Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 168 Sunset


__ADS_3

Saat ini Rasya sedang menikmati sunset di balkon sendirian, melihat betapa indahnya langit yang berwarna merah tersebut. Rasya begitu mengagumi pemandangan itu dan membuat hati terasa damai dan tentram. Dalam hati tak berhenti bersyukur betapa besar dan agung ciptaannya.


Tiba-tiba dari belakang ada yang memeluk tubuh Rasya dan meletakkan dagunya di pundak. Pelukannya begitu erat di tubuh Rasya dan begitu terasa hembusan nafas dari orang yang memeluknya itu.


"Sedang apa kau di sini? dari tadi aku mencari mu?" suaranya tepat di samping telinga Rasya.


"Aku sedang menikmati sunset, coba lihat langit begitu indah. Senja yang merah membuat nyaman dipandang mata masyaallah indahnya." Gumamnya Rasya sambil memegang tangan Samudra yang melingkar di perutnya.


"Aku kira kau di taman, makanya aku cari ke sana. Tetapi rupanya kau di sini!" Samudra mengeratkan pelukannya, sesaat mereka menikmati sunset sambil pelukan.


Lalu Samudra melepaskan pelukannya, duduk di sofa panjang yang ada di sana.


"Emangnya kenapa mencari ku?" tanya Rasya sembari melihat ke arah Samudra.


"Emangnya nggak boleh mencari mu?" ketusnya Samudra sembari menyandarkan punggungnya di bawah kursi tersebut.


Kemudian Rasya menghampiri Samudra, lantas duduk atas paha pria itu. "Aku tanya, alasannya apa mencari ku? susah amat jawabnya."


"Nggak ada alasan apapun, aku hanya ingin mencari mu saja." Jawabnya samudra dengan nada dingin, namun tangannya memainkan rambutnya yang bergelombang milik Rasya.


"Aish ... gak ada alasan sama sekali? Oya tuan muda. Apa kau ingin aku buatkan minum atau kue?" Rasya melirik pada pria itu yang masih betah berbaring menatap punggung nya serta tangan sesekali mengusapnya.


"Bisa nggak jangan panggil aku Tuan lagi? Sudah jelas-jelas aku jadi suamimu!" protesnya Samudra.


"Emangnya aku harus panggil apa?" Rasya mengerutkan keningnya.


"Panggil apa saja boleh, mau nama. Sayang, baby apa aja lah, asal jangan tuan muda! emangnya kau masih asisten saya?" sambungnya Samudra.


"Apa ya aku kan sudah terbiasa memanggil mu tuan muda!" Rasya kebingungan harus memanggil Samudra dengan sebutan apa?


"Eh, lihat pipi mu menjadi berwarna merah begini? kena sinar matahari senja," suara Samudra pelan sembari mengelus pipi Rasya yang terlihat merah akibat pantulan sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam itu.


"Bukan merah, tapi karena pantulan sinar matahari yang sebentar lagi akan tenggelam," jawabnya Rasya, pandangannya mengarah ke arah sunset.


"Untuk, bulan madu kita ... kau mau ke mana?" tawar Samudra sambil membangunkan dirinya duduk dengan tegak dan tangannya merangkul pinggang Rasya yang berada di atas pahanya itu.


Kedua manik mata Rasya berbinar, tampak bahagia biarpun memberi tawarin bulan madu ke mana. "Terserah kau mau mengajakku ke mana? emang kamu mau ngajak aku ke mana?" kini Rasya menatap lekat ke arah wajah Samudra.


"Kalau ke Bali gimana mau nggak?" tanya Samudra sembari menempelkan hidungnya di pipi Raisya.


Mendapat hembusan nafas dari Samudra, membuat bulu kuduk Rasya meremang seraya berkata. "Terserah kau saja, aku tidak tahu apa-apa."


"Kira-kira nanti kau happy nggak di sana? kalau kau gak happy buat apa juga? sebab bukan cuman aku aja yang harus bahagia kau juga harus bahagia di sana." Jawabnya Samudra sembari mengecup singkat bibir Rasya 6ang menatap lekat.


"Aku kan nggak tahu kondisi di sana gimana? emang seperti apa sih?" tanya Rasya penasaran.


"Nanti aku tunjukkan gambarnya, keadaan di sana. Gimana lautnya dan pasir putihnya. Ada pantai yang terbentang luas, salah satu yang ingin aku kunjungi yaitu ... pantai Tegal wengi." Kenang Samudra.

__ADS_1


"Pantai, iih ... mau. Aku mau ke sana." Timpalnya Rasya mendadak jadi pengen ke sana.


"Ya sudah, kita nanti ke sana saja kalau kau mau," ucap ya Samudra sambil menatap lekat.


Keduanya saling bersi tatap penuh kemesraan, seakan saling menyelami perasaan masing-masing. Tangan Samudra bergerak mengarah bergerak mengangkat dagu Rasya dan mendekatkan bibir mereka berdua.


Di bawah sinarnya sunset yang berwarna merah ke kuning-kuningan, keduanya saling memadu kasih.


"Eeh, kalian sedang apa, bentar lagi mau Maghrib. Bukannya masuk malah asik di sini?" suara Bu Asri mengagetkan keduanya.


Rasya melonjak naik dari pangkuan Samudra, begitupun Samudra yang kaget langsung memudarkan rangkulannya pada Rasya.


"O-Oma? se-sejak kapan berada di sini?" suara Rasya terbata-bata sambil menatap ke arah Bu Asri yang berdiri tegak dan menatap ke arah mereka berdua.


"Kalian ini ngapain di sini? mau Maghrib nih, bukannya mengambil air wudu untuk maghrib. Malah asik bercinta! gak ada waktu apa? di kamar gak puas apa?" ucap Bu Asri agak pedas.


"Em ... Oma. Ka-kami." Rasya menunduk sambil menggigit bibirnya bawahnya.


Sementara tampak santai dan mengusap bibirnya yang terasa lembab. Hatinya merasa kesal kenapa Bu Asri mengganggu kesenangannya.


"Nggak punya malu, kaya gak ada kamar saja. Terus kamar pungsinya buat apa? kalau kalian bebas melakukan di mana saja! aneh ya anak jaman sekarang? gak punya kesopanan apa?" Bu Asri ngedumel.


Samudra berdiri dan berlalu begitu saja dari balkon. Tanpa bicara atau permisi pada Rasya ataupun bu Asri.


Kedua manik mata Bu Asri menatap kepergian Samudra sembari berkata. "Tidak ada sopan-sopannya ya main ngeloyor saja melintasi orang tua."


"Tidak punya sopan santun!" gerutunya sambil mengayunkan langkahnya dari balkon.


Dan Rasya menggandeng tangan Omanya tersebut. Mengantar turun untuk ke kamarnya. "Hati-hati Oma?"


Rasya melirik ke arah Samudra yang tengah duduk santai di sofa dan menatap dingin ke arah Rasya dan Oma.


Rasya terus mengantar Oma nya sampai ke kamar. "Oma, aku balik dulu ya? mau mengambil air wudu mau Maghrib," pamit Rasya pada omanya tersebut.


"Iya. Bilang sama suami mu. Dijaga tatakrama nya!" ucap Bu Asri.


"Baiklah, Oma." Rasya bergegas kembali ke kamarnya.


Dan mendapati kamar tersebut kosong, Samudra entah kemana? di kamar mandi pun tidak ada.


"Kemana dia?" gumamnya Rasya sambil celingukan dan mencari ke balkon pun tidak ada siapa-siapa.


Selepas menunaikan kewajibannya. Rasya turun ke lantai dasar dan langsung ke dapur sambil planga-plongo seperti mencari sesuatu.


"Sayang mencari apa?" sapa bundanya yang baru datang bersama sang ayah.


Tadi sore Viona berangkat ke dokter untuk periksakan dirinya takut bermasalah pada tulang ekornya. Akibat tadi terjatuh akibat terhindar dari tabrakan tersebut.

__ADS_1


"Bunda gimana kata dokter?" sambut Rasya menatap bundanya.


"Alhamdulillah, bunda tidak kenapa-kenapa!" balas Viona dengan wajah yang tampak tidak ada masalah.


"Ooh, syukurlah. Tapi dikasih obat gak?" tanah Rasya kembali.


"Dikasih, Oya suami mu mana?" Viona balik bertanya.


"Emang gak jemput orang tuanya ke bandara?" tanya Fatir sambil mendudukan dirinya di kursi.


"Ha? justru aku sedang mencari dia, Bunda. Ayah, aku gak tahu dia dimana?" jawabnya Rasya sambil menggerakkan bahunya.


"Ooh, mungkin jemput ke bandara. Lagian berasa tidak lihat mobilnya di depan!" sambungnya Viona.


Rasya berlari ke depan dan melihat apa benar mebol Samudra tidak ada di tempat. Ternyata memang benar kalau mobil Samudra tidak ada.


Kemudian Rasya kembali ke ruang makan dimana sekarang sudah berkumpul di sana buat makan malam.


"Gimana kata dokter, Vi?" selidik Bu Asri.


"Alhamdulillah, mah aku baik-baik saja. Hanya di kasih obat saja." Balas Viona pada sang bunda.


"Baguslah, takutnya gimana-gimana? makanya mama suruh kamu segera periksa ke sokter!" lanjut Bu Asri sambil mengangguk dan bernafas lega, kalau putri semata wayangnya itu baik-baik saja.


"Mbak. Abang nya mana?" tanya Citra pada Rasya.


"Ooh, gak tahu. Mungkin sedang keluar sebentar," jawabnya Rasya sambil duduk di kursi yang biasa dia tempati.


"Ayah mau ganti baju dulu lah." Fatir berdiri dari tempatnya.


"Yo wes ... tak mandi dulu biar segar, Mas?" Viona melirik ke arah sang suami.


"Iya, ya? kayanya seger bila mandi!" sahutnya Fatir sambil berjalan mendekati tangga, di susul oleh sang istri.


"Sayang, Rasya. Citra? Bunda tinggal dulu ya? makan saja duluan ya?" kata Viona sambil berjalan bersama suaminya tampak romantis.


"Iya, Bunda! siap ..." ucap Citra memberi hormat.


Membuat Rasya tersenyum melihat tingkah Citra. Pada sang bunda. Kemudian Rasya langsung mengambil piringnya buat makan.


Walau hatinya bertanya-tanya kemana Samudra? tidak bilang-bilang dulu sebelum pergi.


Terdengar suara mobil memasuki pekarangan, dan suara mobil tersebut sepertinya tidak asing lagi buat di pendengaran Rasya ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2