Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 131 Melihat semuanya


__ADS_3

Samudra menatap lekat wajah Rasya yang masih menutup mata. Namun lama-kelamaan anggota tubuh Rasya bergetar dan membuka kedua manik matanya.


Langsung melihat sosok wajah Samudra yang begitu dekat dengan wajahnya. Membuat Rasya melonjak duduk.


"Tu-Tuan, aku di mana nih?" Rasya melihat kanan dan kiri menyisir ruang tersebut yang begitu asing di matanya.


Samudra menghela napas dan menegakkan duduknya. "Kita berada di Villa, tadi kamu pingsan."


"Eeh, baju ku kenapa ganti begini? siapa yang menggantinya?" Rasya mengamati dirinya yang memakai bathrobe. "Tuan, siapa yang menggantinya?"


"Ck, ya aku lah! emangnya kamu mau Ubai yang menggantikan baju mu? melihat tubuh mu?" Ketus Samudra.


Plak!


Dengan refleks Rasya menampar pipi kanan Samudra walau tidak keras, namun membuat manik mata Samudra melotot dan memegang pipinya yang terasa sedikit panas.


Rasya marah karena Samudra sudah melihat tubuh dirinya yang seutuhnya pula.


"Kau ini, apa-apaan sih? menampar ku? emangnya mau tubuh mu terus kedinginan dengan memakai baju yang basah kuyup ha? pikir dulu sebelum berbuat," pekik Samudra.


Rasya menyilang kan tangannya di dada, ia merasa shock karena pasti Samudra sudah melihat semua yang ada di tubuhnya itu.


Tapi dia juga menyesal sudah menampar pipi nya itu. "Ma-maaf? habis anda pasti sudah melihat semuanya!"


"Iya lah, aku punya mata! Emangnya kenapa kalau aku melihat semuanya? apa salahnya?" tantang Samudra menatap tajam.


"Seharusnya kau minta izin dulu sama aku, sebelum melakukan sesuatu?" Rasya malah nyolot.


"Minta izin? sama siapa ha! Nona. Nona Rasya? aku harus minta ijin sama siapa? sementara dirimu pingsan ya? tidak sadarkan diri! kalau aku meminta ijin dulu, untuk membuka baju mu! terus siapa yang akan menjawab?" Samudra dengan nada yang lebih tinggi.


"Ha? iya juga ya? kalau aku pingsan, siapa yang mau menjawab, kau yang meminta izin?" Rasya menggaruk


kepalanya yang tidak gatal.


"Dasar gadis aneh," Samudra memalingkan wajah sambil mengusap pipi nya yang masih terasa panas.


Rasya terdiam menatap ke arah Samudra, merasa kasihan padanya yang sudah dia tampar.


"Kau kenapa? bisa pingsan seperti itu?" tanya Samudra kembali menoleh.


"Nggak tahu, tiba-tiba kepalaku pusing berat, sekarang pun masih terasa pusing kok!" jawabnya Rasya sambil memijat keningnya.


"Sini aku pijit!" Samudra mengarahkan tangannya ke kening Rasya dan memijatnya dengan lembut.


Rasya menatap wajah Samudra yang begitu dekat dengannya, lalu menggerakkan jari-jarinya di pipi Samudra. "Kau tidak apa-apa, kan? maaf ya? aku sudah menamparmu?"


"Memang sih, nggak terlalu keras. Tapi bekas tangan mu lumayan panas," sahut Samudra pelan.


Tangan Rasya yang lembut terus mengusap pipi Samudra, membuat Samudra terlena matanya terus melihat ke wajah Rasya.


"Aku nggak sengaja! menampar mu, tangan ini sangat kurang ajar ya? sudah lancang menampar wajahmu?" gumamnya Rasya.


Perlahan tangan Samudra meraih tangan Rasya yang menempel di pipinya itu, ia genggam dan mencium punggungnya dengan mesra.


Dada keduanya berdebar tak menentu, jantung pun berdegup sangat kencang seolah mau melompat dari tempatnya.


Kedua pasang mata mereka saling menatap dengan tatapan yang begitu dalam, seakan ingin menyelami perasaannya masing-masing.


Samudra meremas jemari Rasya dengan mesra, lalu tangannya yang satu lagi mengarah ke pipi Rasya. Mengelus kan ibu jarinya di sana!


Perlahan tapi pasti, tangan Samudra turun ke tengkuk belakang Rasya dan wajah Samudra mendekat ke wajah Rasya. Tangan Rasya memegangi tangan Samudra dan membalas tatapan pria itu yang begitu dalam.


Rasya pun terhipnotis dengan sorot matanya Samudra yang kini lebih kalem serta hembusan napas yang hangat menyapu kulit wajahnya.


Walaupun perlahan, namun akhirnya bibir Samudra mendarat juga di tempat yang menjadi tujuan. Samudra me-lu-m** nya dengan lembut. Beberapa saat berada di posisi seperti itu. Mereguk manisnya, menikmati sensasi yang menghangatkan.


Dada Rasya berdebar sangat kencang naik turun tidak bisa di kontrol, dag-dig-dug bagai bedug yang sedang di tabuh dan tidak beraturan.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Bos, dokternya sudah datang!" suara Ubai dari balik pintu.


Sontak Samudra melepaskan Rasya dan menjauh dari gadis itu. Menoleh ke arah pintu, mengusap bibirnya yang lembab.


Rasya pun mengusap bibirnya yang basah karena Saliva Samudra yang menempel di sana, kali ini Rasya benar-benar menikmati sentuhan dari Samudra dan wangi mulutnya berasa sangat menempel dan tercium di hidungnya.

__ADS_1


Samudra turun, berjalan mendekati pintu sambil mengomel. "Menggangu kesenangan orang saja."


Blak!


Pintu terbuka, tampak seorang dokter berdiri dan Ubai di sampingnya. Menjinjing paper bag yang langsung Ubai berikan pada Samudra.


Sebelum masuk, dokter tertegun melihat Samudra yang bertelanjang dada, hanya mengenakan handuk saja. Sementara si wanita di tempat tidur tampak pucat dan rambut acak-acakan.


"Ooh, mereka itu suami istri. Dok, sudah halal!" ucap Ubai pada dokter yang langsung menoleh pada Ubai.


"Silakan dok, diperiksa? tadi dia pingsan." Samudra menyilakan dokter untuk masuk.


Kemudian dokter pun memasuki kamar Samudra, menghampiri Rasya yang berada di tempat tidur. Dan langsung memeriksanya.


Samudra dan Ubai berdiri tidak jauh dari tempat tidur. Melihat dokter itu memeriksa Rasya yang mulai dari detak jantungnya.


"Aku lupa, kalau Nona Rasya belum makan dari semalam," ucap Ubai pelan.


Samudra menoleh dengan tatapan tajam. "Kamu gila ya? kamu biarkan dia tidak makan seharian?" balasnya Samudra pada Ubai yang langsung mengangguk.


"Kau tahu kan? sejutek-juteknya aku padanya. Kalau soal makan tetap ku perhatikan! kau ini tega ya sehari semalam sama dia, tidak memperhatikan perutnya. Samudra menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir kalau Ubai membiarkan Rasya Rasya kelaparan.


"Maaf, Bos? bukan niat untuk seperti itu! cuma ... keadaan yang sedang tidak memungkinkan!jangankan dia saya pun sama belum makan." Ubai membela diri.


"Sudah, kau cari makan sana? kau tahu? aku pun sama dari pagi gak ada sarapan! gak ada yang ngurusin dan aku nggak sempat makan di luar," ucapnya Samudra sambil mengibaskan tangannya, memberi kode agar Ubai pergi mencari makanan.


"Baik, Bos. Saya pergi dulu!" Ubai meninggalkan kamar tersebut dengan cepat.


"Gimana dok keadaannya?" tanya Samudra pada dokter yang sudah selesai memeriksa Rasya.


"Ooh, Tuan nggak usah khawatir!dia cuma masuk angin. Sepertinya dia telat makan dan kebetulan tubuhnya kurang fit kena hujan pula, jadinya seperti itu. Sebaiknya anda menjaga kesehatan istri anda jangan sampai terjadi hal yang sama." Kata dokter sambil membuka tas kerjanya.


"Baik dok, makasih?" Samudra mengangguk.


"Kebetulan saya membawa obatnya, jadi anda tidak perlu menembusnya di apotek," ucap dokter tersebut sambil memberikan berapa obat untuk Rasya.


Setelah itu dokter pun berpamitan, dan Samudra mengantarnya sampai ke depan saja, tidak lama kemudian Samudra kembali membawa segelas air putih untuk Rasya minum obat.


"Diminum dulu obatnya," Samudera memberikan air minum dan obat yang bisa diminum sebelum makan.


Rasya pun segera meneguknya. "Makasih, Tuan!" kini wajahnya Rasya sedikit memerah, merasa malu dengan kejadian sebelum dokter datang tadi.


Sejenak Samudra menoleh pada Rasya yang melihat ke arahnya dengan rasa penasaran, siapa yang menelpon Samudra.


Buru-buru Samudra berjalan menuju balkon dan menerima telepon di sana.


Rasya melamun dan teringat kembali pada pak Muhidin yang baru saja meninggal. Air mata Rasya kembali membanjiri pipinya, memeluk guling. Bahunya bergetar menangisi bapaknya yang telah tiada.


Samudra kaget melihat Rasya menangis tersedu. "Kau kenapa?" tanya Samudra sambil duduk di depan Rasya.


"Hik-hik-hik, aku cuma teringat bapak, aku belum bisa membahagiakannya," bahu Rasya kembali bergetar dia menangis sesenggukan.


Samudra menarik bahu Rasya dan menempelkan kepalanya di dada, lalu memeluknya dengan erat seraya berkata.


"Menangis lah sampai kau puas!" Tangan Samudra membelai rambut Rasya dengan mesra dan beberapa kali mendaratkan kecupannya hangat di pucuk kepala gadis itu.


"Kenapa, kemarin-kemarin aku nggak minta tolong sama tuan Ubai untuk pulang! walaupun untuk sebentar." Gumamnya Rasya dalam pelukan Samudra.


Samudra tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan berucap dengan perlakuan yang lembut. Sentuhannya yang menyamankan.


Rasya menenggelamkan wajahnya di dada samudra yang bidang itu, dada yang tidak tertutup oleh sehelai benang pun.


Kini dada Samudra basah dengan air mata yang dikeluarkan oleh Rasya. Tangan Rasya memeluk punggung Samudra dengan erat.


Di depan pintu, Ubai yang berdiri membawa makan malam buat Samudra dan Rasya.


Ubai tertegun sejenak, melihat Samudra dan Rasya yang saling berpelukan dan terdengar isak tangis dari Rasya.


"Ehem. Aku membawakan makan malam buat kalian berdua, sebaiknya kalian makan dulu apalagi, Nona belum makan dari semalam kan?" suara Ubai dari arah pintu.


Membuat Samudra menoleh, namun tidak serta-merta Samudra melepaskan pelukannya terhadap Rasya.


Lalu Ubai membawa langkahnya memasuki kamar tersebut dan menyimpan sebuah nampan yang berisi dengan berapa makanan di atas tempat tidur, yang tidak jauh dari mereka berdua duduk.


"Dan ... Nona makan dulu?" ulang Ubai sambil berdiri menatap ke arah mereka berdua.


"Oke," sahut Samudra singkat lalu mengalihkan pandangannya pada nampan yang Ubai simpan di tempat tidur tersebut.


Rasya yang masih terisak, tampak betah di dadanya Samudra menyembunyikan wajahnya di sana.

__ADS_1


Ubai menghela nafas panjang, lalu dia berbalik meninggalkan tempat tersebut dan tidak lupa menutup pintu kamar itu.


Dia berjalan membawa dada yang terasa sesak, bagai tertimpa batu besar membuat nafas pun seakan tak ada ruang.


Samudra terus membelai rambut Rasya, merapikannya dan beberapa kali mendaratkan kecupannya di kepala Rasya. Hingga akhirnya Samudra mengajak Rasya untuk makan.


"Makan dulu yu?" gumamnya Samudra.


Kebetulan perutnya pun sudah keroncongan, bahkan terdengar jelas kalau cacing-cacing di sana sudah berdemo untuk meminta makan.


Tangisan Rasya berhenti ketika mendengar suara yang datangnya dari perut Samudra, kemudian dia mendongak. "Kau lapar?"


Tentu saja Samudra langsung mengangguk, karena memang dia sudah merasa lapar. Rasya pun menjauhkan dirinya dari Samudra, mengedarkan pandangannya pada makanan yang ada di samping, yang Ubai bawakan untuk mereka berdua.


"Tuan ramah memang baik ya? sampai makan pun diantar ke kamar!" gumamnya Rasya seraya menarik nampan itu.


Namun ucapan rasa itu bikin hati Samudra terbakar, merasa cemburu dengan kata-kata Rasya yang mengarah dengan pujian kepada Ubai.


"Ubai terus yang kau puji?sementara aku yang berbuat baik padamu, nggak pernah kamu akui!" ucap Samudra dingin.


Rasya menatap Samudra dengan gemasnya, lalu menepuk tangan Samudra. "Kau ini ngomong apa sih? wajarlah kalau aku memuji dia, kan tuan Ubai memang baik."


"Terus, terus aja kau puji dia, iya ... dia sangat baik, iya!" kata sini dari Samudra.


"Emangnya kenapa? kalau aku mengatakan itu? apa yang buat dirimu rugi?" tanya Rasya sambil makan yang disuapi oleh Samudra.


"Tidak rugi, iya terserahlah, mau puji dia atau tidak. Aku nggak peduli." Samudra menggeleng sambil melanjutkan makannya.


Selesai makan, Samudra membawa paper bag ke kamar mandi, tidak lama kemudian kembali dengan mengenakan celana pendek, dengan tetap bertelanjang dada. Apalagi mau tidur dia gak betah memakai baju.


"Ini pakaianmu." Samudra menyerahkan paper bag kepada Rasya.


Namun Rasya hanya mengambilnya lantas disimpan di atas bantal tanpa mengintip isinya sama sekali.


"Kenapa kau tidak memakainya?" tanya Samudra yang masih berdiri di ujung tempat tidur.


"Hem ... Tapi aku masih pusing, aku males pergi ke kamar mandinya!" ucap Rasya seraya memejamkan kedua matanya.


Samudra terdiam sambil menatap ke arah Rasya, lalu merangkak naik dan berbaring sampingnya Rasya.


Mendengar pergerakan samudra yang tidur disampingnya, sontak Rasya membuka kedua mata dan menoleh kepada Samudra. "Kenapa, Tuan tidur di sini?" tanya Rasya.


"Kenapa? ini kamarku! apa kamu mengusirku?" Samudra menatap tajam gadis itu.


"Emangnya gak ada kamar lain? baiknya anda tidur di kamar lain sana? biarkan aku tidur sendiri," lirihnya Rasya sambil memejamkan kedua matanya kembali.


"Nggak, biarpun ada! aku malas tidur di tempat lain, karena ini memang kamarku," lalu dia pun memejamkan kedua netra nya. Namun sebelumnya mematikan lampu yang terang benerang, dengan lampu yang temaram.


Diluar terdengar hujan kembali begitu deras, membasahi bumi menghiasi malam yang baru merangkak naik.


"Hujan-hujan gini sepertinya enak nih, tidur pelukan," gumamnya Samudra sambil membuka matanya melirik ke arah Rasya.


Mendengar gumaman Samudra, Rasya membuka kedua matanya dan melirik pada Samudra. Lalu dia nyender ke sisi tempat tidur. "Jangan dekat-dekat, jauh-jauh sana! jangan macam-macam. Aku nggak mau."


Tubuhnya Samudra bukan menjauh, malah mendekat seraya berkata. "Nggak mau? apanya yang gak mau? tadi kau mau aku sentuh? bahkan aku sudah melihat semuanya kok," dengan ekspresi wajah yang menggelikan.


Bikin tubuh Rasya semakin menggeser ke pinggir. Dan hampir saja terjatuh, namun geph. Tangan Samudra meraih pinggang Rasya. lantas menariknya ke tengah sehingga menempel ke tubuh Samudra.


"Ih ... lepas? lepaskan aku?" pinta Rasya sambil memukul-mukul tangan Samudra yang mengunci tubuhnya.


Tetapi Samudra tidak mengindahkan permintaan Rasya yang terus minta dilepaskan! dia malah memejamkan kedua matanya, tertidur dengan tangan tetap mengunci tubuh Rasya.


Rasya terus memukul tangan Samudra yang berada di perutnya, namun sia-sia, karena pria itu tidak perduli sama sekali.


"Iih ... masa aku harus teriak sih?" gumamnya Rasya sambil terus berusaha melepaskan tangan Samudra.


"Teriak saja, nggak akan ada yang mendengar, sekalipun yang benar cuma Ubai dan dai mana perduli sama kita!" suara Samudra yang tampak mengantuk.


Lama-lama Rasya pun merasa capek sehingga dia menghentikan berontak nya untuk melepaskan diri dari Samudra, dia mencari kenyamanan dalam pelukan Samudra, menyadarkan kepalanya di dada pria tersebut.


"Dasar keras kepala! lagian ngapain sih kamu nyusul aku ke sini? bukannya senang-senang sama istri mu itu," gumaman Rasya entah didengar? entah tidak.


"Tunangan, belum jadi istri," suara Samudra terdengar lemas, mungkin dia mulai melayang ke alam mimpi.


"Eeh dengar juga dia!" Rasya tersenyum sesaat melihat ke arah belakang, dimana pria itu sudah tertidur ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2