Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 190 Launching


__ADS_3

Sekitar pukul 07. Samudra baru pulang dan di sambut oleh sang istri yang tampak kesal karena di dibiarkan sendirian, yang dia kerjakan hanya tiduran tanpa ada yang bisa dia kerjakan.


"Kenapa Moncong begitu bibirnya? kaya pengen di cium saja nih." Samudra mendekatkan wajahnya tuk nyosor bagian wajah Rasya.


"Aku bosan, gak ada yang bisa aku kerjakan!" balas Rasya sambil menghalau wajah Samudra yang mendekat.


"Seharusnya kau bersyukur kalau kau ku suruh tanpa kegiatan, gak harus kerja capek-capek. Masih saja pengen capek? aneh sekali." Samudra menggeleng.


"Nggak bisa masak, lapar?" Rasya mengalungkan kedua tangannya ke pundak Samudra yang mulai membuka kancing kemeja nya.


"Setelah aku mandi, kita keluar cari makan, oke?" ucap Samudra sambil membuka kemejanya tersebut.


"Iya, nih lapar. Sambil jalan-jalan ya?" pinta Rasya sambil menarik tangan nya dari pundak Samudra.


"Oke, aku mau mandi dulu. Gerah dan lengket nih." Samudra membuka sabuknya.


"Apa yang lengket?" tanya sambil mesem.


"Tubuh ku lah, kau pikir junior ku? kan belum di pake." Balas Samudra kembali.


Namun ketika mau memutar tubuhnya. Samudra mendapatkan pemandangan aneh yang ketara dari tubuh sang istri.


Samudra memicingkan sebelah menatap intens ke arah Rasya dari atas sampai bawah tak luput dari tatapannya.


Rasya merasa heran dengan tatapan Samudra yang terasa aneh. "Kenapa?"


Kini pandangan Samudra mengarah ke bagian dada Rasya yang tampak tidak memakai penyangga tersebut.


Rasya sontak menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kau mesum ya?"


Tangan Samudra menarik tangan Rasya agar tidak menghalangi penandangannya. "Kau tidak pakai--"


"Iya, basah! aku cuci dan tidak ada ganti. Perasaan aku sudah siapkan, tapi kok di koper tidak ada." Kata Rasya sambil merapikan pakaiannya agar menutupi dan menyamarkan bagian tersebut.


Samudra mesem-mesem. "Kok bisa sih? sampai gak bawa segala? terselip kali di keper?"


"Nggak, gak ada sudah aku cari juga. Tidak adak." lanjut Rasya sambil mendudukan tubuh nya di tepi tempat tidur.


"Ya sudah, gak jadi keluar kalau begini caranya! gak mungkin lho kau jalan seperti itu," ungkap Samudra.


"Kan aku mau ganti baju, dan pakaian dalam ku pasti sudah kering sekarang!" ungkap Rasya memandangi ke arah Samudra yang kini mulai mendekat.


"Heran, biasanya wanita itu lebih teliti dengan barang bawaan nya, bajuku juga kau siapkan dengan. baik dan komplit. Kenapa bisa pakaian mu sendiri sampai lupa segala?" lagi-lagi Samudra menggeleng dan mendekat.

__ADS_1


"Nggak tau, yang jelas aku ingat betul sudah ku siapkan, tapi mungkin aku lupa memasukannya." Kenang Rasya.


"Ya, sudah nanti aku keluar membelinya." Tatapan Samudra kian bernafsu melihat puncak Himalaya yang begitu ketara memperlihatkan sedikit gundukan yang bikin gemes dan rasanya pengen menggigit nya dengan rakus.


Geph! tangan Samudra memegangi Himalaya tersebut hingga masuk ke dalam genggamannya semua. Tangan Rasya menepisnya namun tidak menggoyahkan tangan itu yang kuat dan mulai m***m** nya dengan kuat.


"Sakit?" desisi Rasya menatap sayu ke arah netra nya Samudra.


"Ups, Sorry?" Samudra memelankan genggamannya namun tetap tidak mau menyingkir dari tempatnya tersebut.


Bikin nafas Rasya naik turun. Dan darah terasa panas bergolak menjalar ke seluruh tubuh.


Begitupun dengan Samudra yang menyusupkan tangan nya ke dalam baju Rasya. Membuat tubuh nya menggigil panas dingin.


Tubuh Samudra semakin mendekat dan perlahan menyeret tubuh Rasya, berbaring di atas tempat tidur yang luas dan bertilam seprei putih bersih tersebut.


"Katanya mau mandi? bukan kah kita mau makan ke luar?" gumamnya Rasya dengan suara nyaris tidak terdengar.


"Nanti saja mandi nya, Sekarang aku harus mengurus yang ini dulu! biar tidak meronta-ronta, sakit sayang kalau meronta dan mengamuk terus-menerus seperti ini." Samudra menunjuk dengan matanya ke arah bawah.


"Na-nanti keburu ma-malam," suara Rasya pelan dan terbata-bata di iringi nafas yang bergemuruh.


Namun Rasya tidak mengindahkan perkataan dari sang istri. Dia kini menikmati bibir ranum yang membuat candu untuk selalu menyentuhnya dengan tangan terus bergerilya kemana-mana, menjadikan tubuh Rasya menggeliat geli. Meliuk-liuk nikmat apalagi ketika mulut Samudra berada di ujung Himalaya yang tinggi tersebut.


Berharap segera hadir Samudra junior yang dirindukan orang tua nya maklum, putarnya itu hanya Samudra satu-satunya dan berharap mempunyai cucu yang banyak.


"Uhh ... mmmhh ..." suara kecil yang keluar dari mulut Rasya yang terdengar begitu merdu membuat yang mendengar semakin bergairah dan bersemangat.


"Ooh ... ahk ... aku mencintai mu, membutuhkan mu! tidak akan pernah kubiarkan kau menjadi milik siapa pun selain diriku," gumamnya Samudra di sela-sela kegiatan yang lumayan melelahkan itu sehingga peluh pun bercucuran bercampur dengan peluh si lawan main.


Satu jam kemudian, mereka sudah selesai dari kegiatan yang sangat memuaskan tersebut. Samudra yang kini berdiri di dekat televisi dengan menggunakan kimono putih. Memandangi ke arah Rasya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ayo dong, keluar nya? laper ..." suara Rasya terdengar manja.


"Malas keluar aku, beli gofood saja lah. Malas jalan, lagian ...."


"Lagian apa?" tanya Rasya menatap penasaran.


"Masih pengen?" ucap Samudra sambil menyunggingkan bibirnya.


Manik mata Rasya terbelalak dengan sangat sempurna ke arah Samudra sambil memukul dadanya. "Dasar maruk, gak puas-puas. Aneh sekali jadi orang!"


"Ha ha ha ... habis lihat pake itu, itu bikin bangun. Biar cepat launching!" bisik Samudra di telinga Rasya.

__ADS_1


"Launching? apaan tuh?" selidik Rasya yang kurang mengerti apa itu launching?


"Rrrrgh. Launching itu ... meluncurkan, mengeluarkan. Ha ha ha ... meluncurkan buah cinta kita!" Samudra di 8ringi dengan tertawa.


Rasya melamun dengan bibir tersenyum manis. Membayangkan bila punya baby yang lucu, tetapi dia kan mau sekolah dulu biarpun kejar paket dan masih tetap banyak di rumah.


"Kenapa melamun?" tanya Samudra sambil sibuk dengan ponselnya itu.


"Nggak, gak kenapa-napa!" Rasya menggeleng.


Kemudian Rasya berdiri di dekat jendela melihat suasana malam di luar, dengan pemandangan kota Banjarmasin yang gelap berhias taburan lampu-lampu yang tampak indah.


"Kau tidak memakai kontrasepsi kan sayang?" bisik Samudra sambil memeluk perut Rasya dari belakang.


"Ha? apa itu kontrasepsi?" tanya Rasya sambil melirik ke arah samping, dimana wajah Samudra yang membungkuk menempelkan dagunya di pundaknya.


"Masa gak mengerti?" gumamnya Samudra.


"Penjaga kehamilan bukan?" tanya Rasya kembali sambil mengeratkan tangan Samudra di perutnya itu.


"Iya, nanti saja kalau sudah ada baby kita, baru pakai itu." Suara Samudra pelan.


"Mana tau aku yang gituan! jadi boro-boro pake," Rasya memutar tubuhnya menghadap pada Samudra.


"Gak usah pake dulu lah. Biar cepat launching baby kita buat hadiah papa dan mama!" Samudra membungkukkan pundaknya dan mendekatkan wajah mereka berdua.


"Tapi, biarpun gak pake! kalau Allah belum ngasih gimana?" Rasya menatap lekat.


"Nggak pa-pa. Yang penting gak di jaga dulu," balas Samudra, kedua netra nya bergerak turun melihat tali kimono yang hendak ia tarik.


Namun Rasya menguatkan ikatannya. Sambil mendelik pada Samudra, semakin menambah indahnya manik tersebut.


"Kenapa? kau itu milik ku! jadi aku bisa memakai mu kapan saja!" Samudra menatap kecewa.


"Emangnya aku barang? kau pake-pake. Aku ini istri mu yang lebih harus kau hargai dan ... kau hormati juga, mengerti kemauannya. Keinginannya! bukan menuruti kemauan mu saja, egois itu namanya." Rasya berujar dengan panjang.


"Ck, ahk. Banyak bicara!" Samudra dengan cepat menangkap wajah Rasya lalu dihujani dengan kecupan kecil membuat cengengesan geli.


Namun dari luar terdengar pintu di ketuk dengan halus. Menjadikan keduanya menoleh dengan cepat ke arah sumber suara yang sudah berani-beraninya menganggu kesenangan Samudra ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2