Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 93 Sudah menikah


__ADS_3

"Kalian berdua sudah menikah? maksudnya gimana? bukan kah Rasya ini asisten kamu Sam?" Viona dan Fathir menatap heran kepada Rasya dan samudra yang ekspresinya yang mulai aneh.


Jelas Samudra kelimpungan. Harus berkata apa? kalau Fatir dan Viona tahu dirinya dan Rasya sudah menikah. Berita ini tentunya akan sampai ke orang tuanya dan kekasihnya Karin.


"Aduh .... gimana ini? berabe nih urusan!" batin Samudra.


Samudra dan rasa terdiam 1000 bahasa, hanya mata mereka yang saling bicara.


"Mereka berdua itu sudah menikah Mbak! digerebek warga sama Mas sidar dan Mas Adam, juga warga lainnya. Karena mereka satu atap berdua," ungkap Wiwi pada Viona.


Viona semakin merasa penasaran, dengan cerita Wiwi. "Beneran?"


"Ya Allah, Mbak ... iya benar! buat apa kami bohong? mereka berdua sudah menikah," Wiwi meyakinkan Viona.


Istri Sidar hanya mengangguk-angguk kan kepalnya, membenarkan perkataan dari istrinya Adam itu.


"Sekarang, cerita sama Tante. Apa yang sebenarnya terjadi?" desak Viona menatap lekat pada Rasya dan samudra.


Rasya menunduk, apa yang dia rasakan tidak karuan. Was-was, gak enak hati dengan Samudra, Pria yang belum lama ia kenal harus terlibat dengan masalahnya.


"Maafkan aku Tuan?" batinnya Rasya. Tangan yang bertaut mengeluarkan keringat dingin.


"Coba kalian cerita sama Om dan Tante, apa sebenarnya hubungan kalian berdua ini? beneran yang di katakan Wiwi! atau cuma asisten biasa dan majikan? biar jelas lah," ujar Fatir dengan lemah lembut.


Viona yang sudah tidak sabar, kembali bertanya agar mendapat jawaban. "Jawablah yang benar? jangan bikin Tante penasaran nih?"


Samudra masih bungkam, membuat Viona dan Fatir gregetan.


"Jawab dong sayang? apa benar kata Bi Wiwi, kalau Rasya Ini sudah menikah dengan Samudra?" Viona kembali bertanya pada Rasya.


Rasya tetap terdiam menggigit Bibir bawahnya, serta mata melihat ke arah Samudra seakan bicara, gimana nih?


Samudra pun tak serta-merta menjawab, dia menunduk dan menautkan sepuluh jarinya di atas lutut, berapa kali terlihat menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Gimana ini? harus cerita jujur? karena bohong juga nggak mungkin, toh kenyataannya seperti itu. Kenapa gue harus ke sini sih? hanya mencari masalah saja," batin Samudra bermonolog kesal.


"Kok kalian terdiam? Ooh ayo dong ... cerita sama Tante sama Om, Jangan diam kayak gini? membuat kami menerka-nerka dan menduga-duga kalau sesuatu sudah terjadi pada kalian di luar akal sehat kami." Viona merasa gemas.


Rasya mendongak menatap ke arah Viona, lalu berkata dengan suara bergetar. "Kami tidak pernah melakukan apapun kok Tante."


"Ini cuman kesalahpahaman saja." sambung Samudra. "Benar Om Tante. Cuma kesalahpahaman warga saja."


Kini giliran Fatir dan Viona yAng saling bertukar pandangan satu sama lain.


"Sebenarnya ... kami tidak melakukan apa-apa, Rasya cuma menjalankan tugasnya dengan baik sebagai asisten. Namun entah kenapa? warga tidak percaya dan memaksakan kami untuk menikah, sebab kalau tidak mau! kami harus berurusan dengan pilah yang berwajib dan tentunya, nama baik ku yang tercoreng dan tercium media," ungkap Samudra panjang lebar.


"Jadi, akhirnya kalian menikah?" tanya Fiona kembali untuk meyakinkan hatinya.


Sejenak Samudra maupun Nasya tidak menjawab.


Namun pada akhirnya Samudra mengangguk. "Benar Tante! tapi saya mohon Tante? jangan ceritakan ini kepada Papa dan Mama, sebab saya tidak ingin mereka tahu apalagi kekasih saya, saya tidak ingin itu terjadi." Pinta Samudra setengah memohon.


"Tapi kalian, sudah menikah, bagaimanapun. Akui saja!" ucap Fatir dengan santainya.


"Terus kenapa kau menikahinya?" tanya Viona kembali. Menatap ke arah Samudra dengan tajam.


"Terpaksa Tante." Jawabnya Samudra.


"Bilang aja pada semuanya, kalau kalian sudah menikah. Toh kalian hidup bersama! beda kalau kalian hidup terpisah, itu lain cerita!" Viona tidak habis pikir dengan jalan pikirannya Samudra.


"Tante, Om. Saya mohon dengan sangat! jangan cerita pada papa dan mama. Dan aku sangat mencintai kekasih ku. Semua orang tau kalau pernikahan kami, tidak lama lagi." Samudra kembali memohon.


"Ooh, tidak. Tante harus cerita ini semua, kalau Rasya bukanlah asisten tapi istri mu!" nada bicara Viona menggebu-gebu.


"Bener itu, orang tua mu harus tau itu, kalau Rasya ini adalah mantunya. Om rasa tidak akan masalah kok. orang tua mu baik-baik." Timpal Fatir.


"Mungkin papa dan mama, akan menerima Rasya, tapi kekasih ku tidak. Itu gak mungkin." Lirihnya Samudra.

__ADS_1


Hening!


Sementara waktu. Tidak ada yang bicara, mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Anggap aja ini sebuah kamuflase. Agar semua terlihat baik-baik saja, warga mengancam kalau saya tidak mau menikahinya, saya akan berurusan dengan yang berwajib--" Samudra menjeda perkataannya dengan meneguk air minum, tenggorokannya terasa sangat kering.


"Otomatis media akan tahu, terus. Gimana dengan nama baik saya? keluarga saya? begitupun dengan Rasya, tentunya akan tercoreng juga." Sambung Samudra.


"Jujur, saya tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, walaupun dapat dimengerti." Jelas Viona. Terus nasib Rasya gimana nantinya?"


"Rasya akan tetap tinggal di apartemen saya, selama dia mau dan kami tidak akan merasa canggung jika bertemu ataupun bersama di sana. Setelah saya menikah nanti dengan Karin, Sesekali saya akan pulang ke apartemen untuk melihatnya," ucap Samudra dengan tenangnya.


"Tidak, Saya tidak setuju. Berarti kamu madu dia dong?" protes Viona. "Mendingan Rasya saya bawa bersama saya, sama suami saya. Karena kami sudah menganggapnya anak, tidak perlu kamu sakiti dia!"


"Siapa yang sakiti dia Tante? saya tidak menyakitinya! justru saya menolong dia dari bandot tua itu, membayar hutang orang tuanya pada juragan tersebut." Samudra sedikit ketakutan.


"Saya bisa kok, kembalikan uang itu pada mu Sam." Jelas Viona menantang Samudra.


"Ka-kalau soal itu, sudah saya ikhlaskan sebagai maskawin. Dan Rasya pun betah tinggal bersama saya, iya kan Sya?" Samudra mengalihkan pandangan pada Rasya yang menunduk, lantas direspon dengan sebuah anggukan.


"Iya, saya dan Mas Adam yang menjadi saksinya." Suara Sidar yang baru datang di tempat tersebut.


Kemudian pandangan Fatir dan Viona serta yang lainnya tertuju pada Sidar yang baru datang tersebut.


"Benar, Rasya betah tinggal sama Samudra?" Viona menatap lembut pada Rasya yang langsung mengangguk.


"Saya tidak pernah macam-macam sama dia. Apalagi menyakitinya," jelas Samudra.


"Kenapa kamu nggak antar pulang saja ke kampungnya? dia masih muda," ucap Fatir menatap keduanya.


"Jika saya antar pulang dia, hanya untuk diperjualbelikan buat apa? mendingan sama saya, daripada di kampungnya. Susah, nggak dapat kasih sayang dan takutnya dijual lagi." Tegas Samudra kembali sambil menoleh pada Rasya yang kebetulan menatap ke arah dirinya ....


.

__ADS_1


Mohon like komen dan vote nya. Dan juga bintang nya ya🙏


__ADS_2