Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 145 Pemandangan


__ADS_3

Samudra menyimpan kembali foto tersebut ke tempatnya semula dengan rapi, kemudian Samudra membawa langkahnya ke sofa dan membaringkan tubuhnya di sana. Mencoba-coba memejamkan kedua matanya.


Sementara Rasya yang berada di bawah sedang menemui tamu, yaitu orang tua Samudra dan juga Ubai. Mereka semua berbincang begitu akrab di hiasi tawa yang tampak bahagia.


"Ya ampun ... berapa minggu ya Tante melihat kamu? kamu nampak cantik, lebih cantik dari kemarin sambil memandangi Rasya.


"Aah ... Tante bisa saja, sama aja kayak kemarin, buluk. Kucel, nggak ada bedanya kok Tante!" akunya Rasya sambil senyum simpul.


"Beneran lho ... kau tampak lebih cantik lebih bersih, benarkan? Ubai?" Bu Riska kembali melirik ke arah Ubai.


Lalu Ubai menatap ke arah Rasya dengan sangat salam, yang memang dalam pandangannya pun sama. Seperti pandangan Bu Riska kalau saat ini Rasya lebih tampak cantik dan bersih, mungkin karena dia lebih melewati kecantikannya di tempat tersebut.


Kemudian Ubai melirik pada Bu Riska. "Iya Tante, benar yang anda katakan, Tante! kalau Nona Rasya sekarang ini lebih bersih, dan lebih cantik. Mungkin sekarang dia lebih pandai merawat diri.


"Iih ... Tuan Ubai bisa saja, aku jadi malu tahu," Rasya menunduk sambil tersipu malu mendengar pujian dari Bu Riska di tambah lagi dari Ubai.


"Tentu saja itu memang benar sayang," timpal Bu Riska sembari melirik ke arah Viona yang terus tersenyum merekah, bergantian.


"Dia di sini, saya suruh untuk lebih pandai merawat dirinya. Biar berpenampilan lebih cantik! masa harus kalah sama bundanya he he he," seraya melirik ke arah putri nya, Rasya.


Rasya kini mengalahkan pandangannya kepada Ubai. "Kenapa sih, Tuan Ubai nggak bilang-bilang kalau sebenarnya mau datang? tadi di telepon gak bilang apa-apa."


Ubai menunjukkan senyuman manisnya sembari berkata. "Buat surprise, Nona ... tadinya! tapi pada kenyataannya kau gak mau turun, untuk menemui kami semua, sehingga tuan muda pun harus naik mencari dirimu kamar," netra sekilas matanya melihat ke atas.


"He he he ... aku pikir! bukan kalian yang datang makanya aku males turun, lagian aku capek," ungkap Rasya sembari menyatukan tangannya di depan dada sebagai permintaan maaf.


"Jeng. Ternyata piling mu sebagai seorang ibu benar ya? kau menyayangi Rasya yang ternyata dia ini putri mu yang sesungguhnya, walaupun hasil tes DNA nya belum keluar, tapi yakin deh Rasya ini putrimu," ungkap bu Riska kepada Viona. "Sebab banyak kemiripan antara kalian berdua"


"Benar, Mbak. Memang dari pertama aku melihat dia pun ... sudah merasa gimana ... gitu. Merasa ada sesuatu yang sulit aku gambarkan," ujar Viona sambari mengangguk dan membenarkan perkataan dari bu Riska.


"Tak satupun ada yang tahu tentang rahasia Tuhan. Tinggallah kita sekarang ini bersyukur karena dapat berkumpul kembali, bukan begitu Fatir?" pak Suyoto menoleh pada Fatir yang sedang mengobrol dengan tamunya yang lain.


"Tentu. Mas, itu benar sekali. Tak ada yang menyangka akan seperti ini, timpal Fatir yang berwajah tampak sangat bahagia.


Mereka semua mengobrol sampai malam, dan akhirnya Rasya mengantuk dan beberapa kali menguap. Sehingga dia bergegas beranjak dan berpamitan kepada orang tua nya beserta tamu yang masih berada di sana. Kebetulan keluarga pak Suyoto mau menginap juga di kediaman Fatir.


Pak Suyoto dan Bu Riska menjadi kebingungan karena putranya, Samudra gak muncul-muncul setelah menemui Rasya sedari tadi.


"Sam kemana? kok gak ada muncul-muncul?" tanya pak Suyoto yang di tujukan pada sang istri sambil celingukan.


Fatir dan Viona saling pandang begitupun Ubai. Netra mata mereka bergerak seolah mencari keberadaan Samudra yang memang gak kelihatan batang hidungnya di tepat tersebut.


Viona tahu kalau Samudra tadi berada di kamar Rasya, entah sekarang berada di mana?


"Em ... mungkin Samudra tidur di atas," kata Viona sambil matanya melihat ke arah sang suami.


"Di atas? di kamar Rasya maksudnya?" pak Suyoto menatap penasaran pada Viona.


"Hem ... maksud saya, di atas ada banyak kamar kosong juga. Mungkin Sam tidur di sana," ralat Viona sedikit gugup.


"Iya kah?" Bu Riska mengerutkan keningnya, begitupun sang suaminya mengedarkan pandangan ke arah lantai atas.


"Oya, kalian silakan beristirahat? sudah malam juga. Mati saya antar?" Fatir beranjak dari duduknya untuk mengantar pak Suyoto dan istri ke kamarnya buat mereka yang masih berada di lantai dasar.


"Kalau ... Nak Ubai di kamar atas saja ya?" titah Viona sambil menunjuk ke lantas atas.


"Iya, Tante." Ubai mengangguk lalu dia pun beranjak dari sana, berjalan membawa langkahnya ke lantai dua untuk beristirahat di sana.


Setibanya di lantai atas, Ubai mencari kamar yang sekiranya Samudra ada di sana. Namun kamar yang setiap Ubai buka pintunya, kosong.


"Sam pasti tidur di kamarnya Nona Rasya, dasar ... mau menikah sama orang! masih juga ingin bersama istri lainnya. Maruk banget kau ini," kepala Ubai menggeleng sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur berada di kamar yang dia pilih.

__ADS_1


Rasya yang masuk ke dalam kamarnya dan tidak lupa mengunci pintu. Sebelum melanjutkan langkahnya ke arah tempat tidur, namun ketika mau melanjutkan langkahnya ke tempat tujuan.


Manik matanya yang indah itu mendapati Samudra yang ketiduran di sofa, yang berada di kamarnya tersebut tampak nyenyak walau tanpa selimut.


"Lho, kok tidur di sani sih? bukannya keluar!" gumamnya Rasya sambil mendekati lantas berdiri tidak jauh dari Samudra berbaring. Ia tatap dengan intens dari ujuk kaki sampai ke ujung kepala.


Samudra tertidur di sofa dengan tangan melipat di dada. Dengan rasa tidak tega, Rasya lantas mengambil selimut dari lemari untuk menyelimuti tubuh pemuda itu yang tiada lain adalah masih berstatus suaminya.


"Kasian juga tidur di sini?" gumamnya Rasya sambil menyelimuti tubuh pria itu dengan perlahan.


Dia berjongkok dekat kepala Samudra, di tatapnya wajah pria itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Tangan Rasya bergerak menyentuh rambut Samudra untuk membelainya dengan lembut


Dadanya bergetar hebat. Jantungnya berdegup sangat kencang memandangi wajahnya pria tersebut. Hati Rasya terdorong untuk mendekat dan ingin mengecup kening Samudra.


Namun ia urung, karena mengingat sebentar lagi Samudra dan Karin akan menikah, dadanya mendadak sesak, sakit bagai diremas-remas.


"Ya Allah ... rasanya dadaku sakit banget." Rasya segera berdiri dan menjauhi pria tersebut.


Sebelum naik ke tempat tidur. Rasya pergi ke kamar mandi sebentar lalu sesaat kemudian kembali dan langsung membaringkan dirinya di tempat tidur, menyelimuti tubuhnya sampai kepala. Namun sebelumnya mengatakan pandangannya ke sofa, dimana Samudra berbaring.


Waktu terus berputar. Dan Rasya pun sudah mulai terlelap berada di alam mimpi yang indah, lagi-lagi bertemu seorang pangeran yang mengenakan topeng dan menyembunyikan wajah tampannya dari Rasya.


Samudra tersentak dengan pergerakan tangannya yang jatuh ke bawah. Dia membuka matanya dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tersebut, dia sadar kalau ia ketiduran di kamarnya Rasya.


"Kenapa aku tidur di sini?" suara serak Samudra terdengar begitu pelan.


Kepalanya planga-plongo belakang, kanan. Kiri, kemudian menatap selimut yang menyelimuti tubuhnya. "Siapa yang menyelimuti tubuhku?" lalu matanya bergerak melihat ke arah tempat tidur Rasya di dalam remang terlihat di sana Rasya yang meringkuk.


Bibir Samudra melukiskan sebuah senyuman, karena dia yakin pasti Rasya lah yang menyelimutinya. Melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 02.00 wib, dengan bibir yang terus tersenyum.


Samudra bangun dan beranjak dari tempatnya, mengayunkan langkahnya mendekati tempat tidur Rasya sembari membuka kancing kemejanya! yang kemudian ia lepas dan dilempar ke atas sofa.


Sesaat kemudian. "Akh ... lega rasanya!" gumamnya Samudra sembari bergidik membuang sisa-sisa air seni nya.


Detik kemudian langkahnya ia bawa kembali mendekati tempat tidurnya Rasya. Sebelum naik, dia menatap ke arah Rasya yang begitu tampak pulas, dalam otaknya mulai terlintas sesuatu yang mesum dan menjadikan


bibirnya terus tersenyum nakal.


"Kebiasaan tidur mu bagai kebo, he eh he ..." gumamnya Samudra dalam hati.


Kini Samudra sudah berbaring di sampingnya Rasya, dan tanpa ragu satu selimut dengan gadis itu, tangannya pun tak ayal memeluk pinggang gadis itu sangat erat. Malah sedikit di tarik agar punggung Rasya menempel ke dadanya yang bertelanjang dada tersebut. Bahkan di benda kecil besar manfaat pun mendadak bangun.


Sejenak Samudra menempelkan dagunya di bahu Rasya, dan berusaha menenangkan benda yang yang tiba-tiba bangun itu, sementara gadis tersebut tetap tak bergeming dan tak merasakan pergerakan dari Samudra sedikitpun.


Bibir Samudra terus mengembang. Mengecup lembut ceruk leher Rasya yang bersih nan mulus dan tercium bau wangi.


Samudra tidak perduli bila nanti ada orang memergokinya tidur berdua dengan Rasya. Peduli amat akh ... toh Rasya adalah istrinya, jadi bebas saja untuk dia melakukan apapun terhadap gadis itu.


Netra Samudra menatap lekat ke wajah wanita yang kini berada dalam pelukannya itu. Dada Samudra bergetar, jantungnya berdegup tak karuan bila berada dekat dengan gadis ini, jarinya bergerak menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pipinya Rasya.


Cuph! kecupan hangat pun mendarat di pipinya, namun si gadis itu tetap tak bergeming dan tak merasakan apapun membuat bibir Samudra semakin mengembang dada beberapa kali mendaratkan kecupannya di pipi Rasya.


"Nyenyak bener tidur mu, Nona Vivian." Bisik Samudra tepat di telinga Rasya dengan menyebut nama Vivian, tak ayal jari-jarinya pun mengelus lembut pipi gadis yang sedang tertidur lelap itu.


Kemudian Samudra kembali memejamkan kedua matanya dengan semakin mengeratkan pelukan ke tubuh gadis ini.


Rasya terbangun dengan mendengar suara tarhim yang menandakan sebentar lagi pun datangnya subuh.


Dia langsung teringat kalau Samudra berada di kamar ini juga, yang tertidur di sofa. Lalu Rasya membuka matanya seiring merasakan ada tangan yang kekar memeluk dirinya, antara terkesiap dan bahagia! yakin itu tangan Samudra.


Kemudian Rasya berbalik menoleh ke arah belakang, dan benar saja, Samudra yang awalnya tidur di sofa kini tidur satu tempat tidur bahkan satu selimut.

__ADS_1


Bibir Rasya mengulas senyuman, sambil menatap wajah Samudra yang begitu pulas bak anak bayi yang sedang tertidur lelap.


"Tuan muda ini sebenarnya tampan sih, pantas saja kalau Nona Karin sangat mencintainya. Tapi apa sih yang bisa di banggakan dari dia?" gumam nya Rasya dalam hati, yang dengan refleks jemarinya yang lentik membelai rambut Samudra yang tepat di atas telinganya. Kemudian Rasya menurunkan pandangan dan tangannya dada bidangnya, perut yang sixpack.


Setelah itu Rasya bangun dan menyingkirkan tangan Samudra dari pinggangnya, lalu turun dan mendatangi kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selepas Rasya pergi, Samudra membuka netra nya. Bibir Samudra tersenyum puas, sebab sesungguhnya dia tahu apa yang dilakukan Rasya terhadapnya barusan.


Netra Samudra kembali terpejam dengan bibir yang masih mengembang.


"Ya Tuhan, orang tua ku ada di sini, bisa gawat kalau tau aku tidur bersama Rasya." Tiba-tiba dia melonjak bangun, menurunkan kedua kakinya mencari kemeja yang semalam dia lempar.


"Awh?" suara Rasya yang bertabrakan dengan Samudra yang terburu-buru memutar tubuhnya.


Dengan refleks tangan Samudra meraih pinggang Rasya yang oleng dan dengan capat menariknya ke dalam pelukan.


Handuk kecil yang membungkus kepala pun terjatuh ke lantai. Rasya terkesiap, jantungnya berasa hampir copot dari tempatnya. Tatapan mata mereka terkunci, saling bersitatap sangat lekat.


"Lepaskan aku?" pinta Rasya dengan suara pelan, namun tangannya yang tadi dengan refleks merangkul pundak Samudra masih betah di sana.


Samudra tidak mengindahkan permintaan dari Rasya. Netra nya Samudra begitu intens pada Rasya yang hanya handukan saja itu, rambut yang terurai basah. Membuat Samudra timbul hasrat nya. Jiwa lelakinya semakin meronta dibuatnya, selama bersama satu atap! baru kali ini Samudra mendapat pemandangan yang seperti ini.


Sudah beberapa saat. Keduanya masih betah di posisi yang sama serta tatapan yang semakin dalam dan sendu. Wajah Rasya yang memang cantik natural tanpa olesan apapun, di tambah lagi baru selesai mandi, semakin tampak segar dan menggairahkan jiwanya.


Jiwa lelakinya yang normal, tentunya tak bisa membiarkan kesempatan ini begitu saja, tubuh Samudra membungkuk. Tangan kanannya mengusap pipi Rasya lalu bergerak ke tengkuk, Samudra semakin membungkuk untuk menjangkau wajahnya Rasya yang sedikit mundur ke belakang.


Namun tetap di posisi yang sama, tubuh bagian bawahnya keduanya menempel. Sebab tangan Samudra yang kiri merangkul dengan kuat pinggang Rasya.


"Tuan, lepaskan aku? aku mmm--"


Bibir Samudra membungkam mulut Rasya yang terus meminta di lepaskan. Samudra terus menyapu dan ******* bibir Rasya yang lembut itu.


"Tu-Tuan! mm ..." gumamnya Rasya di sela-sela itu.


Rasya semakin gugup dan panik ketika di perutnya Merasakan ada yang bergerak-gerak, dia sangat takut kalau nasibnya akan berakhir di saat ini. Mana cuma mengenakan handuk!


Salah dia yang tidak membawa baju ganti ke kamar mandi. Sehingga kejadian seperti ini! Rasya merutuki dirinya sendiri sambil berusaha melepaskan diri dari Samudra yang sikapnya semakin aneh. Nafasnya terdengar lebih cepat dari biasa, tatapannya pun sendu-sendu merayu seakan menginginkan sesuatu.


"Lepaskan aku, Tuan? aku mau ambil baju." Pintanya Rasya, tangannya memegangi kepala Samudra yang terus menciumi bagian lehernya.


Cuph! cuph! cuph! Samudra terus menghujani leher Rasya dengan kecupan kecil namun menggairahkan. Untung saja handuk Rasya agak kuat menyelipkannya sehingga tidak mudah melorot.


"Aku mohon, Tuan? aku mohon?" suara Rasya nyaris tak terdengar. Tubuhnya berasa lemas, bagaimanapun dia wanita yang cukup dewasa yang akan dengan mudah merespon perlakuan seperti itu.


"Sayang? apa kau sudah bangun? sudah siang nih?" suara Viona dari balik pintu yang membangunkan Rasya, hatinya pun merasa was-was karena dia yakin kalau Samudra pasti bermalam di kamarnya Rasya.


Sontak Samudra menghentikan aktifitasnya itu. Kemudian menegakkan posisi berdirinya serta menarik tubuh Rasya, lalu ia melepaskan rangkulannya.


"Bunda?" gumamnya Rasya sangat pelan sambil menatap cemas pada Samudra.


Samudra celingukan mencari tempat persembunyian.


Rasya yang mengerti yang Samudra cari menunjuk ke arah gorden. "Sembunyi di sana?" seraya mendorong lengannya Samudra.


Dan buru-buru samudra lari dan bersembunyi di balik gorden ....


.


.


Apa kabar semua reader ku?

__ADS_1


__ADS_2