
"Aku capek, pengen istirahat!" Samudra melirik ke arah sang istri yang memang mau ke kamarnya.
Namun tiba-tiba Rasya merasa pusing dan dan mual, membuat dia menyusupkan wajahnya di dada Samudra. Seperti biasa ingin menghirup aroma tubuhnya sang suami.
"Kau ini kenapa sih?" tanya Samudra sambil mematung. Namun lama-lama tangannya merangkul punggung sang istri.
Rasya menggeleng sembari sedikit mendorong dada Samudra, yang intinya mengajak jalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Ooh, sayang. Kamar kamu sudah dibersihin kok dan hari ini mau di ... kamarnya mau di dekor!" suara Fiona sembari menunjuk ke arah atas dengan ujung matanya.
"Iya, Bunda makasih?" balasnya Rasya yang kini sudah mulai berjalan dengan Samudra di pertengahan tangga.
Rasya berpegangan pada tangan Samudra seraya berkata pelan. "Kepala ku pusing dan mual."
"Ha? mau ke dokter ya?" Samudra hentikan langkahnya menatap cemas ke arah sang istri.
"Nggak, aku mau istirahat saja!" Rasya menarik tangan Samudra yang malah berdiri.
Akhirnya Samudra mengikuti langkahnya Rasya yang terburu-buru itu. Setelah di kamarnya Rasya langsung membersihkan diri di atas tempat tidur. Sementara Samudra berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Selesai bersih-bersih, Samudra berdiri di dekat tepi tempat tidur. Dia mencari keberadaan pakaiannya yang belum Rasya siapkan.
Rasya membuka matanya, melirik ke arah Samudra yang berdiri dengan berdiri bertelanjang dada. "Kau kenapa tidak memakai baju?"
"Ck, bajuku mana dan koperku juga mana?" Samudra celingukan ke sekitar ruang kamar tersebut.
"Ooh, iya lupa. He he he ..." Rasya bergegas bangun dan berjalan menghampiri lemari untuk mengambil pakaian Samudra.
"Maaf, lupa?" Rasya menyerahkan pakaian ganti buat Samudra.
"Apa kau masih pusing?" tanya Samudra sambil mengenakan pakainya.
"Sudah agak hilang kalau sudah di istirahatkan. Aku mau mandi juga." Rasya memutar tubuhnya bersiap mengayunkan langkahnya ke kamar mandi.
Geph!
Tangan Samudra yang kekar menangkap pinggang Rasya lantas dipeluknya. "Kau mau kemana?"
"Apa kau tidak mendengar ku, kalau aku mau mandi?" sahut nya Rasya sambil mendongak menatap wajah Samudra.
Pandangan Samudra pun mengarah pada wajah sang istri. Tatapannya terkunci di satu titik, manik mata Rasya pun tak beralih dari wajah suaminya itu.
Sementara waktu, keduanya saling tatap dengan sangat lekat. Dan cuph! kecupan Samudra mendarat di bibir Rasya. Di ****t dan di s***p dengan lembut. Dikala keduanya sedang menikmati sentuhan yang menggairahkan tersebut.
Tok ....
Tok ....
__ADS_1
Tok ....
"Rasya? jangan ngamar Mulu dong, sini kumpul sama kita? mengobrol." Suara Bu Asri dari balik pintu.
Suara itu mengagetkan keduanya, membuat Samudra menjauhkan wajah dari Rasya dan Rasya pun menoleh ke arah sumber suara.
"Kan! beneran? belum apa-apa sudah di ganggu, bikin dedek." Gumamnya Samudra sambil melepaskan rangkulannya di pinggang Rasya.
Rasya hanya menoleh pada Samudra, dengan tatapan datar. "Iya, Oma ... aku mau mandi dulu." Pekiknya Rasya.
"Mau mandi dulu?" dari tadi belum mandi, sedari tadi ngapain saja? jangan lama-lama? kita mengobrol bersama!" Timpal Bu Asri.
"Lho, kita di kamar mau ngapain juga kan bebas, kenapa dia yang ribet?" Gumamnya Samudra agak kesal mendengar omongan Bu Asri.
"Ya sudah, aku mau mandi dulu lah." Rasya membawa langkahnya ke kamar mandi.
Samudra menoleh ke arah cermin dan berjalan untuk menjangkau parfum yang lantas dia semprotkan ke badannya.
Di senja yang indah, keluarga besar sedang berkumpul di tempat terbuka dan memperlihatkan pemandangan taman yang beraneka bunga.
Suasana yang begitu ramai dan dengan suara yang mengobrol dan suara anak-anak yang kadang-kadang menjerit memenuhi gendang telinga.
Kedu netra Samudra mengitari tempat tersebut, dan lalu melihat anak-anak yang berlarian.
"Aku mau ke sana dulu lah!" Samudra menunjuk ke arah anak-anak yang sedang berlarian tersebut.
Rasya hanya melirik dan dia melanjutkan obrolan dengan keluarga besar. Dihiasi dengan canda tawa yang renyah.
Kini Viona dan Fatir sedang berada di balkon menikmati suasana malam. Dengan pemandangan kota Surabaya yang tampak tidak jauh dari kediaman mereka.
"Mas, undangan apa sudah tersebar semuanya?" tanya Viona pada sang suami sambil menyuguhkan secangkir kopi.
"Sudah, semuanya sudah selesai sayang." Jawabnya Fatir.
"Oya, Mas. Dari balita kita terpisah. Pas ketemu sudah dewasa dan bersuami, rasanya kita tidak puas untuk melepas rindu. Bersama-sama. Kita belum puas menatap wajahnya yang sudah belasan tahun terlewati." lirihnya Viona.
"Terus mau gimana sayang? kenyataannya begitu! takdirnya seperti itu, kita tidak bisa apa-apa." Jawabnya Fatir.
Rasya menghela nafas panjang, ada rasa sesak di dadanya. Apa yang dia rasa bahagia dan rasa sedih yang bertahta di dalam hatinya itu tidak dapat di gambarkan dengan kata-kata.
"Syukuri saja yang ada, karena itulah yang kita dapatkan." Fatir merangkul bahu sang istri yang duduk di sampingnya itu.
"Rasanya aku ingin selalu bersama dengan putri ku, kalau sudah bersuami kan tidak bebas lagi. Kan sayang!" lirihnya Viona sembari menyandarkan kepala di bahunya sang suami.
"Huh ..." Fatir mengembuskan nafas melalui mulutnya. "Setidaknya kita bisa berkumpul dengannya meskipun hanya sesekali."
"Iya, Mas!" Viona mengangguk.
__ADS_1
"Bunda? di tunggu makan malam." Suara Rasya dari balik pintu.
"Mas, Rasya." Viona beranjak dari duduknya dan menarik tangan Fatir untuk meninggalkan balkon.
"Iya sayang, iya sebentar?" Viona berjalan bersama sang suami.
Blak!
Pintu terbuka dan Rasya berdiri di ambang pintu. "Bunda. Di tunggu makan."
"Iya sayang. Bunda sama ayah ngobrol sebentar," Viona tersenyum dan memegang tangan Rasya.
"Bunda, ngobrolin apa tuh? aku gak di ajak nih!" ucap Rasya sambil menunjukan senyumnya.
"Bunda hanya ngomongin. Kalau sebenarnya Bunda ingin selalu berkumpul sama kamu." Kata Viona.
"Lho, Bunda ... kan kita sedang kumpul sekarang! apalagi?" Rasya memeluk bahu sang bunda.
"Maksud Bunda, bukan di waktu-waktu yang tertentu saja. Tetapi di setiap saat." Lirih Viona sambil memeluk putrinya.
"Bunda itu sedih nya ... dari balita kau hilang, pas ketemu sudah bersuami. Jadi gak bisa puas-puas berkumpul, katanya." Timpal Fatir.
Rasya menoleh pada sanga ayah. "Harus gimana lagi kalau memang kenyataannya seperti ini? Bunda kan bisa kunjungi aku sering-sering," ucap Rasya seraya menempelkan dagunya di bahu sang bunda.
"Iya, nanti Bunda pasti akan sering mengunjungi mu di Jakarta. Bunda kangen sama kamu, Nak?" Viona semakin mengeratkan pelukannya.
Sementara Fatir hanya berpangku tangan dan diam-diam mengusap sudut matanya yang berair. Ada rasa haru yang dirasakan saat ini melihat ibu dan anak yang belum lama ini baru bertemu.
Perlahan fatir mendekat dan memeluk istri dan putrinya itu penuh haru.
Susana semakin membuat haru. Ketiganya saling berpelukan, Terdengar suara derap langkah yang menghirup mereka bertiga. Dan rupanya Samudra yang menyusul sang istri yang dia pikir lama ... untuk memanggil orang tuan nya.
Diikuti oleh Sidar di belakang Samudra.
"Lho, kalian malah berpelukan sih? bagaikan Teletubbies kata Citra juga, apakah hari ini, hari Teletubbies sedunia? sehingga di sini juga hari berpelukan?" suara Sidar sambil melipat tangan dan menatap ke arah Fatir, Viona dan Rasya.
"Paman, ada-ada saja," ucap Samudra sambil menggeleng.
"Ahk, kau ini Sidar ... Sidar. Kalian mau kemana? Rasya saja menjemput saya buat turun, kenapa kalian malah naik!" tanya Fatir menatap heran pada Sidar dan Samudra.
"Saya menyusul Rasya," jawab Samudra menunjuk Rasya.
"Lah, aku ngapain di sini ya? lupa, aku ke sini ngapain ya? ah kabur sebelum di lempar sama sendal!" Sidar buru-buru berjalan mendekati tangga. Setengah berlari meninggalkan tempat tersebut.
"Paman Sidar ..." gumamnya Rasya sambil mendekati Samudra yang bengong ....
.
__ADS_1
.
Ayo, mana komen dan lain-lainnya sebagai dukungan buat Author nya nih.