
"Bai, kau sudah gila ya? aku harus menebus gadis ini satu milyar?" Sam menatap tajam pada Ubai yang merespon dengan anggukan dan tanpa beban.
"Satu milyar buat gadis bagasi itu? kau benar-benar sudah gila Subai." Sam menggeleng tidak habis pikir kalau akan seribet ini.
"Ya, kalau anda ingin ketiganya silakan, Bos bawa. Angkut?" goda Ubai sembari menaik turunkan alisnya.
Ubai menunjuk dua wanita lainya yaitu Vera dan Murni yang tampak sangat berharap pada dua pemuda tersebut.
"Kau sudah gila Subai. Gila!" Sam memegang kepalanya dan sedikit mondar mandir bak setrikaan.
"Bos, Kalau tidak ingin menebusnya. Anggap saja itu pinjaman buat saya, satu saat nanti akan saya bayar uang itu. Asal Nona Rasya bisa ikut sama kita lagi, Bos. Dan saya akan menikahinya, kendati anda lah yang harus melakukannya. Sebab anda yang sudah janji, kalau yang di dalam bagasi itu cewe, akan anda dinikahi," ujar Ubai panjang lebar menatap datar bosnya.
Sam memandangi ke arah Ubai sembari masih berpikir dengan keputusan yang akan ia buat. Uang satu milyar bukannya uang yang sedikit.
"Bagaimana ini? jadi gak? saya masih banyak urusan di luar bukan harus menonton drama macam ini!" tanya pak penghulu yang sudah tampak kesal.
Samudra dan Ubai saling bertukar pandang, serta berpikir sesuatu.
Sementara juragan Kasmin mencegah penghulu untuk pergi, tangannya memegangi tangan Rasya takut kabur.
"Juragan tolong? Juragan lepaskan saya!" Rasya berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan juragan Kasmin.
"Kita akan menikah manis, Sebentar lagi kau akan menjadi milik ku," ucap juragan Kasmin dengan suara nakal.
Membuat yang mendengar merasa mual, apalagi Rasya. Oo, oo. Oo, Samudra dan Ubai masih saling bertatapan.
Kini penghulu dan juragan Kasmin kembali bersiap tuk ijab kabul. Mulut juragan Kasmin sudah terbuka.
"Tunggu?" Samudra dengan cepat menghentikan itu. Kemudian menyambar kertas cek dan balpoint dari tangan Ubai, lalu dengan cepat pula Samudra menuliskan nominal serta membubuhkan tandatangannya di sana.
"Ini, satu M. Silakan cairkan? dan ini kartu nama saya," Samudra memberikan selembar kertas cek dan sebuah kartu nama, kepada juragan Kasmin yang dengan mulut masih menganga.
Tangan Samudra menarik tangan Rasya dan di suruhnya berdiri. Rasya merasa sangat lega, pada akhirnya lepas juga dari bandot tua itu.
Mata juragan Kasmin terbelalak. Melihat isi cek dan merasa senang, kalau akhirnya uangnya kembali. Kendati hatinya kecewa juga, sebab tidak bisa memiliki tubuh Rasya yang berisi dan masih segar tersebut.
"Tunggu dulu? kami minta hitam di atas putih dulu! kami tidak mau kalau sampai satu saat nanti Nona ini kau culik kembali," ucap Ubai dengan jelas.
"Bodyguard. Siapkan yang dia minta?" pekik juragan Kasmin kepada anak buahnya.
__ADS_1
Setelah kedua belah pihak menandatangani sebuah surat yang isinya, kalau juragan Kasmin tidak ada hak lagi terhadap Rasya. Dan hanya Samudra yang berhak.
"Sekarang, Nona Rasya milik kami. Bukan hak anda lagi, Jangan pernah mengganggu dia lagi sampai kapanpun." Jelas Ubai dengan tegas dan hati yang merasa tenang.
"Kami ikut, tuan. Kami ikut?" kata Murni dan Vera serempak menghampiri Ubai.
Netra nya Ubai, Samudra dan Rasya menatap tanpa ekspresi.
"Kalian, pulang lah? sebab kalian juga sudah lepas dari juragan Kasmin." Ubai menatap keduanya, kedua gadis yang tampak beda dari Rasya.
"Tapi. Biarkan kami ikut, Tuan." Vera setengah memohon.
"Maaf, saya tidak bisa mengajak kalian. Pulanglah!" ucap Ubai lagi.
"Tapi, Tuan ramah? boleh ya mereka ikut aku sebelum kami pulang sama-sama," rajuk Rasya seraya menyatukan kedua tangan di depan dada.
"Itu, benar. Kami ikut saja sebelum kami pulang." Timpal Murni.
"Heh, kau itu harus bekerja padaku. Kata siapa kau akan pulang? kau ini sekarang berhutang padaku. Dan harus kau bayar, kami tidak butuh mereka. Suruh pulang mereka, Bai." Seru Samudra dengan angkuhnya.
Ubai menoleh lalu kembali melihat kedua gadis itu. "Kau dengarkan?"
Samudra mencibir. "Hem, enak saja saya ngasih cek palsu."
Rasya menoleh ke arah Samudra. "Memang ada ya kertas palsu?"
"Ada, kertas tisu." Balas Sam sekenanya.
"Nggak ngerti ah!" Rasya menggeleng.
"Saya akan mendatangi kalian berdua kalau ini gak ada uangnya!" tambah juragan Kasmin kembali.
"Kami bisa jamin kalau itu ada uangnya." Ubai meyakinkan.
Penghulu dan saksi lainnya, pergi dari tempat tersebut. Di giring oleh para bodyguard Juragan Kasmin.
Sam menarik tangan Rasya keluar dari tempat itu juga, dan Ubai dibiarkan masih berbincang dengan juragan Kasmin.
"Tu-Tuan jutek. Ma-mau ajak saya mau kemana?" tanya Rasya dan ingin melepaskan tangannya.
__ADS_1
Samudra hentikan langkahnya. "Kau bertanya kita mau kemana? kau itu punya hutang sama saya, jadi kau harus ikut saya balik ke apartemen dan bekerja di sana." Samudra menatap tajam.
"Itu, kedua kakak saya gimana Tuan? masa di tinggal di sana?" Rasya menunjuk ke arah dalam.
"Sudah ku bilang. Gak butuh mereka! cukup kamu saja yang ikut saya. Sudah jangan banyak bicara, ikut saya?" Sam mendorong Rasya untuk masuk ke dalam mobil. Duduk berdua di jok belakang, menunggu Ubai datang.
"Terus mereka gimana?" tanya Rasya lagi yang masih saja mencemaskan kedua kakak perempuannya.
"Kau, tidak perlu mencemaskan Mereka. Mereka juga tidak pernah mencemaskan mu! yang ada, mereka hanya menyakiti mu. Lihat luka di pipi mu itu." Suara Samudra dengan nada sedikit tinggi.
Membuat Rasya menutup kedua telinganya yang mendengar suara Samudra yang keras.
"Tapi--"
"Nggak usah tapi-tapi. Telinga saya sakit mendengarnya. Dasar gadis bodoh." Umpat Sam sembari celingukan.
"Telinga saya lebih sakit lagi, mendengar kau teriak-teriak." Gumamnya Rasya pelan yang nyaris tidak didengar oleh Samudra.
"Mana sih si Ubai? lama amat?" gerutu Samudra sambil tengok kanan-kiri.
Rasya memilih diam. Matanya menatap kosong ke arah jendela, Tidak lagi berkata-kata.
Samudra diam-diam melirik ke arah Rasya, yang bila di lihat-lihat sangat manis dan cantik.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Rasya sebab ekor matanya melihat Samudra menatap ke arah dirinya.
"Apa? siapa yang melihat mu? GR amat sih jadi orang." Cibir Sam sambil membuang muka ke samping.
"Lama amat sih? dari mana aja kau ini?" ketus Samudra ketika melihat Ubai datang memasuki mobilnya.
"Dari gunung kidul, mengejar anak babi ngepet." Balas Ubai sembari duduk di belakang setir.
"Dimana babi ngepetnya? bawa duit yang banyak gak?" selidik Rasya sangat antusias.
Samudra dan Ubai hanya menggeleng kasar. Kemudian Ubai langsung menyalakan mobilnya. Melaju dengan kecepatan sangat tinggi menuju apartemen ....
.
Sebelumnya aku ucapkan terima kasih pada reader ku yang selalu setia.
__ADS_1