Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 170 Luwes


__ADS_3

"Oya, bukankah. Kau merasa sakit? sini ku obati?" Samudra memudarkan rangkulannya lantas meraih tas tangannya mengambil salep yang kecil bentuknya itu untuk mengobati luka nya Rasya.


"Sakit apa?" Rasya mengerutkan keningnya.


"Kok nanya sih? kan kau sendiri yang bilang kalau daerah inti mu sakit!" Samudra mendorong bahu Rasya agar tiduran.


Rasya melonjak bangun. "Nggak mau, lagian sudah berkurang kok sakitnya juga. Dan bila sakit pun akan aku obati sendiri, tidak mau oleh dirimu!"


Lagi-lagi Samudra mendorong bahu Rasya di suruh nya berbaring kembali. Lantas mengangkat roknya dan menurunkan penghalang guha kesayangannya sehingga bibir itu tampak dengan sempurna.


Rasya berusaha menutupinya. Dia merasa malu, biarpun sudah tidak aneh buat Samudra. Tapi tetap saja rasanya malu dan tidak berani melihat ke arah Samudra.


Tangan Samudra menyingkirkan telapak tangan Rasya, lalu dengan luwes jarinya mengolesi bibir-bibirnya itu dan sedikit ke bagian dalamnya juga yang tampak lecet.


Membuat Rasya merasakan ngilu, sehingga kepalanya yang menghadap ke arah tembok memejamkan kedua matanya.


"Kenapa gak bilang sih dari waktu itu? bukan di tahan sendirian, mungkin aku akan lebih menahan diri bila kau bilang itu." Samudra selesai mengoleskan salepnya.


Rasya bangun kembali dan tangannya Samudra tarik. "Gimana mau bilang? bukankah kau tidak perduli pada ku?"


"Hi ... siapa yang tidak perduli pada mu?" Samudra menjepit hidung Rasya dengan gemas.


"Aaah ... sakit," Rasya mengusap hidungnya yang Samudra jepit dengan jarinya itu.


Samudra turun dan mengayunkan langkahnya ke kamar mandi sembari membuka kemejanya.


"Mau mandi bukan?" tanya Rasya sembari menatap punggung pria itu.


"Iya, mandiin sini?" goda Samudra sambil memutar tubuhnya.


"Iih, ogah. Aku mau tidur saja capek." Rasya memajukan bibir bawahnya ke depan.


Samudra melanjutkan langkahnya ke dalam kamar mandi.


Rasya mau menyiapkan pakaian ganti buat Samudra. Namun apa yang harus disiapkan. Toh mau tidur! Samudra suka gak pake baju juga.


Saat Samudra keluar dari kamar mandi, sehabis membersihkan dirinya langsung menghampiri tempat tidur dan netra nya menangkap Rasya yang sudah terlelap.


Samudra menyunggingkan bibirnya, lalu dengan cepat merangkak naik, berbaring di dekatnya Rasya.


Dengan isengnya Samudra menjepit hidung Rasya, yang kadang menepis dengan tangannya tapi tidak membuat Rasya bangun ataupun membuka matanya yang terasa sepet banget itu.


"Em ... ngantuk! jangan ganggu? sana jauh-jauh." Gumamnya Rasya tanpa membuka manik matnya sedikitpun.


Samudra semakin melebarkan senyumnya mendengar gumaman dari Rasya barusan, lantas dengan telunjuknya. Samudra menusuk-nusuk pipi Rasya, di jepit kedua pipinya sehingga mulut Rasya terbuka dengan bentuk membulat bikin Samudra semakin mengembangkan bibirnya tertawa.


Lama-lama Samudra mendekatkan bibirnya ke mulut Rasya.

__ADS_1


Heph, sementara waktu bibir Samudra bermain di sana. Dengan bebas. Tidak bibir tadi tangan, sama-sama tidak mau diem. Sementara Rasya hanya meliuk-liuk kegelian dan matanya tak sedikitpun terbuka.


"Aku ngantuk, Sam ... ngantuk." tangan Rasya meremas rambut Samudra yang sedang menyesap sesuatu yang menggantung di tubuh nya itu.


Biarpun Samudra sangat menginginkan lebih, nanum kali ini dia tidak berani untuk melakukannya, mengingat Rasya merasa perih, kasihan bila Rasya masih kesakitan. Sehingga Samudra menahan hasratnya sementara waktu sampai Rasya benar-benar siap.


Yang bisa Samudra lakukan saat ini hanya memeluk tubuh Rasya dengan sangat erat. Melewati malam yang terasa panjang itu sampai menjelang pagi.


...---...


Di sebuah kota besar yang tepatnya di luar Negeri. Karin sedang berada di sebuah ruangan, mengikuti pelajaran yang di ajarkan seorang dosen tentang fashion design. Di sebuah universitas yang memang di impi-impikan oleh dirinya.


Setelah ayah ibunya pulang ke Indonesia, Karin tinggal bersama asistennya, dan ngekos di sana sembari mengembangkan sayapnya dalam hal karier.


Setelah mengikuti mata pelajaran selesai, dia berangkat bersama asistennya ke sebuah tempat. Karena akan ada pertemuan dengan pihak yang mengontraknya bermain film.


Sesungguhnya dia sangat kecewa dengan kondisi ini, dimana gagal menikah, terutama pengkhianatan Samudra yang bikin dia semakin terpukul.


Hanya keinginannya yang harus sukses berkarier, membuat luka hatinya sedikit terobati dan tampak happy.


"Saya akan membuat mu semakin terkenal dengan film kita ini, di sana kau akan berperan sebagai kupu-kupu malam yang menjadi langganan banyak pria hidung belang." Ucap seorang pria yang menjadi produser tanya itu.


"Kupu-kupu malam. Berarti saya banyak memerankan adegan yang--"


"Tentu! dan saya yakin kalau kau mampu totalitas dalam hal ini." kata pria tersebut.


Pria yang menjabat sebagai produser itu menatap tajam pada Karin yang sedang melamun itu. Tatapan pria yang sudah berumur itu menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Saya akan ke toilet sebentar?" Karin beranjak dari duduknya meninggalkan tempat tersebut. meninggalkan produser, dan asistennya.


Karin membawa langkahnya menuju toilet yang ada di gedung tersebut.


Setelah kepergian Karin, pria yang bertubuh sedikit gempal itu mengeluarkan sebuah cek, dan diberikannya pada asisten nya Karin.


"Pergilah! dan silakan cairkan uang sebesar 50 juta itu untuk uang saku mu, sebagai upah kau beri saya waktu," ucap pria itu sambil mengibaskan tangannya.


Asistennya Karin pun mengangguk, lalu berdiri lantas pergi meninggalkan meja tersebut.


Membuat pria gempal itu menyunggingkan bibir nya. Lalu pria itu menuangkan bubuk ke gelasnya Karin, kemudian mengaduk dengan sedotannya.


Tidak lama kemudian, Karin muncul dan mendekati meja tersebut. "Sorry. Lama ya?"


"Tidak apa-apa, santai saja?" balasnya pria tersebut.


Karin celingukan melihat dan mencari asistennya yang tidak ada di sana. "Asisten saya mana ya?"


"Em ... dia pulang, katanya sakit kepala dan dia sudah menyerahkan tandatangan sebagai saksi bila kau menandatangani surat kontrak mu!" ucap pria itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kok, gak bilang-bilang sama saya ya?" Karin mengerutkan keningnya.


"Tadi, dia bilang sama saya seperti itu. Bagaimana kau setuju dan dan saya kasih uang muka untuk proyek ini." Ucap pria tersebut.


Karin menatap lekat dan mengangguk setuju. "Baiklah, berkarier mamang yang saya inginkan."


"Bagus. kalau kau setuju! jadi pihak pH tidak perlu mencari penggantinya. Dan saya tinggal mencari aktor yang cocok dengan mu, dan saya akan kasih kau uang muka sebesar 150 juta. Ini sebagai uang muka saja," ungkap pria tersebut.


"Ooh, makasih sebelumnya? dan yang nya langsung transfer saja ke nomor rekening saya yang ini," Karin pun menunjukan nomor rekening ke pria tersebut.


Lanjut Karin membubuhkan tandatangan nya di atas kertas perjanjian atau surat kontrak yang dibuat pihak pH, terjadilah penandatangan dari kedua belah pihak.


"Terima kasih, dan kita sudah mulai bekerja sama. Saya harap kau bisa menjalankan tugasmu dengan baik dan sebab kau sudah terikat kontrak dengan saya!" ungkap pria tersebut.


"Baik, saya akan mengikuti aturan pekerjaan. Dan mohon dukungan nya?" Karin mengangguk dalam. Lantas keduanya saling berjabat tangan.


Kemudian Karin meneguk minumnya yang sisa tadi sampai tandas. Namun lama-lama kepala Karin merasa pusing, kepalanya berat benget.


Pria yang ada di depan matanya itu hanya tersenyum yang mengandung arti. Namun pura-pura cemas.


"Kau kenapa, Nona? kau tidak apa-apa, kan?" tanya pria itu, tampak khawatir sambil memegangi tangan Karin yang memegangi lengan Karin.


"Ya sudah. Saya antar kau ke kamar untuk beristirahat sebentar." Pri itu bangun dan merangkul bahu Karin di ajaknya berjalan menuju kamar hotel.


Namun sebelum pergi, pria itu menyuruh orang dan asisten Karin untuk mengemas barang Karin seperti tas dan ponsel, kertas perjanjian dan lainnya.


Karin baru saja di bawanya ke kamar hotel tersebut, dan di baringkan di atas tempat tidur yang luas itu. Karin yang tidak sadarkan diri tiba-tiba bangun dan kepanasan sehingga dia membuka pakaiannya yang bagian atas.


"Sangat cantik luar biasa! sangat sempurna," pria itu membelalakkan matanya yang tampak lapar melihat hidangan yang wah sangat menggiurkan.


"Aduh ... panas, panas banget. Tubuh ku kepanasan, iih panas banget ..." gumamnya Karin sambil meliuk-liuk kan tubuhnya yang kepanasan itu.


Satu persatu pakaian Karin terlepas dari tempatnya. Dan hanya menyisakan segitiga dan kaca mata saja yang masih terpasang.


Pria itu yang masih berdiri dan memandangi ke arah Karin yang hampir polos, dia begitu menikmati pemandangan nya itu. Dan lama-lama pria itu mendekat dan naik ke atas tempat tidur yang ada Karin nya.


Dan pria itu langsung mencumbu Karin yang sedang hilang kesadarannya. Dibawah pengaruh obat yang di masukan pria tersebut.


Karin yang berada di bawah alam sadar. Dia begitu menikmati setiap sentuhan pria tersebut dan menurut Karin, pria yang bersama nya ini adalah Samudra sehingga Karin begitu asyik dengan bayangan Samudra yang menjelma di pria tersebut.


Ini sesuatu yang teramat sangat menyenangkan bagi pria tersebut yang memang sudah ada niat jahat untuk merenggut kesu-cian Karin yang setau dia Karin itu masih virgin.


Pria itu semakin melancarkan aksinya dengan bebas semulus jalan tol dan mendapatkan yang dia mau ....


.


.

__ADS_1


Bagi reader yang mau namanya di undang dalam acara pernikahan Samudra dan Rasya acungkan jempol nya ya? nanti masukan ke daftar undangan🤭


__ADS_2