Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 33 Rebutan


__ADS_3

Rasya berjalan pelan membawa langkahnya ke dekat lemari pendingin lantas dibukanya. Di tatap nya intens.


"Oh, iya. Di lemari pendingin sudah tidak ada lauk. Ayam habis, ikan habis. Telor dan sayuran yang masih ada, aku belanja ke mana? tetapi aku kan gak pegang duit?" dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, kebingungan sendiri.


Biarlah, masak yang ada saja. Pikirnya, lalu menyiapkan bahan apa saja yang akan ia masak buat makan siang ini. Melirik ke tempat bahan-bahan kue.


Jadi inget, kalau Samudra dan Ubai sangat suka dengan kue buatannya. Lalu Rasya berinisiatif membuatkan yang baru dan yang sisa tadi dihangatkan, Rasya buang saja ke dalam tong sampah.


"Maaf-maaf. Maaf ... aku gak sengaja. Membuang makanan ya Allah ..." gumamnya.


Beberapa jam kemudian. Kue pun sudah siap. Masakan buat makan siang juga sudah tertata di meja, Rasya tersenyum memandangi meja makan yang tertata dengan rapi, berisi beberapa menu. Seperti telor dadar, telor balado. Tumis kangkung, dan acar. Tidak lupa tahu dan tempe.


"Hem ... semua sudah siap? silakan, Tuan jutek dan Tuan ramah makan ..." Gumam Rasya seolah bicara dengan kedua pemuda itu.


Rasya, teringat dengan tanaman di balkon yang belum ia siram. Membuat langkah Rasya mengayun ke sana dengan membawa seember air serta gayungnya.


...---...


"Saya, tidak setuju dengan pemikiran direksi yang tadi. Sebab itu bukan saran yang signifikan. Tidak valid tuh." Protes Samudra sambil berjalan. Sesekali mengangguk bila bertemu dengan para karyawan dan rekan lainnya.


"Ya tinggal di omongin aja, Bos, bukan ngedumel ke saya, gak berarti apa-apa." Tambah Ubai sambil berjalan mengikuti Samudra.


"Makanya bikin meeting lagi. Ini untuk berlangsungnya perusahaan agar terus berkembang pesat, demi kemajuan bersama. Bukan untuk perorangan," ujar Samudra kembali dengan nada kesal.


Langkahnya Samudra yang lebar membuat Ubai harus lebih cepat untuk menyusul nya.


"Iya, Nanti kita adakan meeting lagi. Biar netral dan terbuka," kata Ubai lagi.


Mereka berdua terus berjalan meninggalkan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Di mana kantor pusat Samudra terletak.


Keduanya kini sudah berada di dalam mobil dan kemudian mobil tersebut meluncur dengan sangat cepat. Menuju jalan xx dimana apartemennya berada.


Samudra bersandar ke jok mobil dan melepas pandangan ke luar jendela, melihat kuda-kuda besi yang hilir mudik. Berpacu dengan waktu.


"Malam ini aku ada janji dengan Karin, untuk dinner. Kemarin dia marah sebab aku gak bisa temui dia, gara-gara gadis itu," ucap Samudra dengan tetap melihat keluar jendela.


"Ooh, selamat bersenang-senag saja, Bos." Ubai memberikan senyuman yang datar.


"Kamu jagain gadis itu," pinta Samudra sambil menoleh.

__ADS_1


"Oo! siap! itu sih hal yang gampang dan menyenangkan!" Ubai menyambut dengan suka cita permintaan dari Samudra tersebut.


"Apa? kamu ngomong apa?" Samudra menajamkan pendengarannya pada asistennya. Ubai.


"Apa? aku gak ngomong apapun. Yang mana?" Ubai menggelengkan kepalanya.


"Tadi kamu bilang, hal yang menyenangkan? maksud mu? awas bila sampai kau macam-macam di unit ku, ku cincang kau." Ancam Samudra dengan delikkan mata yang tidak suka.


"Apaan? macam-macam gimana maksud mu? oo! berati kalau macam-macam di luar unit gak pa-pa, kan?" Ubai malah nyeleneh sambil menyunggingkan bibirnya.


Plak!


"Aw ... Bos apaan sih?" Ubai mengusap bahunya yang berasa panas.


Tangan Samudra menepuk bahu Ubai dengan kasar. "Kau gila? terserah kau mau macam-macam dengan wanita lain bukan sama dia."


"Dia? dia siapa, gadis itu? Nona Rasya maksudnya? kenapa? bukannya gak mau menikahi gadis itu?" Ubai melirik sekilas.


"Siapa yang mau menikahinya? saya cuma tidak suka, kalau kamu macam-macam sama dia. Dia asisten rumah saya. Dan saya sudah membayar mahal dia, dengan uang yang tidak sedikit." Jelas Samudra mengelak.


Ubai terdiam. Dia pikir bos nya ini memang suka sama Rasya, cuma mungkin gengsi atau gimana entahlah, kadang memang bahasa tubuhnya yang terbaca aneh.


"Wah ... kue kesukaan ku." Samudra langsung menyomot dan menyantap kue dadar yang masih hangat tersebut.


Ubai pun sama mengambil kue tersebut lalu memakannya. Melihat Ubai mengambil kue dadar. Lantas piringnya di kuasai oleh Samudra dengan tujuan, Ubai tidak mengambil lagi.


"Jangan gitu dong, Bos ... saya kan pengen lagi." Ubai berniat ngambil lagi yang langsung di kasih satu.


"Ini, satu saja. Buat ku semua! kamu makan saja," ucap Samudra sambil menunjuk hidangan makan siang di meja.


"Baiklah, aku mau makan saja!" setelah Ubai menelan kue nya. Langsung mengambil piring dan menuangkan nasi serta lauk pauknya.


Seakan tidak membuang waktu. Ubai langsung menyantap makannya, dalam hati sedikit kesal dengan sikap Samudra yang menguasai kue itu.


Ubai tampak nikmat dengan makannya. Yang terdiri dari telor dadar. Balado, tumis kangkung. Tahu-tempe. Acar dan sambal goreng.


Samudra merasa iri dengan melihat Ubai yang begitu menikmati makan siangnya. Ekspresinya lho yang bikin iri, terlihat nikmat sekali.


Samudra buru-buru mengambil apa aja yang Ubai makan. Bahkan Samudra habiskan semua sehingga piring nya penuh menjulang tadi kosong melompong.

__ADS_1


Kedua mata Ubai bengong ke piring Samudra yang penuh bahkan luber. "Bos, apa kau sadar itu?" menunjuk piringnya yang ah sulit disebutkan gimana penuhnya.


"Sadar." Singkat Samudra, sambil memasukan makanan ke mulutnya. Samudra tampak sangat rakus.


"Bos, kenapa dimasukan semua? aku masih mau nambah?" Ubai lagi-lagi menatap heran dan menunjuk ke arah piring yang kini kosong tersebut.


"Kenapa? masalah? kan kau sudah duluan! jadi ini semua bagian ku?" Samudra menarik piring kue ke dekatnya seakan ini milik ku dan orang lain tidak boleh ada yang memakannya.


Ubai menggeleng tidak mengerti. Sambil mengusap mulutnya dengan tisu menyudahi makannya, toh yang tersisa cuma sambal saja.


Padahal Ubai masih ingin nambah, namun Samudra habiskan semua membuat Ubai gigit jari.


"Kau ini bagaikan orang yang kesurupan saja, Bos. Ha ha ha ..." Ubai tergelak tawa. Suaranya bergema ke seluruh ruangan.


"Apa yang lucu?" tanya Samudra dengan mulut penuh dengan makanan.


"Coba kau perhatikan tingkah mu itu, bagai orang kesurupan atau orang yang tidak menemukan makan selama seminggu. Ha ha ha ..." lagi-lagi Ubai tergelak.


"Alah ... bilang saja bila kau pengen. Dan masih ingin nambah? bilang aku kesurupan segala!" Samudra mendelik.


"Emang, kan tadi saya bilang. Masih mau nambah dan kue saja kau kuasai bagai mau habis saja. Maruk kau ini, kebangetan." Ubai menggeleng tidak mengerti.


"Mau di bilang Maruk, atau kesurupan kek. Masa bodoh. Gue tidak peduli." Samudra dingin. Dan melanjutkan lagi makannya.


Rasya yang baru selesai menunaikan duhur. Muncul dari balik pintu kamarnya. "Kenapa sih? kalian ini berisik banget?"


Samudra dan Ubai menoleh pada gadis manis yang kali ini rambutnya diikat sanggul, mengekspos lehernya yang jenjang dan bersih.


Keduanya memandangi dengan tatapan yang sulit di artikan. membuat Rasya semakin heran. Ketika dia di dalam kamar, berisik! sekarang malah diam dan bengong.


"Kalian ini rebutan apa sih? ada lawakan apa?" seperti anak kecil saja!" tanya Rasya sambil mengedarkan pandangan ke meja lalu duduk di sana.


Terus netra nya Rasya mendapati piring Samudra yang penuh. Dan semua piring masakan kosong, begitupun piring Ubai yang sudah tinggal bekasnya saja.


"Ooh ... kalian rebutan makanan ya? he he he ... seperti anak kecil yang kehabisan makanan saja." Rasya tertawa yang ditahan ....


.


.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya reader ku🙏


__ADS_2