
"Ck, siapa sih? menghalangi jalan saja!" Samudra berdecak kesal ketika melihat seorang wanita muda mencegat jalannya.
"Kak Vera?" gumamnya Rasya, dia merasa heran dengan keberadaan Vera di sana.
"Mau apa dia mencegat kita segala sayang?" tanya Samudra melirik ke arah Rasya.
"Siapa dia sayang?" Bu Riska penasaran menatap ke arah Vera.
"Dia kak Vera, kakak angkat ku, Mah." Rasya melirik ke arah sang mama mertua.
"Yang jahat itu kah?" pak Suyoto mengernyitkan keningnya.
"Semua juga jahat," timpal Samudra.
"Rasya? kau mau ke Jakarta bukan? aku ikut ya? aku ada kerjaan di sana. Please?" Vera memohon pada Rasya yang masih berada di dalam mobil.
Rasya menoleh pada sang suami, ga tega juga bila sekedar memberi tumpangan apa salahnya? begitu pikir Rasya.
"Aku numpang di jalan saja, setelah sampai sana aku gak bakalan nyusahin kalian kok, numpang jalan saja?" tambahnya Vera meyakinkan.
Viona dan Fatir yang melihat sosok Vera di sana langsung menghampiri.
"Kau Vera bukan? kenapa ada di sini? maksud saya ada keperluan apa pada putri saya?" tanya Viona menatap intens ke arah Vera.
Vera mengangguk hormat. "Tante, Ku ada kerjaan di Jakarta, dan aku mau ikut tumpangan gitu. numpang kendaraan saja, setelah itu aku mau ke tempat kerjaan." Rajuk Vera pada Viona.
"Kerjaan apa kau di sana?" selidik Fatir dengan nada datar serta kedua tangan bertaut di belakang.
"Aku ada interview di salah satu perusahaan, dan waktunya besok. Tolong? ikut ya numpang?" Vera menyatukan kedua tangan penuh permohonan.
Viona menoleh pada sang suami, sedikit meragukan omongan Vera. lagian bila benar pun mereka berdua was-was mengingat sikap gadis itu pada Rasya selama ini.
Kemudian keduanya menatap ke arah Rasya yang duduk di samping Samudra.
"Aduh ... keburu malam nih?" gumamnya Samudra tampak kesal.
"Ajak saja ya? cuman numpang jalan saja kok ..." Rasya menatap pada Samudra dengan tatapan lembut.
"Kau yakin? kalau dia tidak akan merepotkan kita?" Samudra mendekatkan wajahnya pada Rasya dengan suara pelan.
"Em ... sepertinya tidak," Rasya menggeleng.
"Baiklah." Samudra mengalihkan pandangannya pada Vera.
Vera tersenyum bahagia. "Teri makasih? aku janji cuma numpang saja," kemudian Vera pun masuk ke dalam mobil Samudra dan duduk di belakang.
"Bunda? aku pergi ya? Assalamu'alaikum! dah ..."
__ADS_1
"Wa'alaikumus salam ... hati-hati Sam." Pesan Viona dan Fatir.
Mobil Samudra melaju dengan cepat menyusuri jalan menuju Jakarta.
"Kau mau bekerja di mana?" tanya Bu Riska menoleh ke belakang.
"Aku di panggi oleh salah satu perusahaan." Vera menjawab dengan bangga.
"Ooh, kau itu makanya Rasya ya?" selidik Bu Riska.
"Iya, Tante. Dia dari kecil dekat dengan ku, dari kecil ... banget. Jadi kita sangat dekat banget, Tante." Vera sok dekat dengan Rasya.
"Oo! pengen muntah gue!" Samudra menjulurkan lidahnya.
"Kau kenapa?" Rasya menatap ke arah Samudra yang sedang nyetir itu.
"Mual gue, sama orang yang bermuka dua mungkin bermuka 3 atau empat." Balas Samudra.
Rasya hanya terdiam. Selang beberapa jam kemudian mobil Sam berhenti untuk salat dan makan malam sembari istirahat.
Tak ayal Vera pun ikut bersama mereka. Makan malam bersama.
Vera begitu menikmati makanan yang serba enak di meja.
Samudra yang merasa risih dengan kejadian wanita itu. Hanya sesekali menatap tidak suka ke arah Vera.
"Perasaan dulu seperti itu, karena kau itu dibuat susah, tidak dikasih makan enak, jadi wajar bila kau katro ha ha ha ... lah ini tiap hari makan enak, makan di restoran bagai tidak pernah bertemu makanan!" bisik Samudra kepada Rasya.
Bu Riska dan pak Suyoto hanya tersenyum. Melihat tingkah Vera yang tampak gak pernah makan enak pas makan enak serba ada. ini di ambil itu di makan, yang lain di cicipi.
"Kau ingat saja pas kita ketemu dan bagai orang kelaparan hi hi hi ..." balas Rasya dengan suara pelan terhadap Samudra.
"Ya, itu wajar. Kerana kamu itu memang seperti itu, lah dia kan beda sayang." Kata Samudra kembali.
Sekitar satu jam beristirahat. mereka melanjutkan kembali perjalanannya. Samudra memutar kemudi dengan teratur dan pandangan fokus ke depan. Rasya sesekali memberi Samudra minum agar tidak kehausan atau kekurangan cairan.
"Kita pulangnya langsung kemana?" tanya Rasya sambil memberi air minum pada Samudra.
"Langsung ke ... mension lah," jawabnya.
"Oh, iya. Mengantar mam dan papa sekalian." Sambungnya Rasya.
"Lagian, aku gak mau ya sampai si Vera itu tau alamat apartemen kita. Bisa-bisa dia akan bolak-balik datang dengan alasan apa lah. Gak mau saya." Lanjut Samudra dengan suara sangat pelan.
Rasya hanya menggerakkan manik matanya, pikirannya pun sama dengan Samudra, ada rasa was-was menghantuinya. Sekarang pun tidak mungkin meninggalkan Vera di perjalanan, ataupun dia turun ketika sampai di Jakarta tengah malam.
"Kenapa?" tanya Samudra melirik ke arah Rasya yang tampak melamun.
__ADS_1
Rasya menggeleng seraya berkata. "Tidak, kenapa-napa!"
Samudra menghela nafas panjang serta memfokuskan pandangan ke depan. Yang lain pada tepat di jok nya masing-masing.
Rasya menoleh ke belakang. Kedua Merta nya sedang tidur begitupun dengan vera bersandar ria di belakan dengan mata terpejam. Lau kembali melihat ke arah Samudra yang terus menyetir.
"Aku ngantuk juga! kasiah sekali kau harus nyetir sepanjang perjalanan." Rasya menatap kasihan pada Samudra.
"Kalau kau ngantuk tidur saja. Aku tidak apa-apa!" gumamnya Samudra sambil melirik sekilas.
"Kasihan suami ku," Rasya mengambil tisu basah lalu ia lap kan pada wajahnya agar terasa lebih segar.
"Kau tidur saja? aku gak pa-pa," Samudra mengusap kepala Rasya yang berusaha ingin menemaninya.
"Aku akan tidur bila benar-benar tidak kuat lagi, haus gak?" tanya Rasya yang langsung mendapat anggukan dari Samudra.
Rasya membukakan botol minum lalu ia minuman ke mulut Samudra. "Cuacanya bagus ya? tidak hujan dan bintang pun tampak bertaburan."
Samudra sekilas melihat ke arah langit dan benar saja seperti yang Rasya bilang, ada banyak bintang yang bertaburan seolah berkedip. Saling berbincang satu sama lain.
Mobil sesaat berhenti, untuk sekedar beristirahat. "Ahk ... aku minta botol kosongkan?"
Rasya pun segera memberikan botol kosong pada Samudra. Kemudian Samudra membuka sabuknya dan membuka resleting elangnya itu.
"Eeh, kau mau apa?" Rasya kaget melihat Samudra yang membuka resletingnya.
"Jangan berisik," pinta Samudra lalu mengarahkan si juniornya ke lobang botol, lalu mengeluarkan air seni nya di sana. Tubuh Samudra bergidik untuk mengeluarkan semuanya.
"Iih, laki-laki sih bisa di mana saja. Lah aku susah!" ucapnya Rasya setelah Samudra selesai pipisnya.
"Apa kau mau pipis? aku antar kau mencari toilet." Tawar Samudra.
"Ha? iya sih ... tapi nanti saja lah. Aku masih bisa menahan kok." Rasya menggeleng.
Lalu Samudra kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Namun lama-kelamaan mobil melaju dengan cepat, Rasya yang tadi sempat membeli cemilan terus saja mengunyah sesekali menyuapi Samudra Agra tidak mengantuk.
"Jangan terlalu cepat napa? jantung ku berdebar nih," pinta Rasya.
"Ahk ... ini juga pelan. Jangan banyak bicara! yang penting Samat biar cepat sampai. dah capek nih, nanti sampai rumah tidak mau tahu harus pijat aku oke?" Gumamnya Samudra.
"Iya, tenang saja! nanti ku pijit." balasnya Rasya sambil membulatkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk oke.
Selang beberapa waktu kemudian, akhirnya mobil melaju lebih santai karena sebentar lagi juga sampai di area mension ....
.
.
__ADS_1
Di harap dukungannya ya?