
Sejenak Bu Karsih meragukan Fatir dan Viona yang berjanji bayarkan hutang, namun setelah Viona memberikan segepok uang, Bu Karsih barulah percaya kalau mereka memang serius.
"Terima kasih Jeung dan Tuan Fatir. Saya pikir kalian cuma menghibur saya saja. Tetapi--" Bu Karsih menggantung perkataannya.
"Kami tidak akan bicara, kalau tidak ada bukti? tentunya kami akan dengan tulus membantu Ibu." Fatir terus meyakinkan Bu Karsih.
Setelah itu, Fatir dan Viona pergi dari rumah Bu Karsih menuju penginapan membawa hati yang dihinggapi bahagia, Sedikit lagi dia akan menemukan putrinya yang hilang tersebut.
...---...
Matahari sudah bersinar, cahayanya masuk ke dalam kamar menyelinap ke sela-sela gorden, suhunya yang begitu menghangatkan.
Membangunkan Rasya, kemudian menggeliat nikmat sembari mengulas senyuman dengan kelopak mata yang masih tetap terpejam. Lalu memicingkan kedua matanya melihat ke arah gorden yang tampak di luar sudah terang benerang.
"Ya Allah, jam berapa ini?" Rasya Bangun segera, tetapi merasakan kalau di pinggangnya ada yang menindih ya itu tangan kekar Samudra yang melingkar di sana.
Rasya menoleh ke samping, benar saja dia tertidur bersama Samudra semalaman. Tidurnya pun begitu nyenyak dalam pelukan pria itu, sehingga malam terlewati sampai pagi dan tahu-tahu sudah bersinar matahari, dia baru terbangun.
Rasya memutar memorinya l, mengingat apa saja yang semalam mereka lakukan? lalu Rasya mengamati tubuhnya yang berbalut kimono.
"Tapi aku yakin kok, kalau semalam nggak ngapa-ngapain selain tidur!" gumamnya Rasya sambil menyingkirkan tangan Samudra yang tetap melingkar di perutnya itu.
Kemudian Rasya menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. "Apa? sudah jam 07.00?" Rasya mengucek kedua matanya," kali saja penglihatannya salah.
Namun jarum jam tetap sama menunjukkan pukul 07.00. "Ya Tuhan ... aku kesiangan!" buru-buru Rasya turun dari tempat tidurnya.
Tetapi entah kenapa kakinya bisa terlilit selimut, sehingga tubuhnya oleng dan jatuh-jatuh pas menimpa tubuh Samudra yang masih tertidur itu.
"Aw ...."
Samudra kaget dan sontak membuka kedua matanya dan mendapati tubuh Rasya berada tepat di atas tubuhnya. Sorot netra nya turun mengarah belahan antara bukit yang menggantung membuat berkali-kali Samudra menelan saliva nya yang terasa kering di tenggorokan.
Baru saja membuka mata sudah di suguhi dengan sesuatu yang membuat hasratnya naik.
Melihat netra nya Samudra tertuju pada bagian dadanya. Rasya buru-buru berusaha bangun serta merapikan kimono nya seraya berkata. "Ma-ma-maaf? aku tidak sengaja, terjatuh."
Mamun tangan Samudra malah memeluk erat tubuh Rasya, lalu kemudian menggulingkannya sehingga kini berbalik arah yang kini Samudra lah yang berada di atas menindih tubuh mung Rasya.
Rasya begitu terkesiap dengan apa yang Samudra lakukan. "Lep-lepas kan aku, Tuan? Aku mau bangun sudah kesiangan," pintanya Rasya dengan suara pelan.
Tetapi Samudra tidak peduli dengan permintaan Rasya. Dia tetap berada dalam posisinya.
Kedua pasang mata mereka berdua saling menatap dengan dalam, seakan ingin menyelami isi hati masing-masing.
Kepala Rasya bergerak melihat jam yang berada di dinding. Jarumnya yang terus berputar dan membawa suasana yang lebih siang.
"Tuan! lepaskan aku Tuan? aku sudah kesiangan sudah jam 07.00 lewat," masih saling bertatapan, nadanya suara Rasya penuh permohonan supaya Samudra mau membebaskan saat itu juga.
Tatapan netra nya Samudra semakin intensi ke arah Rasya, khususnya wajah dan tubuh bagian atas.
Perlahan wajah Samudra mendekat untuk menjangkau bibirnya Rasya yang tampak ranum dan natural tanpa polesan apapun. Dan mulai menjadi candu buat dirinya.
Kepala Rasya terus bergerak ingin menghindari wajah samudra yang terus mendekat, namun entah kenapa kedua manik matanya malah terpejam seakan ingin menyambut baik wajah yang akan mendatanginya itu.
Sekitar 5 cm lagi bibir Samudra jangkau tujuannya! tiba-tiba ponsel Samudra berdering sangat kencang membuat keduanya kaget, Rasya membuka kedua matanya dan Samudra melonjak bangun, buru-buru mengambil ponsel tersebut.
Dengan cepat Rasya bangun sambil mengelus dada. "Selamat-selamat," bergegas turun dari tempat tidur tersebut dan menyambar paper bag yang semalam Samudra diberikan, di bawanya ke kamar mandi.
Sementara Samudra menerima telepon dari seseorang.
^^^Samudra: "Iya sayang, aku sudah bangun kok. Ini baru mau mandi."^^^
^^^Karin: "Kamu di mana beb?"^^^
^^^Karin: "Aku masih di rumah sayang?"^^^
^^^Karin: "Tumben jam segini baru mau mandi? biasanya jam segini kamu sudah pergi ke kantor, kemana asisten kesayangan mu itu?"^^^
^^^Samudra: "Iya aku kesiangan sayang, dia ... A-ada! ya sudah, aku mau mandi setelah itu mau ke kantor."^^^
^^^Karin: "Nanti malam ... kita dinner ya sayang?"^^^
Samudra terdiam sejenak, mengingat dirinya masih di luar kota.
^^^Samudra: "Dinner? iya sayang! ya-ya, ya sudah aku mau mandi dulu ya? sudah kesiangan nih."^^^
^^^Karin: "Iya sayang, hati-hati ya di jalan? jangan ngebut-ngebut lho ... i love you baby?"^^^
^^^Samudra: "I love you too beb!"^^^
Balasan dari Samudra, lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.
Dia menoleh ke arah tempat tidur yang sudah kosong, kemudian Samudra membawa langkahnya mendekati pintu kamar mandi. Yang terdengar suara kucuran air dari dalam, Samudra mencoba mendorong handle pintu tersebut yang jelas-jelas terkunci dari dalam.
Samudra tersenyum, wajahnya merona, bahagia. Sedikit menggelengkan kepalanya, terbayang yang akan dia lakukan beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Namun telepon dari Karin mengganggu. "Coba kalau dia nggak telepon pagi-pagi? aku sudah pasti mendapatkannya, dari Rasya. Ahk sial!" mengepalkan tangannya yang menggantung.
Lagi-lagi ke Samudra menggeleng kasar, dengan bibir yang terus tersenyum, sebuah senyuman yang mengandung arti. Tangannya lagi-lagi memegang handle pintu! dia putar kembali namun tetap tak bisa dibuka.
"Sya? buruan aku kebelet nih?" pekiknya Samudra sambil menggedor.
"Tunggu saja dulu? aku belum selesai nih, tunggu setengah jam lagi, aku pasti keluar kok," suaranya Rasya beriringan dengan suara air yang mengalir.
Brug! ....
Brug! ....
Brug! ....
Samudra kembali menggedor daun pintu tersebut. "Buruan? aku nggak tahan nih. Gak kuat ..." teriak Samudra sembari mesem-mesem.
"Iih ... tungguin napa? berisik amat sih jadi orang! gak sabaran? orang lagi mandi juga, tunggu saja sampai setengah jam lagi," pekik kembali Rasya dari dalam kamar mandi.
Brug! ...
Brug! ....
Brug! ....
"Buruan? aku udah nggak kuat nih ... lagian aku sudah kesiangan! aku harus pulang ke Jakarta." Suara samudra dari balik pintu.
Sejenak, Rasya terdiam. "Mau balik ke Jakarta? terus ngapain dia nyusul ke sini! tuan Ubai juga pasti harus pulang dong! tapi ... tak apalah tuan muda pasti balik lagi ke sini untuk menjemput ku. Atau paling-paling menyuruh tuan Ubai untuk kembali menjemput ku!" pikirnya Rasya lalu mengalihkan pandangannya ke air shower lantas meneruskan ritual mandinya.
Dari luar kamar mandi, kembali terdengar Samudra memekik dari balik pintu. "Sya, buruan? sudah nggak kuat nih."
"Iih ... ini orang berisik amat sih?" tangan Rasya mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang ada di sana, mengenakan pakaian yang ada di dalam paper bag, di dalam paper bag berisi pakaian yang komplit dengan **********.
Setelah itu, Rasya mengayun langkahnya mendekati pintu, dan membukanya. Baru saja terbuka sedikit, Samudra sudah memaksa masuk.
"Lama amat, dari tadi juga. Sudah dibilang orang sudah nggak kuat nih." Samudra langsung menyeruak masuk ke toilet dan tidak peduli di sana masih ada Rasya, dia gegas melepas yang melekat di tubuh bagian bawah, melancarkan ritual hajatnya yang sudah pengen dari tadi.
"Ais ... gak sopan amat jadi orang?" Rasya menoleh ke arah Samudra yang seperti anak laki-laki yang belum baligh dan kurang mempunya rasa malu. Buru-buru Rasya keluar dan menutup pintu tersebut dengan rapat.
Samudra menoleh ke arah pintu sambil tersenyum puas.
Kini Samudra, Rasya dan Ubai sudah rapi dan berada di ruang tengah, sambil minum teh hangat yang Rasya bikinkan.
"Kita harus segera kembali ke Jakarta Bos? pekerjaan sudah menumpuk menunggu uluran tangan kita di sana, lagian ngapain sih, Bos menyusul ke sini segala?bukannya urusin pekerjaan, sebelum kau mengambil cuti panjang." Ubai berujar panjang lebar.
"Terserah aku dong, mau nyusul mau nggak kek? mau kerja mau nggak tergantung mau ku! ngapain kau ngatur-ngatur saya?" ketusnya Samudra sambil menyesap teh hangat buatan Rasya.
"Iya, kita pulang ke sana hari ini juga," jawabnya Samudra santai.
Kemudian Samudra menoleh kepada Rasya. "Kau ikut pulang sekarang atau nanti setelah 7 harinya bapakmu?" tanya Samudra pada Rasya.
"Bapakmu-bapakmu? mertua!" celetuk Ubai.
"Ya ... terserah aku lah mau ngomong apa? kamu menyambar saja," Samudra mengibaskan tangannya di udara.
Rasya menoleh pada keduanya.
"Aku mau di sini dulu, di tempat orang tuaku. Sampai selesainya 7 harinya," jawab Rasya dengan hati-hati. "Apa boleh aku tinggal dulu di kampung?"
Sejenak Samudra terdiam, jujur hatinya yang paling dalam tidak mengijinkan Rasya tinggal di kampung, karena akan berjauhan dengannya. Namun apa daya? wajar jika Rasya meminta seperti itu karena dia sedang berduka atas kehilangan ayahnya dan ingin mengikuti ritual yang biasa dilakukan di sana.
"Boleh! tapi nanti waktunya harus pulang." jawabnya Samudra dengan nada dingin.
"Kangen ya?" Ubai menunjuk ke arah Samudra.
"Enak saja! Bukan apa-apa, kerjaan di apartemen sudah menumpuk," ralat Samudra.
Ekspresi wajah Rasya tampak aneh, merengut. bibirnya maju ke depan.
Ubai menoleh pada Rasya dan Samudra pergantian. "Nanti saya jemput, Nona."
"Baik Tuan ramah, dan makasih ya sudah mengantarku ke sini?" ucap Rasya sembari menunjukkan senyumnya pada Ubai.
"Iya sama-sama, Nona. Aku juga senang bisa mengantar kau ke sini dan bertemu dengan orang tuamu." Balasnya Ubai dengan ramah.
"Sekali lagi makasih ya, Tuan Ubai? kalau nggak ada, Tuan Ubai belum tentu aku sudah berada di sini! sekali lagi makasih ya?" sembari menunjukan senyuman yang diarahkan kepada Ubai.
"Ehem! kau sudah siap? saya akan mengantarmu ke tempat orang tuamu!" Samudra berdiri sambil menenteng jasnya.
Rasya mengangguk lalu beranjak dari duduknya, meraih berapa paper bag yang berisi pakaian punya dia dan Samudra.
Ketiganya memasuki mobil Samudra yang berada di halaman Villa tersebut, karena mobil Ubai berada di rumahnya Bu Karsih.
Samudra duduk di belakang sama Rasya, sementara Ubai duduk di depan seperti biasa, menyetir.
"Ubai cari makan dulu lah." Pintanya Samudra kepada Ubai.
__ADS_1
"Oke, Bos. Siap laksanakan," balasnya Ubai dari depan yang bersiap memutar kemudinya serta melajukan mobil mewah milik samudra dengan pelan.
"Kau jangan lupa makan? jangan sampai telat, jangan seperti kemarin-kemarin makan pun susah," ucap Samudra dengan nada dingin tapi cukup perhatian.
"Ya, Tuan." Rasya menoleh ke arah Samudra yang berada di sampingnya.
Dengan perlahan tangan Samudra mendekati tangannya Rasya yang berada di pangkuan, ia sentuh dan dia genggam dengan erat. Ia remas jari jemari Rasya yang lentik tersebut.
Rasya yang terkejut segera menarik tangannya dari genggaman Samudra, namun tangan Samudra sudah terlanjur menguncinya.
Sementara pandangan Samudra mengarah keluar jendela, dengan tangan yang bertumpu di dagunya. Seolah-olah dia tidak melakukan apa-apa! padahal tangan yang satunya menggenggam dan meremas tangan Rasya.
Hatinya merasa berat akan berpisah dengan gadis itu, walau itu cuma sementara. Hanya berapa hari saja dan dia sendiri di Jakarta pasti sering bertemu dengan kekasihnya, Karin.
Manik mata indahnya Rasya sesekali melihat ke arah tangan yang digenggam oleh Samudra. Dan orangnya yang seolah tidak melakukan apapun anteng saja melihat keluar jendela.
Kalau saja nggak ada Ubai, mungkin Samudra akan kecup tangan itu. Sebagai ungkapan rasa rindu yang akan menyelimuti hatinya nanti beberapa saat kemudian.
Rasya kembali menarik tangan itu tapi Rasya tidak bisa, dan bila dia memaksakan diri pada akhirnya akan membuat suasana riuh, tentunya akan diketahui oleh Ubai. dan dia merasa malu, akhirnya Rasya membiarkan tangannya menjadi mainan Samudra.
Samudra yang berusaha menyembunyikan senyumnya, karena Rasya membiarkan tangannya menggenggam erat tangan dia. Ia remas lalu menautkan kedua tangan itu semakin erat.
Kondisi seperti itu jelas tidak diketahui oleh Ubai. Dia pikir orang-orang yang berada duduk di belakang hanya terdiam tanpa melakukan sesuatu, mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran. Ubai turun mau membukakan pintu buat Rasya. Namun gerak Samudra lebih cepat membukakan pintu tersebut karena memang dia yang lebih dulu keluar dari pintu yang sama.
Ketiganya sudah duduk manis di meja yang bundar dan Samudra kali ini yang memilihkan makanan apa yang harus Rasya makan.
"Kau harus banyak makan, makanan yang bergizi. Biar tubuh mu semakin berisi, itu lihat sekarang tak kerempeng seperti dulu," kata Samudra kepada Rasya. "Apalagi bagian itu terlalu kecil."
"Apa yang terlalu kecil bos?" timpal Ubai menatap penasaran kepada Samudra.
Samudra terlihat kikuk, dia sudah keceplosan ngomong. Dan hampir saja berkata vulgar.
"Eeee ... I-itu tangannya tampak kecil dan lembek." Jawabnya Samudra serba salah.
"Oo ... kirain bagian dada atau apa?" ucap nya Ubai tetap menatap curiga.
"Iya, Tuan. Aku akan makan makanan yang bergizi." Rasya mengangguk.
"Jangan sampai kau tidak kebagian makan lagi, seperti dulu ketika kau tinggal di sana," sambungnya Samudra.
Lalu Samudra mengeluarkan kartu ATM dan diberikannya kepada Rasya. "Ini, pakai!"
Rasya tertegun melihat kartu tersebut. "Buat apa itu?"
"Kau gak memegang uang bukan? itu tinggal gesek saja," ucap Samudra sambil menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Gimana caranya?" Rasya memperhatikan benda tipis itu depan belakang. "Emangnya benda ini bisa mengeluarkan uang? dari mana jalannya?"
"Ck, bawa ke mesin ATM. Nanti mesin yang mengeluarkan uangnya! kau tinggal masukan ke mesin ATM dan masukan pin juga nominal yang ingin kau ambil!" Samudra menjelaskan dengan kesal.
Kening Rasya mengkerut tidak mengerti dengan penjelasan dari Samudra. "Nggak ngerti ah!" menyodorkan kembali kepada Samudra.
Lagi-lagi Samudra berdecak kesal, namun Ubai langsung turun tangan.
"Nona, setelah makan. Kita ke ATM yang kebetulan sekali ada di depan sana! saya akan tunjukan caranya." Lirihnya Ubai setelah meneguk minumnya.
Rasya mengangguk dan menoleh ke arah yang Ubai tunjukan. "Oke, Tuan Ubai?"
Samudra segera menghabiskan makannya, di akhiri dengan meneguk air putih. Rasya pun ikut berdiri ketika Samudra berdiri.
Netra mata Samudra mengarah pada piringnya Rasya. "Kau mau kemana? habiskan dulu makannya!"
Rasya pun melihat piringnya yang masih ada makanan yang tersisa itu. "Tapi, aku sudah kenyang."
Namun tak ayal, Rasya terduduk kembali dan menghabiskan makannya. Dia ingat betul kalau dulu sering gak kebagian makan.
"Aku, ingat betul kalau dulu aku kelaparan, namun apa yang aku masak kehabisan. Gak kebagian makan, jadi aku nggak boleh buang-buang makanan, kan Tuan?" suara Rasya bergetar menahan tangis yang hampir membludak, sedih mengingat masa lalu.
Samudra dan Ubai saling pandang sejenak dengan rasa haru.
"Jangan bersedih, Nona. Sekarang kau tidak akan kesusahan lagi," ungkap Ubai menghibur Rasya yang tampak sedih.
"Dulu, aku mau makan tahu aja yang sudah di tangan, bisa raib begitu saja." Lanjut Rasya sambil mengusap pipinya yang basah dengan mulut yang penuh makanan.
Samudra duduk kembali. Dan kini di dekatnya Rasya, menggerakkan tangannya merangkul bahu gadis itu. "Kau jangan bersedih, kau tidak akan susah lagi sekalipun tidak dengan ku!"
Sontak Rasya menoleh mendengar perkataan dari Samudra barusan dan hatinya semakin sedih ada rasa sakit yang menusuk ke dalam jantung, manik mata Rasya yang nanar itu menatap ke arah Samudra. Yang mengakibatkan air matanya semakin deras berjatuhan membanjiri pipinya yang bersih.
Ubai memandangi Samudra dan Rasya dengan anteng. Melihat pasangan itu tampak sekilas memendam rasa yang mungkin belum terungkap dengan kata-kata.
"Ahk ... anda bikin aku semakin sedih ... hik-hik-hik." Rasya menepuk tangan Samudra lalu menyusupkan wajahnya di dada bidang pria yang sudah mulai terbiasa bersamanya itu ....
.
__ADS_1
Apa kabar semuanya? semoga pada saat ini ada dalam lindungan yang maha kuasa 🤲