Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 108 menyangka


__ADS_3

Mulut Rasya menganga. Terkesiap, matanya menatap ke arah pangkuan yang tersiram minuman itu.


Ubai kaget dan tidak menyangka kalau Karin akan melakukan seperti itu pada Rasya yang tidak melakukan apapun.


Bahkan Karin tidak perduli. Terus saja berlalu dari tempat tersebut. Samudra pun melongo tidak berkata-kata.


"Ya ampun ... basah!" Rasya berdiri dan menunduk.


"Nona, kau tidak ke napa-napa?" Ubai mengambil tisu dan mengusap baju Rasya yang basah tersebut.


Samudra melihat ke arah Karin yang langsung pulang dengan yang lainnya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Rasya dan Ubai.


"Bai. Rasya, biar pulang bersama ku?" Samudra menarik tangan Rasya.


Rasya tambah terkesiap tangannya di tarik oleh Samudra. Dia melongo menatap ke arah Samudra yang seakan tidak suka melihat dirinya dekat dengan Ubai.


"Ooh, baiklah. Ajak saja, Nona pulang. Biar bayar makanan saya yang urus," ucap Ubai mengangguk setuju.


Kemudian Samudra menuntun tangan Rasya keluar dari restoran tersebut, menuju mobilnya yang terparkir di area staf.


Rasya terus mengikuti langkahnya Samudra yang lebar itu tanpa bicara sepatah kata pun. Kerena memang tangannya terus di tarik oleh Samudra.


Sebenarnya, Kedua netra Samudra melihat-lihat sekitar. Kali saja masih ada Karin di are tersebut, namun tidak ada bayang-bayang nya pun terlihat dari berada di sana.


Samudra mengitari mobilnya setelah memastikan Rasya sudah masuk dan duduk di samping kemudi.


Tidak lama kemudian, Samudra melajukan si jaguar nya dengan cepat agar segera sampai di tempat tujuan.


Tak ada yang bersuara, Samudra baik Rasya. Kedua terdiam dan memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Serat manik Rasya terus melihat bajunya yang basah itu.


"Apa sih salah ku? sehingga Nona selalu membuat ulah padaku?" gumamnya Rasya dengan mata yang berkaca-kaca.


Samudra hanya melirik sekilas. Lalu kembali fokuskan pandangan ke depan. Namun tiba-tiba Samudra menepikan mobilnya dan langsung keluar.


Dia mengitari mobilnya lalu mengetuk kaca jendela sebelah Rasya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Apa sih?" Rasya menurunkan kaca tersebut.


"Tunggu di Sani sebentar? saya masuk dulu!" menunjuk sebuah toko.

__ADS_1


Rasya Hanya mengangguk. Lalu menutup kembali kaca jendela yang memang Samudra pinta.


Langkah kaki Samudra yang lebar dengan sekejap menghilang, dari pandangan Rasya yang melakukan hat dari balik pintu.


"Mau kemana sih? katanya mau mengantar ku pulang?" Rasya heran.


Namun dengan sekejap, Samudra kembali dengan paper bag di tangan. Dia masuk kembali sambil memberikan paper bag kepada Rasya.


"Apa ini?" tanya Rasya sambil memegang paper bag tersebut.


"Buka saja!" Samudra kemudian memutar kemudi dan melajukannya dengan sangat cepat.


Rasya bengong lalu mengintip isinya. Dan ternyata pakaian dengan bahan yang bagus terbukti dengan sentuhan pun begitu terasa halusnya.


Rasya hanya menatap ke arah Samudra tanpa berkata apapun itu. Dia kembali bengong, melamun mengingat setiap pertemuan dengan Karin yang selalu menyisakan perlakuan pahit.


Setibanya di are parkiran, Samudra membiakkan pintu buat Rasya yang terus melamun bila saja tidak Samudra panggil beberapa kali.


"Ck, malah melamun! mau turun gak?" Samudra berdecak kesal.


Rasya menggercapkan kedua matanya, mendengar suara Samudra yang memanggilnya.


Kemudian Rasya turun sambil menenteng paper bag dan tasnya. Lagi-lagi tangan Samudra menggenggam jemari Rasya dan menariknya untuk berjalan memasuki lift.


Sambil berjalan, kedua netra nya Rasya menatap tangan kekar yang terus menggenggam tangannya. Sampai setibanya di unit, barulah Samudra melepaskan tangannya tersebut.


Rasya pun mengangguk lalu membawa langkahnya menuju kamar. Dengan menjinjing paper bag dan tasnya.


Samudra mau balik ke kantor berasa malas. Sehingga dia mendudukkan dirinya di atas sofa bersandar ke belakang dengan tangan merentang terbuka.


Terdengar suara Rasya menjerit. "Awww ...."


Membaut Samudra melonjak dan gegas memasuki kamar Rasya yang kosong. Sebab Rasya berada di dalam kamar mandi nya.


"Ada apa nih?" suara Samudra beriringan dengan suara pintu yang Samudra dorong.


Tampak Rasya sedang mengenakan handuk menutupi tubuhnya.


"I-itu, ada tokek." jawabnya Rasya sambil mendekat pada Samudra dan memegang lengan bagian atas.


Rasya menunjuk pada tokek yang memang nemplok di dinding entah jalan mana dia sehingga berada di sana.


"Dia mengintip ku, dari mana sih dia? kan gak ada jalan ya?" gumamnya Rasya sambil memeluk tangan Samudra.


Samudra menyuruh tokek itu untuk pergi. "Hus-huus pergi-pergi?"

__ADS_1


Namun tokek tersebut tidak mau pergi seolah terus melihat ke arah Rasya dan Samudra.


Kedua netra matanya Samudra melihat ke arah Rasya. "Sudah belum bersih-bersih nya?"


"Sudah, ta-tapi belum mandi," jawabnya Rasya dengan mata yang ketakutan.


"Kenapa mesti takut sih? orang dia itu gak ganggu kok,"


"Tapi, aku takut? dia menyambar ku!" sahutnya Rasya dengan posisi masih memeluk tangan Samudra.


Samudra menatap wajah itu dengan sangat lekat, jiwanya kembali bergetar dan merasa ada sebuah rasa yang aneh dan mendorong dirinya tuk melakukan sesuatu.


Jari Samudra mengangkat dagu Rasya yang menatap sayu. Lalu wajahnya Samudra mendekati wajah Rasya yang tidak mengerti dengan apa yang akan terjadi.


Pada akhirnya, bibir Samudra berusaha mengecup bibir Rasya yang berusaha menghindar dari Samudra.


Namun pegangan Samudra begitu kuat dan Rasya pun tidak berdaya sehingga lagi-lagi bibirnya Rasya, Samudra dapatkan dengan sangat puas. Samudra terus menyapu dan ******* benda kenyal tersebut, napasnya memburu.


"Emmmm, leppas ..." Rasya memukul dada Samudra agar melepas pagutan nya.


Namun Samudra tidak mengindahkannya. Melainkan semakin menyeret tubuh Rasya ke dinding membuat dia lebih leluasa untuk melakukan aksinya.


Samudra malah memperdalam ciumannya. Sehingga Rasya merasa pengap dan tidak bisa lagi berontak.


Samudra tersenyum puas dan semakin ingin melancarkan aksinya itu. Ciuman Samudra turun ke bawah, menciumi leher Rasya dengan lembut.


"Ja-jangan, Tuan? aku mohon!" suara ?" Rasya pelan dan kedua tangannya memegang handuk dengan kuat, takut Samudra membukanya.


Samudra tidak menjawab melainkan terus menyusuri setiap Senti leher Rasya yang terus menggelinjang.


"Lepas, Tu-Tuan! jangan lakukan ini padaku? kasihanilah aku Tuan. Aku masih virgin, Tuan jangan lakukan padaku." Keluh Rasya.


Namun tetap Samudra tidak perduli, dia terus menyusuri leher lalu naik lagi ke bibir.


Rasya terus berusaha berontak. "Tu-Tuan jangan? Sebentar lagi Tuan akan menikah dengan Nona Karin. Jangan lakukan ini padaku, aku mohon?" Rasya memohon.


Dan setelah mendengar kata-kata itu dari Rasya, Samudra menjadi terdiam menatap kosong ke arah lain dan mengingat pada sang kekasihnya. Karin.


Lalu perlahan, tangannya Samudra melepaskan tubuh Rasya yang langsung keluar dari kamar mandi, dengan dada terus berdebar tidak menentu.


Samudra mematung di sana sampai tak bergeming. Lalu beberapa saat kemudian, ia keluar dan mendekati sofa. Untuk duduk di sana dengan perasaan yang tidak karuan, melirik ke arah Rasya yang sudah rapi dengan pakaian yang barusan ia belikan.


Rasya menunduk malu, duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan yang dilema. Entah harus marah? atau memberikan semua itu ....


.

__ADS_1


.


Terus dukung aku ya? terima kasih🙏


__ADS_2