Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 167 Sehat


__ADS_3

Rasya yang berdiri di dekat Bu Asri. Mengarahkan pandangan pada motor ngebut dan Viona bergantian, pemandangan itu bikin Rasya spot jantung bukan main.


Motor yang dikendarai orang berhelm hitam itu seperti sedang mabuk, terlihat dari cara membawanya ugal-ugalan sementara jalanan sangat lengah dari kendaraan lain.


"Bunda ... awas?" jerit Rasya seiring datangnya Samudra yang menarik pinggang Viona dari tempatnya berpijak.


Tubuh Samudra yang terdorong Viona terjerembab ke belakang dan sikunya membentur lantai tembok.


"Dasar tidak punya mata, tidak punya otak, lu pikir ini jalan milik nenek moyang lu? jalan gak pake otak, gue sumpahi jatuh tertabrak lu! kurang ajar lu? hidup lu bakal tidak tenang!" Samudra mengeluarkan sumpah serapahnya pada si pengendara motor.


Kejadian itu membuat mulut Viona menganga, shock bukan main. Dia terduduk di lantai.


Bu Asri yang kaget, apalagi Rasya yang memang menyaksikan kejadian itu merasa shock dan sontak mendekati sang bunda.


"Bunda tidak apa-apa?" Rasya memeluk bundanya dengan erat. Air matanya langsung menetes sungguh tidak bisa membayangkan gimana jadinya bila Samudra tidak menarik bundanya dari tempat.


"Bunda tidak apa-apa sayang!" Viona memeluk Rasya dan bu Asri yang masih terlihat shock.


"Ha ... dasar tuh motor gak punya mata, lagian ini orang di pinggir. Bukan di tengah jalan, mau tabrak saja. Dasar nggak punya otak lu geram saya jadinya." Kini giliran bu Asri yang menggerutu.


"Motor, memang nggak punya mata, Oma? dan juga nggak punya otak dia kan besi, Oma, bukan orang?" Rasya melirik ke arah Bu Asri sambil mengurutkan dahinya.


"Iya, itu orangnya yang gak punya otak, yang gak punya pikiran! kurang ajar tuh orang. Sudah tahu bunda mu itu di pinggir jalan bukan di tengah-tengah jalan. Main tabrak saja, semoga jatuh itu motor sama orangnya sekalian, pengen ditimpuk massa, kayaknya tuh orang." Gerutu bu Asri.


"Oh ... iya mungkin dia ingin dihakimi oleh massa," Rasya menganggukkan kepalanya.


"Sudah-sudah, percuma kita marah-marah juga. Orangnya sudah nggak ada, orang nggak peduli." lirihnya Viona yang ditujukan pada sang bunda.


Lalu Rasya menoleh pada Samudra yang sudah berdiri dan mengusap-usap tangannya. Dan merapikan pakaiannya.


"Bunda, aku bantu berdiri?" Rasya menarik tangan sang Bunda agar segera berdiri.


Orang-orang yang kebetulan melihat kejadiannya, mendekat dan bertanya akan ke adaan Viona dan Samudra.


Samudra yang tidak suka di kerubuni. Langsung berkata tidak apa-apa dan baik-baik saja.


Mereka pun langsung pergi, meninggalkan tempat tersebut dan mereka berempat.


"Bunda nggak kenapa-napa?" tanya Samudra kepada sang ibu mertua.


"Ooh ... tidak, Bunda tidak apa-apa cuma sakit sedikit pantat Bunda nih. Kau juga nggak kenapa-napa kan?" tanya balik Viana kepada Samudra.


"Aku baik-baik saja! syukurlah kalau Bunda nggak kenapa-napa!" balasnya Samudra, yang kini mulai memanggil Bunda kepada ibu mertua yang sebelumnya memanggil tante.


"Itu siku mu berdarah, kau bilang nggak kenapa-napa? itu siku kamu berdarah," Rasya melihat siku Samudra yang di bagian belakangnya berdarah! yang ketara di balik lengan kemeja putihnya.

__ADS_1


Samudra pun melihat sikunya yang memang berdarah namun tidak banyak mungkin hanya kena goresan saja. "Tidak apa-apa cuma sedikit cuman ngajak aja."


"Ya sudah, aku beli obat di apotek dulu ya?" Rasya langsung membalikan badannya berjalan menuju apotek, yang ada di seberang jalan tersebut.


Namun tangannya di tarik Samudra. "Kau mau ke mana?"


"Ke apotek lah, beli obat buat luka mu itu, emangnya di apotek bisa membeli roti atau buah?" Rasya mengerutkan keningnya selain menatap ke arah Samudra.


"Kamu beli obat, pegang uang tidak?" tanya Samudra menatap istrinya.


"He he he ... tidak!" Rasya malah menunjukan giginya yang putih.


"Heleh ... dasar. Sudah, Biar aku saja yang ke sana lagi, kalian tunggu di sini dan Ingat jangan nyebrang," Samudra menaikkan jarinya kepada Rasya, memperingatkan supaya tidak menyebrang. Apalagi sekarang jalanan sudah kembali ramai.


"Iya, memangnya mau nyebrang ke mana? orang mau duduk di sini juga," sahutnya Rasya.


"Kali saja kangen? menyusul ku ke sana? ucap Samudra lagi sembari menunjuk ke arah apotek.


"Kangen? ngapain kangen? orang sekarang aja di depan mata! enek yang ada, bukan kangen." Rasya memutar bola matanya jengah.


"Hais ... sekarang bilang enek! semalam bilangnya enak?" Samudra sambil memegang tangan Rasya.


Rasya mendelik kan kedua matanya dengan sempurna ke arah Samudra lalu melirik dengan ujung mata ke arah Oma dan bundanya. "Tidak punya malu?"


Setelah kepergian samudra dari tempat tersebut, Rasya. Viona dan Oma Asri memasuki mobil Samudra, biar menunggu di sana.


Viana meneguk minumnya agar lebih tenang, jantungnya masih berdebar buntut kejadian tadi. Tidak bisa dibayangkan kalau sampai dianya kenapa-napa. Viona menghela nafas dengan panjang.


Sejenak ketiganya terdiam memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Vi, mabuk kali ya orang itu? sehingga membawa motornya ugal-ugalan kayak gitu, lagian di sini nggak ada polisi ya?" akhirnya Bu Asri membuka suaranya.


"Mungkin saja, Mah. Sehingga seperti itu juga," sahutnya Viona sambil menyandarkan kepala ke belakang Jok.


"Mabuk itu, seperti apa Bunda?" tanya Rasya.


"Mabuk itu terkendali oleh sebuah minuman atau obat-obatan yang bikin mabuk, yang bikin kita nggak sadar," jelasnya Viona.


"Ooh gitu ya!" Rasya mengedarkan pandangannya pada Samudra yang datang dan memasuki mobil, duduk di belakang kemudi.


"Obatnya mana?" selidik Rasya karena Samudra tidak membawa apa-apa kecuali tas tangan.


"Ada di dalam sini," jawab Samudra sambil menunjuk tas tangannya, lalu ia serahkan kepada Rasya.


Rasya membuka tas tersebut. Lalu mencari obat buat luka lecet yang ada di tangan Samudra. "Ini tas apa kantong ajaib sih? kantong Doraemon ya? serba ada di dalamnya."

__ADS_1


"Ya, biar kau juga masuk ke sana!" ucap Samudra pada Rasya yang bersiap untuk mengobati suku tangannya yang lecet itu.


"Emangnya aku kertas yang bisa dilipat-lipat dimasukin tas? dasar ada-ada aja." Gumamnya Rasya sembari menyingsingkan lengan baju Samudra.


"Bukannya bagus? bisa dilipat-lipat biar dimasukkan ke dalam tas, biar nggak ada yang tahu gue bawa ke mana juga bisa. He he he," lanjut Samudra malah terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Ya sudah, nikah aja sama kertas sana? sama buku sekalian." sedikit menekan luka di tangan Samudra.


Membuat sang empu memekik. "Kira-kira dong udah tahu sakit?masih saja ditekan? dasar nggak punya perasaan."


"Sudah belum mengobati sikunya? lapar nih, Oma. Mana belum salat Dzuhur! sudah jam berapa nih?" suara Bu Asri.


"Sebentar, Oma..." jawabnya Rasya dari depan.


"Lama banget? sudah lapar nih mau sampai kapan di sini?" Bu Asri ngedumel.


"Iya Oma ... ini juga sudah!" Rasya masukan obatnya dan ia masukkan kembali ke dalam tas.


"Heleh ... ini nenek-nenek bawelnya minta ampun! gimana kalau gue berduaan sama Rasya? panas kali nih telinga." Batinnya Samudra sambil bersiap melajukan mobilnya merayap meninggalkan tempat tersebut.


Di depan ada masjid, Samudra menghentikan dulu mobilnya, Kita salat salat dulu, setelah itu kita makan!" pinta Viona.


"Oke, bunda!" Samudra mengangguk.


Rasya menyandarkan dirinya ke belakang jok, sambil memandangi ke arah Samudra yang sedang fokus menyetir.


Selang beberapa menit kemudian, Samudra hentikan mobilnya di depan sebuah masjid. Lalu mereka pun turun dan memasuki masjid tersebut.


Lepas itu, mereka mencari Restoran buat makan siang. Di tengah-tengah makan siang Viona sering ngelamun, kepikiran soal tadi. Gimana jadinya kalau dia nggak ada Samudra mungkin saat ini dia sudah terluka parah atau entahlah.


"Sam, makasih ya sudah menolong Bunda? kalau tidak ada kamu, Bunda nggak tahu nasib bunda bagaimana? ya Allah tidak pernah terbayang sebelumnya, jadi berdebar dan was-was sekarang ini, Bunda nggak bisa membayangkannya!" ucap Viona menatap ke arah Samudra.


Samudra yang sedang asik menyantap makannya menoleh. "Tidak apa-apa, Bunda? sudah kewajibanku!" jawabnya.


"Iya bener, Mama juga jadi was-was sekarang jadi shock dan panik," timpal Bu Asri sembari merapikan kerudungnya.


"Yang penting sekarang Bunda tidak apa-apa, selamat. Sehat walafiat," tambahnya Rasya sembari menatap pada sang bunda.


Lalu mereka melanjutkan makan siangnya dengan sangat lahap, sesekali Samudra dan Rasya saling menyuapi ....


.


.


-

__ADS_1


__ADS_2