Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 177 prewedding


__ADS_3

"Akhirnya kita bertemu lagi," sapa Mulan pada Rasya.


"Hi ... Mulan. Apa kabar?" Rasya memeluk Mulan dengan erat.


"Baik, lagi apa turun ke dapur? biar aku saja ya yang ngerjain, kamu duduk saja," ucap Mulan sambil melihat-lihat dengan apa yang Rasya kerjakan.


"Nggak-gak, biar aku saja! buat sarapan tuan muda kok. Jadi kamu saja yang duduk santai ya? he he he ..." balas Rasya sambil menunjukan senyumnya.


"Baiklah, kau mau tinggal di sini atau mampir saja?" tanya Mulan.


"Nggak tau, ke sana ke mari saja kali. Tapi sepertinya mau tinggal di apartemen sih!" jawabnya Rasya.


"Ooh, kangen deh bikin kue bersama lagi." Kenang Mulan.


"Iya, nanti kita bikin lagi. Aku tinggal dulu ya? suami ku pasti menunggu." Rasya membawa nampan berisi sarapan dan minuman.


"Oke, Oya yang semalam itu siapa saudara kamu bukan?" selidik Mulan menanyakan tentang Vera.


Rasya hentikan langkahnya sejenak. "Yang semalam, kak Vera bukan?"


"Saudara kamu?" ulang Mulan sambil merapikan kursi meja makan.


"Iya, Kakak ku! tepatnya kakak angkat ku." Jawabnya Rasya lalu dia meneruskan langkahnya menaiki anak tangga meninggalkan Mulan di dekat meja makan.


Rasya terus berjalan hingga tibalah di kamarnya Samudra, dan mendapati Samudra sudah rapih dengan pakaian yang siapkan tadi.


"Sarapannya sudah siap ..." Rasya menyimpannya di meja sembari berlutut lalu dia berdiri dan menghampiri Samudra dan merapikan pakaiannya.


"Aku lapar nih," ucap Samudra.


Sementara Rasya merapikan baju nya yang di bagian belakang.


"Sebentar rapikan dulu nih, belum pakai minyak wangi ya?" tanya nya Rasya sambil mengambil minyak wangi dari tempatnya, dan kemudian disemprotkan ke tubuh bagian belakang dan juga depan.


"Nggak perlu terlalu rapih, nanti juga di sana kan diganti sama baju prewed." Samudra menatap datar pada sang istri.


"Ooh iya sih? ya sudah sana makan dulu lah?" Rasya menarik tangan Samudra lantas duduk di atas sofa yang berhadapan dengan meja yang ada sarapan nya.


"Sarapanmu mana? tapi ini juga banyak sih, kita makan berdua saja!" Samudra menatap ke arah piring sarapan yang cuman satu itu.


"Aku gampang, nanti bisa makan di bawah," sahutnya Rasya sambil mendudukkan dirinya di samping Samudra.


"Di bawah mana sayang? kan kita mau berangkat, kamu pikir gampang apa prewed? belum ganti bajunya berapa setel belum juga make up-nya." lanjutnya Samudra.


"Oya? aku kan nggak tahu, ini baru mau pengalaman pertama jadi nggak ngerti hehehe--"


"Nggak usah ketawa? gak lucu! ayo cepetan sarapan? sebentar lagi kita berangkat." Titah Samudra sembari menunggu minuman hangatnya.


Kemudian Rasya menyuapi Samudra dan juga sesekali memasukkan ke dalam mulutnya.


"Em ... enak juga nih nasi gorengnya," ucap Rasya sambil menikmati mentahan demi kunyahan makanan yang berada di dalam mulutnya itu.


"Emang siapa yang bikin?" selidik Samudra sambil menolah mengalihkan pandangan dari benda pipih yang dia pegang.


"Ooh ... yang ini aku yang bikin kok," akunya Rasya sambil menyerahkan makanan yang terakhir ke mulus Samudra dan dirinya bergantian.


Setelah itu keduanya bersiap meninggalkan kamar mereka berdua, dengan niat

__ADS_1


ke tempat prewedding yang sudah di janjikan.


"Ke sananya, sama siapa? Mama ikut Nggak!" tanya Rasya sambil berjalan menuruni anak tangga kedua tangannya memegangi pinggang Samudra yang berjalan di depannya.


"Nggak tahu, mungkin ikut," jawabnya tanpa menoleh, hanya tangannya memegangi tangan Rasya yang bertengger di pinggangnya itu.


"Kalian sudah siap?" selidik Bu Riska yang berdiri dekat sofa.


"Mama mau ikut bukan?" Rasya malah balik bertanya.


"Iya dong ... Mama mau ikut," Rasya menatap intens pada wanita tersebut yang tampak rapih dengan setelannya.


"Kita berangkat sekarang saja? takutnya macet di jalanan?" ajaknya Samudra sambil terus berjalan ke depan.


Ketika mereka bertiga sudah melewati teras dan samudra mengambil mobilnya dari garasi.


Terlihat Vera berjalan lunglai tampak Lelah dan tak bersemangat.


Rasya dan Bu Riska saling bertukar pandangan, melihat ke arah Vera yang balik lagi ke sana.


"Aduh ... sialan banget, interviewnya gagal. Dan aku harus nunggu lagi nih!" keluh Vera dengan nada lemas.


"Terus?" Rasya mengerutkan keningnya.


"Ya aku harus nunggu. Kok nanya sih?" Vera menatap datar ke arah Rasya.


"Mau nunggu dimana? maksud ku Kakak mau nunggu di mana?" ulang Rasya kembali.


"Ya ... di sinilah, di mana lagi? aku nggak punya kenalan, ataupun buat empat tinggal. Kecuali sudah diterima kerja! baru aku mencari kontrakan nggak numpang lagi." Jawabnya Vera.


"Tapi, kemarin kamu bicaranya gak seperti itu? kau hanya ikut saja numpang mobil, gak bilang ikut nginap juga!" protes Rasya.


Rasya tertegun mendengar omongan dari Vera yang seolah menagih jasa atas jasa kebaikan keluarganya. Dia hanya bisa menghela nafas dan menelan saliva nya yang terasa sulit ia telan.


Dadanya terasa sesak, tatapannya pun nanar. Bibirnya bergetar namun tak mampu berkata-kata.


Bu Riska menggaruk tengkuknya tidak mengerti, bukan tidak


mengerti! tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagian bagaimanapun Vera adalah keluarga Rasya juga. Masa mau dibiarkan begitu saja.


"Sya? Mah? ayo dong, keburu siang nih?" pekik Samudra dari mobil yang sedari tadi menunggu, tidak juga masuk, mama dan istrinya itu.


"Ayo sayang?" Bu Riska meraih tangan Rasya. Lalu menoleh pada Vera. "Vera, Tante pergi dulu ya?"


"Kemana? ikut dong ... a--" ucapnya Vera terpotong karena mobil sudah pergi dan tidak perduli pada dirinya.


"Hem ... bodo amat! yang penting aku masih bisa menginap di sini. Lumayan, kapan lagi bisa tinggal di rumah sebagus ini." Gumamnya Vera sambil masuk ke dalam mension tersebut.


Mobil yang Samudra bawa begitu kencang melaju dengan sangat cepat. Meninggalkan mension dan menuju tempat buat prewed yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit itu.


Samudra menoleh pada Rasya yang sedari tadi terdiam dan senyum pun tidak tersirat dari bibirnya. Wajahnya tampak sendu. "Hi ... kenapa? kok muram begitu?"


Rasya melirik ke arah Samudra lalu menunjukan senyumnya sembari berkata. "Aku tidak apa-apa, emangnya kenapa?"


Tangan Samudra menjepit pipi Rasya dengan gemasnya. "Wajah mu itu kaya orang sedih gitu? gak senang apa menikah dengan ku?"


"Kok nanya begitu sih? aneh deh. Aku baik-baik saja juga." Rasya menggeleng, dia berusaha menyembunyikan kesedihannya yang tersentil oleh kata-kata Vera tadi.

__ADS_1


"Oke-oke kalau memang seperti itu, Mah apa papa sudah menghubungi percetakan?" Samudra menoleh ke arah kaca spion melihat sang bunda yang sibuk dengan laptopnya di pangkuan.


"Soal itu sudah beres dan Ubai yang mengurusnya." Kata sang bunda.


Samudra menganggukkan kepalanya. Sementara Rasya melepas pandangan keluar jendela melihat jalanan yang ramai hilir mudik kendaraan roda dua dan empat juga mobil besar pun ada melintas.


Mobil terus melaju dengan sangat cepat hingga selang waktu yang seperti diperkirakan, akhirnya tiba juga di tempat yang menjadi tujuannya.


"Ini ya tempat nya?" selidik Rasya sambil mengedarkan pandangannya pada gedung yang menjulang tinggi tersebut.


Samudra turun duluan lalu membukakan pintu buat sang istri dan ibundanya. Mereka bertiga memasuki gedung tersebut dan untuk menjangkau lantai sekian! Samudra dan yang lainnya harus menggunakan lift agar sampai dengan cepat.


"Selamat datang di tempat kami, dan terima kasih mau menggunakan jasa kami?" sambut pihak studio foto prewed.


"Sorry, kami terlambat datang?" Samudra dan Bu Riska langsung berkata demikian karena memang sedikit telat.


"Tidak apa, kamu memaklumi itu. Kota besar seperti ini tentu terkenal dengan macet." Balas dari pihak studio.


"Nggak macet kok, cuma datangnya telat saja!" celetuk Rasya yang langsung tangannya di senggol Samudra.


"Tapi kan memang benar, kita gak bertemu macet di jalan!" protes Rasya pada Samudra sedikit berbisik.


"Tapi tidak usah di omongin juga sayang ..." pekik Samudra tertahan.


Semua yang ada di sana mengarahkan pandangannya terhadap Rasya.


Bu Riska hanya mengangguk pada semuanya. Lalu menoleh pada Samudra dan Rasya.


Dari pihak salon yang sudah tampak menunggu pun langsung menawari apa make up bisa langsung di mulai?


Dan Bu Riska langsung menyambut dengan baik, agar segera dilakukan make up nya.


Rasya dan Samudra pun segera di ajak ke ruangan make up. Dan berganti baju yang sudah disiapkan tinggal memilih saja.


Dengan sekejap Rasya di make up dengan sangat cantik, membuat Samudra yang duduk sebelahnya itu tidak henti-hentinya memandangi ke arah Rasya.


Dia terpesona dengan kecantikan Rasya, terkagum-kagum karena ternyata istrinya kalau di make up seperti ini tidak sesederhana seperti biasanya! bahkan punya nilai tinggi di balik kesederhanaannya.


"Ya ampun ... cantiknya Masya Allah, mantu Mama cantik sekali? tuh Sam, Rasya itu tak kalah cantik lho dengan Karin." Ungkap Bu Riska pada putranya, Samudra.


Samudra menoleh kepada sang Bunda. "Mama kalau mau memuji, ya memuji saja! tidak usah bawa-bawa nama orang lain. Nggak lucu!" Ketus Samudra sambil melihat ke arah cermin dimana dia pun sedang di poles sedikit.


"Tapi, kan memang benar! Rasya ini tidak kalah cantiknya dengan dia, emangnya kau tidak mengakuinya apa? sambung sang Bunda.


"Ck, Mama ... kan sudah ku bilang memuji ya memuji saja, tidak usah mengkait-kaitkan dengan orang lain kenapa sih!" ulangnya Samudra seraya menggeleng.


""Oke-oke baiklah, Mama tidak akan mengkaitkan Rasya dengan wanita lain. Sepertinya kalau Rasya dijadikan Mama model pasti banyak disukai orang lho, Sam." Bu Riska menyimpan tangannya di dada dan menempelkan jarinya di dagu.


"Mama jangan sembarangan, mau menjadikan Rasya model segala? tidak-tidak, tidak boleh. Emangnya Mama mau menonton kan mantu Mama apa? mau menjual belikan dia pada masyarakat apa? tidak boleh." Samudra memprotes keras, dan tidak setuju dengan pandangan sang bunda tersebut.


Sementara Rasya, hanya melihat ke arah samudra dan mamanya yang sedikit berdebat. Tanpa ekspresi sedikit pun.


Di luar ruangan, tepatnya di ruangan terbuka dengan konsep penghijauan. Ada seorang laki-laki tengah berbincang dengan fotografer yang akan memotret Samudra dan Rasya ....


.


.

__ADS_1


Kalau ada typo langsung komen di barisan kata ya? Makasih sebelumnya reader ku tercinta 🙏


__ADS_2