
"Emang beneran anda mau mengantar ku?" Rasya berdiri menatap Samudra yang bertelanjang dada.
"Kalau mau? kalau nggak sih? ya ... ga usah!" Samudra menjawab dengan dingin.
"Baiklah, aku mau siap-siap dulu." Rasya menunjukan senyum manisnya. Menyiapkan pakaian buat Samudra, setelah itu membawa langkahnya menuju pintu.
Samudra memandangi langkah Rasya yang mendekati jalan keluar kamar.
"Tapi, Tuan? aku belum masak buat makan malam, sebab kata Tante Viona juga kita makan malam di sana," ungkap Rasya sekilas menatap, lalu menunduk tak berani menatap lebih lama.
Samudra terdiam sejenak, memandangi ke arah Rasya dengan tatapan dingin. "Ya, sudah. Buat apa masak kalau gak akan ada yang makan!" pada akhirnya bersuara.
Rasya menggangguk lalu keluar dari kamar tersebut, sementara Samudra memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan sejenak berendam di air hangat.
Rasya pun di kamarnya bersiap-siap untuk pergi keluar, yaitu dengan tujuan mau ke rumah Pak RT menemui Fiona dan Fatir yang sudah mengangkatnya sebagai anak angkat.
Bibir Rasya melengkung melukiskan sebuah senyuman yang indah, terlihat jelas dari cermin.
Seperti biasa, Rasya berdandan seadanya, walau sederhana tapi tetap tampak sangat cantik. Dengan mengenakan kaos dan celana jeans.
Tiba-tiba suara Samudra terdengar memenuhi gendang telinga Rasya. "Seperti itu penampilan mu ketika mau pergi?" tanya Samudra.
Rasya menoleh. "Memang harus gimana?" Rasya bertanya kurang mengerti.
"Iya, berdandan yang cantik dong ... masa kayak gitu?" Samudra langsung mendekati lemari milik Rasya. Dan mengambil pakaian yang masih baru dan diberikan pada Rasya.
"Ini pakai! jangan bikin saya malu!" ucapnya dengan ada dingin.
"Tapi ini juga, udah sopan kok." Rasya melihat penampilannya dari atas sampai bawah.
Lalu matanya Rasya melihat setelan yang barusan Samudra berikan, sebuah rok span panjang dengan belahannya tinggi di belakang, dan atasan kemeja bermotif dengan warna serasi.
"Emangnya dengan ini kenapa sih? yang penting kan sopan?" protes Rasya.
"Sudah jangan banyak tanya! pakai saja yang itu. Males aku harus berdebat dengan mu," ucap Samudra sambil duduk di sofa.
"Harus ganti lagi?" Rasya menggelengkan kepalanya.
Kemudian Rasya membawa langkahnya memasuki kamar mandi, untuk berganti pakaian yang Samudra berikan.
Tidak lama kemudian, Rasya kembali dengan penampilan yang berbeda, namun rambut tetap di kuncir di atas.
__ADS_1
Samudra memandangi Rasya dengan intens dari atas sampai bawah tak luput dari pandangan. Lalu dekati Rasya yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar mandi.
Rasya mundur satu langkah. "Tu-Tuan mau apa?"
Tangan Samudra bergerak, mengarah pada kepala Rasya. Membuat dada Rasya deg-deg?degan. "Tuan mau apa?" ulang Rasya, lagi-lagi mundur satu langkah dari Samudra.
"Ck." Samudra hanya bercak, lalu tangannya menarik ikat rambut dari kepalanya Rasya. dia mengacak rambut Rasya dibiarkan terurai begitu saja.
Rasya heran. "Kok begini, kan nggak rapi?" lagi-lagi Rasya protes dan menyampaikan rambutnya.
Samudra mengambil tas Rasya dan memberikannya kepada yang punya ponsel diambil dimasukkan nya ke dalam tas tersebut.
Rasya bengong namun tak luput mengambilnya dari tangan Samudra. "Sudah? sudah kan? tinggal kita pergi kan? tanya Rasya sambil menyoren tas nya.
"Iya, kita pergi sekarang!" jawabnya Samudra sambil mengayunkan langkahnya yang lebar keluar dari kamar miliknya.
"Ooh, iya Tuan. Aku mau bilang sesuatu," kata Rasya sambil berjalan.
"Tentang apa?" selidik Samudra, tanpa menoleh ke arah Rasya.
"Sebenarnya om dan Tante Viona, mau mengangkat ku anak angkat, dan aku dimintanya ikut sama mereka, untuk tinggal bersama. Tetapi--" Rasya menggantungkan perkataannya.
"Iya, mereka menganggap aku sebagai anak angkatnya. Katanya aku mirip putrinya yang hilang," sambung Samudra.
"Jangan-jangan. Kamu putrinya yang hilang bisa aja kan?" timpal Samudra.
"He he he ... ah nggak mungkin itu," Rasya menggeleng kepalanya pelan.
Samudra terdiam dan tampak membuang hembusan nafasnya kasar.
"Mereka ingin, aku tinggal sama mereka, tinggal bersama." Rasya berucap lirih.
"Terus?" selidik Samudra kembali.
"Aku nggak mau, karena aku memilih tinggal di sini saja. Lagi pula ... bukankah aku berhutang padamu? terus ... bagaimanapun kita sudah menikah dan aku berkewajiban untuk melayani mu," ucapnya Rasya sambil menunduk melihat ke arah lantai.
Sejenak Samudra menatap kosong, dia berpikir kalau ucapan Rasya itu benar. Seandainya Rasya dibawa sama Om Fatir dan tante Viona, terus siapa yang mau melayani dirinya di apartemen?
Apa kabar dengan pernikahan mereka itu? walaupun sebentar lagi dia akan menikah dengan sang kekasih, tapi dalam hati kecilnya Samudra. Belum rela bila harus melepaskan Rasya.
Lagi-lagi Samudra hembuskan nafas secara kasar. "Kau mau jadi anak mereka?" menatap dalam ke arah Rasya, berharap sebuah jawaban.
__ADS_1
"Siapa yang nggak mau. Menjadi anak orang yang baik, yang lembut dan penuh kasih sayang--"
Samudra bertanya kembali. "Lalu?"
"Ma-maksud aku ... aku mau diangkat jadi anak om dan Tante, tapi aku tetap ingin tinggal di sini." Jawabnya Rasya pelan.
"Kenapa? kamu mau di sini? bukannya lebih enak kamu ikut mereka dan menjadi anak orang kaya?" nada perkataan Samudra sinis.
Rasya menoleh. "Apakah anda ... tidak ingin aku tinggal di sini lagi? terus? anda membebaskan hutang ku yang banyak itu?" kedua matanya menatap nanar ke arah Samudra. Entah kenapa hatinya mencelos, mendengar ucapan Samudra barusan.
"Bu-bukan begitu sih," ucap Samudra sedikit gelagapan.
"Ya ... sudah, kita jalan!" Samudra berbalik dan melanjutkannya langkahnya melintasi pintu apartemen tersebut.
Rasya mengikuti Samudra dari belakang, langkah Samudra yang lebar. Membuat jarak jauh di antara mereka berdua.
Samudra menoleh ke belakang. dimana Rasya berjalan jauh dari dirinya, kemudian langkahnya Samudra terhenti.
"Lama amat sih jalannya? kayak keong saja. Cepetan?" pekik Samudra dengan nada kesal.
"Iya tunggu ih? Tuan ... kau aja yang terlalu cepat jalannya. Kayak berlari saja." Gerutu Rasya.
"Halah ... kau aja yang jalannya terlalu pelan-pelan?" tambah Samudra kembali.
Pada akhirnya pun mempercepat langkahnya, sehingga saat ini sudah sejajar dengan samudra. Memasuki pintu lift yang berpapasan dengan penghuni apartemen lainnya.
Rasya mengangguk hormat dan bibir tersenyum ramah, yang dibalas dengan senyuman pula dari ibu-ibu tersebut.
"Tapi anda mengizinkan aku menerima tawaran mereka, kan?" tanya Rasya setelah berada di dalam lift.
"Ya terserah, siapa sih yang nggak mau jadi anak orang kaya?" sinis Samudra lagi.
"Tapi bagi aku bukan soal itu," gumamnya Rasya.
"Apa?" tanya Samudra melirik sekilas lalu mengalihkan kembali ke lain arah ....
.
.
Mohon dukungan nya? dalam bentuk apapun.🙏
__ADS_1