
"Sabar-sabar, anda tidak bisa berbuat semua mu. Tuan ini menjurus kekerasan." Adam menjauhkan Samudra dari pria yang Samudra pukul.
"Kau bilang sabar ha? kalian yang sudah memfitnah ku, bicara pake tangan kau bilang kekerasan? kau sudah gila?" Samudra melotot pada Adam.
Rasya semakin panik, mulutnya menganga melihat kejadian ini. Samudra begitu marah dan sangat terlihat dari wajah dan prilakunya.
"Perlakuan mu itu yang memang meresahkan. Hidup berdua dengan seorang gadis, kumpul kebo namanya itu, dasar pria muda apa kau tidak di ajari kalau hidup berdua dengan seorang gadis tanpa ikatan itu akan menimbulkan dosa?" Kata Adam pedas.
"Tapi kami tidak melakukan apa pun, mengapa kalian tidak mau petcaya itu ha?" ucap Samudra dengan nada tetap tinggi.
"Kami tidak mau tahu, yang jelas kalian sudah tertangkap basah berduaan di kamar dengan tidak memakai baju sekalipun." Bentak seorang pria yang tampak garang, melotot ke arah Samudra dan Rasya bergantian.
Samudra kembali ingin menyerang pria tersebut dengan kepalan tangannya. Namun tubuhnya di tahan oleh Adam dan di suruh duduk.
"Kami berdua sama sekali tidak melakukan apapun. Mengerti tidak?" teriak Samudra.
"Tapi tetap saja, terus apa namanya kalau bukan kumpul kebo? hidup satu atap." Sahut yang lainnya terus menyudutkan Samudra.
"Bener, jelas-jelas buktinya di depan mata. Kalian habis enak-enak, tuh lihat juga. Banyak tanda merah di leher wanitanya." Sambung yang lain lagi melirik ke arah Rasya.
Mereka pikir kalau lebam di bagian tubuh Rasya, seperti di pipi dan bagian leher itu adalah bukti enak-enak yang dilakukan Samudra pada Rasya. Padahal itu sisa luka dari kejadian Rasya diculik juragan Kasmin waktu itu.
Rasya semakin kelimpungan, jujur gak paham dengan maksud mereka semua.
"Jadi, kalian tidak bisa mengelak lagi," ucap pria yang tadi.
"Itu, tidak benar! kalian tahu apa tentang kami?" Samudra tetap mengelak dengan nada tinggi.
Derap sepatu dan langkah kaki pria terdengar jelas dan mendekati pintu yang terbuka lebar tersebut.
__ADS_1
Ubai memandangi semua orang yang ada di sana, Merasa heran dengan keadaan di apartemen Samudra tersebut.
"Ada apa ini?" suara bariton Ubai menghiasi keributan yang berada di dalam.
Samudra langsung menyambut kedatangan Ubai. Dengan wajah yang tidak bersahabat. Hatinya kesal kenapa Ubai baru datang di saat dirinya sangat membutuhkan.
"Ini, mereka datang untuk membawa paksa aku ke kantor polisi. Mereka menuduh ku kumpul kebo dengan gadis itu." Samudra menunjuk ke arah Rasya yang menunduk, masih dengan suara nada tinggi.
"Saya mendapat laporan, kalau mereka itu kumpul kebo, tinggal berdua saja di apartemen ini tanpa adanya lagi penghuni sebagai mahramnya," ungkap pak RT lirih pada Ubai yang mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oya, begitu kah?" gumamnya Ubai sambil mengerutkan keningnya.
"Barusan aja mereka berduaan di kamar dan buka-bukaan, kaya habis melakukannya sesuatu, kalau saja anda melihat, pasti merasa jijik." Timpal bapak-bapak satunya pada Ubai.
Ubai memicingkan matanya pada Samudra yang tampak begitu marah. Dengar omongan pria tersebut, wajahnya kembali memerah.
Mata melotot dengan sangat sempurna, kalau saja tangannya tidak di pegang Adam. Pasti Samudra akan kembali menyerang.
Lagi-lagi Ubai memicingkan matanya. "Mana saya tahu, saya tidak melihatmu dalam dua puluh empat jam. Jadi saya juga tidak tau yang kalian lakukan tanpa adanya saya."
Lagi-lagi Samudra melotot dengan sempurna ke arah Ubai yang malah menyudutkan dirinya, seolah mengiyakan perkataan mereka.
"Tuan, ramah. Eh, Tuan Ubai. Aku cuma memijit Tuan muda saja, tidak melakukan yang lain lagi. Iya, kan Tuan muda?" Rasya melihat ke arah Ubai dan Samudra bergantian.
"Itu benar! aku hanya menyuruhnya memijat tubuh ku, itu saja." Timpal Samudra dengan cepat.
"Kami tidak mau tahu lagi, apapun jawaban kalian, sebab kami tidak mau kena imbas dengan dosa kalian yang cuma berduaan di apartemen ini, bahkan tertangkap basah berduaan di kamar." Jelas pak RT kembali.
"Itu benar! kami setuju dengan yang dikatakan oleh pak RT barusan, sudah. Nikahkan saja mereka berdua," sahut ke empat pria lainnya berbarengan.
__ADS_1
"Kalian berdua, harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian dengan cara kami nikahkan sekarang juga! atau kami arak kalian ke kantor polisi?" lagi-lagi gertakan pak RT bikin panik.
Apalagi Samudra, nama baiknya akan hancur bila media tahu bahwa seorang pengusaha muda yang bernama Samudra. di arak gara-gara berbuat mesum dengan asisten rumah tangga.
Apa yang harus dia katakan pada orang tua dan kekasihnya nanti. Jika semua taunya ia melakukan itu.
"I-itu tidak harus, saya akan bayar kalian berapapu. Ubai beri mereka uang berapa saja, orang-orang seperti ini akan diam bila sudah ada uang di tangan." Sinis dan angkuh, itulah Samudra saat ini. Dia pikir semuanya bisa di bayar dengan uang.
"Tuan, anda pikir kami bisa di bayar dengan uang? untuk menutupi dosa anda? tidak! Dosa anda tidak bisa di tutupi dengan uang berapa pun." Pak RT melonjak dan tersinggung dengan perkataan Samudra yang tetap berdiri melipat tangan di dada.
"Iya, benar. Kami tidak butuh uang anda, yang kami ingin terlepas dari dosa kalian, kalau kami mau uang, dari tadi saja kami memintanya, dan tidak perlu penuh derama seperti in--"
"Masa bodoh, dengan dosa yang kalian tuduhkan padaku itu, saya tidak perduli." Samudra memotong perkataan scurity yang bernama Adam itu.
"Kau gila apa? melibatkan orang banyak hanya demi kenikmatan kau sendiri! nikmatnya kamu yang rasa tapi dosa, semua orang yang dapat." Kini berbalik, kini Adam yang mendekat dan mencengkram kerah baju Samudra.
Ubai langsung menarik scurity tersebut ke belakang. Dia siaga dan Khawatir pak scurity berlaku lebih kasar ke Bosnya itu.
"Kenikmatan apa? saya tidak melakukan apapun!" Samudra semakin tersulut emosinya, serta tidak mau mengakui apa yang tidak dia lakukan sama sekali.
Tangan Samudra balik menarik kerah Adam, dan pada akhirnya Samudra dan Adam adu jotos. Saling serang. Samudra memukul dagu Adam dan Adam memukul batang hidung Samudra.
"Cukup bos. Hentikan! ini gak baik. Kita bicarakan dengan kepala dingin, bukan kaya gini?" pinta Ubai menengahi keduanya.
"Itu benar, Mas Adam hentikan ini bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah ini. Sabar. Tenang jangan mengikuti nafsu." Pekik pak RT yang di tujukan ke Adam.
Sidar sebagai ketua RT, harus lebih tenang. Jangan sampai ini berakhir dengan keributan ...
.
__ADS_1
.
Mau tau kelanjutannya? pantengin terus🙏