Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 81 Petir


__ADS_3

Rasya mengerutkan kening nya. Tidak mengerti dengan yang dimaksud oleh Samudra. "Maksud nya apa?"


"Malah nanya?" Samudra ketus. tangannya membolak-balikan gorengannya.


"Lho ... kalau gak mengerti itu harus bertanya, Tuan ... kata mamanya, Tuan juga aku di sini harus banyak belajar juga." Jawab Rasya sambil menuangkan tumis kangkung ke mangkok nya.


"Emang kau tidak mengerti apa itu kdrt?" Samudra mengerutkan keningnya menatap ke arah gadis yang memunggungi nya itu.


Rasya membalikan badannya sambil mencibirkan bibirnya. "Nggak! makanya aku bertanya. Kalau aku tahu! ngapain bertanya?"


"Ck. Kdrt itu. Kekerasan dalam rumah tangga, memukul, menampar dan sebagainya. Suami terhadap istri ataupun sebaliknya, ngerti?" kata Samudra dengan datar.


"Emang kita berumah tangga? kan anda tidak menganggap ku istri?" lagi-lagi Rasya memanyunkan bibirnya.


"Jadi kau ingin saya anggap istri? boleh!" Samudra mendekat dengan tatapan yang sulit di artikan, memandangi dengan intens dari bawah ke atas tidak luput dari sapuan netra nya.


"Tu-Tuan, mau apa?" Rasya mundur beberapa langkah, wajahnya mendadak pucat. Ketakutan kalau Samudra akan berbuat sesuatu.


Samudra terus berjalan maju. Mendekati Rasya yang terlihat pucat Pasih dan terus mundur.


"Jangan, Tu-Tuan. Aku, be-belum siap!" suara Rasya terbata-bata dan menyilang kan tangan di dada.


Tiba-tiba. "Ha ha ha ..." Samudra tertawa lepas memenuhi ruangan tersebut.


Rasya terheran-heran dengan tingkah Samudra seperti itu.


"Ha ha ha ... kau pikir saya tertarik pada mu? tidak, jadi jangan ge'er ya? sampai kapan pun saya tidak akan menyentuh mu! sedikit pun!" jelas Samudra di tujukan pada telinga Rasya yang masih terlihat pucat itu.


"Yey ... siapa juga yang ge'er? aku cuma jaga-jaga kok." Elak Rasya sambil mengambil piring. Wajahnya mulai kembali berseri. Tidak pucat seperti tadi, namun hatinya tetap merasakan yang aneh. Dada masih juga berdebar tak karuan.


"Halah, alasan!" Samudra duduk setelah ikannya matang. Dan langsung makan setelah Rasya menyodorkannya sepiring nasi putih.


"Mau ke mana?" tanya Samudra ketika melihat Rasya ngeloyor ke kamarnya.


"Kamar lah, ngantuk!" Rasya membalikan badannya, menoleh ke arah Samudra yang sedang makan itu.


"Jangan tidur dulu! pijitin aku?" titah Samudra tanpa menoleh.

__ADS_1


Rasya protes. "Aku capek, ngantuk. Huam ...."


Samudra tidak menjawab lagi, melainkan asyik makan. Namun setau Rasya, kalau Samudra sudah memerintah itu wajib dikerjakan. Tidak boleh tidak.


Beberapa kali Rasya menguap, tidak tahan dengan rasa ngantuk nya. Dan memtuskan untuk ke kamar dulu sebentar sambil menunggu Samudra yang masih makan.


Empat puluh menit kemudian. Samudra sudah berada di kamarnya bertelanjang dada. Menunggu Rasya yang dia suruh memijat tubuhnya.


"Ck. Kemana sih ... di tugu juga?Samudra turun dari tempat tidurnya. Lalu membawa langkahnya ke kamar Rasya.


Cklek.


Tangan Samudra memegang handle pintu di dorongnya ke dalam. "Kau ini bagaimana sih? saya tunggu dari tadi!" pekik Samudra menunjukan tatapannya ke atas tempat tidur yang ada Rasya, sedang memeluk guling tanpa selimut.


Sementara Samudra mematung di depan pintu. Detik kemudian mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Rasya.


"Sya? saya suruh apa tadi? Sya?" Samudra berdiri di dekat gadis itu yang tampak lelap sekali.


"Malah molor? tadi sudah dibilangin jangan tidur dulu! dasar," gerutu Samudra sambil menarik guling dari pelukan Rasya.


Di luar sedang ada hujan sangat deras di barengi dengan suara-suara gemuruhnya petir yang susul menyusul. Suaranya menggelegar mengagetkan setiap yang mendengarnya.


Begitupun dengan Rasya, dia yang tertidur nyenyak, kaget dan tiba-tiba terbangun sontak memeluk Samudra. "Ahhwww ..."


Samudra pun kaget menerima pelukan dari Rasya yang secara tiba-tiba itu.


Suara petir terus menggelegar. Beriringan dengan hujan yang terdengar begitu deras, bagai air yang ditumpahkan dari wadahnya. Kilatan demi kilatan cahaya tampak jelas dari balik gorden. Cukup mengerikan. Rasya menyusup ke punggung Samudra menyembunyikan wajahnya di sana.


Samudra hanya terdiam. Melirik ke samping, tangan Rasya memeluk tubuh Samudra dengan sangat erat. Suara petir terus saja menggelegar membuat suasana kian menyeramkan.


Samudra mengagerakan netra nya melihat tangan Rasya yang melingkar di perut sixpeks nya. Perlahan tangan Samudra memegang tangan itu.


Yang saat ini dirasakan Samudra adalah getaran-getaran aneh yang menyerang tubuhnya. Darahnya pun mengalir sangat deras dan jiwa lelakinya yang normal itu timbul,


Lama-lama Rasya tersadar dan sontak melepas pelukannya dari perut Samudra. "Tu-Tuan. Kenapa ada di sini?" suaranya parau dan pelan, menjauh dari punggung Samudra.


Samudra yang terhanyut menikmati nyamannya pelukan Rasya menjadi tersadar. Dengan ditariknya tangan Rasya dari perutnya tersebut.

__ADS_1


"Kau ini! Saya tunggu kamu untuk memijat saya. Malah tidur?" Samudra mendelikkan matanya kesal.


"Ooh, maaf, Tuan. Aku ngantuk benget tadi! kepalaku berat." Jawab Rasya sambil memeluk guling yang tergeletak di samping Samudra.


Duarrr ....


Duarrr ....


Suara petir yang lagi-lagi menggelegar mengagetkan Rasya, sehingga dirinya kembali memeluk Samudra menyusupkan wajahnya, memejamkan mata kuat-kuat.


"Dasar orang kampung, takut juga sama petir." Gumamnya Samudra. Namun tangannya tidak luput mengeratkan tangan Rasya di perutnya.


"Nggak ada hubungannya dengan itu, mau orang kampung! mau orang kota. Kalau takut ya takut aja." Balas Rasya dalam posisi tanpa membuka sedikitpun kelopak matanya.


"Terus? kalau biasanya ada petir kau sendiri itu. Tidak takut apa?" tanya Samudra sesaat menoleh.


"Kalau sendirian ... sembunyi di bawah selimut. Memeluk guling," sahutnya Rasya lagi. "Aku takut melihat kilatnya juga mengerikan."


"Kenapa sekarang gak sembunyi di bawah selimut? peluk bantal dan guling," ungkap Samudra sok-sok'an tidak ingin di peluk.


Mendengar omongan Samudra, Rasya gegas membuka manik matanya dan menjauhkan diri dari Samudra, duduk bersandar dan memeluk selimut.


"Ma-maaf!" Rasya menunduk malu. Lalu menutup kedua telinganya ketika terdengar lagi suara petir tersebut.


Samudra menyembunyikan senyumnya, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Rasya yang tetap ketakutan. Hati Samudra menjadi terenyuh juga, kian bergetar melihat gadis ini, yang sesungguhnya halal baginya.


Duarrrrt ...


Suara petir datang lagi dan kali ini suaranya semakin menakutkan, kaca jendela pun terdengar bergetar. Seiring itu Rasya melonjak dan lagi-lagi memeluk tubuh Samudra dari depan. Menenggelamkan wajah pucat itu di dada Samudra.


Lagi-lagi Samudra di buat bengong. Perasaan semakin serba salah, dan tidak karuan jantung terus berdegup teramat kencang dan melebihi dari normal. Dadanya berdebar-debar menjadi tak menentu.


"Ayo? Sam. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini! akui saja kalau saat ini kau butuh kehangatan seorang wanita." Bisikan dalam hatinya Samudra ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2