
"Hah, sudahlah. Aku males berdebat dengan mu! kita berangkat sekarang!" ungkap Samudra dengan nada dingin. Dia pergi setelah menggeser kursi bekasnya duduk,
Ubai hanya melihat kepergian Samudra yang mendekati pintu utama. "Nona? kami pergi dulu ya?" ucap Ubai berpamitan pada Rasya yang berada di kamar Samudra tengah beres-beres.
"Ooh, iya. Hati-hati ya, Tuan Ubai?" peliknya Rasya dari dalam kamar.
Langkah Samudra terhenti tepat di depan pintu, mendengar perkataan dari Rasya yang ditunjukkan pada Ubai.
Samudra menoleh pada Ubai. "Bawakan tasku?" kemudian dia malah berbalik. "Sebentar? aku lupa, ada yang ketinggalan di kamar," membuka langkahnya yang lebar ke dalam kamar, yang di dalamnya ada Rasya.
Rasya menoleh ke arah pintu, melihat Samudra masuk lantas menutup pintu. "Ada apa, Tuan?apakah ada yang ketinggalan?" tanya Rasya pada Samudra.
Namun Samudra tidak menjawab pertanyaan Rasya. Samudra terus berjalan menghampiri Rasya. "Aku pergi dulu!" pamitnya Samudra.
"Ya ... sudah, pergi saja," jawabnya Rasya dengan ringannya
"Gitu aja," tanya Samudra mengerutkan keningnya.
"Emang harus ngomong apa?" balasnya Rasya kembali.
Samudra menunjukkan jarinya ke arah luar. "Tadi kau ke Ubai, berkata-kata sangat manis."
"Berkata manis gimana? aneh Tuan ini," elak Rasya yang merasa biasa saja
"Kamu lupa?" Samudra menatap tajam pada Rasya yang berwajah polos.
"Kata-kata yang mana sih?" Rasya malah bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Ck, tadi kau bilang, hati-hati ya tuan Ubai." Samudra menampakan raut wajah yang kesal.
"Ooh ... itu, terus emangnya kenapa?" tanya Rasya lagi terkekeh.
Samudra geleng kan kepalanya sembari berdecak kesal. "Sudahlah aku pergi." Samudra membalikan tubuhnya.
"Ya, sudah. Pergilah," ucap rasa pelan sambil memeluk selimut yang mau dia cuci.
Namun tiba-tiba Samudra kembali, menarik tengkuknya Rasya, dengan cepat. Samudra mencium bibir Rasya dengan singkat, lalu setelah itu dia pergi begitu saja.
Tentu saja Rasya terkesiap yang tidak terhingga, tidak menduga sama sekali dan tidak bisa berbuat apa-apa dengan perlakuan singkat itu, Rasya terbengong-bengong. Melihat langkah Samudra yang begitu cepat keluar dari kamarnya tersebut.
"Tu-Tu-Tuan?" gumamnya Rasya dengan terbata-bata.
Dadanya menjadi berdebat setelahnya. Dag-dig-dug tak menentu. Jantung seakan mau melompat dari tempatnya.
Rasya memegangi bibirnya yang barusan di kecup oleh Samudra, rasanya bekasnya masih menempel di tempat. Selimut yang berada di pelukannya pun terjatuh begitu saja.
Tubuhnya duduk di tepi tempat tidur Samudra, terus tertegun mengingat kejadian barusan.
Sementara yang dirasakan oleh Samudra tidak jauh beda dengan yang Rasya rasakan. Jantung Samudra berdegup begitu kencang, nafas pun sedikit memburu. Dada berdebar-debar sangat tidak beraturan.
Bibirnya senyum-senyum sendiri. Dan berusaha menyembunyikan nya dari Ubai yang duduk di depan membawa mobil. Samudra sengaja memilih duduk di belakang.
Kalau bersama Rasya dia bisa lupa akan Karin. Namun begitu juga hampir sebaliknya, besok adalah hari dimana akan di adakan resepsi pertunangannya dengan sang kekasih.
__ADS_1
Setibanya di kantor, keduanya sama-sama sibuk dengan tugasnya masing-masing yang kebetulan besok, khususunya Samudra mau libur sehari.
...---...
Sekitar waktu menjelang sore, Rasya sudah menyiapkan pakaian di paper bag. Agar bila ada yang jemput, tinggal pergi saja dan semuanya sudah siap.
Ketika Rasya sedang menyiram bunga-bunga nya di balkon. Ponselnya berbunyi dan ternyata Samudra yang menelpon dan bilang kalau sebentar lagi pak Panji akan datang menjemput Rasya ke apartemen.
Sebab dia sendiri akan pulang terlambat. Dan Ubai pun sibuk tidak bisa mengantar Rasya ke mension.
"Baiklah. Sama siapa pun tidak masalah! yang penting nyampe dengan selamat." Gumamnya Rasya setelah menyimpan ponsel ke dalam sakunya.
Tidak lama kemudian, benar saja kalau pak Panji menjemput Rasya seperti yang Samudra bilang.
"Apa anda sudah siap, Nona? saya di utus tuan muda dan tuan besar. Untuk menjemput mu!" ucap pak Panji sambil berdiri tegak dengan tangan yang di satukan di depan.
"Aku, sudah siap, pak Panji. Tinggal pergi saja kok," sahut Rasya sambil mengecek penampilannya itu.
"Baiklah. Mana yang harus saya bawa?" tanya pak Panji sambil mengedarkan pandangannya ke sekitaran.
"Oh, cuman ini saja kok, pak. Aku tidak bawa apa-apa lagi." Rasya mengambil dua paper bag yang berisi pakaian.
"Cuman itu? sini saya bawakan! silakan anda berjalan duluan!" pak Panji mengambil paper bag yang Rasya bawa dan menyilakan Rasya tuk berjalan.
Keduanya pun berjalan beriringan. Rasya berjalan di depan dan pak Panji di belakang, setelah sebelumnya mengunci pintu.
"Berasa menjadi seorang putri, hi hi hi ..." batin Rasya sambil berjalan menuju parkiran.
Silakan, Nona?" 0ak Panji membukakan pintu buat Rasya.
"Terima kasih, Pak?" Rasya segera masuk dan duduk tidak lupa memasang sabuk pengaman.
"Oya, Pak. Sudah lama kerja dengan tuan Sam?" tanya Rasya mencoba membuka obrolan dengan pak Panji yang duduk di dekatnya.
Sementara supir melajukan mobil yang Rasya saat ini tumpangi.
"Saya sudah lama, Nona. Sedari tuan muda masih kecil sekali sudah bekerja bersama tuan besar Suyoto dan nyonya." Jawabnya pak Panji dengan jelas.
"Ooh, lama juga ya? dari kecil sampai blangkotan seperti sekarang ini!" ucap Rasya sambil tersenyum.
"Apa itu blangkotan, Nona?" tanya pak Panji yang merasa penasaran.
"Bapak tidak tahu apa itu kata blangkotan?" Rasya malah balik tanya pada pak Panji.
Pak Panji menggeleng pelan. Tidak Nona. Makanya saya bertanya?"
"Di daerah saya, blangkotan itu ... sama dengan kata tua, Bapak bekerja ketika tuan muda masih keci dan sampai sekarang dia sudah tua." Rasya menjelaskan.
"Ooh, begitu? benar Nona, jangan keras-keras bilang tua nya? nanti ada cicak putih yang mendengar dan mengadu pada tuan muda!" bisik pak Panji sambil mendekatkan mulutnya pada gadis yang berada di sebelahnya itu.
"He he he ... Bapak bisa saja! ternyata Bapak suka bercanda juga rupanya." Rasya malah tertawa.
Pak Panji pun ikut tertawa, kemudian menyesap rokok listriknya. Netra nya melirik pada Rasya. "Apa Nona kerasan tinggal di apartemen tuan muda?"
__ADS_1
Rasya mengerutkan keningnya. "Kerasan? apa itu? kalau bangunan iyalah keras Pak, masa lembek?"
"Em ... maksud saya, apa anda betah tinggal bersama tuan muda?" ulang pak Panji sembari menunjukan senyum ramahnya.
"Ooh, bilang dong dari tadi, betah gitu? betah dong Pak." Rasya mengangguk.
"Apa tidak pernah ada yang merayap sama Nona? secara cuma tinggal berdua, sementara tuan Ubai tidak menginap di sana!" selidik pak Panji.
"Ha? merayap apaan? cicak atau ... kecoa merayap? Bapak ada-ada saja deh." Rasya menggeleng sambil tersenyum.
"Sudah lupakan saja perkataan saya barusan!" sambung pak Panji, melepas pandangannya ke depan luar jendela.
"Paling, Tu--" Rasya menggantungkan ucapannya sambil nyengir.
"Kenapa, Nona? apa tuan muda pernah nakal sama anda?" pak Panji menjadi penasaran.
"Ooh, tidak-tidak. Biasa saja kok." Rasya menikmati perjalanannya di suasana sore yang indah. Cerah dihiasi dengan awan merah yang terkena sinar matahari senja.
Tidak lama kemudian mobil yang di tumpangi oleh Rasya, sudah memasuki pekarangan mension yang luas dan sudah dihias dengan dekorasi yang cantik.
"Wah ... fantastis? mewah sekali, ini cuman acara tunangan seperti ini? gimana kalau menikah? gila ... cantik sekali," Rasya begitu terpesona melihat suasana mension yang sudah dihiasi tersebut.
Bukannya berjalan, melainkan mematung di tempat dengan pandangan yang terus menyapu suasana sekitar.
Pak Panji yang berdiri tidak jauh dari gadis itu hanya tersenyum melihat ekspresi Rasya yang begitu antusias. Matanya seakan tidak berkedip.
"Seandainya aku pun seperti itu? alangkah senangnya hati ku," gumamnya dalam hati, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah sendu ketika mengingat bahwa ini acaranya Samudra dan kekasihnya yang bernama Karin.
"Mari, Nona? kita masuk, tuan dan nyonya pasti sudah menunggu!" ajak pak Panji.
Rasya menoleh pada sumber suara, lalu mengangguk dan mengikuti langkah pria paruh baya tersebut.
Kedatangan Rasya disambut hangat oleh orang tua Samudra. Dan bukan seperti asisten tetapi bagai seseorang yang cukup istimewa di keluarga itu, sehingga para asisten lainnya merasa iri dengan perlakuan sang majikan yang berasa beda.
Padahal di mata mereka Rasya itu sama aja dengan mereka, asisten juga, yang beda cuma Rasya asisten pribadi Samudra di apartemennya.
"Aku aneh deh, kok keluarga tuan sangat welcome pada gadis itu, padahal kan sama saja seperti kita, hanya asisten!" bisik Cici.
"Iya, sama saja asisten. Tatapi perlakuan sang majikan lebih istimewa gitu. Atau jangan-jangan--" Dora menggantungkan perkataannya.
"Oh iya-ya? secara di apartemen cuma berdua! jangan-jangan Rasya sudah digerayangi tuan muda, habis deh di semek-semek iih ... jadi ngeri." Timpal Cici.
"Iya, buktinya di sini saja di kasih kamar yang lebih bagus dari kita! Oya tau gak? waktu itu nih ya? aku lihat tuan muda keluar dari kamar yang di tempati Rasya subuh-subuh. Bayangin, subuh-subuh." Timpal Dora kembali.
"Sebentar! aku bayangin dulu?" Cici mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari seolah sedang membayangkan sesuatu. "Sorry, gak ke bayang tuh. Iya-ya! gak mungkin kan? secara cuma berdua, kan? sesetia apapun laki-laki. Mana tahan? tinggal berduaan dengan cewek. Iya, kan?" timpal Cici kembali dengan sinis nya.
"Settt ... kalian ngegibahin apa sih hah?" suara Mulan mengganggu obrolan mereka berdua. Sementara yang lainnya hanya mendengarkan saja ....
.
.
Apa kabar semuanya? semoga disaat ini berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa 🤲🤲
__ADS_1