Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 158 Melanjutkan


__ADS_3

Rasya bengong, dan kebingungan harus berkata apa kepada orang tua nya tentang hal yang sangat pribadi tersebut.


Manik mata Rasya menatap ke arah Samudra yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin. Rasya mengakui kalau dirinya gadis bodoh yang mau saja diperlakukan oleh Samudra.


"Namun apa salahnya? bila kami melakukan itu? aku istrinya sudah sewajarnya bila aku melayani nya?" batin Rasya sambil berjalan mondar mandir.


Melihat Rasya yang tampak cemas dan gelisah. Samudra menghampiri. "Kau kenapa tampak gelisah seperti itu?"


Rasya mendongak, tampak jelas ada kecemasan di wajahnya tersebut. "Aku, aku bingung."


"Bingung kenapa?" selidik Samudra sambil berdiri di dekat Rasya.


Kini Rasya menatap lekat pada Samudra. "Hubungan kita ini?"


"Emang kenapa?" tanya Samudra dengan nada datar.


Membuat Rasya merasa kesal. "Kau sudah melakukan itu pada ku? kau masih banyak bertanya?"


"Kenapa kau marah pada ku? bukankah kita juga menikmatinya? kau rela juga aku--"


Plak.


Rasya menampar pipi Samudra namun dengan pelan. "Kau yang buat aku terpaksa melayani kamu. sadar itu?"


Samudra meraih tangan Rasya yang barusan menamparnya. "Ngapain kau datang kalau bukan untuk menemani ku? kau itu istri ku, jadi yang aku lakukan padamu wajar adanya. Buat apa maskawin yang aku berikan kalau bukan untuk menikmati tubuh mu?"


Rasya melotot dengan sempurna pada Samudra yang seolah dia harus membayar yang sudah dia berikan.


Lain lagi dengan Samudra walau wajahnya tampak serius. Tetapi dalam hati tersenyum, karena dia sangat suka melihat ekspresi Rasya bila marah.


"Kau keterlaluan! kau hanya membutuhkan ku di saat kau nafsu!" Rasya menghempaskan tangan Samudra yang memegang kedua tangannya.


"Sya? dengar aku? jangan marah." Geph, Samudra meraih pinggang Rasya dan di tariknya ke dalam pelukan.


"Jangan tinggalkan aku, ikutlah dengan ku ke apartemen. Kita akan bersama kembali," ucap Samudra penuh harap.


"Tidak, aku tidak mau tinggal bersama mu! aku mau sekolah lagi. Agar tidak bodoh seperti kata nya itu." Rasya menggeleng. Lalu berusaha melepaskan dirinya dari Samudra.


"Sya, saya akan mengijinkan mu sekolah lagi, tapi tinggallah bersama ku?" Samudra kembali berharap.


"Kalau ayah dan bunda tidak mengijinkan gimana?" Rasya terus ingin melepaskan diri dari Samudra.


"Saya akan mengikuti mu. Dan ..."


"Dan apa?" selidik Rasya penasaran.


"Ya terserah, kalua kau mau mengikuti kemauan orang tua mu." Samudra melepaskan tubuh Rasya begitu saja.


"Dasar orang aneh, katanya mau mempertahankan? tapi begitu, yang mana sih yang harus aku percaya hari?" Rasya menelan saliva nya untuk menahan tangis sebagai ungkapan perasaannya saat ini.


"Buat apa kau percaya padaku? ku bukankah meraka ingin kita terpisah?" Samudra jadi merasa kesal sendiri.


"Terus kenapa kau melakukannya padaku?" Rasya terduduk lesu. Daerah inti nya saja masih terasa sakit dan mungkin ada yang lecet.


Samudra menoleh lalu mendekat. Menatap ke arah Rasya yang berwajah sendu dan tampak kebingungan. "Aku hanya ingin kau bersama ku! mau kan kita memulainya lagi!"


Rasya menatap ke arah Samudra dengan tatapan yang sulit di artikan. "Aku mau, tapi--"


"Tapi apa? kau tidak menyukai ku?" tanya Samudra sambil berlutut di hadapan Rasya dan memegang kedua tangannya sangat erat.


Rasya kebingungan diberi pertanyaan seperti itu dari Samudra, dia tidak tahu harus berkata apa?


Samudra menatap lekat pada Rasya dan mengarahkannya pada satu titik bagian wajahnya Rasya. Wajah Samudra mendekati sehingga deru nafasnya pun menyapu kulit wajah Rasya.

__ADS_1


Ke dua manik mata Rasya terpejam ketika wajah Samudra semakin mendekat. Dan pada akhirnya berlabuh juga di tempat yang menjadi tujuan.


Ketika sedang menikmati sentuhan hangat dari benda tipis masing-masing. Keduanya di kagetkan dengan di bukanya pintu kamar yang kebetulan tadi Samudra buka kuncinya.


Fatir menatap tajam kearah Samudra dan Rasya yang sedang beradu wajah. "Apa-apaan kalian?" bentak Samudra sambil berjalan mendekati putrinya.


Rasya dan Sam jelas panik nya menerima kedatangan Fatir dan di susul oleh yang lainnya. Seperti Viona, Bu Riska dan suaminya.


"A-ayah. Aku bisa je-elaskan ini semua." ucap Rasya yang di tujukan pada sang ayah.


"Ini sudah jam berapa ha? kenapa kalian belum bangun juga rupanya kalian sedang asyik-asyiknya saja di sini!" lagi-lagi Fatir menatap tidak suka pada Samudra.


Viona melirik ke rah Sepri yang ada bercak marah yang sudah kering.


Membuat hatinya melengos sedih. Viona dapat membaca yang sudah terjadi yang menimpa pada putri ya tersebut. "Vivian. Kau sudah--"


Fatir yang melihat ke arah Seprei langsung meraih tangan Samudra yang tidak jauh dari Rasya. "Jadi. Kau sudah melakukan nya!" Fatir mengedarkan pandangan ke arah Rasya dan Samudra bergantian. Hatinya berasa sakit dengan masa depan putrinya yang baru mau membuka lembaran baru dalam pendidikan.


Rasya yang berada di balik punggung Samudra, tampak panik dan was-was tidak bisa berkata-kata, tatapan mata dia hanya bisa berkabut serta berusaha menelan saliva nya yang menyiksa tenggorokan.


Samudra menghela nafas dengan sangat panjang. Kemudian dia berusaha tenang seraya berkata. "Saya, saya ... sudah menunaikan kewajiban saya sebagai suami terhadap Rasya. Kami sudah--"


Plak!


Tamparan keras dari tangan Fatir bersarang di pipi Samudra, dan menyisakan tetesan darah segar keluar dari sudut bibirnya.


Membuat yang berada di sana terkesiap, tidak menyangka kalau Fatir akan melakukan itu terhadap Samudra yang statusnya sebagai menantu.


Samudra yang berdiri miring memegangi pipinya dan mengusap darah dari sudut bibir.


"Kurang ajar kau ya? bukankah sudah ku peringatkan! jangan pernah sentuh putri saya selama belum ada kejelasan yang kau berikan!" bentak Fatir dengan penuh amarah.


Tangan Fatir mencengkram kerah baju Samudra, matanya melotot dengan sangat sempurna! dia tidak terima putrinya sudah tidak gadis lagi, netra nya melirik ke arah meja yang berada bekas minuman.


Kemudian kembali menatap tajam pada Samudra. "Kau, melakukan itu bukan karena cinta. Melainkan karena nafsu dan kau juga sedang mabuk! kau tidak sadar melakukannya dengan siapa? kau tidak sadar dengan apa yang kulakukan terhadap putri saya."


"Rasya istri ku, Om. Bukankah sudah suatu kewajaran bila saya menyentuhnya? dia itu hak saya sebagai suaminya!" Samudra dengan nada datar.


"Kau memang suaminya, tapi saya rasa kau itu tidak pantas jadi suami putri saya. Kau keras kepala dan kau tidak beraturan!" bentak Fatir kembali dengan tangan masih mencengkram leher baju Samudra.


"Kau tidak mencintai putri ku! kau hanya mencari kesempatan dalam kesempitan! kau hanya menganggap pernikahan mu sebuah permainan dan sesuka mu kau mau menikahi wanita lain disaat kau mempunyai istri." Lanjut Fatir kembali.


"Om, saya tidak terima dibilang mempermainkan pernikahan! selama ini saya berusaha memenuhi kewajiban saya sebagai suami. Selama Rasya bersama, Om. Pun aku sudah bekali dia kartu ATM yang kapan saja di bisa mengambil uangnya. Kalau saya permainkan pernikahan! Rasya pasti sudah saya lepaskan ketika saya tidak butuh dan saya datangi ketika saya mau, saya tidak melakukannya, Om. Saya cuma butuh waktu untuk membuat keputusan, itu saja!" ujar Samudra dengan jelas dan menggerakkan tangannya.


Fatir hanya menatap dengan tajam ke arah Samudra yang di pikir sudah berani bicara dengan lantang di hadapannya.


"Walaupun pernikahan kami didasari oleh orang-orang yang di luar sana, tapi saya tidak ada niat untuk mempermainkan pernikahan. Buktinya sampai detik ini, sudah berbulan-bulan ini saya masih berstatus suami dia! jadi apa pantas jika saya dibilang mempermainkan pernikahan?" jelas Samudra sembari menunjuk ke arah Rasya.


"Tapi bagaimanapun kau sudah mengingkari janji, apa kau lupa dengan janji-janjimu itu kau tidak tertarik! kau tidak akan menyentuhnya sedikitpun, tapi kenyataannya kau bahkan berani mencium dia di depan orang banyak. Lupa dengan semua ucapan mu itu?" bentak lagi Fatir.


"Saya normal, dan itu manusia. Wajarlah jika saya bicara dengan logika, disaat kami masih penjajakan saling mengenal, di satukan dalam pernikahan karena suatu keadaan! saya wajar bila berkata demikian. Iya saya tidak cinta pada putri, Om itu. Tetapi saya nyaman dengannya. Tidak salah kalau saya melakukannya dengan istri saya sendiri. Saya seorang laki-laki normal, Om." Bela nya Samudra.


"Fatir, saya rasa ... omongan Samudra ada benarnya juga. Mereka suami istri, apa salahnya jika mereka menunaikan kewajibannya? sah-sah saja bukan?" kini pak Suyoto mencoba melerai dengan nada yang tenang.


"Mas? Mas itu tidak merasakan dengan apa yang saya rasakan saat ini, Mas. Dia putri saya yang selama ini hilang! Kini dia kembali tapi nasibnya malah masih seolah tidak berubah dengan pernikahan semacam itu. Saya ingin! kalau memang putra anda ingin melanjutkan pernikahannya dengan putri saya, resmikan dulu dan yakinkan dulu hatinya. Jangan sampai setelah menikah dia masih memikirkan wanita lain, mencintai wanita lain selain istrinya!" ujarnya Fatir dengan panjang lebar dan kini tatapannya mengarah pada pak Suyoto.


Masha yang kini menangis Tanpa ada tabrakan sama Bunda tentunya tak bisa berbuat apa-apa.


"Apa, Mas bisa menjamin. Kalau Samudra bisa mencintai Rasya seperti mencintai kekasihnya itu? apa Mas juga bisa menjamin jika suatu waktu nanti kekasihnya kembali dan dia tak akan meninggalkan putri saya? saya ragu, Ma! buktinya, batal pernikahan dan gadis itu menghilang! dia kalang kabut sampai minum-minum segala? padahal sudah mempunyai istri, gagal nikah? ya sudah! toh ada gantinya! bagaimana apabila nanti kekasihnya itu kembali? apa akan tetap menjadikan Rasya sebagai istri satu-satunya dalam hidup dia?" ungkap Fatir yang mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


"Tenanglah! ini bisa dibicarakan dengan baik-baik, mari kita bicara dengan kepala dingin dan dengan santai juga. Sebaiknya kita duduk bersama untuk membicarakan ini," ajaknya Suyoto pada Fatir.


"Iya, Mas. Duduklah bicarakan dengan baik! jangan dengan nafsu, aku yakin akan ada jalan terbaik untuk mereka berdua," lirihnya Viona pada sang suami.

__ADS_1


"Ya sudah, sebaiknya kita ngobrol saja di ruang tengah jangan di sini, tempat ini terlalu pribadi," ajaknya bu Riska. "kita bicarakan di ruang keluarga di depan!"


Kemudian mereka semuanya keluar, berjalan menuju ruang keluarga yang masih berada di lantai atas. Tepatnya di depan kamar Samudra


Samudra berjalan dengan masih menahan nyeri di pipinya, bahkan darah yang tadi keluar pun sudah mulai mengering.


Rasya yang berjalan di depan Samudra, sesekali melihat ke belakang ke arah suaminya tersebut, dia merasa khawatir dengan kondisinya yang tadi di tampar oleh sang ayah.


Saat ini semua nya sudah berada di ruang keluarga, Berkumpul bersama. Fatir dan istri juga Rasya duduk di sofa yang sama, sementara samudra duduk di hadapan Fatir sendiri.


Bu Riska dan suami duduk di sofa berdua saja. Mulan yang baru saja datang menyajikan beberapa gelas minuman beserta kue nya.


Sejenak suasana begitu hening, dan semuanya memilih sibuk tangan pikirannya masing-masing.


Pak Suyoto hendak memulai pembicaraan yang sebelumnya menghela nafas terlebih dahulu. "Huuh ..." mengarahkan pandangan pada Rasya.


"Sebetulnya, Papa ingin tau pemikiran kamu, Sam?" suara pak Suyoto dengan nada sangat serius.


Samudra yang asalnya menunduk memainkan tangannya pun mengarahkan tatapannya pada sang ayah. "Tentang apa nih?"


"Tentunya untuk pernikahan mu dengan Rasya, gimana maunya? kalau kau ingin melanjutkan tentunya harus segera di resmikan. Apalagi mengingat kalau sudah melakukannya, otomatis harus dipertahankan." Sambung pak Suyoto.


"Kalau menurut saya, tidak jadi masalah, sekalipun sudah ... ya begitu! kalau sekiranya nantinya hancur juga mending pisah saja. Saya bisa mencarikan calon suami yang lebih baik dari kamu Sam." Timpal Fatir.


"Fatir-Fatir, jangan lah meragukan Samudra, kasih lah dia kepercayaan. saya yakin di pun punya niat baik pada Rasya. Kita dengarkan dulu pendapatnya." Pak Suyoto menoleh dan menatap pada Fatir.


Samudra mengedarkan tatapannya pada Rasya yang menunduk lesu. Tangannya saling bertaut satu sama lain.


Rasya gelisah, apalagi mengingat yang terjadi semalam. Kata orang kalau habis hubungan seperti itu akan hamil, terus? kalau cerai gimana dengan kehamilannya nanti? ini benar-benar membuat Rasya khawatir. Lalu ia mengangkat wajahnya menatap ke arah Samudra yang langsung mengalihkan pandangannya ke lain arah.


Semua melihat ke arah Samudra berharap memberikan jawaban yang memuaskan.


"Saya ... saya akan meneruskan pernikahan ini, saya tidak mungkin meninggalkan Rasya. Mengingat dengan yang sudah saya lakukan, gimana kalau dia hamil anak saya? jadi saya akan pertahankan itu. Soal resepsi, Papa dan Mama atur saja lah." Jelas samudra.


Membuat pak Suyoto dan istri bisa tersenyum mengembang. Dan setuju dengan keputusan yang Samudra ambil.


"Kau ingin. Melanjutkan pernikahan ini karena takut Rasya hamil? benar-benar kau gak punya otak, Sam." Viona menatap tidak suka ke arah Samudra.


"Mas?" Viona menggeleng pelan pada Fatir. Dengan tangannya memegangi lembut tangan Fatir.


"Saya akan membawa istri saya ke apartemen." Jelas Samudra sambil mengedarkan pandangan pada semuanya.


"Tidak bisa, saya khawatir kau akan menyakiti putri saya, apalagi bila kau mabuk." Tolak Fatir.


"Om, saya suaminya Rasya, saya lebih berhak pada dirinya Rasya. Om!" ketus Samudra kembali.


"Saya, orang tua nya Rasya, saya juga berhak atas kebahagian putri saya dan menghindarkan dia dari pria macam kamu." Fatir menunjuk pada Samudra.


"Emang saya kenapa, Om? saya kurang bertanggung jawab gitu? Om takut kalau putri anda kelaparan lagi seperti dulu? takut susah lagi? tidak Om. Saya pastikan kalau Rasya tidak akan mengalami hal yang serupa lagi." Samudra dengan yakin.


"Saya percaya kau tidak akan membiarkan putri saya menderita, Tapi saya ragu kalau kau bisa membahagiakan dia. Mengingat kau itu--"


"Beri saya kesempatan untuk memperbaiki diri, saya juga bisa seperti laki-laki yang seperti, Om harapkan. Hanya saya butuh waktu untuk itu. Kalau Rasya mau sekolah? saya dukung kok, tapi di sekolah nya dimana? saya yang akan tentukan! Om tidak usah khawatir. Saya akan mengurus Rasya seperti kalian juga." Lanjut Samudra terus meyakinkan.


Sebenarnya, Fatir dan Viona ingin Rasya itu tinggal bersama mereka. Berkumpul. Apalagi Rasya baru saja menemukan keluarga nya dan sekolah pun di Surabaya. Bukan di Jakarta bersama Samudra.


Setelah mendengar perdebatan Samudra dengan sang ayah. Rasya merasa lega, ternyata Samudra ada niat untuk mempertahankan hubungannya.


"Jeng, Samudra ingin seperti itu, masa kita akan menyerangnya? ini kebaikan untuk mereka berdua lho." Bu Riska menatap ke arah Viona.


Viona menoleh pada Rasya yang tampak dari matanya yang berbinar. Dia terlihat bahagia menatap ke arah Samudra yang juga menatap ke arah Rasya.


Fatir terdiam dan memikirkan semuanya yang membuat dia merasa bimbang akan putrinya tersebut ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2