
"Sini?" Samudra menepuk lagi sofa, agar Rasya duduknya lebih dekat.
Rasya pun menuruti maunya Samudra, lanjut dia mengajarkan Rasya cara-cara belanja online. Dengan jelas, Dan Rasya tidak cukup sekali dua kali lalu hapal.
Melainkan Samudra harus berulang-ulang sampai Rasya benar-benar mengerti.
Hidung Samudra sesekali mendengus mencium bau rambut Rasya yang bergelombang, mengkilat yang kebetulan di saat ini tergerai begitu saja.
"Kau pake shampo apa sih? baunya sangat menyengat begini?" tanya Samudra sambil memegang hidungnya yang mancung tersebut.
Rasya memegang rambutnya lalu dicium beberapa kali. "Wangi kok, aku kan pake shampo yang dibelikan tuan ramah. Wangi gini juga, kok dibilang bau sih? Tuan aneh deh."
"Itu bau, saya gak suka baunya!" timpal Samudra kembali sambil meraih rambut Rasya lalu dicium-ciumnya.
"Kalau gak suka, gak usah dicium juga. Gak ada yang nyuruh anda mencium rambut ku. Lagian baya harum begini, masa di bilang bau?" Rasya menarik paksa rambutnya dari tangan Samudra.
"Pokoknya, ganti. Sekalian yang ini nih, pesan sekarang! yang ada itu buang saja, saya tidak suka baunya." Samudra menunjuk shampo yang ada di ponsel Rasya dan jadi pilihannya itu.
Sebenarnya shampo yang di pake Rasya itu bukannya bau, tapi kurang suka aja sebab shampo itu pilihan dari Ubai.
"Emang kenapa sih? yang ku pakai ini wangi kok. Masih banyak juga isinya, kan sayang kalau di buang. Mubazir dan mubazir itu temennya setan." Rasya menggerutu sambil melihat ke arah Samudra.
"Bilang setannya jangan lihat ke sini dong? dan nggak usah membantah perintah ku! ikuti saja," kemudian, hidungnya Samudra kembali mendengus. Minyak wangi mu juga sangat bau!"
"Terus gimana? beli lagi? yang ada di buang gitu? dasar orang kaya. Mubazir itu temannya setan." Protes Rasya kekeh kalau mubazir itu temennya setan.
"Jadi kau pikir aku setan gitu ha?" ucap Samudra dengan nada tinggi. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Rasya.
Sontak Rasya memundurkan tubuhnya. " Bu-bukan begitu, Tu-Tuan,"
Karena terus mundur. Membuat Rasya terjerambab ke belakang, dan kepala belakang Rasya pun membentur ke ujung sofa.
"Aww, sakit ..." desis Rasya sambil memegang kepalanya yang membentur pinggiran sofa yang ada kayu nya.
__ADS_1
"Ha ha ha ..." Samudra malah tertawa lepas melihat Rasya yang terjembab ke belakang dan kesakitan.
"Tolongin napa? kok malah ketawa sih?" gerutu Rasya sambil nyengir, masih memegangi kepalanya.
"Bangun aja sendiri! bukan dari jurang ini. Juga bukan dari pohon." Samudra cuek.
"Iih, Tuan tega. Gak punya perasaan! gak punya hati dan--"
"Dan apa ha?" tanya Samudra menatap tajam ke arah Rasya.
"Dan ... kejam," ucap Rasya kembali.
"Hem ... kejam bila aku per-k-osa kamu, atau menyiksa kamu. Baru itu namanya kejam! mau di tolongin gak?" Samudra mengulurkan tangan pada Rasya yang langsung meraihnya. Dan bangun.
"Duh ... panas juga nih." Tangannya mengusap kepala belakang.
"Ceroboh sih. Lagian ngapain juga mundur? kau pikir saya akan mencium kamu apa? no ... saya tidak tertarik. Jangan gede rasa dulu ya jadi orang," ucap Samudra begitu dingin.
"Ha ha ha ... itu namanya gede rasa. Kau pikir saya tertarik apa? sama wanita macam kamu. Nggak level." Samudra tertawa di akhiri dengan kata-kata yang tidak mengenakan.
Namun bagi Rasya hinaan dan cibiran dari Samudra itu menjadi terbiasa kalau masih sebatas itu-tu saja.
Kini Rasya mulai fokus kembali pada ponselnya dan melanjutkan belanja online yang tadi. "Pembayarannya gimana? kes atau transfer?" tanya Rasya menatap ke arah Samudra.
"Kes boleh, mau transfer juga boleh. Kau kan tidak punya rekening, nanti saya beri uang kes." Samudra beranjak ke kamarnya.
"Eeh, mau kemana sih? aku masih ngomong. Kok malah pergi? gimana sih, Tuan ini?" Rasya bergumam pelan.
Samudra pergi ke kamar, untuk mengambil uang kes buat Rasya berbelanja. Sesaat kemudian dia kembali dengan beberapa lembar uang di tangan.
"Ini, buat belanja. Pegang baik-baik jangan sampai lima naro." Samudra memberikan sejumlah uang ke tangan Rasya.
Kedua manik mata Rasya menatap heran uang tersebut. "Uang untuk apa ini, Tuan?"
__ADS_1
"Kok, nanya sih? itu buat bayar belanjaan. Emang kau mau bayar pake apa? mau pake daun ha? di sini daun pun tidak ada," seru Samudra dengan nada tinggi.
"Aish ... anda ini dikit-dikit bentak. Dikit-dikit marah, gak ada manis-manis nya apa? wajahnya aja manis cara bicaranya pahit," gerutu Rasya sambil menyimpan uang di sakunya.
"Kau ini bisanya menggerutu saja--"
"Gimana gak menggerutu? anda terus saja kalau bicara pake bentak dan nada tinggi." Rasya mendelik.
"Sudah! jangan ngoceh Napa sih? siapkan baju ku sekarang juga. Aku mau mandi, mau siap-siap untuk pergi menemui kekasih ku." Lantas Samudra berbalik dan mengayunkan langkahnya ke kamar.
Rasya masih berdiam diri di tempat semula, sambil asyik memainkan ponselnya. Menonton video yang membuat dia ketawa-ketawa sendiri.
Karena sudah beberapa waktu Rasya gak juga menyusul dirinya ke kamar. Samudra kembali nongol ke ruang tengah. "Ck. Hi ... malah asyik nonoton? siapkan baju ku sekarang?"
Rasya menoleh dan nyengir. "I-iya, sebentar, Tuan ... sabar, orang sabar di sayang Tuhan. Lagi seru nih."
"Dasar. Gadis bagasi, keras kepala. Gadis satu milyar tapi gak pintar. Di suruh malah nonton! menjengkelkan." Samudra menggelengkan kepalanya.
Kemudian, pada akhirnya Rasya beranjak dan bugh! kakinya membentur kaki meja. "Aaaaw." Mengangkat kakinya yang sakit.
Samudra yang baru saja. Mau balik ke kamar, menoleh dan menatap datar ke arah Rasya yang juga menoleh ke arah dirinya lantas nyengir menunjukan giginya yang berbaris rapi dan putih tersebut.
"Huuh ... kok bisa-bisanya sih? kaki nendang kaki? mana keras lagi kaki mu hei meja." Gerutu Rasya, melepas pandangannya pada meja.
Lagi-lagi Samudra menggelengkan kepalanya kasar, tidak habis pikir sama gadis ini, terkadang sembrono. Konyol dan juga selalu bikin ia kesal setengah mati.
Lalu Samudra memasuki kamar mandi. Ketika mau shampo'an, ternyata shampo yang ada di kamar mandi sudah habis. Tinggal botolnya.
"Ck. Habis lagi? mana sudah nanggung gini?" gumam Samudra berdecak kesal.
Terpaksa Samudra harus memanggil Rasya, membawa langkahnya mendekati daun pintu. "Ambilkan shampo di dapur? shampo ku habis," pekik Samudra dari dalam kamar mandi.
Rasya yang sedang menyiapkan pakaian Samudra di kamar itu, mendengar, namun anteng saja memilih baju yang akan di pakai sekarang oleh sang majikannya itu.
__ADS_1