Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 1013 Setuju


__ADS_3

Saat ini Bu Riska dan pak Suyoto juga Rasya tengah duduk menikmati makan malam bersama.


"Tuan muda mu, sudah diberi makan, Rasya?" pak Suyoto membuka percakapan di tengah-tengah makan malamnya.


Rasya mengangkat kepalanya dan menggerakkan maniknya yang indah itu pada pak Suyoto yang memang berada duduk dihadapannya. "Sudah, minum obat dan tubuhnya pun sudah ku lap, biar segar, tinggal istirahat saja, Om."


"Ehem, pantas ya? Samudra lebih betah di sini! perawatnya cantik dan perhatian." Kata pak Suyoto di sela-sela mengunyah makanan di mulut.


Bu Riska hanya mengangguk pelan. Dalam hati membenarkan omongannya sang suami.


"Kenapa Sam tidak bertunangan saja dengan mu? kalian cocok kok! soal sosial sih? tidak usah di pikirkan--"


"Ohok-ohok, ohok." Rasya terbatuk-batuk mendengar omongan pak Suyoto barusan.


"Aduh Rasya ... pelan-pelan dong makannya." Bu Riska mendekatkan gelas air minum pada Rasya.


"Keselek, Tante." Rasya menyimpan gelas setelah meneguk airnya.


"Hati-hati makanya." Timpal pak Suyoto.


Baru saja selesai makan, terdengar suara Samudra memekik dari dalam kamarnya.


"Sya? sini?" suara Samudra dengan nada tinggi.


"Rasya, temui dulu sana? biar ini, Tante saja yang bereskan!" titah Bu Riska pada gadis itu yang baru saja beres makan lantas berdiri mau beres-beres.


"Oh, tidak apa-apa? kalau Tante yang bereskan?" Rasya menatap tidak enak hati.


"Sudah, temui Sam dulu. dia lebih penting." Tambah pak Suyoto.


"Sya? sini? lagi apa sih kau ini?" Samudra kembali memekik.


Rasya menoleh ke sumber suara. "Baik lah! aku temui dulu tuan Sam. Oya Tante, cuciannya biar aku saja yang bereskan nanti."


Rasya buru-buru menemui samudra di kamarnya, dan manik mata Rasya menemukan Samudra sedang duduk di tepi tempat tidur dengan kedua kaki terurai ke bawah.


"Ada apa, Tuan?" Rasya menghampiri.


"Kemana aja sih? dipanggil sedari tadi juga?" ucap Samudra tampak kesal.


"Aku baru selesai makan! emang ada apa?" ulang Rasya menatap pria itu.


"Antar saya ke ke toilet?" Samudra berdiri.


"Ya ampun ... kan bisa sendiri ke toilet?" kepala Rasya menggeleng sambil berdecak.


"Tubuh aku lemas, kalau aku terjatuh gimana? mau tanggung jawab?" netra nya kembali melotot.


"Aish ... sakit kok galak?" ucap Rasya namun tak ayal membeyeng tubuh Samudra, tangan Rasya merangkul pinggang Samudra.

__ADS_1


"Kecil amat sih tubuh mu? pendek!" gumam Samudra melihat tubuh Rasya yang hanya sebahu pria tinggi tersebut.


"Kau saja yang ketinggian! bagai tiang listrik." Protes Rasya.


"Kau yang kependekan!" balas Samudra lagi.


"Terserah, mau dibilang pendek kecil. Masa bodoh aku nggak peduli," kata Rasya sambil memapah Samudra.


"Tau nggak? tubuh mu itu berat, orang besar. Tinggi." Gerutu Rasya kembali sambil berjalan.


"Biarin, tinggi besar itu tubuhku kok," bela Samudra sambil mesem.


"Makanya, mau kecil mau pendek itu tubuhku, nggak minjam tubuh kamu juga," lanjut Rasya lagi.


"He'eh sejak kapan kau panggil aku dengan sebutan kamu? Bagaimana pun aku tuh su--"


"Apa suami? suami yang mau menikah lagi?" temple Rasya dengan nada dingin.


Samudra terdiam tidak menjawab, dia hanya menurunkan celananya setelah masuk area toilet.


"Tunggu di situ? jangan keluar dulu sampai aku selesai," pesan Samudra.


"Masa aku harus nunggu di sini?" protes Rasya sambil memunggungi Samudra.


"Emangnya kenapa? bau? banyak tuh pengharum ruangan tinggal buka saja, ribet amat sih jadi orang." Tambah Samudra.


"Bukannya ribet. Emang kenapa sih kalau keluar? nanti panggil aja lagi, kalau sudah selesai." Ucap Rasya sambil meraih pengharum ruangan yang ada di sana.


Rasya tetap berdiri di depan pintu, sesekali menggerakkan salah satu kakinya untuk mengusir kejenuhan, Rasya merasa nggak enak juga pada orang tua Samudra bila tahu dia satu kamar mandi dengan putranya.


"Tuan? Tuan?" panggil Rasya.


"Apa sih berisik?" jawab Samudra.


"Gimana kalau ketahuan sama om dan tante kita berduaan di kamar mandi? nggak enak nih masa aku duduk di sini, di kamar mandi bersama anda?"


"Ya nggak pa-pa orang cuma nungguin. Emang saya ngapain kamu?" malah Samudra balik tanya.


"Ya nggak apa-apa sih, cuman ... pasti mereka berpikir nggak risih apa?" gumamnya Rasya.


"Risih gimana? orang kamu lap tubuhku aja dipegang-pegang. Apalagi ini cuma nungguin, sudah ah, jangan berisik? Saya lagi konsentrasi nih." Kata Samudra.


"Konsentrasi, buang hajat aja konsentrasi. Coba buang duit? he he he ..." Rasya tertawa sendiri.


"Nggak usah ketawa, nggak lucu, lagian nggak ada yang harus diketawain juga." Ketus Samudra.


Rasya hanya mencibirkan bibirnya lantas terdiam kembali.


Selesai dengan acara membuang hajatnya, Samudra dipapah kembali oleh Rasya ke tempat tidur semula.

__ADS_1


"Sudah, aku mau keluar. Mau beres-beres meja makan. Nggak enak kalau dibereskan oleh tante! masa ada asistennya, nyonya sendiri yang ngerjain." Pamitnya Rasya.


"Heh, main pergi aja! ini aku belum berbaring," cegah Samudra dengan nada dingin.


"Oh, iya." Rasya kembali berbalik dan membantu membaringkan tubuh Samudra dan menyelimutinya sampai atas.


"Jangan dulu pergi," pinta Samudra ketika melihat Rasya melangkahkan kedua kakinya dengan teratur dari dekat tempat tidur.


"Iih, apa lagi sih?" Rasya kembali memutar badannya menghadap ke arah Samudra.


"Nyalakan televisi, dan setel acara yang ku sukai." Tambah Samudra.


"Ya gampang lah, orang tinggal pijit remote nya." Rasya mengambil remote televisi, langsung menghidupkannya. "Sudah kan? sudah hidup televisinya?"


"Iya sudah, cari acaranya yang bagus, carikan acara yang aku sukai." Pinta lagi Samudra.


"Lah, kan aku nggak tahu acara apa yang kau sukai?" protes Rasya sambil menyerahkan remote kepada Samudra.


Samudra berdecak kesal. "Iya carikan makanya. Tanganku lagi nggak mau dikeluarin, sudah terlalu nyaman di dalam selimut," sambungnya Samudra sambil menunjuk tangannya yang sudah berada dalam selimut, katanya sudah ada dalam zona nyaman.


"Aish ..." Rasya menggelengkan kepalanya lalu dia mencari dan memindah-mindah kan ke acara yang bagus, dari channel ke channel lainnya hanya untuk mencari acara yang Samudra inginkan.


Namun banyaknya acara tidak satupun yang dia sukai, yang ini lain yang itu bukan yang ini nggak suka, yang itu apalagi akhirnya rasa terdiam tidak menggerakkan kaki tangannya.


"Kau ini kenapa sih? carikan acaranya," pinta Samudra dengan tatapan heran.


"Iya acara apa? lagian yang ini bukan, yang itu lain. Sudah bolak-balik nih," lagi-lagi Rasya protes. "Heran aku?"


"Ya sudah, nyalakan flash disk, cari film yang bagus," perintah Samudra beralih pada flash disk.


Rasya menggelengkan kepalanya, sembari melangkahkan kaki mendekati televisi dan dibawahnya ada banyak flash disk. Film-film dan musik, mungkin itu kesukaan Samudra.


"Sayang, ngapain sih ribut-ribut? malam nih, bukannya istirahat." Suara bu Riska yang baru saja memasuki kamar tersebut.


"Siapa yang ribut Mah? nggak ribut, cuma ... dia saja yang nggak ngerti," balasnya Samudra menggerakkan netra nya pada sang bunda.


"Siapa juga yang nggak ngerti? orang ini salah, itu salah yang ini bukan yang lain bukan. Jelaslah Bikin orang pusing," gerutu Rasya di depan.


Bu Riska cuma tersenyum melihat kedua anak muda itu, lalu disusul oleh pak Suyoto. Dia berdiri di dekat sang istri dengan menunjukan senyumnya, merasa lucu dengan tingkah putra dan asistennya tersebut.


"Oh iya, kemana Ubai? kok nggak ada ke sini?" akhirnya pak Suyoto bertanya tentang Ubai.


"Ubai, dia ... ke Semarang, kan seharusnya kita berdua yang ke sana." Jawab Samudra pada papanya.


"Iya-ya, Papa baru ingat, ya sudah. kau istirahat saja yang cukup di rumah, nanti saja lah kalau sudah sembuh. Sehat, baru beraktivitas kembali," ucap Pak Suyoto kepada putranya itu.


"Iya benar kata Papa, sekarang istirahat aja lah. Mungkin kamu terlalu capek, banyak pikiran jadinya stress," timpal bu Riska sembari mendekati sang putra dan merangkul bahunya.


"Kau pasti segera sembuh kok. Apalagi punya perawat seperti Rasya, ya kan?" Bu Riska sambil melirik pada suaminya yang langsung merespon dengan anggukan tanda setuju ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2