Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 85 Gak ijinkan


__ADS_3

"Kau tahu, kalau sekarang ini ku sedang jatuh cinta?" Ubai menyunggingkan bibirnya. "Aku sedang jatuh cinta sama seseorang."


Sambil berjalan. Samudra melirik dingin. "Sama siapa?"


"Ada deh ... yang jelas dia wanita yang sederhana dan tidak banyak tingkah. Sebab dia orang biasa." Ubai mendahulukan langkahnya dari Samudra.


Sejenak Samudra terdiam menatap langkah Ubai sambil berpikir siapa wanita yang Ubai maksudkan itu. Jangan-jangan Rasya lagi? Samudra menggelengkan kepalanya, membuang pikiran yang bukan-bukan.


Waktu terus berputar. Suasana pun dari pagi berganti siang lalu beranjak berganti lagi malam. Seharian ini yang dilakukan Rasya hanya di apartemen Berkutat dengan kerjaan rumah dan dapur.


Mau main ke rumah pak RT. Takut di marahi Samudra, dan akhirnya Rasya tidak kemana-mana selain ngurus unit yang ia tinggali saat ini.


Saat ini Rasya tengah menonton televisi sehabis makan malam sendirian. Di depannya kap eskrim yang baru ia makan setengahnya.


Ningnong ....


Ningnong ....


Kepala Rasya memutar, menoleh ke arah suara. Belum juga beranjak, pintu sudah terbuka dan muncullah Samudra dengan penampilannya yang lusuh.


Rasya celingukan. "Tuan Ubai mana?"


"Tidak ke sini! kenapa? kangen ya?" ketus Samudra mendadak panas telinganya mendengar Rasya menanyakan Ubai.


"Emang, kalau iya kenapa?" Rasya tak kalah ketus.


"Cinta ya sama dia?" Samudra menyerahkan jas nya pada Rasya lalu mendudukkan dirinya di sofa tidak jauh dari Rasya.


"Em ... mau aku siapkan makan gak? sebelum tidur nih, nanti pas aku mau tidur nyuruh ini itu, mending sekarang aja." Tawar Rasya sambil memeluk jas Samudra.


Samudra yang menyandarkan kepalanya ke belakang sofa. Bergerak menoleh. "Nggak, sudah makan dengan kekasih ku!"


Hening!


Rasya terdiam sambil menatap dalam ke arah Samudra. Samudra sendiri menatap ke arah Rasya yang terdiam lalu menunduk melihat lantai.

__ADS_1


"Siapkan air hangat buat ku mandi? di bathub," perintah Samudra dengan nada dingin.


Tanpa menjawab. Rasya ngeloyor pergi menuju kamar Samudra. Malas untuk bicara juga.


Setelah Rasya masuk, Samudra pun beranjak dari duduknya mengikuti Rasya sambil jalan membuka kancing kemeja nya.


Masuk kamar, kosong. Dia membuka semua kecuali celana pendeknya. Ia biarkan tergelatak di lantai.


Rasya keluar dari kamar mandi, melihat pakaian berserakan. Rasya bengong, lalu memungutnya satu persatu. "Bisa gak sih? di simpan ke tempatnya? atau di atas kursi gitu? bukannya berceceran di lantai."


"Kan, kamu ada! kecuali kau tidak ada. Baru ku simpan di tempatnya." Samudra membawa langkahnya ke kamar mandi.


"Iih, dasar. Aku besok mau ke rumah pak RT ya? pastinya setelah kerjaan ku di sini selesai." Rasya menatap punggung Samudra yang melintasi pintu sampai menghilang.


Namun detik kemudian Samudra kembali mendekati pintu melihat ke arahnya.


"Jangan, diam saja di rumah. Saya gak ijinkan kau pergi tanpa saya sekalipun dengan Ubai kecuali saya yang suruh."Jelas Samudra.


Rasya heran. "Kenapa? anda bebas pergi-pergi, kenapa aku tidak boleh?"


"Aish ... dianya bebas pergi sama kekasih nya, aku main gak boleh padahal aku pasti bereskan dulu pekerjaan rumah kok. Baru main." Gerutu Rasya sambil menyiapkan pakaian ganti Samudra.


Setelah itu, Rasya langsung mematikan televisi lalu mengayunkan langkah nya ke kamar untuk tidur. "Huam ... ngantuk ah."


Clik! pintu di kunci. Sesaat Rasya sudah berada di atas tempat tidur, menarik selimutnya lalu berbaring. Bibir komat-kamit membaca doa memejamkan kedua kelopak matanya, merehat kan setiap anggota tubuhnya.


Samudra keluar dari kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya berendam di bathub, dengan handuk di pinggang. Samudra duduk di tepi tempat tidur. Melamun sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangan.


"Wajarkah. Bila ku menunaikan kewajiban ku pada Rasya? bagaimana pun dia istri ku! sia-sia amat ya bila ku biarkan dia begitu saja?" gumamnya Samudra dan pada akhirnya menggaruk kepala yang tidak gatal itu.


Samudra terkadang sekarang suka merasa bingung. Mau nahan kadang merasa gak kuat, gak di tahan gengsi, lagian gak cinta. Nanti kalau dia hamil gimana? jelas-jelas dia mau menikah dengan kekasihnya.


Walaupun dia mau menikah dengan sang kekasih. Tetapi dia belum ada niat untuk melepaskannya gadis itu, niatnya kalau nanti Samudra sudah menikah pun dia tetap pasti membutuhkan Rasya sewaktu-waktu untuk melayaninya.


Dikala Karin sedang tidak ada nanti, Samudra tidak kehilangan seseorang yang siap menemani dan melayaninya dengan tanda kutip menyiapkan segala keperluannya.

__ADS_1


Samudra beranjak melirik pakaian yang sudah siap, namun seperti biasa yang dia pakai cuma bawahannya aja. Lantas duduk di tempat tidur sambil membuka laptop di pangkuannya.


Netra nya fokus ke layar. Jari-jarinya sibuk pula di papan keyboard. Merasa haus dan bersiap untuk memekik memanggil Rasya, namun melihat jam sudah menunjukan pukul 22.30.


"Gadis itu dah tidur kali." Samudra menutup laptopnya dan menjinjing nya keluar.


Setelah mengambil minum yang langsung di teguk nya. Samudra melangkahkan kakinya mendekati kamar Rasya yang ketika di dorong terkunci dari dalam.


"Tumben di kunci?" Samudra menarik dan mendorong tetap terkunci.


Tidak lama kemudian pintu itu terbuka juga. Kretttt ... tampak sinar lampu yang temaram dan di atas tempat tidur meringkuk Rasya di bawah selimut tebalnya.


Sejenak Samudra berdiri di depan pintu, namun lama-lama dia masuk juga. Setelah menutup kembali pintunya, berjalan mendekati tempat tidur itu.


"Kau mau melakukan apapun, itu wajar. Dia istri mu! mau menunaikan kewajiban mu pun sudah sepantasnya kok--"


"Jangan, gengsi dong ... dengan omongan mu sendiri. Katanya gak lepel, bukan tipe. Nggak cinta ... gak akan pernah menyentuh barang sedikitpun."


Tangan Samudra bergerak mengarah ke wajah Rasya, untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipinya.


"Sentuh-sentuh saja. Dia hak mu, mau nunggu apa lagi? jangan suka menyia-nyiakan kesempatan emas ini sam?"


"Jangan. Kau itu akan menikahi kekasih mu, nanti kamu tidak perjaka lagi kalau melakukannya dengan gadis kampung ini. Nanti kamu kurang geregetan, kurang sensasinya bila melakukan dengan wanita negeri nanti."


"Ck," Samudra menarik tangannya dari pipi Rasya lalu duduk di sampingnya sambil menatap lekat yang sedang pulas itu.


Perlahan Samudra berbaring di belakang Rasya, setelah menyimpan laptop di atas nakas. Dengan memeluk guling lantas Samudra memejamkan kedua netra nya, yang penting ada hawa-hawanya Rasya, Samudra merasa nyaman dan bisa tidur nyenyak.


Malam yang semakin dingin. Menjadikan Samudra yang tanpa selimut itu merasa kedinginan, lantas, tanpa membuka kedua matanya, tangan Samudra mencari penghangat tubuhnya.


Tubuhnya Samudra mendekati tubuh Rasya yang selimutan, kemudian memeluknya dari belakang dengan erat ....


.


.

__ADS_1


Jangan lupa bintang nya ya? like komen dan vote nya🙏


__ADS_2