Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 25 Tidak perduli


__ADS_3

Setibanya di tempat keamanan, Sam dan Ubai meminta bukti cctv khususnya di depan unit Sam. Dangan alasan keselamatan seseorang.


Dengan mudahnya Sam dan Ubai mendapatkan cctv tersebut. Keduanya menyaksikan ada dua orang yang bertubuh kekar bertamu ke apartemennya Samudra, dan yang menerima adalah Rasya.


Setelah terlibat perbincangan sesaat. Mereka membawa paksa Rasya dari unit tersebut dan tampak Rasya sangat ketakutan pada waktu itu.


Hening!


Keduanya memilih terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Siapa orang itu dan apa untungnya membawa Rasya secara paksa, sementara Rasya tidak punya kerabat di kota ini serta tidak mengenal siapapun selain mereka berdua.


"Jangan-jangan?" suara keduanya berbarengan dan menunjuk satu sama lain.


"Saya duluan!" sergah Sam. "Jangan-jangan itu suruhan juragan ... siapa?"


"Suruhan orang yang bernama juragan Sam--"


"Itu nama saya Ubai ..." Pekik Samudra melotot ke arah Ubai yang salah sebut nama.


"Maksud saya, juragan Kasmin. Pasti itu orang-orangan sawah eh, orang-orang suruhannya orang tersebut, yang sudah membayar gadis tersebut pada orang tua nya." Timpal Ubai penuh keyakinan.


"Nah, itu maksud ku. Sebenarnya itu bukan urusan kita sih ... itu kan hak dia yang sudah membeli gadis itu." Kata Sam dengan santainya.


Ubai menatap tajam ke arah Samudra yang tanpa beban bicara seperti itu. "Saya tidak rela kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan menimpa gadis itu. Seharusnya kau punya hati setelah beberapa hari dia berada di sini. Saya mau mencari dia."


Ubai beranjak dengan membawa hati kesal pada Samudra yang seolah tidak perduli dengan nasibnya Rasya saat ini.


Samudra bengong. Mencerna maksud dari Ubai yang dengan nada kesal meninggalkannya, Sam berdiri dengan cepat menyusul Ubai. "Bai? Ubai tunggu?"


"Kita mau mencari kemana?" tanya Sam setelah langkah Ubai dapat ia susul.


"Entah. Kita bisa meminta bantuan sama orang-orang kita. Apa susahnya?" balas Ubai sembari masuk ke dalam mobil duduk di belakang kemudi.


"Oke, mintai bantuan sama bodyguard kita," ucap Sam sembari duduk di samping Ubai yang pegang setir.


"Bos itu harus ingat. Kalau sudah janji mau menikahi wanita yang ada di bagasi itu. Seharusnya anda bertangung jawab dong." Ubai berkata demikian karena dia merasa kesal dengan sikap Ubai yang santai-santai saja.

__ADS_1


"Janji apa? itu bukan janji, cuma candaan biasa. Kau lupa kalau aku sudah punya Karin ha?" elak Sam dengan raut wajah yang datar.


"Baiklah. Saya yang akan mengangkat dia jadi istri," tegas Ubai. Dengan memutar kemudinya. Melajukan dengan cepat mobil yang ia kendarai tersebut.


Sam terdiam mendengar Ubai bersedia menikahi Rasya bila bertemu nanti. Ada sekelumit rasa tidak rela dalam hatinya.


Keduanya sama-sama diam, tidak ada yang mengeluarkan suara selain suara mesin, mereka menuju sebuah tempat dimana para preman berkumpul.


Setibanya di tempat yang menjadi tujuan. Keduanya langsung menemui beberapa preman, sekaligus bodyguard yang sering mereka gunakan ketika membutuhkan. Meminta mereka bantuan untuk mencari orang-orang yang ada di cctv tersebut.


Dengan senang hati mereka siap membantu. Dan langsung cabut mencari informasi.


Setelah itu, Sam dan Ubai balik ke kantor dan sebelumnya mencari makan siang yang sudah terlewatkan. Mereka memilih kantin di area kantor saja.


Sebab hidup butuh makan juga. Keduanya langsung menyantap makanan yang sudah tersedia di meja.


"Kok aku jadi kepikiran gadis itu sih? Sial! mengganggu selera makan ku saja!" umpat Sam dalam hati. Menghentikan acara makannya, bengong menatap kosong.


Sementara Ubai. Mesti kepikiran Rasya namun tidak menghentikan acara makannya.


Ubai heran, melihat Sam yang bengong dan makannya pun terhenti.


"Kenapa, Bos?" tanya Ubai heran.


Sam menoleh seraya menyimpan sendok dan garpu di piring. "Nggak berselera." Lalu meneguk minumnya.


"Ha ha ha ... kenapa bisa gak berselera gitu? ingat kekasih, Karin?" Ubai sedikit mencibir.


"Berisik, kalau tidak mau saya semprot nih." Sam melotot ke arah Ubai yang menertawainya.


Kemudian Sam berlalu, segera membawa langkahnya memasuki kantor dengan wajah yang tampak gundah dan hati yang gusar.


Tiba-tiba wajah Rasya seketika menari-nari di pelupuk matanya. Mengganggu pikiran Sam yang memandangi layar laptop, pikirannya jadi gak bisa fokus bekerja bekerja.


"Argh! sial-sial ... saya tidak fokus bekerja. Wajah gadis kampung itu terus menari-nari di ruang mataku. Mengisi pikiran ku." Umpat Sam sembari memukul meja, lalu tangannya ia kibaskan kasar yang terasa panas dan sakit.

__ADS_1


"Kira-kira kemana gadis itu di bawa? eh gadis kampung atau gadis bagasi? dan mau diapain itu gadis?" gumamnya Sam sembari menyandarkan pundaknya ke bahu kursi. Tidak habis pikir.


Samudra melamun, memikirkan Rasya yang entah di mana dan sedang apa sekarang ini? membuat dirinya tidak fokus saja mengingatnya.


"Bos, sebentar lagi ada meeting." Suara Ubai membuyarkan lamunan Sam yang begitu anteng dan tatapannya kosong ke depan.


"Ha? apa?" tanya Sam yang tidak konsen sehingga tak mendengar yang Ubai ucapkan.


"Sebentar lagi ada meeting," ulang Ubai dengan sekelumit rasa heran dengan sikap bos nya ini yang terlihat tidak fokus.


"Iya," sahut Sam singkat. Kemudian beranjak dari duduknya dan menggeser kursi, berjalan sembari merapikan pakaian yang terlihat kusut.


Ubai berjalan di belakangnya Samudra, dengan pikiran ingat terus pada Rasya, gimana nasibnya sekarang? orang kepercayaannya pun belum juga memberi kabar tentang keberadaan Rasya.


Setibanya di ruang meeting, Ubai langsung membuka percakapan tentang bisnis yang sedang mereka kelola.


Sam pun dengan tegas dan berwibawa nya memimpin rapat sampai selesai. Kendati hati dan pikirannya kurang fokus namun sebagai pengusaha muda, Sam di tuntut untuk sinkron. Berdamai dengan kondisi yang sedang ia hadapi.


"Saya rasa meeting kali ini dicukupkan dulu sampai di sini. Sampai jumpa lagi dilain kesempatan dan terima kasih?" Jelas Samudra menutup pertemuan itu.


Kini Sam dan Ubai berjalan beriringan menuju ruangannya Sam. Ubai membawa beberapa berkas berwarna biru di tangan.


"Gimana sudah ada kabar belum?" tanya Sam pada Ubai yang berjalan sambil terdiam.


"Ha? belum, Bos. Masih dalam pencarian." Jawab Ubai dengan nada dingin.


Sam menghela napas panjang dan berat. Hatinya bertambah gusar. Namun tidak ia tunjukan langsung pada Ubai, sehingga menurut Ubai dirinya cuek dan tidak peduli sama gadis tersebut.


Karena sudah waktunya pulang. Ubai dan Sam pun keluar dari kantornya. Memasuki mobil mewah tersebut dan kali ini Sam lah yang pegang setir.


Tanpa membuang waktu, Samudra langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba Ubai menerima telepon dari seseorang.


Jiwa keponya Sam meronta, Sam memelankan mobilnya dan menatap ke arah Ubai yang hanya mengangguk-anggukan kepala, membuat Sam tambah penasaran. Namun tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Terlalu gengsi bila harus bawel menanyakan tentang hal tersebut. Sam hanya memilih terdiam ....


****

__ADS_1


Mana dukungan nya nih? makasih sebelumnya


__ADS_2