Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 1018 Terjerat


__ADS_3

"Benarkah?" Rasya seakan mengernyitkan keningnya.


"Iya, mana sarapan buat ku?" Samudra mengalihkan pembicaraan.


"Jasnya gak di pakai dulu?" Rasya sudah memegang jas milik samudra.


"Iyalah. Pakaikan sekarang?" Samudra mengangguk lalu memutar badannya.


"Kalau di lihat-lihat sih ganteng juga?" batin Rasya, namun segera ia mengalihkan pandangan ke arah piring untuk Samudra.


Sambil duduk, Samudra pun menatap ke arah gadis itu yang sedang membuatkan sarapan untuknya.


"Ini sarapannya!" Rasya menyodorkan piring beserta sendok dan garpu juga segelas air minumnya buat Samudra.


"Kau mau kemana?" tanya Samudra ketika Rasya malah mau pergi.


"Belum membereskan kamar mu!" Rasya hentikan langkahnya lantas menoleh pada Samudra.


"Sarapan aja dulu? temani sarapan!" pinta Samudra sambil menyiapkan sendok ke mulutnya.


Rasya pun kembali dan mengambil piring serta ia tuangi nasi goreng ke kesukaannya. "Tuan? apa anda tidak bosan? setiap pagi aku suguhkan sarapan nasi goreng?"


"Tidak, malah aku suka! masakan mu enak," jawab Samudra sembari tetap asik makan dan tanpa menoleh juga.


Bibir Rasya mengembang mendengar ucapan dari Samudra yang menyukai masakannya. "Ooh ... yang benar kau menyukai masakan ku? baru kali ini Tuan muda mengakuinya! ho ho ho ...."


Samudra mendongak. "Ha? tadi ku bilang apa?" menyatukan alisnya.


"Anda bilang masakan ku enak dan kau menyukainya!" sahut Rasya sambil menyuapkan sarapan ke mulut.


"Mungkin kau salah dengar! nggak bilang gitu kok, biasa aja kok, ya-ya ... daripada aku makan cuma roti tawar, kan nasi goreng lebih baik. Siapa juga yang bilang enak? lumayanlah." Elak Samudra.


"Orang tadi benar-benar ngomong gitu kok, enak dan kau menyukainya. Kenapa kau tidak mengakui, gengsi apa?" lanjut Rasya.


"Kau saja yang salah dengar!saya gak bilang begitu," Samudra terus mengelak.


"Ada apa sih? ribut-ribut saja pagi-pagi, heran gue. Rasanya jarang banget kalian mesra, sayang-sayangan. Debat mulu kerjaannya! panas nih kuping," celetuk Ubai yang baru saja datang.


"Apa? sayang-sayangan? Ooo!" timpal keduanya sambil saling melirik tajam.


"Kenapa? mual?" tanya kembali Ubai sambil mendudukkan dirinya samping Samudra.

__ADS_1


"Aah ... kau tidak tahu apa-apa!jangan banyak ngomong?" Samudra mengibaskan tangannya.


"Gitu amat, Bos?" Ubai menggelengkan kepalanya sambil mengambil piring untuknya makan.


"Ini, Tuan. Tuan muda baru saja dibilang masakan ku enak dan dia menyukainya namun kemudian katanya nggak bilang begitu, kan aneh?" timpal Rasya pada Ubai.


"Jangan didengar, Nona. Dia memang seperti itu, munafik. Bibir benci di dalam hati sayang, suka. Jadi nggak usah didengar lah, anggap saja angin lalu," hibur Ubai sambil memulai makannya.


"Emang biasa saja kok, rasanya gak ada yang aneh," sambung Samudra.


"Ya ... emang nggak ada yang aneh, tapi lebih suka makan di rumah gitu. Maksudnya ya?" tambah Ubai sambil melirik pada Samudra.


"Hah, terserahlah, terserah kalian mau ngomong apa." Samudra meneguk minumnya.


Ubai dan Rasya terkikik berdua, melihat ekspresi wajah Samudra yang tampak marah tersebut.


"Jangan lupa bereskan bajumu, nanti sore jemput." Kata Samudra melirik ke arah Rasya.


Ubai mengangkat wajahnya melihat ke arah dan Rasya bergantian. "Mau ke mana?" tanya Ubai sembari menurutkan keningnya.


"Ke mansion lah, ke mana lagi?" sahut Samudra.


"Ooh ... Iya aku lupa, aku pikir mau diantar ke kampungnya, hahaha." Ubai tertawa.


"Enak saja!" Samudra menggeleng sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Kau sudah siap akan bertunangan dengan Karin?" tanya Ubai dengan ekspresi yang sangat serius.


"Siaplah. Masa nggak siapa orang sama kasih sendiri, bukan sama orang lain," kata Samudra lagi.


"Iya, kali aja merubah pikiran gitu, kan bisa saja," ucap Ubai sambil menaikkan alisnya yang hitam pekat.


"Enggak lah, sudah mantap, yakin seyakin-yakin nya," balasnya Samudra kembali.


Rasya yang mendengar obrolan mereka berdua serasa aneh Serasa ada benda yang menggores hatinya, sakit dan perih. Mulut yang tadinya mengunyah pun berhenti, rasanya makanan yang sudah di mulut itu sulit untuk ditelan, sehingga dia buru-buru mengambil gelas yang berisi air putih dan meneguk hingga setengahnya.


"Kau kenapa, Nona" tanya Ubai yang melihat Rasya ekspresi ekspresi aneh.


Rasya menoleh pada Ubai. "Nggak kok, enggak kenapa-napa. Cuma perutku mendadak saja berasa kenyang, tangannya menggeser kan piring, yang masih tersisa setengahnya itu.


"Kenapa, kau sakit wajahmu tampak pucat," tanya Ubai kembali.

__ADS_1


"Nggak, aku baik-baik aja kok." Sahut Rasya sambil tersenyum yang tampak dia buat-buat.


"Yakin, kau tidak kenapa-napa?" selidik Ubai kembali yang tampak cemas akan kesehatan Rasya.


"Yakin, kau baik-baik saja?" Rasya mengangguk seraya menghabiskan minuman yang berada dalam genggamannya tersebut.


"Kenapa sih? kau bawel Bai? kalau dia nggak baik-baik saja, ya pasti ngomong. Kalau dia sakit dia pasti ngomong lah, nanya-nanya gitu!" suara samudra yang ditunjukkan pada Ubai.


"Lho ... bukannya begitu, Bos. Kan apa salahnya kita perhatian pada orang yang di sekitar kita, apalagi orang yang sudah berjasa terhadap kita? termasuk Nona ini yang sudah menyiapkan sarapan, makan. Melayaniku dengan baik." Ubai membela diri.


"Ya-ya-ya ... aku tahu dan aku tahu itu, tapi aku yakin kalau dia baik-baik saja, dia sehat dan tidak sakit," timpalnya Samudra.


"Aku baik-baik saja, Tuan Ubai," jawab Rasya dibarengi dengan sebuah senyuman.


"Ya, syukurlah kalau kau baik-baik saja, tapi kalau seandainya kamu merasa sakit, apa gitu? jangan sungkan-sungkan. Bilang? nanti ku antar ke dokter atau dokter yang aku datangkan ke sini." Ubai menawarkan tenaga.


"Baiklah, Taun Ubai," lagi lagi Rasya mengangguk.


Kemudian Ubai melanjutkan makannya sampai dua kali nambah, Samudra sibuk dengan laptopnya dan Rasya pergi ke kamar Samudra untuk beres-beres.


"Bos?" panggil Ubai pada Samudra.


"Hem ..." gumamnya Samudra tanpa menoleh.


"Apa kau tidak akan menyesal? bila kau menikahi kekasih mu itu?" tanya Ubai sama celingukan.


"Kau ini kenapa sih? ya nggaklah, ngapain ku nyesel? justru ini sesuatu yang membahagiakan buat aku, menikahi kekasih hati yang sangat aku cintai," jawabnya Samudra penuh keyakinan.


"Terus bagaimana dengan, Nona Rasya, apakah kau akan melepaskannya? tidak mungkin kau terus menjeratnya dalam ikatan suci pernikahan!" sambung Ubai dengan nada yang sangat serius serta tatapan yang mendalam.


Samudra tertegun sesaat, lalu menghela nafas panjang. "Soal itu nantilah, aku pikirkan. Sekarang aku nggak bisa pikir apa-apa," karena memang otaknya Samudra blank untuk urusan itu.


"Bagaimanapun dan bagaimanapun ... kau harus membuat keputusan, pilih salah satu, Bos? tidak bisa kau pilih dua-duanya, aku tahu kau sangat mencintai Karin tapi bagaimana dengan Rasya yang tidak sengaja dia terkurung dalam ikatan pernikahan, lepaskan dia kalau nggak bisa membahagiakannya," ujar Ubai panjang lebar.


"Kau tidak perlu mengajariku? apalagi menyuruhku untuk melepaskan dia, aku tahu yang terbaik buat aku, buat dia dan jangan berharap kau bisa menggantikan ku berada di sisinya." Samudra menatap tajam pada Ubai yang menatap serius.


"Kenapa? wajar saja bila aku berharap bisa berada di sisinya dan bahagiakan dia seutuhnya! ucap Ubai sembari terheran-heran.


"Kau tidak akan pernah mengerti," tambah Samudra.


"Karena kau juga mencintainya kan?" tanya Ubai dengan jelas dengan tatapan yang seakan ingin menusuk ke dalam jantung ....

__ADS_1


.


__ADS_2