
Bell kembali berbunyi. Mengganggu gendang telinga Rasya. Dia menggaruk kepalnya yang tidak gatal tersebut.
"Aduh gimana nih? dibiarkan salah, di terima pun gak boleh. Kata tuan gak boleh menerima tamu, siapa pun tanpa ijin tuan muda."
Rasya kebingungan, dia mondar mandir seperti setrikaan. Lalu kembali mendekati pintu tersebut. "Maaf, Pak RT bukan di luar? Tuan sedang gak ada di unit. Silakan datang lain kali saja."
"Saya, Pak RT Sidar, ingin bertemu, Tuan muda. Ada gak orangnya, Nona?" sahut orang dari luar.
"Ooh, maaf pak RT. Tuan muda sedang tidak ada di tempat. Nggak tau pulangnya kapan?
"Kalau begitu sama, Nona saja. Saya mau bicara!" sambung pak RT Sidar kembali.
"Maaf, Pak RT. Tuan melarang saya menerima tamu siapa pun! nanti saya kena marah bila tidak menurut," ungkap Rasya dengan polosnya.
Pak RT terdiam sejenak. "Saya cuma mau nganterin surat kutipan, bahwa kalian sudah menikah, itu saja!" balas pak RT dari balik pintu.
"Tetapi. Tuan sedang tidak ada di tempat, jadi harap nanti saja kembali. Eh hari ini tuan tidak akan ada di tempat sampai malam." Pekik Rasya masih dari balik pintu. Dia tetap tidak mau membukakan pintunya.
Pak RT kembali terdiam. Memutar otaknya mau balik lagi nanti atau gimana? manik matanya menatapi surat yang berada di tangan. "Baiklah. Surat ini saya selipkan di bawah pintu ya Nona. Harap Anda simpan baik-baik."
"Ha? i-iya Pak RT. Kan saya simpan baik-baik, bila perlu saya sembunyikan." Balas Rasya lagi.
Lembaran surat itu. Pak RT masukan lewat bawah pintu, dan Rasya langsung mengambilnya dari dalam.
"Nona, disimpan ya suratnya. simpan baik-baik, berikan pada tuan juga." Kata pak RT.
"I-iya, Pak RT. Maaf ya tidak saya persiapkan masuk?" suara Rasya kembali.
"Lain kali mainlah ke tempat pak RT ya? jangan sungkan-sungkan, apalagi Nona di sini tidak ada keluarga. Jadi datanglah ke tempat kami," sambungnya pak Sidar.
"Insya Allah Pak RT. Lain kali aku akan datang bila sudah saat ijin." Suara pekikan Rasya Dari dalam.
"Bagus, begitulah, Nona. Harus nurut sama suami, baiklah Pak RT pulang dulu ya? jangan lupa main ya ke tempat kami." lalu Sidar berpamitan.
__ADS_1
"Baik, pak RT. Dan akan aku sampaikan pada surat ini pada tuan," ucap kembali Rasya sambil menggenggam surat itu.
Setelah menjauhi pintu, Rasya kembali melanjutkan tugasnya yang tertunda tadi. Sebelumnya menyimpan surat itu di laci yang berada di kamar Samudra.
Kini dalam kepala Rasya berpikir, sekarang ini sebenarnya dia itu istri atau bukan sih? di bilang istri masa sih bersuamikan seorang Samudra yang pengusaha muda dan jutek itu.
Sementara dirinya gadis kampung yang tidak berpendidikan tinggi, hanya lulusan SD dan tidak tahu apa-apa, alias tidak pintar. Lagi pula ... bukankah dia di sini cuma sebagai asisten untuk membayar uang Samudra yang satu milyar itu?
Tapi kalau uang itu sebagai maskawin berarti bebas dong, bukan hutang lagi? sementara kata Samudra, pernikahan ini jangan sampai orang tua dan kekasih nya tahu, atau siapapun. Kecuali orang-orang yang sudah terlanjur tau saja.
Rasya menggelengkan kepalanya kasar, menjadi sangat kebingungan jadinya.
"Akh ... aku pusing. Bisa pusing tujuh keliling nih, kata tuan muda juga," ucap Rasya sambil lagi-lagi menggeleng.
"Sedang apa, Nona?" suara itu mengagetkan Rasya yang sedang melamun.
"Eh copot-copot, copot. Copot jantung ku! ada siluman" sembari menoleh ke arah belakang.
"Tu-Tuan, kau masuk jalan mana?" tanya Rasya terheran-heran. Jelas-jelas pintu itu terkunci, kedua matanya melihat intens pada Ubai dan ke arah pintu bergantian.
"He he he ... Kau ini, Nona. Saya kan punya akses jalan, kapan pun bisa masuk. Lupa ya?" Ubai menyimpan kantong yang dia bawa di meja.
"Oh, iya lupa! he he he ... baiklah aku akan teruskan bekerja," ucap Rasya lalu membalikan badannya ke meja setrikaan.
"Sebaiknya kau tinggalkan terlebih dahulu kerjaan mu itu, makan siang dulu, kau pasti belum makan siang, kan?" titah Ubai sambil mendidikan tubuhnya di sofa, menatap punggung Rasya yang melanjutkan tugasnya.
"Tuan tahu saja, kalau aku belum makan. Tapi kerjaan ku belum selesai, jadi aku bereskan terlebih dahulu, sedikit lagi kok." Kekeh Rasya serta melanjutkan tugasnya sampai selesai.
"Hem ... baiklah. Terserah kamu saja Nona. Aku nurut saja padamu."
Lalu Ubai berjalan mendekati lemari pendingin, dia ingat kalau isinya mulai menipis. Namun setelah di buka, yang tampak oleh matanya. Lemari tersebut penuh dengan isinya. Semua komplit dan tampak press. Ubai berdecak kagum melihatnya.
"Wah ... kapan belanjanya nih? semalam kosong. Sekarang dah penuh saja, hebat." Gumam Ubai sambil menutup kembali lemari tersebut.
__ADS_1
"Kapan, tuan mu belanja ini semua? tumben! biasanya aku yang belanja," tanya Ubai menoleh ke arah Rasya yang memunggunginya.
"Oh, tadi. Belanja yang di kirim itu, apa sih namanya? o-oli atau apa sih kurang tau aku!" sahut Rasya sambil menggeleng, dalam kepala ingat, namun susah untuk di ucapkan nya.
"Ooh, belanja online ... online!" timpal Ubai.
"Nah iya, itu olin!" ucap Rasya membenarkan.
"Ha ha ha ..." Ubai tertawa lepas merasa lucu dengan pengucapan Rasya tentang kata online. "Online, Nona. Online. Bukan olin!" protes Ubai sambil terus terkikik sendiri.
"Iya, itu o-nlin-e, ya? online." Rasya mengeja ucapannya hingga benar.
"Ooh, biasanya dia gak perduli dengan keperluan dapur. Hem ... tumben sekali." Gumamnya Ubai kembali.
"Mana ku tahu, yang jelas, dia menyuruh ku, untuk memesan itu semua," sahut Rasya sambil menoleh.
"Biasanya sih. Aku yang belanja dan dia tau bayar saja." Tambah Ubai sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang rapi dan bersih.
"Oya? Tuan Ubai. Sekarang aku sudah bisa lho, pesan-pesan belanja gitu dari ponsel. Sebab tuan jutek sudah mengajari ku!" ucap Rasya sambil menghentikan tugasnya, mencabut kabel setrikaan.
Ubai menatap curiga ke arah Rasya. Kalau gadis itu sudah memegang handphone sendiri sekarang. "Apa kau punya ponsel, Nona?"
"Ha? iya, aku di suruh memakai ponsel oleh tuan jutek, aku sih gak minta tapi dia sendiri yang berikan--"
"Kapan? em ... maksud ku sejak kapan? kok aku baru tahu sekarang," Ubai memotong perkataan dari Rasya.
"Em ... beberapa hari yang lalu. Namun aku pikir ... buat apa aku punya ponsel? tidak ada orang yang bisa aku hubungi juga. Selain kalian berdua dan untuk apa juga menghubungi kalian berdua? kan bertemu setiap hari," ungkap Rasya lirih.
Rasya menghampiri Ubai dan dasar Rasya yang ceroboh. Kakinya menendang kaki kursi membuat tubuhnya oleng, dan tangan Ubai langsung menangkap tubuh Rasya ....
.
Mau tahu kelanjutannya? terus ikuti ya?
__ADS_1