
Samudra, akhirnya senyum-senyum sendiri. Mengingat kejadian semalam, dia sudah mengambil kesempatan di balik kesempitan. Bukan kesempitan sih, orang gadis itu tidur sangat nyenyak sehingga gak menyadari dengan yang dirinya lakukan semalam.
Buru-buru Samudra ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, berasa ada yang lengket bila tidak buru-buru membersihkan diri.
Suasana di mension sudah tampak ramai dengan kedatangan para undangan, seperti kolega-kolega. Teman, rekan bisnis dan sahabat, beberapa wartawan dari beberapa media pun sudah tampak hadir.
Di ruang make-up, Karin sudah tampak sangat cantik dengan gaun yang dirancang khusus buat pertunangan dengan sang kekasih, yang berwarna gold nan indah, dengan lingkaran kerah yang mengekspos belahan dada terbuka.
Serta tatanan atau gaya Rambut yang di cepol dan berhias bunga, sangat cantik memang. Penampilan dan sosoknya yang nyaris sempurna tak sedikitpun terlihat celah atau kekurangan dari gadis itu.
Sementara Rasya yang seorang asisten namun di istimewa kan itu, tak ayal di dandani bak putri. Bergaun putih panjang, di bagian dada terbuka namun berhias bahan Kansa yang berlapiskan pernak pernik mewah dan mengesankan kalau Rasya bukan gadis biasa tetapi seorang putri yang dari kalangan bangsawan. Tatanan Rambut pun ala Putri-putri raja.
Sosok Rasya tidak kalah cantiknya dari Karin, walaupun kulit Rasya saat ini memang tidak sebening kulitnya Karin namun bila harus di bandingkan.
Semua yang memandang Rasya begitu pangling dengan perubahan Rasya yang sungguh mengagumkan. Bagi yang tidak tau siapa gadis itu tentu akan mengira kalau Rasya seorang asisten. Melainkan calonnya Samudra atau Ubai yang berdiri tidak jauh-jauh dari gadis tersebut.
Ubai begitu terpesona dengan kecantikan Rasya saat ini. "Kau begitu anggun, Nona. Semua mata tertuju pada anda," ucap Ubai sambil menatap ke arah Rasya.
Rasya menengok kanan dan kiri sebelum membalas perkataan dari Ubai. "Tuan Ubai bisa aja, bikin aku malu saja,"
"Ngapain malu? masa sama calon suami malu? biasa saja kali, Nona." Ubai tersenyum manis.
"Tuan Ubai bisa saja." Rasya menunduk.
"Yu, kita turun?" Ubai memberikan tangannya untuk di gandeng Rasya.
Rasya tidak mengerti, dia malah berjalan saja dan Ubai mencegahnya. Memberi contoh cara menggandeng lengan yang pria.
Pas turun, Rasya di sambut oleh Viona dan Fatir yang belum lama ini datang dan berbincang dengan keluarga Suyoto.
"Ya ampun ... cantiknya putri tante? masya Allah ... Rasya." Viona langsung memeluk gadis itu.
Manik mata viona berkaca-kaca jadi teringat pada Vivian. Tidak terasa di ujung matanya meneteskan air bening yang mengalir membasahi pipi.
Entah kenapa Rasya pun merasa haru berada dalam pelukan Viona yang hangat dan menenangkan.
"Tante kapan datang?" tanya Rasya dengan nada lembut. Kok rasanya sedih sih? mata pun ikut berkaca-kaca.
"Sudah sekitar 30 menit yang lalu ya Mas?" Viona melirik pada sang suami yang berada di sampingnya itu.
__ADS_1
"Iya, benar. Apa kabar kamu Rasya hem?" Fatir memeluk Rasya seperti memeluk putrinya sendiri.
"Baik, Om! sangat baik," Rasya mengulas sebuah senyuman yang indah tuk dipandang.
"Syukurlah, kau harus kuat hadapi kenyataan, tapi Om akan berjuang untuk mendapatkan kebahagiaanmu. Tenang saja ya?" Fatir menepuk punggung gadis itu.
"Aw-aw. Aw ... ini putri siapa? anggun tenan, Masya Allah ... saya baru lihat ini anak cantiknya." Bu Riska datang langsung memegangi bahu Rasya, ia perhatikan dari ujung kepala sampai ujung kakinya Rasya.
"Ya putri saya dong, Mbak. Lihat deh, wajahnya aja mirip sama aku kan?" Viona dari belakang Rasya.
Bu, Riska menoleh pada Viona, lalu kembali mengadakan pandangan kepada Rasya.
Kemudian bu Riska memeluk Rasya dengan sangat erat, dia memang yang memerintahkan supaya Rasya didandani dan dipakaikan gaun yang bagus, tapi dia baru melihat kali ini, sehingga saat ini mereka sangat terkesiap melihat Rasya yang tampak anggun sekali.
"Wah ... cantik sekali ... kayaknya bisa jadi pendamping Ubai nih," ucap pak Suyoto sambil melirik pada Ubai.
Ubai mengulas senyuman pada pak Suyoto, senyum simpul malu. "Setuju nggak Om? setuju gak? setuju dong, setuju dong ..." tanya Ubai sambil bercanda.
"Laah ... nggak jadi deh, jadi mantu saya! nasib-nasib," pak Suyoto menggeleng sambil tersenyum.
"Iya-yah kita nggak jadi besanan dong ... ya?" timpal Fatir.
Sekilas Manik mata Viona mendapatkan sebuah pemandangan yang membuat tercengang dan membuat jantung dag-dig-dug. Seakan mau melompat dari tempatnya.
Pandangan Viona sesaat, tertuju pada punggung Rasya tepatnya bawah leher belakang dimana di sana ada tanah hitam.
Seperti yang pernah ada di tubuh putrinya yang hilang.
Kedua tangan Viona menutup mulutnya. "Ya Allah ... apa mungkinkah gadis ini putriku yang hilang?" Gumamnya dalam hati
"Kenapa sayang ada apa?" tanya Fatir pada sang istri yang terlihat sangat shock dan entah kenapa itu.
Namun Viona menggeleng, dengan perasaan yang tidak menentu, dadanya terus berdebar.
"Sayang, kau baik-baik saja," selidik Fatir merasa cemas melihat sang istri.
Yang lain pun pandangannya tertuju pada Viona.
Begitupun dengan Rasya. "Tante, tidak apa-apa?" sambil memegangi bahunya Viona.
__ADS_1
Viona menggeleng dan mata begitu lekat menatap pada Rasya. "Tidak, Tante nggak apa-apa. Tante baik-baik saja kok," suara Viona bergetar.
"Yakin jeng, tidak apa-apa?" tanya bu Riska dan suaminya bergantian.
"Tidak, Mbak. Aku nggak kenapa-napa," jawabnya Viona.
"Seandainya Jeng butuh istirahat? istirahat di kamar saja ya? kamar yang biasa dipakai," pesan Bu Riska.
"Iya, terima kasih Mbak." Viona mengangguk.
Lalu kemudian Bu Riska dan suami beranjak, karena sepertinya acara pertunangan Samudra akan dimulai, yang di mana acara diselenggarakannya di halaman belakang Mansion tersebut.
Fatir pun memberikan segelas air minum pada sang istri. "Minum dulu sayang, dan kita duduk di sana," tangan Fatir menggandeng sang istri di bawanya ke kursi yang ada di ruang tengah.
Rasya pun mendampingi Viona yang berwajah pucat. "Beneran, Tante nggak sakit atau apa?" Rasya terlihat cemas pada wanita itu.
Setelah meminum air putih sampai habis tengahnya, Viona tersenyum dan diarahkan pada Rasya. "Tidak, Tante baik-baik saja kok, jangan khawatir. Itu acaranya sudah mau dimulai kayaknya, sudah. Kita ke sana yu?"
Mereka pun beranjak lalu berjalan ke tempat acara terselenggaranya pertunangan samudra dan karin. Kemudian mereka memilih duduk di tempat agak pojokan namun dari situ pun terlihat jelas pada tempat dimana Samudra dan Karin bertunangan.
Manik mata Rasya yang indah tertuju ke arah Samudra berdiri bersama MC, rasanya deg-degan berasa dirinya sendiri yang akan berada di situ.
"Kalau di lihat-lihat sih ganteng juga tuan muda itu. Tapi sayang mau menikah dengan Karin, si cantik itu." Gumamnya Rasya dalam hati.
Begitupun Samudra sang pangeran yang berdiri di sana, yang akan bertunangan dengan sang kekasih hati. Jantungnya bukan main melompat-lompat berdegup begitu kencang.
Hari ini Samudra belum melihat sosok Rasya yang semalam ia keloni. Gadis itu memang belum memperlihatkan diri pada dirinya. Padahal tadi pagi sudah di suruh untuk menyiapkan segala keperluannya. Namun yang datang orang lain dengan alasan Rasya pun sedang di dandani.
Dalam hati Samudra bertanya-tanya, kemana dia sehingga tidak dia lihat sampai sekarang. Sekilas netra nya menyapu ke arah Ubai yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita yang bergaun putih dan tidak ia kenali sama sekali.
Kemudian mengedarkan penglihatan ke arah lain, dimana Fatir dan Viona duduknya tidak jauh dari Ubai. Tidak ia temui sosok yang dia cari.
Prosesi demi prosesi sudah mulai berlangsung sampai akhirnya penyematan cincin pun terjadi. Wajah-wajah yang bahagia terpancar jelas dari mereka berdua. Keduanya saling pandang dengan sangat lekat dan bibir dengan senyuman yang teramat indah.
Senyuman yang merekah pun tak pernah memudar dari orang-orang yang ikut bahagia kepada akan kebahagiaan samudra dan karin.
Namun ketika kedua netra mata Samudra melihat ke arah undangan. Dan kini Samudra menajamkan pandangan ke arah gadis yang bergaun putih itu, yang sedari tadi bersama Ubai. Ternyata seseorang yang dia kenal, betapa kagetnya hati Samudra, terkesiap dengan yang dia lihat ....
.
__ADS_1
.