
Sekilas Samudra melirik ke arah Karin yang tampak kesal, dengan wajah di tekuk melihat keluar jendela. Memang hatinya mendadak badmood, dongkol sebagainya.
"Terus, gimana nasib rencana kita sayang?" lirihnya Samudra kembali sekilas melirik ke arah sang kekasih.
"Ya ... nggak gimana-gimana, tinggal lanjutkan saja. Cuman aku tetap tidak ingin di kekang. Maunya di dukung. Apalagi dilarang berkarier, itu saja." Jawab Karin dengan nada yang sangat dingin.
Samudra kembali menoleh sesaat, lalu memfokuskan pandangan kembali ke depan. Melihat jalanan yang cukup ramai dengan pengendara lainnya.
Dalam hatinya Samudra juga mulai gundah gulana. Maunya Samudra, Karin itu jangan terlalu mengejar karier. Bila setelah menikah nanti, toh uang mereka gak akan susah! opularitas yang di cari? sebab kalau dalam hal materi, Samudra tidak akan membiarkan Karin susah dalam dalam hal tersebut.
"Aku sih maunya, kamu santai aja beb. Aku gak akan membiarkan mu kekurangan materi kok, sebentar lagi kita tunangan sayang setelah itu kita menikah, jadi tidak perlulah terlalu mengejar karier." Kata Samudra sembari menoleh lagi.
"Kalau ada kesempatan, why not? I must have taken it, because chances don't come twice. Kesempatan tidak akan datang dua kali." Karin menaikan turunkan bahunya.
"Memang benar. Tapi sebagai calon istri yang kecukupan buat apa capek-capek mencari duit beb?" menurut Samudra sembari menggeleng.
"Ini. Bukan masalah duit, tapi kepuasan hati. Ini cita-cita ku, dan sayang banget kalau harus terbengkalai dan tidak di teruskan. Sayang banget, kan?" ucap Karin sambil melihat keluar jendela.
"Ck," Samudra berdecak kesal tidak tahu harus bicara apa lagi, untuk dapet memberi pengertian pada kekasihnya itu. Karena menurutnya, Karin menuruti kemauannya untuk tidak berkarier.
Keduanya terdiam dan tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Mereka memilih sibuk dengan jalan pikirannya masing-masing.
Setelah melewati putaran jarum jam. Akhirnya sampai juga di depan sebuah Mall, mobil Samudra memasuki parkiran dan berhenti, lantas parkir cantik di area tersebut.
Samudra turun duluan, lalu mengitari mobilnya mewah tersebut untuk membuka pintu buat sang kekasih. Karin. "Yu? kita jalan."
Karin turun lantas meraih tas branded nya. Menggandeng tangan pria tampan tersebut. Semua yang berpapasan dengan mereka menatap kagum, dengan kecantikan dan ketampanan keduanya.
__ADS_1
Sebelum pergi. Samudra pun menitipkan pada penjaga parkiran dengan tidak lupa memberi uang insentif untuknya. Supaya tukang parkir itu menjaga mobil kesayangan nya tersebut.
Karin melihat tidak suka pada orang-orang, terutama kaum hawa yang memandangi pria berkaca mata di sampingnya itu, penuh kekaguman. Menatap sinis sekaligus bangga, bangga mempunyai kekasih yang sangat tampan. Tidak kalah bila dibandingkan dengan pria-pria foto model.
Sementara Samudra hanya mengulas senyuman manisnya dari balik kaca mata hitam. Dia melihat para wanita muda itu yerus memandangi dan tampak mengagumi dirinya.
"Kenapa senyum-senyum? suka ya dilihatin para cewek?" ketus Karin, manik matanya mendelik sempurna pada Samudra yang berdiri di sampingnya itu.
"Ya, suka lah. Berarti aku ini tidak malu-maluin, hansem. tampan. Ganteng, jadi kan gak mau jalan sama orang cantik seperti dirimu, Beb ..." elak Samudra sangat percaya diri.
"Hem ... gede rasa. Sok ganteng, sok tampan!" Karin mencubit hidung Samudra yang mancung tersebut.
"Nggak juga, emang begitu adanya kok." Samudra menggeleng namun bibir tetap mengembang sambil tetap berjalan bergandengan satu sama lain.
Tidak kalau dari para gadis muda maupun emak-emak yang mengagumi ketampanan Samudra, tetapi Para kaum Adam pun menatap kagum pada Karin, menyimpan rasa suka dan ada juga rasa ingin memiliki, seorang wanita muda yang tampak sangat sempurna tersebut.
"Tuh lihat? banyak pria yang memandangi dirimu beb, coba lihat mata mereka tidak mau berpaling dari mu beb! kurang ajar benget." Suara Samudra pelan seolah berbisik dengan manik mata yang tajam seperti elang itu melihat sekitar.
"Iya, dong. Aku mengaku, dan itu wajar kalau kamu itu kekasih ku beb. Bohong banget bila aku bilang tidak cemburu!" akunya Samudra jujur dengan perasaannya.
"Sudah lah. Kita jalan lagi buat apa mikirin mereka?" Karin menarik tangan Samudra yang kekar itu.
"Oke, siapa juga yang mau mikirin mereka? gak penting tahu gak? lagian aku gak perduli juga. Kecuali mereka mengganggu mu." Balas Samudra.
Keduanya terus berjalan-jalan menuju konter yang Karin cari. Rupanya Karin mencari bahan pakaian untuk keperluan desainnya. Serta ia menemukan pakaian limited Edison dari butik langganannya.
Samudra duduk manis menunggui Karin yang sedang mencoba pakaian. Sesekali Samudra membuka ponselnya untuk membuka email yang Ubai kirimkan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Karin muncul dengan sebuah gaun cantik yang sedang dia coba saat ini.
Sebuah gaun hitam mengkilat, panjang tanpa lengan serta belahan yang sangat tinggi sampai ke paha. Kerah pun sangat rendah mengekspos belahan dada nya yang berisi.
Gaun tersebut dikenakan oleh wanita yang tinggi dan body gold seperti Karin, sangat cocok dan tampak elegan sekali. Tambah mewah kelihatannya. Samudra memandangi sampai tak berkedip. Melongo melihat sang kekasih yang tampak sangat cantik, menarik dan sedap di pandang mata.
Bibir Samudra tersenyum lebar. Tatapannya begitu intens. Pada sosok Karin yang tampak sempurna. Sangat mengagumi akan kecantikan sang kekasihnya itu. "Kau sangat cantik sayang." Gumamnya Samudra tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan ke tempat lain.
"Anda sangatlah cantik, apalagi menggunakan gaun ini, percaya deh semua mata akan tertuju pada anda? akan terkagum-kagum padamu Nona." Puji seorang wanita yang membuat baju itu.
"Ah, bisa aja nih, bisa aja bikin aku melayang dengan sanjungan mu yang bikin aku meleleh." Karin tersenyum bangga.
"Ini cocok buat ke pesta pernikahan atau anda pakai di catwalk, pashion show. Dan acara resmi lainnya, apalagi yang memakainya anda yang sangat cantik dan menarik." Kata disainer nya itu, sekalian mempromosikan gaun rancangannya tersebut.
"Oo ... anda cukup, jangan menyanjung ku lagi, nanti aku melayang dan tidak bisa turun lagi gimana coba? berapa ini?" tanya Karin sambil memperhatikan penampilannya.
"Tidak cukup fantastis. Pasti terjangkau kok, dengan bahan sutra nyang amat bagus itu akan sangat cocok di tubuh anda yang indah itu," sambung wanita tersebut.
Setelah melakukan transaksi. Dan mengganti lagi gaunnya. Karin pun mengajak Samudra tuk jalan kembali, terus menggandeng tangan Samudra dengan erat.
"Kau sangat cantik sayang, ku mengagumi dirimu." Samudra berucap penuh pujian.
"Siapa dulu dong, Karin? kamu harus tau sayang. Kalau Minggu ini saja, aku mendapat beberapa tawaran iklan. Aku seneng banget lho," ucap Karin, wajahnya sumringah begitu tampak kebahagian yang sedang dia rasakan mengingat banyak job untuknya.
"Oya? selamat ya beb? aku ikut bahagia." Samudra memeluk bahu Karin sangat erat, walau dalam hati mendadak gusar ....
.
__ADS_1
.
Mohon dukungannya?