Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 39 Kurang bumbu


__ADS_3

Langkahnya Rasya yang terburu-buru terus mengikuti langkah lebar Samudra yang menuju ke dalam kamarnya.


Rahang Samudra mengeras. Tanda menahan amarahnya itu. Mungkin kalau Rasya seorang laki-laki pasti Samudra sudah melayangkan pukulannya.


Setibanya di dalam kamar Samudra, ia menghempaskan tangan Rasya seraya berkata. "Diam di situ?"


Rasya menuruti dengan mata yang nanar. Dia menatap ke arah pemuda itu yang bertelanjang dada tersebut


Samudra dengan cepat mengambil ponselnya, dia sambungkan ponsel dengan cctv, ia putar rekamannya untuk melihat apa saja yang dia lakukan di dalam kamar Rasya beberapa saat yang lalu.


Untuk mempersingkat waktu. Samudra percepat dan hanya mengambil ketika dia datang membawa gelas untuk membangunkan Rasya saja.


Samudra mendekat pada Rasya yang mematung di tempat. "Nih lihat pake mata! apa yang saya lakukan padamu tadi!"


Rasya, mendengar ucapan dari Samudra seperti itu. Mencoba membelalakkan bola matanya lebar-lebar untuk melihat rekaman cctv itu.


Gadis itu melihatnya dengan seksama sampai selesai, sampai saat tangannya ditarik keluar kamar oleh Samudra.


Rasya menoleh dengan menunjukan gigi putihnya pada Samudra. "Hi hi hi ... maaf. Jadi malu!" lantas menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Enak saja menuduh ku yang macam-macam. Kau pikir saya tertarik sama kamu ha? kau pikir tubuh mu udah apa? gak ada bagus-bagus nya gitu! bisa saja berpikir saya menggauli kami. Mikir?" bentak Samudra dekat kuping Rasya.


Membuat Rasya tersentak dan memejamkan kedua netra nya. "Ma-maaf. Aku--"


"Kau itu bukan gadis tipe ku, kekasih ku jauh lebih sempurna. Cantik, tinggi semampai, body bagus. Huh antara bumi dan langit dengan mu, mana mungkin saya tertarik pada gadis macam kamu yang tidak ada menarik-narik nya sedikitpun." Segah Samudra kembali.


Rasya terdiam, menunduk dalam, sambil memejamkan kedua matanya. Memeras air matanya yang tanpa sadar menetes keluar.


Kata-kata Samudra secara tidak langsung menghina dan mencaci dirinya. Yang dirasakan Rasya saat ini adalah sakit, menyesak di dalam dada.


"Ya ampun ... pedas banget sih kata-kata nya." Batin Rasya sembari mengusap pipinya.


"Enak saja saya di tuduh begitu! gak usah nangis? bikinkan saya apa kek, perut saya lapar." hardik Samudra kembali bernada suruhan.


Rasya berbalik menghadap pintu. Melangkah dengan dada yang terasa sesak.


"Mau kemana?" bentak Samudra dari sofa.


Kepala Rasya berbalik. " Lho. Bukannya menyuruhku masak sesuatu? ya ke dapur lah masak, masa mau tidur?" Rasya sedikit tersenyum.


"Gak usah senyum-senyum gitu! gak lucu," seru Samudra kembali.

__ADS_1


Sontak Rasya hentikan senyumnya. "Siapa juga yang merasa lucu? gak ada kok." Gerutu Rasya bersiap memutar tubuhnya kembali.


"Jangan ngedumel? ambilkan saya baju dulu, saya kedinginan." Perintah Samudra dengan nada masih marah.


Manik mata Rasya menoleh pada Samudra yang duduk bersandar tanpa baju atasan itu. Detik kemudian Rasya membawa langkahnya mendekati lemari, mengambil baju atasan Samudra.


Lalu Rasya membawanya dan ia berikan pada Samudra yang membuang mukanya entah kemana.


Samudra menoleh dengan muka datar. "Pajaikan!" dengan nada masih dengan nada tinggi.


"Ya ampun ... Tuan ini bukan pria lumpuh yang gak bisa apa-apa, bisa pake baju sen--"


"Bisa gak? gak usah ceramah, pakaikan saja!" bentak lagi Samudra dengan mata melotot seakan mau melompat dari tempatnya.


Rasya memajukan bibirnya, lantas memaksukan kaos itu ke tubuh kekar pemuda itu. Seperti memakaikan baju anak kecil.


Samudra melihat datar gadis itu yang mampu membuat tubuhnya gerah begitu saja. Lalu Rasya berdiri tidak jauh dari Samudra yang duduk, dan melihat wajah pemuda itu yang ditekuk.


"Kenapa masih berdiri di situ? buatkan saya nasi goreng!" Suara Samudra kembali terdengar nyaring, mengagetkan Rasya.


"I-iya, astagfirullah ... suara mu itu mengagetkan ku." Rasya mengusap dada.


Samudra mendelikkan matanya melihat punggung Rasya yang akhirnya hilang di balik pintu


"Huam ... jam berapa nih?" Rasya mengup, masih ngantuk. Dan jarum jam sudah menunjukan pukul 02.00 wib.


Rasya membuka lemari pendingin, untuk mengambil sayuran dan perbawang-an, lantas mengambil piring dan menyiapkan nasi.


"Berasa di bulan Ramadan masak jam segini?" gumamnya Rasya sambil berkutat dengan wajan dan sodet.


"Siap belum?" suara Samudra mengagetkan Rasya yang tengah asik memasak nasi goreng.


"Astagfirullah ... Tuan ... bisa gak sih? jangan mengagetkan terus? Bisa jantungan ni aku!" Rasya menggeleng sambil menoleh ke arah Samudra yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


"Salah sendiri! kenapa gak dengar derap langkah ku." Ketus Samudra sambil menghentak-hentakan kakinya ke lantai.


Kemudian Samudra duduk di kursi yang sudah biasa menjadi langganannya duduk.


Rasya menuangkan nasi goreng dari wajan ke piring, tidak lupa menabur bwang goreng dan telor mata sapi di atasnya. "Hem ... wanginya."


Kemudian Rasya bawa ke depan Samudra yang sudah menunggu dan memegang sendok dan garpu.

__ADS_1


"Sudah siap, Tuan. Selamat menikmati?" ucap Rasya, lalu mengambil gelas, menuangkan air ke dalamnya.


Sebelum menyantap, Samudra menatap intens hidangan tersebut. Berhias sayuran, telor mata sapi dan taburan bawang goreng di atasnya.


Mulanya Samudra mengambil secuil lantas di cicipi. Bikin Rasya merasa deg-degan takut gak enak, atau kekurangan gitu.


Manik mata Rasya menatap penasaran kearah Samudra, soal rasanya enak atau tidak?


"Gimana, Tuan. Enak?" tanya Rasya penasaran.


Samudra hanya melirik dingin pada Rasya, sambil menikmati setiap kunyahan nya.


"Iih, Tuan di tanya! bukannya menjawab. Malah diem terus." Rasya yang masih berdiri memandangi ke arah Samudra.


"Gak enak, asin. kurang telor, kurang sayur." Ketus Samudra sambil menyuapkan lagi sendok ke mulutnya.


"Masa sih?" Rasya mencomot sedikit dengan sendok baru, dan mencicipinya.


Samudra hanya diam, melihat datar ke arah Rasya yang mengunyah.


"Em ... enak kok! sini. Kalau gak enak? sayang kalau dibuang, aku dah capek-capek buatkan." Rasya menarik piring tersebut.


Namun Samudra tarik kembali puringnya. "Enak saja, siapa yang mau buang? saya lapar. Biarpun gak enak akan saya makan."


"Ooh, kirain mau buang, kan gak enak? Katanya gak enak. Kurang bumbu!" cibir Rasya menatap Samudra yang kembali menyantap makannya.


"Tapi bukan berarti mau saya buang!" ucap Samudra kembali.


"Huam ... ngantuk ah." Rasya membawa langkahnya menuju kamar.


"Mau kemana?" tanya Samudra dengan garangnya.


Rasya menoleh dan berbalik. "Aish ... garangnya peryayaan mu! aku mau tidur ngantuk. Apa perlu aku suapin juga?"


Samudra memejamkan matanya, merasa kesal dengan perkataan Rasya. "He! kau ini asisten saya, wajar dong bila saya suruh-suruh kamu. Mau suruh mandiin saya juga terserah saya." Samudra Menaik turunkan bahunya ....


.


.


Mohon dukungannya ya?

__ADS_1


__ADS_2