
"Tega banget, kau Tuan. menyamakan aku dengan seekor anjing! Bagaimanapun aku manusia. Bukan binatang." Rasya kesal dengan ucapan Samudra yang sangat tidak mengenakan hati.
"Siapa yang menyamakan kau dengan bi-na-ta-ng? cuma tulang mu sebagai perempuan saja. Buruan makan? jangan tersinggung!" ucap Samudra dengan nada datar.
"Itu sama saja," balas Rasya kembali.
"Aku kira gak sama. Beda, dan jangan ngoceh Mulu. Panas kupingku, sudah lapar juga." Samudra langsung menyantap makannya hangat-hangat.
Rasya mencibirkan bibirnya. Kemudian duduk di depan Samudra, menarik piring yang dia siapkan sebelumnya. Mengambil nasi dari Magicom, lanjut duduk kembali menikmati masakan yang ada. Ya itu telor ceplok, cah kangkung dan tahu, tempe.
Keduanya makan dengan sangat lahap. Tiba-tiba terdengar suara bariton Samudra memecah keheningan. Membuat Rasya mendongak melihat ke arah Samudra.
"Setelah mencuci. Ambil ponsel mu, saya akan ajarkan.
cara memesan belanjaan lewat online."
"Iya." Rasya singkat, kemudian melanjutkan makannya dengan yang lahap itu.
Sesekali Samudra memperhatikan cara makan Rasya yang lebih cepat dan banyak. Bibir Samudra tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Kaya cara makannya kuli." batin Samudra.
"Kamu itu perempuan, gak baik cara makan mu seperti itu! gak sopan!" ucap Samudra melirik tajam.
Rasya kembali mendongak. "Ha? gimana?"
"Tidak boleh seperti itu, cara makan perempuan itu harus kalem, santai. Bukan seperti kuli begitu. Harus pake etika, apalagi bila makan di depan orang banyak." Tambah Samudra kembali.
Rasya mencibirkan bibirnya ke depan. "Terus harus gimana?" tanya Rasya menatap ke arah lawan bicaranya.
"Ya, lebih santai dan kalem. Tidak cepat-cepat begtu." Kemudian Samudra mengajarkan gimana caranya makan dengan kalem dan menurutnya beretika.
Rasya mengikuti arahan Samudra awal-awal nya benar pelan. Namun lama ke lamaan. cara makan Rasya cepat kembali.
Samudra melotot kembali melihat Rasya yang mempercepat makannya. "Kau ini, kau itu kalau makan sama saya atau Ubai, bisa saja dimaklumi. Tapi kalau makan sama orang, gimana?" hardik Samudra.
"Lelet, susah habisnya kalau cara makannya kaya gitu! aku gak terbiasa, Tuan." Akunya Rasya.
"Dibiasakan! sekarang kau bukan lagi hidup di kampung. Tapi di kota. Jangan samakan dengan di kampung yang buat makan saja kau susah, gak kebagian." Bentak Samudra kembali.
__ADS_1
Rasya menunduk ketakutan dengan bentakan Samudra. Manik matanya kembali berair, namun segera ia menghapusnya.
"Di sini, kau bebas makan mau kapan saja, kalau kau mau. Kau bisa pesan apa pun yang kau suka. Jadi gak usah terburu-buru takut gak kebagian, sehabis makan. Makan buah." Tambah Samudra mendelik.
Rasya tetap terdiam mendengarkan perkataan Samudra yang memang benar adanya. Di kampung. Dia makan terburu-buru. Sebab suka gak kebagian makanan. Atau terburu-buru karena kerjaan yang di suruh ini dan itu, orang-orang di sana tidak senang melihat Rasya bersantai.
Sementara di sini paling yang bikin dia kesal adalah Samudra sendiri, namun membebaskan dia makan apapun semaunya. Dan sebenarnya Samudra ada sisi baiknya.
"I-iya, Tuan." Rasya menghabiskan makannya dengan pelan dan santai.
Karena makannya sudah selesai. Rasya segera mengambil pakaian kotor dari kamarnya, lanjut mencuci sambil menyapu kamar Samudra dan kamarnya.
Sementara Samudra seelsai makan, tangannya, matanya sibuk ke layar laptop.
Sesaat dering ponsel Samudra pun berbunyi, gegas Samudra mengambil dan menerimanya.
^^^Samudra: "Halo sayang?ada apa nih tumben telepon."^^^
^^^Karin: "Sayang, bisa gak antar aku ka Mall nanti siang ya, plise? dan jemput aku ke kampus lebih dulu sayang ya?"^^^
^^^Samudra: "Em ..."^^^
^^^Karin: "Please baby ... ayolah ... I love you?"^^^
^^^Samudra: "Tentu sayang ... nanti aku jemput, I Love you too!"^^^
^^^Karin: "Terima kasih sayang ku ... Muuuuach."^^^
^^^Samudra: "Sama-sama cintaku. Muuuuach."^^^
Kecupan jauh pun Karin berikan, tak ayal membuat Samudra membalas juga sambil senyum-senyum sendiri. Hatinya di bikin berbunga-bunga menerima kecupan dari sang kekasih, yang langsung ia membalasnya.
Rasya memandangi Samudra yang senyum-senyum sendiri. "Tuan jutek, gila kali ya? ketawa-ketawa sendiri. Eh kan sama kawannya di teleponan."
Kemudian sambungan telepon pun terputus, membuat Samudra menurunkan ponsel dari telinganya.
Dengan wajah yang berbinar. Samudra tampak bahagia sehabis bicara dengan sang kekasih, pujaan hatinya, Karin.
"Sudah belum nyucinya? pesan dulu belanjaan buat nanti siang kau masak. Oya nanti siang aku gak makan di sini tapi mau makan di restoran," pekik Samudra sambil menoleh ke arah Rasya yang sedang menggantungkan pakaian di balkon.
__ADS_1
"Iya, sebentar. Sabar dulu napa?" Balas Rasya dengan menyelesaikan pekerjaan menjemur semua cuciannya.
"Malam juga, aku gak akan pulang ke sini, tidak makan di sini tapi di rumah ku." Lanjut Samudra kembali sambil menyilang kan tangan di dada.
"Ha? emangnya di sini bukan rumah, ya Tuan? kan ini rumah juga," tanya Rasya heran sambil berjalan menghampiri.
"Maksud ku, mau makan di rumah ku, ini apartemen. Satu gedungnya, banyak pemiliknya, tapi kalau rumah itu pemiliknya pribadi," jelas Samudra menjelaskan.
"Oo!" Rasya membulatkan mulutnya sambil berdiri sambil menunggu perintah selanjutnya.
Samudra menoleh ke arah Rasya yang malah mematung. "Ngapain berdiri di situ? ambil?"
"Apanya, Tuan?" tanya Rasya kebingungan.
"Ck. Ponsel mu ambil, Rasya ... aku akan mengajarkanmu cara belanja online nya!" pekik Samudra tertahan sangat geram pada Rasya yang selalu bikin naik darah.
"I-iya, Tuan. Sabar-sabar." Rasya buru-buru ke kamarnya untuk mengambil handphone miliknya.
Detik kemudian Rasya kembali, membawa ponsel di tangan. "Eh mana orang nya?" kepala Rasya celingukan mencari Samudra yang tidak ada di tempat semula.
"Saya di sini!" suara Samudra dari sofa panjang di ruang tengah.
Rasya menoleh sambil nyengir, lalu bergegas menghampiri Samudra yang sudah duduk santai di sana.
"Sini? duduk di sini?" Samudra menepuk sofa yang berada di dekatnya.
Rasya hanya berdiri, merasa ragu-ragu mau duduk di dekat Samudra. "Tidak apa-aku duduk di situ?"
"Maksud mu aku harimau yang akan menerkam dirimu apa ha?" ucap Samudra mendongak dengan nada sedikit tinggi.
"He'eh ... bisa gak sih bicaranya itu dengan nada rendah? enak gitu terdengarnya. Bukan bentak dan nada tinggi gitu!" gumamnya Rasya sambil mendudukkan bokongnya, tidak jauh dari Samudra duduk.
"Nggak usah mengajari ku!" ketus Samudra seraya mengambil ponsel dari tangan Rasya lalu membukanya.
Heningh!
Samudra menyimpan kontak yang sekiranya penting dan beberapa aplikasi di ponselnya Rasya, buat belanja online.
Kemudian. Samudra mendongak melihat ke arah Rasya yang ikut melihat layar ponselnya yang berada di tangan Samudra dengan begitu dekatnya ..
__ADS_1