
"Bagaimana dengan Kakak mu itu? kan boro-boro turun di tengah jalan! yang ada ikut juga ke sini kan?" Samudra menoleh pada Rasya.
"Entah, aku juga tidak tahu." Rasya menaikan kedua bahunya.
Samudra membangunkan kedua orang tuanya yang sedang lelap. "Pah, Mah. Sudah sampai nih bangun?" seraya membalikan kepalanya ke belakang.
Perlahan papanya menggerakkan tubuh dan membuka matanya, melihat ke arah Samudra. "Sudah sampai ya?"
"Ya, sudah sampai!" jawabnya Samudra.
"Mah? bangun, Mah? sudah sampai nih, Mah bangun?" pak Suyoto menggoyangkan tangan sang istri dengan lembut.
Bu Riska membuka kedua manik mata lalu menggosoknya berkali-kali. "Hem ... di mana kita?" gumamnya Bu Riska.
"Kita sudah sampai rumah, ayo bangun? kita lanjutkan tidurnya di kamar!" jawab Pak Suyoto sembari membuka pintu mobilnya yang berada di samping sang istri.
Kemudian Bu Riska turun lebih dulu, yang disusul oleh Pak Suyoto sendiri dengan menjinjing tas kecil.
Mendengar suara pintu mobil yang ditutup, Vera pun cepat-cepat bangun dan melihat di dalam mobil itu sudah kosong. Dan orang-orang sudah berada di luar mobil, lantas dia pun dengan cepat keluar dari mobil tersebut.
"Kau mau ke mana? bukannya kamu mau turun di tengah jalan untuk menuju tempat kerjamu?" tanya Samudra pada Vera yang masih celingukan, kebingungan di tambah belum sadar sepenuhnya.
"Kasihan dia, kesadarannya belum penuh!" ucap bu Riska kepada putranya, yaitu Samudra.
"Tapi kan memang seperti itu janjinya, dia cuma numpang mobil doang. Dia akan langsung turun menuju tempat kerjanya! seperti itu kan yang dia bilang tadi?" balasnya Samudra.
"Iya, ini kan tengah malam sedangkan emangnya dia punya kenalan? terus tempat yang akan dia tinggal di mana! kasihan lah sampai besok pagi biarkan dia menginap di sini dulu." Kata bu Riska yang tidak tega kepada Vera.
Vera yang masih mengumpulkan kesadarannya merasa mendapatkan angin segar dapat pembelaan dari bu Riska. "Orang ini baik juga!" batinnya Vera sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi kan, Mah ... itu yang diucapkan dia tadi." Kekeh Samudra.
"Sam ... biarkan dia menginap di sini satu malam saja sampai besok pagi, ayo Vera masuk? kau pasti ingin istirahat kan?" ajak Bu Riska mengajak Vera untuk masuk ke dalam rumah besar tersebut.
Lalu Samudra melirik kan matanya pada sang istri yang sedang tertegun, tidak tahu harus berkata apa karena memang rumah ini bukan rumahnya dan dia tidak punya hak untuk menyuruh Vera tinggal di situ. Atau menyuruhnya walau sekedar untuk menginap.
Rasya menoleh peda Samudra yang sedang menatap dirinya, lalu mengarahkan matanya seolah berkata kenapa?
__ADS_1
"Ya sudah, kita masuk? sebelum istirahat aku minta dipijit dulu lah. Capek, pegalnya semua nih badan," ucap Samudra sambil menarik tangan Rasya dan sebelumnya menyerahkan kunci mobil kepada asisten di sana.
Keduanya berjalan gontai menuju kamar yang berada di lantai atas, saling bergandengan tangan. Setibanya di kamar! Rasya langsung ke kamar mandi, karena sudah tidak kuat untuk menahan rasa ingin kencing yang dia tahan sedari tadi.
Samudra gegas membuka pakaian nya dan langsung berbaring telungkup di atas tempat tidur, menunggu Rasya yang masih di kamar mandi untuk memijatnya.
Sesaat kemudian, Rasya pun keluar dari kamar mandi dan mendapat Samudra sudah siap untuk dia pijat. Lantas Rasya pun mencari body lotion untuk mengolesi punggung Samudra agar terasa licin di saat dipijat nanti.
"Di sini nih!" Samudra menunjuk titik-titik yang ingin dipijat oleh Rasya.
Samudra yang keenakan perlahan tertidur sambil di pijat oleh sang istri, begitupun dengan Rasya saking capeknya. Sampai-sampai Rasya gak kuat menahan ngantuk dan tumbang lah di samping Samudra.
Waktu terus berlalu dan malam mengantar penghuni dunia ini ke sebuah pagi yang berkilau dengan cahaya embun yang terkena sinar matahari.
"Huam ... ya Allah ... nyenyak banget tidur ku!" gumamnya Rasya sembari melirik kanan dan kiri.
Sampai manik matanya yang indah itu berhenti bergerak di sosok Samudra yang tampak sangat pulas. Rasya merentangkan tangan memeluk pria itu dengan manja.
"Bangun? sudah siang nih! ha? jam berapa ini?" Rasya langsung beranjak kembali dan turun terburu-buru menghampiri kamar mandi, untuk membersihkan diri dan waktu memang sudah siang. Menunjukan pukul delapan tiga puluh pagi.
Saat ini Rasya sudah tampak segar dan sudah buka-buka gorden dan membersihkan kamar tersebut. Samudra yang baru saja bangun, sedang menggosok kedua matanya dan masih mengumpulkan kesadarannya.
Rasya yang sedang mengambil pakaian kotor menoleh ke arah Samudra. "Sudah, tadi aku sudah bangunkan. Tapi kau tidak bangun! ya sudah aku biarkan saja, kau pasti capek."
"Kita kan mau prewed jam 10.00 nanti, apakah kau lupa?" suara parau Samudra terdengar kembali.
"Aku tahu dan aku ingat, tapi aku pikir kan masih ada waktu! satu jam lagi," ungkap Rasya sambil menoleh ke arah jam dinding.
Samudra mulai mengibaskan selimutnya dan menurunkan kedua kakinya. "Terus, kakak kamu sekarang di mana? sudah pergi belum? jangan sampai dia betah di sini, muak saya melihatnya."
"Ha? Kak Vera? nggak tahu aku belum keluar kamar soalnya." jawabnya Rasya.
"Ya sudah, siapkan sarapan dan minuman hangat buat ku?sekarang aku mau mandi dulu." Samudra berjalan menuju pintu kamar mandi, namun sesaat kemudian tubuhnya berbalik mendekati Rasya, lalu memeluk dan menghujani pipinya dengan kecupan kecil.
Membuat Rasya terkesiap. "Eeh. katanya kau mau mandi? mandi sana ngapain peluk aku?" Rasya berusaha keluar dari pelukan Samudra.
"Emangnya kenapa? nggak boleh? istri sendiri!" ucap Samudra sembari mengucap kening Rasya.
__ADS_1
"Boleh! tapi kan bukannya takut kesiangan?" Rasya mendorong dari Samudra agar dia pergi segera ke kamar mandi.
"Iya-iya ... tapi ini dulu?" Samudra menunjuk bibirnya sendiri minta di kecup.
"Apaan sih?" Rasya tersipu malu dan membalikkan tubuhnya memunggungi Samudra.
"Ya udah, aku malas mandi ahk. Kalau gak mau ngasih!" Samudra menempelkan bokongnya di bahu sofa.
"Katanya mau pergi? gimana sih, mau jadi gak prewed nya?" Rajuk Rasya.
"Iya makanya kasih dulu kiss nya! kiss pagi sayang? ayo dong ... apa susahnya sih?" Samudra tidak kalah merajuk dari Rasya.
Rasya menoleh dan menatap ke arah Samudra dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian mendekat tepat di depan Samudra.
Membuat bibir Samudra tersenyum senang, kalau permintaannya akan di indahkan oleh sang istrinya ini.
"Eeh ... manja!" ketus Rasya sambil lebih mendekat. Cuph! Rasya mengecup bibir Samudra.
Dan geph! tangan Samudra mengunci tengkuknya Rasya dan Samudra mengecup balik bibir ranum itu penuh kehangatan.
"Mmmm ... lep--" desis Rasya yang merasa pengap kehabisan oksigen.
Beberapa saat Samudra membungkam mulut Rasya dengan mulutnya. Rasya yang memukul-mukul dadanya pun tak ia pedulikan.
Sesaat kemudian Samudra melepaskan tengkuk Rasya dan menjauhkan wajahnya. Membuat Rasya merasa lega, dadanya naik turun dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Sementara Samudra tertawa puas melihat Rasya. "Gitu saja kalah, dibiasakan dong sayang ... ha ha ha!"
Rasya menoleh pada Samudra yang berlalu memasuki kamar mandi. "Dasar, tidak punya perasaan! orang pengap juga, sampai-sampai dada ku sesak begini!"
Samudra bersiul, dengan ekspresi wajah yang senang hati. Mengucurkan air shower yang hangat. Membasahi tubuhnya.
Rasya setelah menyiapkan pakaian buat Samudra. Setelah itu Rasya segera turun untuk menyiapkan sarapan dan minuman hangat untuk sang suami yang masih berada di kamar mandi.
Saat kini, Rasya sedang menyiapkan sarapan. Dan minuman di dapur dan dihampiri oleh Mulan yang langsung menyambut hangat kehadiran Rasya ....
.
__ADS_1
Kalau ada typo tolong segera di komen ya agar segera ku revisi. makasih reader ku yang baik hati🙏