
Sebuah Mobil Alphard berwarna hitam mengkilat memasuki dalamnya halaman rumah mewah kediaman Viona dan Fatir. Dan yang datang itu tiada bukan mobil dari keluarga Fatir.
Rasya menatap orang-orang yang turun dari mobil tersebut.
"Oma, itu Oma Afiah?" Rasya berlari menghampiri Oma.
"Rasya apa kabar, Nak?" Bu Afiah menyambut Rasya dan memeluk sang cucu.
"Oma, apa kabar? aku kangen sama Oma." Rasya memeluk erat Bu Afiah.
Keduanya saling peluk penuh rasa rindu. Yang lain saling berjabat tangan dan saling memberi pelukan hangat.
"Jadi kau tidak kangen sama Tante mu ini?" suara hesya dari belakang Bu Afiah.
Setelah mendengar suara Hesya, Rasya gegas melepaskan pelukannya pada Bu Afiah dan menoleh ke arah Hesya. "Tante aku kangen juga dong!"
Rasya memajukan langkahnya untuk menjangkau Hesya dan Hesya langsung memeluk keponakannya itu.
"Kayaknya ini hari-hari Teletubbies deh, sebab hari ini ada di mana kita saling berpelukan, he he he! saatnya. Teletubbies berpelukan," suara Citra yang membuat orang-orang di sana tersenyum.
Sementara Adam dan Sidar yang langsung menghampiri Fatir dan samudra. "Apa kabar, Mas tanya Adam sembari bersalaman dengan sang kakak.
"Alhamdulillah baik, kalian kapan nyampe!" tanya balik dari Fatir.
"Semalam, kami baru nyampe. Malamnya lagi terus malamnya lagi dan terus malamnya lagi, he he he ... bercanda. Asli semalam sekitar pukul tengah malam lah," jawabnya Adam.
"Kamu Sidar, apa kabar?" Fatir mengedarkan pandangannya pada Sidar yang tengah berjabat tangan dengan samudra.
"Alhamdulillah, Mas. Aku kabar baik dan tidak kabur, apalagi belum di kubur, masih suka memakan bubur. Apalagi bila sedang kerja lembur. Dan tidak lupa tetap bersyukur ha ha ha ..." jawabnya Sidar nyeleneh.
"Syukurlah. Itu yang utama." Ucap Fatir sambil tersenyum.
"Kabar, Mas gimana? aku lihat masih sehat-sehat saja, apalagi dengan kebahagiaan yang tersirat jelas di wajah," tanya Sidar yang langsung dia jawabnya sendiri.
"Lah kamu ini? dia yang bertanya dia juga yang jawab sendiri, gimana sih? Mas jadi bingung," Fatir menggelengkan kepalanya yang tidak gatal tersebut.
"Ya, jangan dijawab, Mas. Dia mah kagak beres otaknya, orangnya tambah tua bukannya tambah sadar malah tambah sedeng. Ha ha ha ..." timpalnya Adam dibarengi dengan tertawa.
Samudra hanya melihat ke arah mereka bergantian, dia sendiri tidak tahu harus berkata apa atau pun ngobrol apa?
"Kau baru sampai?" tanya Adam yang di arahkan kepada Samudra.
"Iya Paman, baru saja sampai. Emang Paman kapan sampai di Surabaya?" tanya balik dari Samudra.
__ADS_1
"Kami dari semalam sampai. Saya kira kalian bisa bareng kami semalam itu." Jawabnya Adam.
"Kemarin itu aku masih sibuk, Paman. Dan kebetulan Ubai yang beli tiketnya untuk hari ini." Tambah Samudra.
"Wah-wah-wah, wah ... berapa lama aku nggak ketemu kamu, Sam. Banyak berubah sekali!" Sidar menatap intens ke arah Samudra, ditatapnya dari atas sampai bawah tak ada yang luput dari pandangannya.
"Apa yang aneh, Paman? aku biasa aja seperti ini!" Samudra ikut perhatikan penampilannya yang biasa saja itu.
"Apakah kau tidak sadar? kalau kau itu lebih gemuk, lebih tampan. Dan ganteng? ho ho ho bercanda. Jangan ge'er dulu. Apalagi hidungmu terbang ke langit ketujuh yang belum tentu terjangkau, jangan sampai." Sidar menepuk bahunya Samudra.
"Aku pikir kau bilang sesungguhnya, ternyata cuma bercanda aku jadi gak fokus!" Adam nimbrung.
"Tapi memang beneran lho, Mas. Si Sam lebih gimana ... gitu?" tambahnya sidar sembari menatap ke arah Samudra kembali.
"Iya, pastilah Sidar. Dia kan punya istri, jadi ada yang merawat sama aja kan kita juga kayak gitu!" belanya Adam datar.
"Iya, nih Paman ada-ada saja." Samudra mendudukkan dirinya di sofa sama Fatir dan kedua pamannya tersebut.
Sementara para wanita berkumpulnya di ruang keluarga. terdengar begitu riuh ramai dan tak jelas apa yang harus didengarkan, suaranya ada yang lebih tinggi lebih rendah ada yang halus ada yang kasar.
"Sekarang Rasya lebih gemuk ya? beda dari kemarin terakhir bertemu," kata Bu Afiah sambil menatap ke arah Rasya dan juga ke arah yang lainnya.
"Memang benar ibu besan. Saya juga mau ngomong seperti itu barusan, tapi keduluan Ibu besan." timpal Bu Asri.
"Iya, bener Mbak, Mbak itu sekarang udah gemukan dari kemarin terakhir ke sini." Tambah Citra juga.
"Eh ... iya bener! menurut Bibi juga kayak gitu, lama nggak ketemu Rasya. Sekarang lebih tembem ya? pipinya aja kelihatan," sambung istrinya Adam dan didukung dengan anggukan dari istrinya Sidar.
Kedua manik mata Viona bergerak melihat ke arah mereka semua, yang dari semua mengatakan kalau Rasya lebih gemuk. "Tapi iya juga sih, memang pipinya aja lebih tembem."
"Iih, Bunda. Aku masih kayak gini kok." Rasya menepuk-nepuk kedua pipinya. "Ah, aku lapar kamu belum makan, Bunda ... dari bandara langsung ke sini soalnya! udah kangen sama kalian semua."
"Ooh iya, yuk kita makan dulu? hampir lupa deh Bunda." Viona beranjak dari duduknya sambil menggandeng tangan Rasya.
Lalu kemudian memanggil para pria yang sedang asyik mengobrol di ruang tamu.
Fatir bersama yang lainnya pun langsung beranjak dan mendekati ruang makan, dimana ... di sana sudah banyak menu makanan yang tersedia di meja yang panjang ini.
Sebelum duduk, Rasya mengambilkan makanan buat Samudra terlebih dahulu. Dan setelah itu barulah mengambil untuknya sendiri.
"Tau nggak Bunda? sekarang Rasya itu lebih banyak makan. Jadi wajar kalau sekarang tubuhnya terlihat lebih gemuk, pipinya chaby. Orang makannya juga banyak banget!" ucap Samudra pada Viona.
"Oya? lagi naik nafsu makan ya? Fiona menatap ke arah Rasya.
__ADS_1
"Nggak tahu, Bun. Bawaannya pengen makan mulu, padahal dulu aja aku nggak kayak gini amat ya? sewaktu pas ketemu makan enak ya?" Rasya melihat ke arah sang Bunda dan samudra bergantian.
"He'em. Dulu gak gitu-gitu banget!" timpal nya Samudra.
"Mungkin sekarang pikiran aja yang lebih happy, bahagia. Gak ada yang mesti dipikirkan ya, kan sayang?" tambahnya Viona sambil menikmati makannya.
"Mungkin, lagian apa sih yang harus aku pikirkan? sekolah juga belum,"balas Rasya sambil menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Iyalah dulu mau makan aja susah, makanya banyak pikiran. Tubuh kurus, sekarang mau makan tinggal makan. Nggak ada makanan tinggal beli! orang sekarang aja dah pinter pesan makanan online," timpal lagi Samudra.
"Hem, masih mending pesen makanan online. Daripada suami online, ha ha ha ..." Sidar ada-ada saja.
"Kau ini, ada-ada saja, Sidar ..." Kata Adam sambil menikmati makannya.
"Suami online? apa itu?" tanya Rasya tidak mengerti.
"Itu--" Sidar menggantungkan kalimatnya keburu Samudra potong.
"Bukan apa-apa sayang, jangan di dengerin kata-kata paman Sidar." Kata Samudra yang memotong perkataan Sidar.
Viona dan yang lain ikut tersenyum ke arah Rasya dan Sidar.
Karena sekarang keluarga besar sedang mengumpul, menjadikan ruang makan yang luas ini. Membuat meja makan yang panjang pun penuh dengan orang-orang.
Suasana pun berubah ramai apalagi dengan suara anak-anaknya Adam dan Sidar. Belum lagi saling berlarian tak tentu arah.
Mereka terus menikmati makannya sambil berbincang dengan obrolan-obrolan ringan, dan sesekali Fatir menanyakan kepada kedua adiknya tentang usaha mereka yang di Jakarta.
Begitupun dengan Viona yang mengobrol dengan adik-adik perempuannya beserta Rasya, menjadikan makan pun tidak berasa lama, tahu-tahu piring dah kosong saja.
"Ayo tambah lagi makannya? masih banyak tuh di meja! kalau kurang? gampang nanti masak lagi," tawar Viona kepada semuanya.
Dan Rasya sudah beberapa kali nambah makanya, dia merasa kangen dengan masakan di rumah ini. "Aku sudah berapa kali nambah Bunda. Rasanya aku kangen banget dengan masakan di rumah ini!"
"Kamu itu bukan kangen sama masakannya sayang. Tapi sedang rakus dengan makanan." Samudra menoleh pada sang istri.
"Iih, jahat banget bilang begitu! lagian biarin saja yang penting aku sehat wew!" Rasya menjulurkan lidahnya kepada Samudra.
Yang lain hanya mesem-mesem melihat Rasya dan Samudra, pasangan yang menikah siri karena di grebek itu ....
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote nya ya? makasih banyak reader ku🙏