Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 66 Tidak ingat


__ADS_3

"Kenapa?" Samudra menatap ke arah Rasya.


"He he he, cuma tersandung." Rasya nyengir.


"Kebiasaan!" Samudra berucap jutek.


Setelah menyajikan kue di meja Samudra, Rasya langsung ke kamarnya, kedua mata Rasya sudah ngantuk berat.


Sementara Samudra dengan fokus melihat layar laptop dengan jari-jari sibuk juga dengan papan keyboard, sesekali menyesap kopi dan makan kuenya.


Beberapa jam kemudian. Dan entah jam berapa? kepala Samudra terasa berat sekali dan matanya sudah tidak bisa dibawa kompromi. Ngantuk banget, sehingga memilih menutup laptop dan berjalan sambil terus menguap.


Penglihatan pun sudah blur. Dan tidak sadar kalau dia memasuki kamar Rasya, setelah menyimpan laptopnya di atas nakas. Samudra langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur Rasya yang tidurnya meringkuk di balik selimut.


Kedua mata Samudra tidak mampu lagi untuk di buka. Melihat suasana kamar atau siapa saja yang berbaring di tempat itu.


Malam semakin larut, membawa perasaan hanyut pada kedinginan yang merayu hati untuk memeluk sesuatu. Begitupun dengan Samudra yang mengagerakan tangannya mencari guling untuk di peluk.


Tanpa membuka mata sedikitpun, tubuh Samudra berbalik dan tangan kekarnya memeluk tubuh Rasya yang begitu lelap.


Rasya terlarut dalam kehangatan tubuh Samudra yang membuat tidurnya semakin nyenyak dan terbawa mimpi kalau dirinya dalam pelukan seorang pria yang hangat, mengalahkan hangatnya selimut tebal yang sering dia pakai. Bikin nyaman dan tenang.


Waktu terus berputar dan malam terus beranjak menuju pagi. Rasya terbangun menggeliat nikmat.


Namun ada yang aneh yang dia rasakan saat ini. Tubuhnya bagai ada yang menindih sehingga ia membuka matanya sedikit-sedikit, remang-remang dia lihat tangan kekar memeluk pinggangnya.


Rasya terkesiap dengan pemandangan netra nya ini. "Tangan?"


Dia lebih menajamkan lagi penglihatannya, meyakinkan apa benar itu tangan orang atau tangan setan?


"Tangan?" Kepalanya menengok ke samping.


"Aawwwww ..." jerit Rasya dekat telinga Samudra.


Sehingga sang empu merasa tersentak, melonjak bangun dengan mata melotot dengan sempurna ke arah Rasya yang memeluk selimut.


"Ke-kenapa, Tuan tidur di sini? " tanya Rasya sambil mengintip dirinya dari balik selimut, tapi semua pakaiannya masih utuh.

__ADS_1


Samudra kebingungan. Jiwanya belum terkumpul, penglihatannya masih meremang.


"Jawab, kenapa anda tidur di sini? anda sudah ngapain aku?" bentak Rasya kembali.


"Ngapain apa?" Samudra masih kebingungan, mengusap wajah dan menggosok kedua matanya.


"Bohong!" Rasya memainkan kedua kakinya mendorong pinggul Samudra sekuatnya.


Blugh!


Tubuh Samudra terguling ke lantai. Kepalanya bagian belakang sedikit membentur lantai, belum lagi bagian tubuhnya yang lain.


"Kau gila ha? orang di tendang-tendang, sakit. Tau gak? bentak Samudra sambil meringis memegangi kepala dan pinggang.


Rasya menatap tajam ke arah Samudra, dengan hati was-was, apa yang terjadi semalam? mana Samudra gak pakai baju gitu.


"Tuan kenapa tidur di sini?" tanya Rasya kembali dengan suara sedikit bergetar.


"Mana ku tau! aku gak tau melakukan apa semalam." Kata Samudra sambil beranjak bangun. Memegangi pinggangnya yang terasa sakit.


"Kok. Bisa gak tau sih? kan Tuan yang masuk ke sini?" Rasya menatap curiga.


"Tapi kan, bisa saja kau menci--" Rasya menggantungkan ucapannya.


Samudra menoleh, dia tau yang Rasya maksudkan itu. "Kau ge'er banget ya? kau pikir saya tertarik sama kamu ha? tidak, sekalipun kamu statusnya istri. Saya tidak akan pernah tertarik untuk menyentuh mu. Pecam kan itu?" bentak Samudra ke dekat wajah Rasya.


Membuat Rasya tersentak, dan memejamkan mata. Ada rasa sakit yang menusuk jantungnya, sesak rasanya di dada. Sehingga tidak terasa sudut matanya mengeluarkan air bening.


"Kau pikir kau seperti apa ha? kau itu bukan tube wanita idaman ku!" bentak kembali Samudra.


Rasya hanya terdiam dan terlihat air bening mengalir di pipinya. Samudra merasa tidak tega namun dia terlalu angkuh untuk mengakuinya.


"Sudah, siapkan air hangat di bathub dan siapkan juga yang lainnya. Saya mau ngantor!" dengan nada suara yang agak turun.


Rasya menghela napas panjang. Menghirup udara sebanyak-banyaknya dari sekitar. Kemudian mengibaskan selimut lalu turun menapakkan kedua kakinya ke lantai. Berjalan meninggalkan kamarnya yang masih ada Samudra di sana.


Sesungguhnya Rasya tidak habis pikir, kenapa Samudra tidur bersamanya semalam? tanpa dia sadar sedikitpun tanpa tahu masuknya kapan. Seingat dia, semalam dia masuk kamar setelah membuatkan kopi untuk Samudra dan Samudra sendiri sedang sibuk dengan laptopnya.

__ADS_1


"Jadi, semalam itu bukan mimpi! aku di peluk seorang pria?" gumamnya Rasya sambil memasuki kamar Samudra.


"Sial! kenapa aku ada di kamar ini sih?" ucap Samudra heran dengan dirinya sendiri yang bisa-bisa nya masuk ke kamar Rasya dan tidur di samping nya.


"Gila, aku gila. Tapi yakin kok, kalau aku tidak melakukan apapun, selain tidur saja.


Samudra menggelarkan kepalanya kasar. Lalu membawa langkahnya dari kamar tersebut ke kamar miliknya. Di dalam, berpapasan dengan Rasya yang sedang menyiapkan pakaiannya untuk ngantor.


Langkah Samudra langsung ke kamar mandi yang sudah tersedia air panas yang Rasya siapkan. Lanjut melucuti pakaian yang tersisa, masuk ke dalam bathub.


Setelah semua keperluan Samudra siap di atas tempat tidur. Rasya langsung balik ke kamarnya untuk bersih-bersih terlebih dahulu. Sebelum melanjutkan aktifitasnya nanti.


Beberapa puluh menit kemudian. Rasya sudah berkutat di dapur dengan menyiapkan sarapan untuk Samudra, siapa tau juga Ubai datang dan ikut sarapan di sini.


Ketika Rasya menoleh ke belakang, Samudra sudah duduk manis dan melempar lirikannya pada Rasya. Rasya langsung membuang muka kembali pada masakannya.


Dia malas. Untuk saat ini bersitatap dengan Samudra, tanpa banyak bicara Rasya anteng dengan masakannya. Padahal dalam hati, Rasya ingin sekali mengatakan tentang kedatangan pak RT yang menyampaikan selembar kertas.


Samudra merasa aneh dengan sikap Rasya yang diam saja, biasanya bawel. Namun kali ini hanya hening dan suara sodet ke wajan saja yang terdengar riuh.


"Kemarin, pak RT datang membawa selembar kertas ya?" Samudra membuka pembicaraan.


"Iya, aku simpan di laci." Rasya menunjuk ke arah kamar Samudra.


Samudra tersenyum mendengar suaranya Rasya walau terdengar malas bicara.


"Pagi ... gimana kabar pagi ini? apakah secerah di pagi ini juga?" suara Ubai menghampiri meja makan.


"Alhamdulillah baik, Tuan Ubai. Wuih kau tampak ganteng sekali pagi ini?" puji Rasya menatap intens penampilan Ubai.


"Aish ... ramah amat sama Ubai, sama diam terus?" batin Samudra sambil memandangi keduanya bergantian.


"Oya! Alhamdulillah ... ada juga yang memuji ku! Terima kasih Nona? kau mengakui ku ganteng, berasa terbang nih hidung ku." Ubai mengusap hidungnya penuh rasa bangga.


"Gitu aja bangga!" ketus Samudra sambil menarik piring yang Rasya sodorkan ....


.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya🙏


__ADS_2