Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 122 Bertemu pangeran


__ADS_3

Rasya bermimpi berduaan dengan seorang pangeran tampan, namun wajahnya tersamarkan, mereka berdua sangat menikmati waktu kebersamaannya sebelum sang pangeran bepergian yang entah akan berapa lama perginya.


Sang pangeran itu membelai rambutnya dengan lembut. Mencium kening dan pipinya dengan mesra.


"Aku akan pergi dalam sementara waktu ini, tapi adinda tidak perlu khawatir. Aku pasti kembali padamu adinda ku." Sang pangeran terus menatap lekat dengan jari terus bermain di rambut sang putri.


"Kanda, dinda akan merindukanmu selalu. Segalanya dinda rindukan tentang dirimu kanda." Sang putri menyandarkan kepalanya di bahu sang pangeran tampan dan wajahnya agak samar namun tergambar jelas ketampanannya.


"Kanda juga akan selalu merindukan mu di setiap deru napas kanda. Dinda akan selalu menemani di setiap kedip mata kanda, Dinda akan selalu berada di sanubari hati kanda." Cuph! mengecup kening sang putri.


"Ooooh ... kata-kata mu bikin hati Dinda menggelitik. Terlalu manis, lebih dari gula." Sang putri menegakkan duduknya.


"Adinda sangat cantik malam ini," bisik sang pangeran. Dia tidak segan mencium pipi dan kening sang putri yang yang sangat tampak cantik tersebut.


Menghirup bau tubuhnya yang wangi semerbak. Begitupun sang putri yang merasakan betapa wanginya tubuh sang pangeran, sehingga mereka berdua larut dalam suasana yang tercipta sangat romantis.


"Adinda?" panggil sang pangeran dengan lembut dan suara bergetar.


"Kanda?" suara sang putri tidak kalah pelan dari suara sang pangeran.


Wajah pangeran mendekati wajah sang putri terutama ingin menjangkau benda kenyal sang putri yang tampak ranum tersebut.


Nafas sang pangeran yang hangat menyapu kulit wajah sang putri yang lantas memejamkan kedua matanya. Seakan menyambut hangat kedatangan sang pangeran untuk menyentuh bibirnya yang ranum dan haus sentuhan.


Dengan perlahan sang pangeran menyentuh bi*** sang putri dengan lembut dan sangat meng****** kan. Menyapu seluruhnya dengan penuh perasaan.


"Mmmm ... kanda!" sang putri tidak berani membuka kedua manik matanya yang indah, jari-jarinya yang lentik menyusuri dada sang pangeran yang bidang tersebut.


"Dinda!" gumamnya sang pangeran di sela-sela sentuhan hangat yang ia ciptakan.


Sang pangeran terus menyatukan b**** nya dengan milik sang putri yang terasa lembut namun menghangatkan.


Tangan sang pangeran yang kiri menahan tengkuk sang putri biar terkunci, sementara yang kanan menjelajah benda himalaya menyelusup ke dalam-dalamnya. Sehingga terciptanya sengatan listrik yang begitu kuat di tubuh keduanya.

__ADS_1


Datang yang mengalir terasa deras dan panas. Berkumpul di tempat tertentu pembuluh darah.


Nafas yang memburu keluar dari keduanya saling bersahutan, bagaikan sedang berlari maraton.


Sang putri yang terlalu larut dalam suasana dan perasaan. Tidak mampu menolak yang sang pangeran lakukan, begitupun dengan sang pangeran yang semakin aktif menggencarkan aksinya yang semakin mengundang ha**** yang bergelora sangatlah Menikmatinya.


"Kanda, su-sudah!" gumamnya sang putri terbata-bata.


"Beb-beb-mmmm." Balasnya tanpa mengindahkan permintaan sang putri. Sebab dia tahu benar kalau sang putri pun sangat menginginkan dirinya saat ini.


Ketika mau melanjutkan ke jenjang yang lebih menegangkan. Terdengar sayup-sayup suara- tarhim dari speaker tempat ibadah yang terdekat.


Sehingga Rasya pun terbangun dari tidurnya. Tubuhnya berasa berat bagai ada yang menindih. "Huam ...."


Rasya menggosok kedua netra nya yang terasa sepet benget, tubuhnya berasa hangat seperti dalam pelukan seseorang. Meraba tubuhnya yang serasa di tindih dan tangannya mendapatkan sebuah tangan yang kekar memeluknya pinggangnya. "Pantas saja berat," suara parau nya Rasya.


"Ha?" melonjak ketika kesadarannya mulai terkumpul, lantas membuka kedua matanya lebar-lebar. Ternyata di hadapannya ada Samudra yang terbaring tidur dengan lelap berhadapan dan mungkin saling memeluk, entahlah.


Rasya mengingat-kejadian semalam, tidak ada yang terjadi teringat pada mimpinya yang rasanya setengah nyata. Rasya buru-buru melihat kondisi dirinya yang masih komplit berpakaian, namun samudra bertelanjang dada.


Tubuh Samudra hanya di tepi saja. Sebab Rasya mendorongnya tidak dengan sepenuh tenaga dan Samudra pun keburu terbangun sehingga mampu memposisikan tubuhnya.


"Kau ini apa-apaan ha? kebiasaan suka bikin orang kaget saja!" Samudra terbangun duduk bersandar di bahu tempat tidur.


"Anda sendiri ngapain tidur di sini? nanti ketahuan orang banyak gimana?" Rasya sambil celingukan.


"Kebiasaan suka bikin orang kaget, sudah tahu orang lagi tidur juga?" gerutu Samudra sambil memejamkan mata mengumpulkan kesadarannya sejenak.


Rasya menunjuk ke arah Samudra. "Anda melakukan apa semalam padaku ha? jawab?"


Samudra membuka kedua matanya. "Melakukan apa? aku tidak melakukan apa-apa!" elaknya Samudra melotot.


"Bohong?" Rasya menunjuk-nunjuk kembali dia tidak percaya dengan omongan Samudra kali ini.

__ADS_1


"Ya terserah, mau percaya atau tidak," pekiknya Samudra sembari membuang wajahnya dari Rasya yang menatap curiga.


"Aku tidak percaya padamu, kau pasti melakukan sesuatu, kan semalam? ketika aku tidur!" Rasya kekeh menduga Samudra telah melakukan sesuatu.


Entah kenapa Rasya merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Bilang padaku? kau sudah melakukan apa ha? kau itu mau tunangan sama kekasih mu. Kenapa kau masih mau tidur dengan ku!" Rasya mengacak rambutnya frustasi.


"A-aku ... tidak ... mu-mungkin saja kau bermimpi kali," Samudra tampak kikuk dan seolah tahu sesuatu.


Samudra tahu kalau Rasya merasakan yang aneh dalam dirinya, secara! semalam dia mencumbu gadis itu, saking tidak kuat dirinya menahan diri. Tapi tidak lebih dari bibir dan dada saja. Samudra tidak berani untuk melakukannya lebih.


"Mimpi? kenapa kau tahu aku bermimpi?" Rasya malah marasa heran dengan ucapan Samudra yang seakan tahu kalau dirinya bermimpi.


"Ya ... ya mungkin saja! sebab ku tahu tidurmu terlalu nyenyak, seperti kebo yang susah dibangunin, kedatanganku saja ke kamar ini kau tidak mengetahuinya." Jelas Samudra sambil terus menghindar dari tatapan curiga dari Rasya.


Lalu Rasya melamun, mengingat-ingat isi dalam mimpinya tersebut, di mimpi itu, ia bertemu dengan seorang pangeran yang sangat tampan. dan Rasya sendiri menjadi seorang putri nan cantik jelita, karena mau berpisah dengan sang pangeran. Mereka pun saling melepaskan rindu, sehingga terjadilah sentuhan-sentuhan yang sangat menggairahkan.


Pada akhirnya, Rasya bergidik dan beranjak turunnya dari tempat tidur, setengah berlari dai membawa langkahnya ke kamar mandi.


Sungguh dia merasakan sesuatu yang aneh, yaitu ada yang banjir di daerah intinya dan ini benar-benar untuk pertama kalinya yang dia rasakan sampai usianya saat ini.


"Ya ampun ... kenapa aku bisa bermimpi seperti itu sih? apa itu yang dinamakan mimpi basah?" gumamnya Rasya dalam hati yang terus bermonolog.


Sambil melamun, tangannya menyalakan air shower dan dia berdiri bawa kecurangan air tersebut.


"Ini benar-benar yang pertama kalinya, aku rasakan seumur hidupku!" kemudian Rasya memejamkan kedua manik matanya. Dibawah air hangat dari shower itu.


Rasya tidak tahu kalau Samudra lah yang sudah melakukannya itu, tanpa sepengetahuan dirinya sendiri, kalau itu bukan cuman mimpi tapi memang Samudra ikut andil dalam hal ini, intinya Samudra lah yang melakukan itu.


Samudra tertegun. Melihat Rasya yang bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dia terlalu gengsi untuk mengakui apa yang sudah terjadi, lalu dia mulai meraih bajunya lantas buru-buru turun dan membawa langkahnya mendekati daun pintu. Mengintip apakah di luar suasana aman?


Untuk dilewati menuju kamar pribadinya yang kebetulan berdampingan dengan kamar tersebut, setelah merasa aman. Samudra gegas keluar dan langsung memasuki kamarnya sebelah yang yang lebih mewah ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2