sudah berada di dalam mobilnya jaguar xf itu, kemudian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Namun ketika melihat ponselnya yang tergeletak di samping. Ada keinginan buat membeli yang baru, dan mobil yang sudah menuju jalan ke apartemen, putar balik dengan tujuan mencari konter ponsel ternama.
Kini Samudra sedang berjalan di sebuah Mall dan memasuki sebuah konter ponsel terkenal. Dengan kualitas yang tentunya sangat bagus.
"Selamat malam, Tuan? ada yang bisa kamu bantu?" sambut beberapa orang pelayan di sana dengan ramahnya.
__ADS_1
"Malam juga. Saya mencari ponsel buat seorang gadis, tentunya yang kualitas bagus, sebab gadis ini ... orangnya sembrono gitu!" mata Samudra bergerak mencari barang-barang yang berjejer rapi.
"Baik, Tuan. Dan ... mungkin seperti ini yang anda maksudkan." Seorang pelayan konter menyodorkan sebuah ponsel dengan kualitas bagus. Berwarna pic.
Samudra memperhatikan dengan seksama. "Cocok kah buat perempuan?" seraya menoleh kearah pelayan yang terus memandangi ke arah Samudra yang tampan tersebut.
"Oh, ini sangat cocok buat perempuan, Tuan." Jawabnya wanita tersebut dengan ramah.
"Baiklah. Berapa harganya?" tanya Samudra kembali sambil memandangi ponsel yang hendak ia beli.
"Yang ini harganya ... 10.5 juta Tuan. Dan ini termasuk murah serta kualitas bagus." Sang pelayan memberikan harga dan memberi keunggulan barang jualannya.
"Saya ambil! sekalian dengan kartu kard nya?" kemudian Samudra langsung mengeluarkan kartu debitnya.
"Terima kasih sudah berbelanja di tempat kami?" para pelayan membungkuk hormat.
Setelah pembayaran selesai. Samudra pulang dengan membawa ponsel baru. Berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari depan Mall tersebut.
Mobil Samudra terus melaju dengan kecepatan tinggi, dengan tujuan biar cepat sampai tujuan.
Setibanya di apartemen. Samudra bergegas memasuki unitnya. Dengan menjinjing paper bag. Pas membuka pintu sudah ada Ubai berdiri di depan pintu tersebut, Samudra sedikit menarik tangannya ke lakang.
Ubai berdiri di depan pintu, dengan niat mau pulang. Bertemu dengan Samudra yang menatap tajam ke arahnya.
"Kau, baru mau pulang?" tanya Samudra sambil menaikan alisnya sebelah.
"Tadinya bukan mau pulang, Bos. Mau cari angin aja, tapi sebab kau sudah pulang. Aku juga mau pulang." Ubai nyengir.
Ubai melanjutkan langkahnya. Untuk pulang, kebetulan waktu pun sudah larut malam.
Samudra memutar kepalanya melihat kepergian Ubai, kemudian barulah ngeloyor ke dalam dengan tangan kanan dimasukan ke saku. Yang satunya memegang paper bag.
Ubai malah berbalik dan berkata. "Besok mau ku jemput? atau mau pergi sendiri ke kantornya? tanya Ubai menatap Samudra yang langsung berbalik.
"Mau jemput boleh, mau nggak juga terserah! sama saja kok." Jawab Samudra sambil kembali berjalan.
Ubai memajukan langkah kakinya menuju pintu dan masuk kembali. Mengikuti Samudra, urungkan sementara waktu niatnya tuk pulang.
Rasya yang sedang menonton televisi. Menoleh kepada Samudra yang baru datang itu, lalu menatap yang pemuda itu bawa.
"Tuan, sudah pulang?" sapa Rasya dengan ramah.
"Belum, masih di jalan," sahutnya Samudra dingin.
"Masih di jalan, kok ada di sini? apa ... Tuan ada dua?" Rasya bertanya lagi sembari mengerutkan keningnya.
"Jangan di dengarkan Nona, Dia lagi mabuk cinta. Oke, saya pulang dulu? sudah malam" pamit Ubai lagi yang berdiri di dekat pintu.
Samudra menoleh. "Pergilah? kenapa masih berdiri di sana?" dengan nada agak ketus.
__ADS_1
"He he he ..." Ubai nyengir lalu pergi, keluar dari unit tersebut. Tidak lupa menutup pintu tersebut.
Samudra yang masih berdiri tidak jauh dari Rasya. Duduk lalu menyimpan yang dia bawa.
"Apa itu? Tuan," tanya Rasya sambil mengarahkan pandangan ke barang tersebut.
"Apa kau tau handphone? tidak tahu?" Samudra malah balik bertanya pada Rasya.
"Handphone. Tau. Cuman gak tahu cara menggunakannya!" jawab Rasya polos sambil menajamkan pandangan nya pada paper bag,
"Apa? gak bisa menggunakannya? masa sih?" Samudra merasa heran. "Masa Segede gini gak tahu menggunakan ponsel?"
"Kalau handphone kecil sih, pernah pegang. Tapi kalau handphone besar seperti itu gak pernah," ucap Rasya sambil menggeleng.
"Kau bisa baca kan?" tanya lagi Samudra sambil mengaktifkan handphone tersebut.
"Akh, Tuan. Masa aku gak bisa baca? yang bener saja. Bisa dong." Jawab Rasya sambil nyengir.
"Ya sudah, nih pakai. Biar kalau saya lagi di luar dan ingin menyuruh mu kan gampang." Samudra memberikan handphone tersebut pada Rasya.
Rasya menerimanya walaupun ragu. "Cara pakainya gimana ini?" Netra nya menatapi benda pipih di tangannya itu.
"Belajar dari sekarang!" kata Samudra sambil mengambil handphone pribadinya.
Samudra memanggil nomor baru, yaitu nomor handphone nya Rasya.
Handphone yang di tangan Rasya berbunyi+bergetar. Membuat Rasya terkejut dan langsung memberikannya pada Samudra.
"Ini, Tuan. Ponselnya bergetar." Rasya menyimpannya ponselnya itu di pangkuan Samudra. Hatinya dag-dig-dug dig-dug.
"Ck, ngapain diberikan padaku? angkat?" suruh Samudra sambil menyodorkan kembali pada Rasya.
Rasya ambil dan mengangkat handphone nya tinggi-tinggi.
"Haduh, dasar gadis bodoh!Samudra menggeleng melihat kelakuan Rasya.
Rasya duduk sambil mengomel. "Tadi katanya di angkat? sekarang salah."
"Bukan di angkat gitu maksudnya ..." Samudra memekik yang tertahan. "Gini nih. Panggilan yang sedang berlangsung ini. Kau sentuh ikon yang ijo ini, dan untuk menutup yang warna merah."
Samudra Mengajarkan Rasya cara memakai handphone canggih tersebut.
Lantas Samudra melihat jarum jam. Lalu beranjak duluan. "Sudah malam. Baiknya kau tidur! bawa barangnya dan dus nya kau buang. Selebihnya belajar sendiri! bisa baca ini!"
Samudra entah berkata apa lagi sambil berjalan. Yang jelas ngedumel gitu yang tidak Rasya dengar.
Rasya membereskan dus dan kantongnya. Dengan hati masih belum percaya dapat ponsel seperti ini dari Samudra, si tuan jutek tersebut memberikan benda pipih itu padanya. Kemudian Rasya membawanya ke kamar.
"Benarkah, ini untuk ku?" gumamnya Rasya setelah berada di dalam kamar.
__ADS_1
Mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur yang luas tersebut. Memandangi ponsel di tangan.
Sebelum tidur, Rasya terus belajar dan bermain ponsel sampai tidak terasa kantuk pun menyerang. Sehingga Rasya ketiduran sambil telungkup tanpa selimut ....