Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 138 Hormati


__ADS_3

Samudra melambaikan tangan ke arah Karin yang berlalu meninggalkannya. Dia sendiri segera memasuki unitnya kembali.


Samudra membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang luas dan empuk itu, namun sudah berapa malam ini matanya sulit untuk terpejam.


Ini hari ke 8 Rasya berada di kampungnya, dan samudra sudah bersiap-siap menuju kampung tersebut untuk menyebut Rasya kembali ke Jakarta.


"Kau akan bagi-bagi ke sana, Bos," tanya Ubai pada Samudra.


"Ya lah, biar nanti malam sudah berada di sini lagi," sahutnya Samudra sambil mengancingkan kemeja putihnya.


"Tapi kalau seandainya, kau malas untuk ke sana, tidak apa-apa saya saja yang ke sana menjemputnya!" jelas Ubai pada Samudra.


"Tidak, aku saja yang ke sana, urus saja pekerjaan di kantor kau tidak perlu repot-repot untuk menjemputnya ke sana. Aku masih bisa sendiri," tegasnya Samudra sambil menyesap kopinya.


"Oke, baiklah kalau begitu." Ubai membereskan barangnya dan siap-siap untuk pergi ke kantor.


Setelah Ubai pergi, Samudra mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan yang tampak sepi, tanpa sentuhan dari tangan sosok Rasya.


Kemudian Samudra bergegas keluar dari unitnya tersebut, membawa langkah lebarnya menuju mobil yang terparkir di tempatnya.


Di sepanjang perjalanan, Samudra terus menghubungi nomor Rasya namun tidak aktif dan bila aktif pun tidak di angkatnya.


"Sial! kenapa telepon ku tidak pernah di angkat? sudah beberapa hari ini Rasya tidak pedulikan ku." Samudra memukul kemudi dengan rasa kesal yang menyiksa batinnya.


...---...


Di salah satu sudut kamar penginapan, Rasya duduk memeluk lututnya sambil menangis menyembunyikan wajahnya di atas lututnya itu.


Suara dering ponsel terus berbunyi. Sangat menganggu pendengaran, Rasya mengangkat wajahnya memandangi ke arah ponsel yang terus berdering tersebut.


Hatinya ingin sekali menerima panggilan tersebut. Namun kata sang ayah berpesan, hindari Samudra sebisa mungkin dan biarkan dia, laki-laki seperti itu tidak patut diperjuangkan.


Pria apa mancla-mencle seperti dia. Sudah jelas punya istri yang mengurus setiap hari, bukannya jujur dan dan memutuskan kekasihnya? ini malah semakin menjalani pertunangan bahkan mau menikah di waktu yang terbilang dekat dari sekarang.


Rasya tersiksa dengan perasaannya sendiri yang kebingungan, Samudra? dia suaminya yang harus dia hormati dan dia berkewajiban untuk menaatinya. Sementara Fatir juga selalu ayah, walau masih menunggu hasil tes DNA keluar.


Tetapi mereka tetap yakin kalau Rasya adalah putri ya dan jelas sebagai anak. Rasya berkewajiban untuk menuruti bila itu untuk kebaikan.


"Rasya? Bunda mau masuk, buka pintunya?" suara Viona dari balik pintu.


Hari ini Fatir dan Viona mau pulang ke kotanya dan Rasya akan mereka bawa. Toh acara tujuh harinya pak muhidin pun sudah selesai.


"Iya Bunda sebentar?" sahut nya Rasya dari dalam kamar tersebut.


Rasya buru-buru mengusap air matanya yang terus membasahi pipi, kemudian ia beranjak dari duduknya itu lantas mendekati pintu.


Cklek.


Pintu pun terbuka dan Rasya berdiri dengan wajah yang lusuh tampak basah dengan air mata.


Viona segera masuk melintasi pintu, menatap lekat ke arah Rasya seraya bertanya. "Kau kenapa sayang kamu nangis, apa kau nggak mau kami ajak ke rumah kami Hem?"


"Aku nggak kenapa-napa, Bunda ... cuma agak pusing aja," Rasya beralasan.


"Pusing? kamu sakit? ya udah, kita berobat ya?" Viona memegang pelipis Rasya yang terasa dingin. Viona tampak cemas dan menarik tangan Rasya diajak untuk berobat ke dokter.


Namun dengan cepat, Rasya menolak ajakan dari bundanya itu. "Tidak, Bunda ... aku cukup istirahat saja kok, sebentar juga akan sembuh."


"Mendingan kalau sembuh? kalau nggak gimana? kalau tambah sakit gimana? Bunda khawatir nanti sakitnya malah keterusan, berobat ya?" Viona kekeh ingin mengajak Rasya berobat.


"Nggak, Bunda. Aku cuma butuh istirahat saja, aku nggak apa-apa kok ..." Rasya kembali berjalan mendekati tempat tidurnya dengan segera berbaring tangannya menarik selimut yang ia pakai menutupi tubuhnya.


"Kamu belum sarapan sayang, sarapan dulu? terus minum obat, mau di belikan obat apa gitu? biar Bunda yang belikan ya? setelah sarapan kamu minum obat." Viona tampak khawatir pada keadaan Rasya.


"Em ... obat sakit kepala biasa saja, Bunda. Iya sebentar aku sarapan, untuk saat ini aku pengen tiduran dulu," ucap Rasya.


"Ya sudah, Bunda beli obat dulu ya? jangan kemana-mana istirahat saja di sini." Viona mengusap kepala Rasya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Iya, aku cuma pengen istirahat aja kok, Bunda ..." balasnya Rasya sambil mengeratkan selimut yang untuk menutup tubuhnya.


Viona kembali berjalan mendekati pintu, keluar dari kamar tersebut. Padahal sebenarnya viona mau ngajak Rasya untuk pergi sekarang punya ke kotanya Viona dan Fatir tinggal, namun karena terlihat Rasya kurang sehat seperti itu, sepertinya niat pulang harus diundur.


"Mas, katanya Rasya kurang sehat deh, gimana kalau pulangnya di undur aja, nanti sore atau besok pagi saja." Pinta Viona pada sang suami.


"Sakit apa dia?" tanya Fatir menatap ke arah sang istri.


"Katanya sih, sakit kepala biasa. Sudah aku ajak untuk ke dokter! dia nggak mau, dan dia minta obat sakit kepala biasa saja, aku mau belikan dulu ya?" sambung Viona.


"Yakin, cuma sakit kepala biasa?" selidik Fatir sambil mengemas pakaiannya.


"Bener, dia bilang seperti itu. Aku sudah mengajaknya untuk periksa ke dokter, namun dia nggak mau, Mas ..." sahutnya Viona kembali.


"Ooh ... ya sudah, kalau gitu coba aja dulu dengan obat biasa. Nanti kalau masih terasa pusingnya! kita paksa saja bawa ke dokter, atau dokter yang mintai datang ke sini," sambungnya Fatir.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya? kamu sarapan saja duluan!" ucap Viona dengan lembut pada suaminya itu.


"Oke, hati-hati ya? cepat kembali, lagi," pintanya Fatir kepada sang istri yang ngeloyor pergi.


Rasya yang meringkuk di bawah selimut, dia bangun kembali setelah Viona tidak ada di tempat tersebut.


Kepala Rasya terasa pusing, karena diakibatkan dia menangis dan bukan karena penyakit. Perlahan tangannya mengambil ponsel yang berada di atas nakas! dia tatap layarnya begitu lekat. Ada beberapa puluh panggilan dari Samudra yang tidak terjawab.


"Maafkan aku tuan muda? aku bukan niat menghindari darimu, tetapi memang seperti itu sih! kata ayah juga aku nggak boleh terlalu berikan hati kepadamu, selama kau masih memilih meneruskan pernikahanmu dengan dia," gumamnya Rasya dengan lirih.


"Buktinya katanya kau mau menjemput ku kemarin? tetapi kau tak kunjung menjemput ku, tapi sampai sekarang juga nggak ada. Jangankan dirimu? tuan Ubai pun nggak ada untuk menjemput ku kembali ke Jakarta."


Rasya pikir, Samudra tidak peduli dan melupakan janjinya yang akan menjemput dia, padahal Samudra juga pengen dari kemarin pergi menjemput Rasya. Namun dalam pikirannya Samudra, itu 7 hari terakhir, jadi biarkan temu kangen dengan keluarganya. Sampai hari esoknya, yaitu hari ini Samudra pun berangkat menjemput Rasya.


"Sayang? ini Bunda. Sudah bawakan obat sama sarapan," pekik Viona dari balik pintu.


Rasya menghela nafas panjang, sembari mengusap wajahnya. "iya Bunda sebentar?" Rasya kembali berjalan mendekati pintu.


Blak! ....


"Padahal, Bunda nggak usah repot-repot bawakan ke sini, aku bisa ke ruang makan kok," ucapnya Rasya sambil menatap nampan tersebut.


"Nggak pa-pa sayang, sudah makan di kamar saja. Nanti kamu tambah pusing lagi," Viona langsung berjalan masuk membawa nampan tersebut.


Rasya yang mengikuti langkah sang Bunda, duduk di tapi tempat tidur, kemudian Rasya langsung menyantap sarapannya walaupun rasanya kurang mood.


"Jangan lupa makan? yang bergizi lihat tubuhmu jangan sampai kurus lagi." Itu kata-kata Samudra yang selalu terngiang di telinga Rasya.


Viona tersenyum melihat rasa yang sedang sarapan. "Nanti setelah minum obat, kamu istirahat ya? dan kita akan pulang nanti sore! di sini juga sudah gak ada urusan lagi, ayah sama Bunda sudah mengobrol kan semuanya dengan bu Karsih, ayah pun sudah menyelesaikan semua hutang piutangnya bu Karsih dengan orang-orang yang berkaitan," ujarnya Viona panjang lebar.


"Terima kasih ya? Bunda sudah membantu ibu Karsih," ucapnya Rasya.


"Iya sayang, bagaimanapun ... mereka yang merawat mu dari kecil sampai besar seperti ini, kamu juga nggak boleh melupakan mereka, mereka tetap anggap keluarga sendiri ya?" tuturnya Viona.


"Iya Bunda, aku juga tahu itu. Dan aku nggak akan pernah melupakan kebaikan mereka bagaimanapun itu," Rasya mengangguk.


"Soal tes DNA itu, nanti ayah yang mengambil ke rumah sakit. Bila sudah ada hasilnya," lanjut Viona.


"Em ... emang belum bisa diambil ya? Bunda?" tanya Rasya menatap ke arah Viona.


"Belum mungkin satu minggu lagi, hasilnya baru akan keluar," sahutnya Viona sambil membelai rambut Rasya di selipkan ke belakang telinganya.


"Ooh gitu ya? menghabiskan sarapannya sampai habis.


Suara dering ponsel Rasya kembali terdengar. Membuat Viona menoleh ke arah sumber suara tersebut. Lalu mengambilkan itu.


Rasya menatap ke arah Viona yang mengambil ponsel tersebut, dengan hati yang berdebar-debar.


"Sayang, ini telepon dari Samudra kenapa nggak diangkat? kasihan lho, ya ampun ....ini sudah berapa puluh kali sayang ... dia manggil!" Viona begitu antusias melihat begitu banyak panggilan dari samudra yang Rasya biarkan.


Rasya melanjutkan makannya, setelah itu dia menoleh pada arah Bunda. "Tapi, Bun. Bukankah ayah melarang aku untuk dekat dengannya? ayah bilang kalau aku harus jaga jarak darinya" suara Rasya bergetar dan juga menundukkan pandangannya ke lantai.

__ADS_1


Viona menatap dengan lekat gadis itu, kemudian celingukan ke arah pintu. "Tapi bukan kayak gitu juga sayang, kalau dia telepon diangkat saja. Bagaimanapun kau masih istrinya, Samudra punya hak terhadap kamu. Begitupun kamu berkewajiban untuk mengurusnya! suara Viona agak pelan.


"Tapi kata ayah, Bun?" ucap Rasya sambil melihat ke arah pintu.


"Maksud ayah ...kamu boleh dekat dengan dia, karena bagaimanapun kalian kan masih suami istri cuman--"


"Cuma apa, Bun?" Rasya penasaran dan menatap ke arah Viona.


"Cuma ... kalau seandainya dia deketin kamu, menyentuh kamu! kamu jangan dulu mau, sebelum dia mengambil sikap memilih siapa? kamu atau dia? ayah itu takutnya Samudra menikah dengan kekasihnya itu, terus kamu menjadi janda. Dan kamu sudah tidak gadis lagi, jadi siapa yang rugi? kamu juga, yang enak siapa? tentunya Samudra yang dapat kegadisan kamu."


Ujar Viona menjelaskan maksud dan tujuan dari sang suami terhadap putrinya ini.


"Boleh, Bunda bertanya?" Viona menoleh serta menatap dekat kepada putrinya itu.


"Tanya apa, Bunda?" tanya balik Rasya setelah meminum obat.


"Apa Samudra sudah menyentuh mu?" selidik Viona dengan hati-hati.


"Maksudnya gimana, Bun?" Rasya kurang mengerti.


"Maksud bunda, kontak fisik, itu selain pegang tangan atau memeluk." Viona seraya menggerakkan tangan.


Rasya terdiam, lalu memorinya berputar. Apa saja yang pernah Samudra lakukan terhadap dirinya, selain pegang tangan dan pelukan.


Rasya ingat betul, kalau Samudra sudah beberapa kali mencium bibirnya dengan sadar. Kalau selebihnya dari itu ... Rasya tidak ingat. Dan soal ini sangat malu sekali untuk Rasya katakan pada sang bunda.


Makanya Rasya hanya bisa menggeleng, berbohong tidak mau mengakui apa yang pernah mereka lakukan.


"Masa sih? dia nggak ngapa-ngapain kamu? secara sudah berapa bulan bersama, tinggal berdua, apa iya dia tidak tertarik sama sekali?" Viona mengurutkan keningnya.


Rasya lagi-lagi menggeleng dia nggak mau bercerita, kalau memang mungkin sudah terjadi sesuatu pada dirinya dan samudra sekalipun.


"Ya ... sudahlah, kalau belum mau cerita nggak pa-pa, ya audah, istirahat sana? nanti sore kita akan pulang ke Surabaya ya?" Viona sambil membawa nampannya kembali, keluar dari kamar tersebut.


Rasya pun kembali berbaring, merasakan kepalanya yang agak pusing. Mencoba memejamkan kedua manik matanya.


Ketika siang pun datang, Fatir dan Viona sedang bersantai berdua di depan teras. Datang lah sebuah mobil yang mewah berhenti di depan penginapan.


"Itu seperti mobil Samudra, Mas," gumamnya Viona sambil melirik kepada sang suami.


"Iya benar, Samudra. Dia pasti mau menjemput Rasya," sahutnya Fatir sambil menatap ke arah mobil Samudra.


"Kalau Rasya nya mau, biarin saja, Mas. Bagaimanapun Rasya itu istrinya Samudra dan mereka mempunya hak satu sama lain," ujar Viona dengan lirih.


"Tapi sayang ... bukan kebersamaannya yang Mas takutkan, Samudra janji kalau dia nggak akan pernah mau menyentuh Rasya, Mas. Gak percaya, bagaimanapun kalau dia normal? mana kuat hidup bersama seorang wanita dalam satu atap bahkan halal juga," jelas Fatir.


"Aku tahu, Mas. Tapi Biar mereka yang memutuskan, dan aku lihat Rasya tampak shock ketika mendengar kamu bilang harus menjauhi Samudra.


Fatir menatap pada sang istri. "Kita nggak bisa menjamin sayang, menjamin kalau Samudra tidak akan menyentuh Rasya, Mas takutnya Rasya sentuh, kekasihnya pun disentuh! itu maruk namanya membuat orang lain nggak kebagian," jelas Fatir.


"Assalamualaikum ..." Samudra menghampiri ke arah Viona dan Fatir. Lalu bersalaman begitu rengkuh pada keduanya.


"Wa'alaikumus salam ... kau datang sendiri?" tanya Fatir menatap ke arah Samudra


"Iya, Om. Aku datang sendiri! Rasya nya mana? tadi aku ke rumah bu Karsih, kata mereka Rasya di sini," Samudra dengan langsung menanyakan keberadaan Rasya.


"Rasya ada di kamarnya, sepertinya dia kurang sehat." Jawabnya Viona sambil menunjuk ke arah dalam penginapan.


"Sakit? sakit apa, Tante?" tanya samudra dengan cepat.


"Nggak, cuman pusing doang kayaknya, sudah minum obat kok, sekarang lagi istirahat." Jawab kembali Viona ....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2