Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 162 direstu


__ADS_3

"Ayah, aku mohon. Yah? suruh dia masuk dan restui kami berdua? aku mohon Ayah!" Rasya memohon-mohon pada sang ayah.


Fatir melihat wajah putrinya itu yang basah. "Kenapa kau begitu membelanya? apa kau mencintai nya?"


Rasya menoleh pada sang bunda lalu pada Fatir, Rasya mengangguk seraya berkata. "Iya, aku sayang sama tuan muda!"


"Tapi dia tidak." Timpal Fatir menatap lekat pada putrinya tersebut.


"Setidaknya dia ingin menyayangi ku dan menjadi suamiku yang baik, Ayah. Maafkan dia dan restui kami berdua! lihat dia yang tidak mau beranjak dari tempatnya, di luar hujan begitu deras. Dia kedinginan, Ayah. Kasihan?"


Viona menatap ke arah sang suami yang begitu datar dan tampak dingin itu. "Mas, apa yang akan dikatakan oleh mas Suyoto dan mbak Riska bila tau putrinya kita biarkan seperti itu?"


"Sayang ... sudah lah. Jangan banyak pikiran seperti itu?" jawab Fatir dengan santainya.


Rasya yang kini berdiri di dekat jendela melihat Samudra yang masih berdiri di bawah kucuran air hujan yang masih deras mengguyur tubuhnya.


Sesekali kedua tangan Rasya menutup telinganya ketika terdengar suara petir yang menggelegar. "Ayah, gimana kalau dia tersambar petir? apa ayah tega bila terjadi seperti itu?"


Fatir tidak menjawab, dan hanya menatap kosong ke arah luar derasnya air hujan tidak membuat surut tekad anak muda itu beranjak dari tempatnya.


"Bunda ... kasihan tuan muda?" gumamnya Rasya dengan sorot mata terus melihat nanar ke arah Samudra.


Tubuh Samudra yang sudah menggigil dan kepalanya terasa pusing berat, hampir saja membuat tubuhnya tumbang. Untung saja dia masih dapat mengontrol keseimbangan tubuhnya yang lemah itu.


"Ya sudah, suruh saja dia masuk?" ucap Fatir dengan nada datar.


Rasya dan Viona menoleh dengan cepat, terutama yang begitu juga siap dan bahagia dengan ucapan dari sang ayah.


"Beneran ayah? beneran tuan muda boleh disuruh masuk? ayah serius bukan, tidak main-main kan?" rentetan pertanyaan Rasya yang sontak mendekati sang ayah dan memegang kedua tangannya.


Viona pun tak kalah antusiasnya menatap ke arah sang suami.


Fatir tersenyum seraya mengangguk pelan. "Suruh dia masuk? ayah merestui kalian berdua."


"Makasih? Ayah! makasih?" Rasya mencium punggung tangan Fatir.


Rasya tersenyum getir, hatinya merasa berbunga-bunga mendengar perintah sang ayah. Kemudian Rasya setengah berlari ke arah belakang, sekalian mengambil payung.


Rasya berlari keluar dengan payung di tangan, menghampiri Samudra di bawah guyuran hujan. "Tuan muda?"


Samudra yang mendongak ke atas, arah kamar Rasya sontak menoleh ke sumber suara yang didominasi dengan kucuran air hujan.


"Rasya?" suara Samudra sangat pelan dan nyaris tak terdengar.


Rasya berdiri di depan Samudra yang tampak menggigil. Dagunya, bibirnya pun berdebar.


"Tuan muda, ayah menyuruh mu masuk! ayah, sudah merestui kita!" gumamnya Rasya pelan.


Samudra menatap lekat ke arah Rasya, lalu dia memeluk gadis itu dengan sangat erat. Di bawah payung hitam dan guyuran air hujan. Keduanya saling berpelukan.


"Benarkah, Om sudah merestui kita?" tanya Samudra dalam pelukan Rasya.


Rasya hanya mengangguk pelan di dekat telinga Samudra.


Sejenak mereka berdua saling pelukan dengan erat. Merasakan perasaan mereka yang campur aduk. Antara bahagia dan haru, kemudian Samudra melepaskan rangkulannya.


"Aku kedinginan dan lapar. Hari ini aku tidak makan sama sekali." Suara Samudra pelan.


"Ya ampun, Tuan! ayo masuk?" tangan Rasya yang kanan merangkul pinggang Samudra, sementara yang kiri memegangi payung, di ajak nya ke dalam dan langsung ke kamar.


Fatir dan Viona yang melihat Rasya dan Samudra dari kejauhan. Menyunggingkan senyumnya, Terutama Fatir yang merasa puas. Bukannya tega! tapi ingin tahu aja sejauh mana Samudra menunjukan keseriusannya pada Rasya.


"Mas?" Viona menoleh pada sang suami di tatapnya sangat lekat dan dengan bibir yang tersenyum merekah.


"Kenapa? Mas hanya ingin tahu sejauh mana keseriusan Samudra pada putri kita. Bukannya tega atau apa? Mas juga sebenarnya berterima kasih pada pemuda itu yang sudah menolong Rasya dari pria siapa? yang membeli Rasya dari keluarga Muhidin tersebut."


"Juragan Kasmin ya?" sahutnya Viona.


"Iya itu, kismin. Eh Kasmin, aku juga bersyukur kok, putri kita bisa lepas dari pria itu. Oke semoga Samudra bisa menjaga putri kita seterusnya? istirahat yu? jam berapa nih?" Fatir membawa langkahnya mengajak sang istri untuk istirahat.


"Iya, Mas. Yu kita istirahat?" Viona menautkan jarinya pada tangan Fatir.


Keduanya berjalan, membawa langkahnya ke dalam kamar mereka dengan hati yang sedikit tenang.


Sementara Rasya di kamarnya dan langsung mengantar Samudra ke depan pintu kamar mandi. "Kau mandi dulu ya? aku mau siapkan makan dan air minuman hangat."

__ADS_1


"Baiklah." Samudra yang merasa lututnya bergetar, tubuh yang teramat menggigil. Berjalan memasuki kamar mandi, namun baru saja dua langkah badannya terasa lemas sekali sehingga dia lantas berjongkok.


"Tuan kenapa?" Rasya menunjukan rasa cemasnya dan menghampiri.


"Tubuh ku lemas sekali!" Jawab Samudra sambil mencoba berdiri.


"Ya sudah, sebentar?" Rasya buru-buru keluar kamar mandi. Mendekati meja untuk mengambil air putih dan tadi sisa makan dirinya yang masih tersisa setengahnya itu.


Samudra melihat gerak-gerik Rasya yang begitu cepat kembali menghampirinya.


"Tuan, ini makan dan minum dulu? biar sisa aku tadi, lumayan lah untuk mengganjal perut mu. Sup nya tadi belum ku sentuh kok." Rasya berjongkok memegang piring dan mangkuk, sementara botol minum ia peluk.


Samudra kembali berjongkok dan mengambil botol minuman, serta dengan cepat ia teguk isinya. Di dalam hujan, dia kehausan dan tenggorokan terasa kering tanpa sentuhan titisan air.


Setelah meneguk banyak minumnya. Tenggorokan Samudra berasa lebih segar.


"Kau tega sekali memberiku makanan sisa?" Samudra berkata namun tak luput mangap membuka mulutnya untuk menyambut suapan pertama dari Rasya.


"Ini darurat, Tuan. Dari pada kau kelaparan dan tidak ada tenaga? mendingan makan dulu yang ada, nanti aku ambilkan yang baru dan minuman hangatnya." Ungkap Rasya sambil menyuapi Samudra yang sangat lahap itu.


Setelah piring kosong. Samudra kembali meneguk minumnya sampai tandas, sekarang sudah berada lumayan ada tenaga tidak selemas tadi. Lalu berdiri mau melanjutkan niatnya yang mau mandi.


Samudra tanpa malu melucuti semua pakaian di tubuhnya. Sehingga tampak jelas si Joni begitu kecil karena kedinginan. Membuat Rasya tersipu sendiri.


Langkah Samudra berhenti di bawah shower dan menyetingnya agar mengeluarkan air yang hangat mengguyur tubuhnya. Ketika melihat ke arah Rasya yang masih tertegun di tempat dan bengong melihat ke arahnya.


Kemudian Rasya tersadar dari lamunannya, ia menggerakkan kedua maniknya. Dan mundur dari situ untuk mengambil bathrobe atau handuk yang bersih buat Samudra. Tidak lama kembali dengan membawa handuk bersih.


Rasya mengambil semua pakaian Samudra yang tergeletak di lantai dan basah kuyup tersebut. Lalu entah di bawa kemana?


Dalam pikiran Rasya kebingungan. Di sini tidak ada pakaian ganti Samudra jadi mau pinjem sama sang ayah, malu. Jadi Rasya memutuskan pakaian Samudra ia cuci segera dan dikeringkan di mesin. Biar cepat kering.


Lanjut membuatkan sup hangat buat Samudra seta minuman hangat juga. Dengan cekatan Rasya mengenakan itu semua hanya untuk Samudra.


"Non, sedang apa? biar Bibi bantu?" sapa bibi, dia terbangun kerena mendengar suara tak-tek-tok di dapur.


Rasya menoleh. "Aoh, Bi. Maaf? bila pendengaran bibi terganggu oleh suaraku di dapur ini yang berisik, maafkan aku, Bi. Tidak sengaja?"


"Tidak apa-apa, Non. Apa ada yang bisa saya bantu?" bibi tersenyum.


"Tidak-tidak, Bi. Sekali lagi maaf ya? sudah mengganggu istirahat bibi? ini akan ku selesaikan Bibi balik istirahat saja," ucap Rasya merasa tidak enak hati.


Dibawanya ke atas yaitu ke kamarnya. Dengan langkah yang hati-hati Rasya membawa nampan tersebut ke dalam kamarnya.


"Tuan pasti suka," gumamnya Rasya sambil membuka pintunya dengan dengkul yang kebetulan pintunya tidak rapat.


Kedua manik matanya Rasya menangkap Samudra yang hanya mengenakan handuk saja sudah berada di sofa, tampak segar walau masih tampak menggigil.


"Taun, tidak ada baju ganti? aku mau bila harus pinjam sama ayah." Rasya berjalan menghampiri Samudra.


"Tidak apa-apa, apa kau mempunyai jaket?" tanya Samudra sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tersebut.


"Ada juga kecil lah, Tuan. Tubuh ku kan kecil. Sekarang ... kau makan dulu dan minum ini dulu biar badannya lebih hangat."


Rasya memberikan gelas air jahe untuk menghangatkan tubuhnya Samudra. Samudra pun langsung menyeruput minuman tersebut yang masih hangat.


Kemudian Rasya menyuapi Samudra dengan sup hangat yang masih tampak mengepul.


Setelah sup nya habis. Samudra merasa lelah dan ngantuk. "Aku ngantuk, tapi dingin nih." Samudra memeluk dadanya.


"Habiskan dulu makan nya? nanti barulah tidur!" Rasya terus menyuapi Samudra sampai tinggal mangkuknya saja yang tersisa.


Setelah itu Rasya menyimpannya mangkuknya di meja. Dan Samudra berpindah ke tempat tidur dengan jalan yang agak oleng.


Rasya pun segera menyusul, namun tidak serta-merta naik, melainkan bengong melihat ke arah Samudra.


"Ayo? sini tidur?" Samudra menepuk tempat tiap yang ada di sampingnya tersebut.


Dengan ragu-ragu Rasya naik merangkak naik dan berbaring di sana, di samping Samudra yang sudah berbalut selimut tebal tersebut.


"Masuklah ke dalam selimut ku?" suruh Samudra pada Rasya yang tampak kaku.


"Kau tidak akan macam-macam kan?" Rasya menatap curiga.


"Kau ini istri ku! wajarlah kalau aku ngapa-ngapain kamu?" ketiganya Samudra sambil mengibaskan selimutnya untuk Rasya.

__ADS_1


"Tidak tau apa? tubuh ku menggigil begini?" gak ada nafsu buat macam-macamnya juga." Elak Samudra.


Rasya masuk ke dalam selimut Samudra, dengan memberi jarak beberapa jengkal saja. Keduanya berusaha memejamkan kedua pasang matanya.


Namun detik kemudian kepala Samudra menoleh sambil bergumam. "Berarti dingin!"


Rasya hanya melirik sekilas. Lalu kembali memejamkan manik matanya yang indah.


Samudra merasa kesal pada Rasya yang tidak peka. "Apa kau tidak ingin mengingatkan tubuh ku?"


"Ha? dengan cara apa? apa mau ku bikinkan lagi minuman hangatnya?" tanya Rasya sambil memicingkan maniknya sebelah.


"Ck," Samudra berdecak kesal. Lalu tanpa bicara, tangan nya yang kekar itu menarik tubuh Rasya ke dalam pelukannya.


Sementara Rasya yang terkesiap, namun tidak menolak dengan yang Samudra lakukan. Dia terdiam dalam pelukan pria itu dan perlahan tangannya membalas pelukan Samudra yang erat.


Dengan hangatnya pelukan Rasya, lumayanlah dapat sedikit meredakan rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya Samudra.


Namun sebagai pria normal Samudra inginkan kehangatan yang lebih dari Rasya. Biarpun tubuhnya masih terasa lelah dan menggigil. Jari Samudra bergerak mendekati dagu Rasya agar mendongak padanya.


Rasya yang merasa ngantuk pun melihat ke arah dengan tatapan sayu dan ngantuk. Lalu Samudra menggerakkan kepalanya mendekati wajahnya Rasya dan menjangkau bibirnya yang ranum serta memberi sensasi hangat yang menjalar ke sekujur tubuhnya.


Mulanya biasa saja. Namun lama-kelamaan perasaan menuntut lebih menjalar ke tubuh Samudra dan Rasya, sehingga Samudra semakin melebarkan aksinya.


Beberapa saat kemudian aksi mereka semakin memanas.


...----...


Di Jakarta di mension, sedang mengadakan konferensi pers. Tentang masalah Samudra yang batal menikah, dalam kesempatan ini Ubai dan kedua orang tua Samudra.


"Apa yang menjadikan batalnya pernikahan tuan muda?" tanya seorang media.


"Samudra batal menikah karena ada satu alasan." Jawab pak Suyoto.


"Apakah benar, karena ada wanita lain yang sudah menjadi simpanan Samudra?"


"Apakah benar Samudra lebih memilih wanita tersebut ketimbang kekasihnya?"


"Terus apa benar kalau Samudra sudah menikah sirih dengan wanita tersebut?"


"Apakah benar? sebelum menikah siri mereka berdua sudah melakukan sesuatu? sehingga mereka digrebek warga dan dinikahkan warga?"


"Di luaran sana ramai yang memberitakan bila Samudra membatalkan pernikahan itu sebelah pihak?"


"Ada juga yang bilang kalau kekasihnya itu( nona Karin meninggalkan Samudra tanpa kabar berita?"


Beberapa pertanyaan yang di ajukan oleh media membuat pak Suyoto dan istri kebingungan.


Kali ini Ubai yang angkat bicara tentang semua pertanyaan yang media ajukan. "Hampir semuanya benar, namun soal sebelum menikah mereka melakukan sesuatu dengan tanda kutip? adalah tidak benar! saya bisa jamin itu!" jelasnya Ubai sambil mengedarkan pandangan ke arah para media.


"Terus apakah sekarang ... pernikahan Samudra akan diresmikan?"


"Akan di resmikan ya di mana resepsinya nanti? Teru bagaimana dengan keluarga si gadis tersebut?"


"Pasti, pernikahannya akan kami resmikan dan ... orang tuanya tidak ada masalah." Jelas pak Suyoto.


"Mereka menikah siri, hanya dikarenakan salah faham saja." Timpal Ubai kembali.


"Saya rasa, tidak ada yang harus di jelaskan lagi--" perkataan pak Suyoto terpotong dengan pertanyaan dari salah satu media.


"Sebentar? sekarang dimana tuan Samudra berada beserta istri? bisa di jelaskan?"


"Em ... mereka sedang berbulan madu di luar kota." Kini Bu Riska ikut angkat bicara.


"Oya Bu? bagaimana dengan bisnis dan dunia interten anda? apa terbawa pengaruh dengan berita-berita yang seliweran di luar sana?"


"Kalau soal bisnis ... kami semua Alhamdulillah aman ya, Pah? Ubai?" Bu Riska menoleh pada sang suami dan Ubai yang berada di samping, kanan dan kiri.


Yang langsung mendapat anggukan dengan cepat dari keduanya.


"Oke, saya rasa cukup dulu pertemuan kali ini, semoga bermanfaat?" Ubai melipat tangan di depan dagu.


Semua media pun akhirnya bubar dan Pak Suyoto beserta istri juga Ubai merasa lega ....


.

__ADS_1


.


Mana nih lake komen dan vote nya? untuk penyemangat nih🙏


__ADS_2