Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 34 Rebutan piring


__ADS_3

"Nggak kok, Nona. Aku sudah selesai makannya!" tangan Ubai menyambar beberapa kue dari piring yang berada dekat Samudra yang langsung melotot. Dengan mulut yang penuh itu.


Samudra kembali menggeser piring kue agar tidak di ambil lagi oleh Ubai yang masih memperhatikan dan mencari waktu bila kah dirinya lengah.


Kini giliran Rasya yang bengong melihat tingkah kedua pemuda tersebut. Sambil duduk Rasya tidak habis pikir, dengan sikap mereka berdua yang agak konyol.


Apalagi melihat Samudra yang dengan susah payah menghabiskan makanannya di piring. Dengan cepat menelan di barengi air minum, membuat Rasya beberkali-kali menggeleng.


"Ayo habiskan? biar puas." Ubai seolah ingin puas. Melihat Samudra makan sebanyak itu dan kesusahan untuk menghabiskannya itu.


Samudra tidak perduli dengan omongan Ubai. Dia terus menghabiskan makanan di piringnya sampai habis. Detik kemudian meneguk lagi minumnya yang Rasya tuangkan benar-benar tandas.


Dilanjut dengan memakan kue, yang terlihat begitu nikmat nya.


"Kau ini persis, kaya orang kesurupan dan tidak makan satu Minggu. Rakus, orang Sunda bilang hawek. Sampai orang lain tidak diperbolehkan makan, rakus?" gerutu Ubai sambil menelan kue di mulutnya.


"Biarin, di tempat ku sendiri kok. Bilang aja syirik? syirik tanda orang yang gak mampu!" ucap Samudra dingin.


"Ck, dibilangin ngeyel. Bos, kau itu jangan terlalu banyak makan, jangan kekenyangan juga. Kau ini kan ada acara dinner sama Karin?" Ubai mengingatkan.


Samudra hanya melirik dengan. ekor matanya dengan tetap menikmati kue basah buatan Rasya. Sebelum menjawab menelan terlebih dahulu.


"Gimana dong? aku sudah kekenyangan nih!" jawabnya sambil mengusap perutnya yang datar.


"Oya, Nona. Apa kau sudah makan dan minum obat?" tanya Ubai penuh perhatian sama Rasya.


Rasya yang bengong sontak melihat. "Ha" Sudah-sudah, aku sudah makan dan minum obatnya."


"Baguslah. Biar cepat sembuh ya? pipi mu juga sudah mulai memudar birunya." Tambah Ubai kembali menatap intens ke arah pipi Rasya.


"Terima kasih, Tuan ramah? kau begitu perhatian padaku, dan aku sudah agak baikan kok." Rasya mengangguk hormat pada Ubai.


Samudra yang melihat sikap Ubai yang tampak manis ke Rasya dan Rasya pun begitu welcam serasa hatinya di gigit semut.


Namun ia berusaha sembunyikan dengan cara membereskan piring-piring yang kotor bekasnya makan.


Rasya segera mengambil alih yang Samudra kerjakan. Lalu membawanya ke wastafel, namun pada akhirnya malah rebutan dengan Samudra yang ingin membawanya ke wastafel juga.


Samudra dan Rasya saling rebutan piring. "Biar aku saja yang cuci, Tuan." Kata Rasya menarik piring kotor tersebut.


Pada akhirnya, Samudra melepaskan dan membiarkan Rasya mencucinya. Namun dengan tidak sengaja, siku Samudra menyenggol sebuah gelas yang berada di meja.


Prekh!


Gelas itu terjatuh ke lantai dan pecah berkeping. Membuat yang ada di sana merasa kaget bukan main.

__ADS_1


"Kenapa, Bos?" sontak Ubai menoleh ke arah sumber suara dan melihat pecahan gelas tersebut.


"Ke senggol." Singkat Samudra sambil melihat pecahan gelas di lantai.


"Tuan ... kenapa dibuat jatuh?" Rasya menunduk melihatnya.


"Aw!" teriak Rasya ketika kakinya menggeser sedikit dan menginjak kaca.


"Kau kenapa?" Samudra bertanya tampak cemas, menatap ke arah wajah Rasya yang berubah pucat.


"Nona, kamu kenapa?" Ubai pun langsung beranjak dari duduknya.


Rasya menundukkan kepala dan mengangkat kakinya yang terasa sakit. "Aaaaa ... kaki kena pecahan kaca!"


Samudra dan Ubai sangat khawatir mendengat seperti itu, bahkan memang terlikat samping telapak kakinya Rasya sebelah kiri berdarah.


Ubai melipir mau mendekati Rasya dan bersiap menggendongnya. Namun Ubai kalah cepat dengan Samudra yang jelas lebih dekat dengan gadis tersebut.


Samudra memapah Rasya menjauhi pecahan kaca, lalu membawanya duduk di kursi. Samudra berjongkok sejenak, mendongak melihat Rasya yang sedikit meringis, lalu tangan Samudra mengangkat kaki kirinya yang terluka tersebut.


Kedua netra nya Rasya terlihat nanar sepertinya luka itu agak dalam. Darahnya pun jadi berceceran, Samudra memegang kaki Rasya yang ada serpihan kacanya tersebut, lantas ia mencabutnya dengan cepat.


"Oo! sakit." Rasya mendesis memegangi kaki yang terluka itu.


Ubai yang melihat Samudra yang begitu perduli dengan Rasya, langsung mencari kotak obat di lemari.


Dengan cepat, Ubai memberikan kotak obat tersebut pada Samudra, yang langsung menyambutnya dan lantas mengobati luka Rasya.


"Perih?" desis Rasya dengan mata yang terus berkaca-kaca. Menatap ke arah Samudra yang gerak cepat menolongnya.


"Ternyata, Tuan jutek baik juga ya?" batin Rasya sebalik rasa kesakitan nya itu.


"Kau gak pa-pa, kan Nona?" tanya Ubai menatap Rasya yang terus meringis.


"Nggak pa-pa gimana? sudah tau orang meringis kesakitan. Masih tanya gak pa-pa?" Ketus Samudra sambil berdiri. menyimpan obat ke kotaknya.


"Maksud saya, lukanya cuma itu saja? kali aja masih ada yang lain!" elak Ubai sambil mendekat kotak p3k


"Nggak, Tuan. Itu saja." Kini pandangan Rasya tertuju pada Ubai.


"Syukurlah!" Ubai mengangguk, lalu mengambil sapu dan tempat sampahnya, untuk membersihkan bekas kaca-kaca tersebut.


"Tuan, makasih ya?" ucap Rasya kepada Samudra yang sedang membersihkan tangannya.


"Ya!" ucap singkat Samudra. Alias sangat irit dengan kata-kata nya.

__ADS_1


Rasya sedikit mencibirkan bibirnya. "Kalau gak galak. Irit amat ngomongnya," batin Rasya. Lalu mengalihkan tatapannya pada pecahan gelas yang sedang Ubai sapu kan.


"Kenapa?" tanya Samudra ketus ketika sempat melihat Rasya mencibirkan bibirnya.


Rasya menoleh cepat. "Em, ti-tidak, Tuan. Aku cuma merasa perih saja." Rasya menunduk sambil mesem.


Kemudian Samudra menyuruh Ubai meneruskan pekerjaan Rasya yang tertunda tadi. Sebelum kembali ke kantor.


"Alamak ... aku ini asisten kantor atau asisten rumah tangga sih? ini itu harus aku kerjakan, nasib-nasib." Gerutu Ubai sambil mencuci piring, setelah menyapukan pecahan gelas.


Rasya tertawa mendengarnya. "Tuan ramah. Kalau mau ngantor? pergi saja! biar nanti aku bereskan setelah perih ini agak hilang."


"Nggak pa-pa, Nona. Aku akan selesaikan." Kata Ubai sambil tersenyum ke arah Samudra yang sedang makan kue buatan Rasya sampai tinggal piringnya.


"Kenapa senyum-senyum ke arah ku segala? ada yang lucu apa?" ketus Samudra sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Nggak, siapa juga yang senyum-senyum ke arah Bos? aku senyum-senyum sama piring ini kok, ya piring? kau harus kenclong seperti yang nyucinya." Elak Ubai sambil mengajak piring berbicara.


"Sudah gila? piring di ajak bicara?" Samudra menggeleng.


Rasya malah cekikikan melihat ekspresi Ubai yang berbicara dengan piring.


"Sudah belum? kita pergi sekarang?" Samudra mengajak Ubai untuk pergi ke kantor.


Ubai pun membersihkan tangan. Lalu menghampiri ke Samudra yang sudah bersiap-siap pergi ngantor.


"Siap, Bos. Yu kita berangkat?" ajak Ubai. Lalu mengalihkan pandangan pada Rasya. "Nona, cepat sembuh ya?"


"Iya, Tuan terima kasih?" Rasya mengangguk.


"Apa kau mau aku bantu ke kamar?" tawar Ubai mantap ke arah Rasya lalu melihat ke kakinya.


"Em ... nggak usah. Aku bisa sendiri kok, kalian pergi saja. Aku gak pa-pa!" Tolak Rasya sembari melihat ke arah Samudra yang menatap tajam ke arah dirinya.


"Baiklah, kalau begitu!" Ubai mengayunkan langkahnya.


"Yu!" Samudra pun beranjak. Lalu berjalan membawa langkahnya menuju pintu utama.


Rasya menatapi kepergian mereka berdua sampai pintu tertutup kembali.


"Hah ... sepi lagi, setelah barusan terasa ramai." Gumamnya Rasya sambil menghela napas panjang.


Kemudian Rasya berusaha berdiri menapakkan kedua kakinya ke lantai. Namun kakinya yang terluka terasa sakit ketika menginjak lantai Rasya terdiam sejenak merasakan sakitnya ....


.

__ADS_1


.


Sudah membaca kan? jangan lupa like komen dan vote nya🙏


__ADS_2