Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 151 Menyakitkan


__ADS_3

"Sayang mau nggak jika malam ini kita melewati waktu bersama di sini? berdua," ucap Karin seraya merangkul pundaknya Samudra.


Samudra terdiam sambil menatap ke arah wajah Karin yang dirasakan sedang menggodanya. "Di sini? di tempat ini?"


Dengan cepat Karin mengangguk. "Kita menghabiskan waktu berdua gimana? nggak ada orang satupun yang akan mengganggu kita, mau kan sayang? Kita akan bersenang-senang."


"Sebaiknya kita pulang aja yu? aku antar kamu ke rumahmu, kurang baik jika kita habiskan waktu di sini berdua saja." Samudra mengajak calon istrinya, Karin untuk pulang dari tempat tersebut.


"Emangnya kenapa? di sini kan enak tempatnya, apa sih yang kurang Hem?" bisik Karin. "Kita gunakan waktu ini sebaik-baiknya, sebentar lagi kita akan menikah! apa salahnya sih kita melakukannya Di sini?"


Samudra semakin salah tingkah, berkali-kali dia menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Tenggorokan nya yang berasa kering dan membutuhkan asupan air yang menyegarkan.


Tubuh Samudra berdiri dan melepaskan rangkulan dari tangan Karin. "Kita pulang ya sayang? kalau kita melakukannya Di sini, nanti setelah menikah itu ... nggak akan aneh lagi, nggak greget lagi. Mendingan kita pulang saja yu?" Samudra menarik tangan Karin agar berdiri.


Namun Karin, bukannya berdiri melainkan membaringkan dirinya di atas tempat tidur dengan gaya yang menggoda iman. Siapapun yang melihatnya pasti akan tergoda, dengan pemandangan yang begitu indah bagaimana tidak? kalau saat ini Karin yang berpakaian sangat seksi dan dengan perilaku yang sangat mengundang hasrat pria.


Tetapi untungnya Samudra masih bisa berpikir normal, sehingga dia melihat Karin dengan biasa-biasa saja tidak dengan nafsunya sebagai pria yang normal. Sehingga dia dengan lembut mengajak karin untuk pulang.


Samudra duduk di tempat tidurnya kembali. "Sayang, sebaiknya kita pulang sekarang? nanti keburu kemalaman, nanti Papa mencari mu, nanti kita akan bisa melakukannya setelah menikah. Apalagi pernikahan pun tinggal berapa hari lagi kan? aku nggak mau melakukan sesuatu yang tidak-tidak! yu kita pulang?"


Dengan lembut tangan, Samudra menarik kembali tangan Karin yang sudah tampak gelagat yang aneh.


"Bersenang-senang lah denganku malam ini? aku mohon?" Rajuk Karin sambil kembali merangkul leher Samudra tatapannya sayu, sendu merayu nafasnya pun lebih cepat dari biasanya. Karin pun berkali-kali mendaratkan kecupan di pipi dan bibir Samudra.


Samudra mengembuskan nafas nya yang mendadak terasa berat dan was-was. Takut kebablasan di sini.


"Kita akan menggunakan pengaman dan aku sudah siapkan itu semua. Aku sudah menantikannya dari lama bersamamu beb!" bisik kembali Karin yang semakin menggencarkan sentuhannya di bagian-bagian tertentu milik Samudra.


Semakin lama, Samudra semakin merasa risih, dia khawatir kalau nggak bisa menahan nafsunya ini. meskipun ditahan? dia tetap laki-laki biasa yang normal.


Berkali-kali Samudra mengembuskan nafas melalui mulut lalu kembali menghirup sebanyak-banyaknya, detik kemudian dengan cepat Samudra berdiri dan menarik tangan Karin dengan kuat, sehingga Karin terbawa dan berdiri di hadapannya.


"Kita pulang sekarang?" Samudra terus menarik tangan Karin sampai keluar dari kamar hotel tersebut.


Karin berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Samudra. "Lepas, aku masih mau di sini, aku nggak mau pulang! aku mau bersama mu di sini sayang," namun tangan Samudra lebih kuat dan mengunci tangan Karin.


Samudra menoleh ke arah asisten Karin yang duduk-duduk di samping pintu. "Kau bawa barang-barang Karin di dalam?" perintah Samudra.


"Pokoknya kita harus pulang, aku gak mau menemani mu di sana, apalagi menuruti seperti yang kamu mau," gerutunya Samudra sambil terus berjalan menarik tangan Karin yang terus berontak.


"Apa salahnya sih? kita melakukan itu? kita sama-sama dewasa, Apalagi kita sebentar lagi mau menikah, bukankah kau juga yang ingin cepet-cepet menikah?" kata Karin sambil berjalan cepat mengikuti langkah Samudra.


"Iya memang, aku yang mau kita secepatnya menikah. Agar kita tidak melakukan hal yang bebas sebelum waktunya, saya nggak mau merusak mu. Saya tidak ingin dianggap mencari kesempatan dalam kesempitan, apa kata orang tua mu? bila saya lancang kepada dirimu." Samudra berucap demikian pada Karin agar dia mengerti.


Sepanjang jalan, mereka berdebat mempermasalahkan hal yang mungkin hanya sepele dan menjadi panjang.


"Kau tidak mau menyentuh ku! tapi apa yang kau lakukan dengan wanita lain? dengan wanita kampung itu? apa yang kau lakukan dengan wanita murahan itu hah?" teriak Karin.


"Apa? Aku tidak pernah melakukan apa-apa, aku gak pernah ngapa-ngapain dia, aku gak pernah melakukan lebih pada dirinya." Elak Samudra, karena memang dia tidak pernah melakukan lebih dengan Rasya, terkecuali.


"Ha! dasar munafik lu! di beri? malah di tolak. Bego! munafik? tidak tahu di untung! otak mu disimpan di dengkul?" pekik Karin sambil menarik tangannya dari Samudra, lalu dia lebih dulu masuk ke dalam mobil pribadinya itu. Diikuti oleh sang asisten.


Blog! pintu mobil Karin banting. Samudra menggedor kaca mobilnya Karin. "Sayang, buka? ikut denganku. Biar aku yang mengantar kamu pulang?"

__ADS_1


"Aku bisa pulang sendiri! nggak usah diantar-antar." Karin enggan membuka pintunya dan langsung melarikan mobil tersebut meninggalkan Samudra yang masih berdiri di sana.


Samudra berdiri menatap mobil Karin yang berlari cepat meninggalkan parkiran. "Dasar keras kepala?" gumamnya Samudra sambil memasuki mobilnya itu.


Tidak selang lama, Samudra pun langsung melarikan mobilnya dengan cepat. Untuk untuk memastikan apa kah Karin dengan selamat ke rumahnya atau ke mana?


Samudra senyum-senyum mengingat kejadian barusan bisa melewati semuanya, hampir saja dia melakukan dan mengikuti kemauannya Karin yang tidak seharusnya itu.


Netra nya Samudra terus mengawasi mobilnya Karin, yang tampak menuju ke jalan xx di mana kediamannya berada.


Bibir Samudra tersenyum lebar, setelah memastikan bahwa Karin pulang ke rumahnya dengan selamat.


Kini Samudra memutar haluan untuk pulang ke mansion, dia teringat pada handphone yang dia senyapkan dan cukup lama tidak ia sentuh, ternyata memang terdapat banyak panggilan yang yang masuk ke handphonenya tersebut, panggilan dari Ubai, mamahnya. Papanya, hingga puluhan panggilan, juga beberapa nomornya media yang masuk.


"Gila panggilannya hingga puluhan begini? mendekati ratusan juga." sejenak Samudra menepikan mobilnya dan terbengong di sana.


Memikirkan masalah yang sedang dia hadapi, melanjutkan yang ini dan melepaskan dia, atau melanjutkan pernikahan dengan Rasya, dan membatalkan pernikahan dengan sang kekasih, Karin?


"Aduh ... bingung-bingung, kacau ini semua. Aduh kepalaku pusing rasanya mau pecah!" kepalanya yang terasa pusing,"


Kemudian Samudra kembali melajukan mobilnya, dia sudah memutuskan! akan pulang ke mention dan akan memikirkan semuanya berharap mendapatkan yang terbaik.


Mobil Samudra dengan cepat melaju membelah kegelapan, berpacu dengan waktu dengan roda-roda besi lainnya, dengan tujuan yang berbeda tentunya.


Setibanya di mension, Samudra langsung disambut oleh kedua orang tuanya dan juga Ubai, lantas di brondong dengan macam-macam pertanyaan dari kedua orang tuanya tersebut.


Dengan ringannya Samudra menjawab, kalau dia itu baru saja menemui Karin. Pak Suyoto dan Bu Riska sengaja, belum tidur karena mereka yakin kalau Samudra akan pulang ke sana.


Bu Riska ingin putranya itu segera mengambil keputusan mau melanjutkan pernikahan dengan Rasya atau dengan Karin. Biar jelas semuanya.


"Keluarga Karin sudah tahu jika kau sudah menikah dengan Nona Rasya, terpaksa aku katakan itu! daripada mereka menganggap atau mengira kau yang tidak-tidak, mereka menduga kalau kalian berzina atau apalah. Dan saya tidak ingin mereka berpikir seperti itu, makanya saya bilang kalau kalian sudah menikah," jelasnya Ubai pada Samudra.


"Apa? kenapa kau bilang tanpa ijin saya? seharusnya kau minta ijin dulu, sebelum bicara semuanya pada mereka!" Samudra menghentakkan tangannya ke meja, dia tidak setuju kalau berkata tanpa minta ijin terlebih dahulu.


"Coba jelaskan dan gimana caranya? agar saya meminta ijin, Bos? puluhan panggilan saya gak pernah diangkat, itu salah siapa? media menunggu berjam-jam! kau sendiri tidak datang, salah siapa?" Ubai tidak mau disalahkan, karena memang dia sudah berusaha untuk menghubungi Samudra, namun pada kenyataannya Samudra mengabaikan panggilan telepon darinya.


Wajah Samudra berubah marah. Giginya mengerat, rahangnya mengeras. Kenapa Ubai mengatakannya tanpa seizin dia?


semuanya bisa menjadi kacau, pikirnya.


"Ubai benar, kenapa kau tidak datang? di saat kami semua menunggu kamu dan jangankan datang? telepon pun tak pernah kau angkat! sekarang Kau salahkan Ubai? itu salahmu sendiri yang ingin terus menyimpan kebohongan!" jelas pak Suyoto membela Ubai karena sudah jelas-jelas Ubai sudah berusaha.


Samudra menatap ke arah mereka bertiga. Dengan tatapan kesal dengan ulahnya sendiri. "Terus apa tanggapan mereka?"


"Jelas mereka ngamuk, marah merasa sangat dikhianati. Orang tua yang mana? yang akan rela bila putrinya dikhianati, sementara. Waktu pernikahan sudah dekat." Jawabnya Ubai.


"Kalau sikapnya seperti ini Sam ... Mama takut kau akan kehilangan keduanya, sementara di mata Mama kalau itu mencintai keduanya kan? Itu nggak mungkin, apalagi dalam waktu yang bersamaan," tuturnya bu Riska sembari menatap lekat ke arah putranya.


"Menurut Papa, pernikahan mu dengan Karin gak bisa dilanjutkan lagi, pasti ini akan gagal karena Karin nggak akan pernah menerima kamu dengan lapang dada, bila kamu sudah menikahi Rasya, kamu yang mengkhianati dia! sekarang hubungi pihak-pihak terkait dan batalkan semuanya? Papa yakin semua tidak bisa dilanjutkan lagi," pak Suyoto begitu yakin dengan omongannya itu.


"Pah, Mah. Yang akan menjalani itu aku dan Karin, orang tua nggak hak untuk ikut campur--"


"Nggak bisa ikut campur gimana? apalagi sekarang Karin belum menjadi istrimu, jelas orang tuanya tidak akan terima bila kamu sudah menikahi Rasya walau dengan alasan apapun." tegas pak Suyoto.

__ADS_1


"Rasya yang sudah jelas-jelas jadi istrimu! orang tuanya punya hak untuk menentukan, karena mereka tidak mau putrinya menderita batin. Soal materi semua orang juga percaya kamu mampu, tapi ini urusan batin." Tambah bu Riska.


Samudra terdiam dan hanya bisa menghela nafas panjang, saat ini otaknya benar-benar bleng nggak bisa mikir. Dia duduk bersandar ke bahu sofa dengan tangan yang di rentangkan, wajahnya mendongak menatap langit-langit.


"Saya juga yakin. Kalau mereka tidak mau meneruskan pernikahan ini, dan Anda harus terima kenyataan," ucap Ubai sembari memandangi Samudra yang tampak kalut.


Samudra menggerakkan kepalanya dan mengarahkan pandangan kepada Ubai. "Ini semua gara-gara gadis itu, semua menjadi kacau balau! sekarang kau urus semuanya. Batalkan pernikahanku dengan Karin," balasnya Samudra yang langsung berdiri dan membawa langkahnya yang lebar itu mendekati tangga.


Bu Riska dengan suami saling berpandangan, lalu kepada Ubai. pemuda itu tampak tenang dan kemudian mengambil sebuah gawai dari sakunya, kemudian dimulai dengan gawai tersebut.


Sementara Samudra terus melanjutkan langkahnya ke lantai atas, menuju di mana kamarnya berada. Pikirannya kacau, rasanya hanya tidak menentu.


Brugh.


Pintu kamar tutup setengah dibanting, langkahnya yang lebar membawa dirinya ke tempat tidur yang ukuran king size tersebut. Menjatuhkan dirinya di sana sesekali menengok layar gawai yang kini tergeletak di atas tempat tidur, berharap Rasya menghubunginya.


...---...


Pada tempat yang berbeda dan di waktu yang sama, di sebuah kamar yang luas dan tampak indah. Ada seorang gadis memakai piyama bermotif Dora, tengah duduk di lantai dekat tempat tidur. Memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya di atas lutut.


Dibalik keceriaannya dan kebahagiaannya bersama keluarga besarnya. Rasya menyimpan perasaan yang tidak dapat dia jabarkan, di dalam lubuk hati yang paling dalam sesungguhnya Rasya menyimpan keinginan.


Dia ingin pergi ke Jakarta dan menemui Samudra, bagaimanapun ia dan Samudra punya ikatan pernikahan walau hanya secara siri.


Pipi Rasya basah dengan air yang mengalir di pipinya. Walau sering dihapus dengan jarinya, namun tetap saja buliran air mata itu terus keluar dan membasahi wajahnya yang sekarang lebih glowing dari sebelumnya. Karena keseharian dia pun di rumah orang tua nya itu hanya merawat diri.


Saat ini hanya wajah samudra yang membayang di matanya, dan sudah berapa hari ini Samudra tidak ada telepon atau menanyakan kabar. Biasanya setiap malam pria itu meneror Rasya, sekarang tidak ada.


"Mungkin sekarang kau sudah melupakanku? kau sudah bahagia sama Nona Karin, kekasih mu itu! sehingga kau benar-benar tidak membutuhkan ku lagi. Hik-hik-hik."


Di tengah tangisnya, Rasya terus bermonolog menyebut-nyebut nama Samudra. Wajah pemuda itu terus saja membayang di ruang mata yang indah itu.


"Ya Allah ... apa aku benar-benar telah jatuh cinta? tapi kata orang yang namanya jatuh cinta itu, indah. Bukan sakit seperti ini, rasanya dadaku sangat sesak mengingat dia, tapi tuan muda tak bisa aku lupakan."


Kemudian Rasya menoleh ke arah jam yang putarannya jarumnya sudah menunjukkan pukul 00.00 waktu setempat.


Perlahan, Rasya beranjak dari duduknya di lantai tersebut berjalan mengayunkan langkahnya ke kamar mandi, untuk membasuh mukanya yang banjir dengan air mata.


Rasya tatap wajahnya dari pantulan cermin yang begitu bening, wajahnya tampak sekali pucat dan lusuh.


"Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, buat apa aku menangisi dia? sementara dia nggak pernah mengingat aku? bahkan dia sedang menjelang kebahagiaan dengan wanitanya, berhentilah Rasya? cukup! jangan sampai berlebihan." Gumamnya Rasya sembari menepuk-nepuk pipinya.


"Tapi jika kau cinta dan sayang? itu wajar! bila kau menangisi dia dan merindukan pria itu, ingat? dia pria yang pertama menyentuh mu, dia pria pertama yang kau kenal hingga menimbulkan keintiman antara kalian berdua!"


"Kamu sudah jatuh cinta pada pria itu! kamu sayang sama dia! sehingga menimbulkan kekecewaan dalam hati mu, kalau saja kau tidak punya hati? tidak mungkin kau merasakan sakit."


"Dia sama kamu tidak cinta, dan hanya nafsu saja akibat seringnya bersama. Dia menjadi berani menyentuh mu, bukan karena di cinta!"


"Terus kenapa dia seolah tidak rela? seandainya aku dengan pria lain, dengan tuan Ubai pun. Dia suka jeles?" dalam hati, Rasya terus saja beradu argumen.


Rasya mengusap wajahnya dengan kasar, terkadang dia merasa lelah sendiri dengan keadaan ini. Bukannya dia bersyukur, bahagia dapat dengan keluarganya. Di balik itu Rasya malah menderita batin, dibuat terluka oleh Samudra.


Rasya memejamkan kedua matanya, lantas terbayang jelas setiap perlakukan Samudra yang terkadang lembut dan mesra. Dengan cepat Rasya membuka kembali manik matanya serta menggelengkan kepalanya kasar ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2