
"Mama akan sangat senang sekali bila kau hamil sayang." Bu Riska dengan wajah yang sumringah.
"Tapi Mah ... aku mau sekolah dulu, kalau aku hamil gimana? gak bisa sekolah dong?" rasa menetap intens ke arah bu Riska.
"Ya ... nggak apa-apa sayang, sekolah ya sekolah saja, enggak apa-apa kok. Lagian kamu kan sekolahnya kejar paket, nggak papa juga kalau kamu hamil." Jawabnya Bu Riska dengan santainya.
Rasya terdiam, membayangkan kalau dirinya hamil? sekolah. Perut buncit, apalagi sampai menggendong bayi untuk belajar. Membuat Rasya menggoyangkan bahunya.
"Sayang ... melahirkan, menstruasi dan menyusui itu sudah kodratnya perempuan, apalagi bagi perempuan yang sudah bersuami seperti diri mu ini!" ucapnya lirih.
"Tapi Mah ... rasanya aku belum siap deh hamil," ungkap Rasya perasaan nya jadi deg-degan begini.
Samudra baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Bunda dan sang istri yang sedang mengobrol.
"Ngobrolin apa sih serius amat? mana aku nggak diajak-ajak lagi," ucap Samudra sambil keringkan rambutnya yang basah dengan handuknya kecil.
"Begini Sam, istrimu jangan sampai pakai kontrasepsi ya? karena takutnya ... kalau sampai Rasya memakai kontrasepsi, nantinya suka sulit untuk hamil. Mendingan punya anak dulu, baru nanti ... kalau mau? pakai konsepsi!" pesan bu Riska sembari melihat ke arah Samudra dan Rasya bergantian.
Sejenak Samudra tertegun melihatkan sang bunda. Kemudian pada Rasya yang sedang bengong, dia tatap bergantian. "Memangnya Rasya beneran hamil sekarang ini?"
"Nggak, enggak tahu. Tapi barusan bilang ... Rasya belum siap hamil, karena dia yang masih mau sekolah! kata Mama sekolah ya sekolah saja, nggak apa-apa kok. Lagian kan cuman belajar paket ya, kan! pokoknya Mama sama papa nggak setuju! kalau Rasya memakai kontrasepsi. Mau Rasya atau kamu, sama saja gak boleh ya?" pesan Bu Riska.
"Kok Mama maksa sih?" Samudra menatap ke arah sang Bunda.
"Sam, Mama cuma punya putra kamu satu-satunya lho. Dan Mama ingin kamu sendiri punya anak yang banyak jangan seperti mama dan papa? ngerti nggak?" ungkap nya bu Riska.
Rasya merasa pusing dengan omongan bu Riska, dia mencoba memejamkan kedua matanya lalu berbaring. Menutup dirinya dengan selimut tebal yang ada di sana.
Kemudian bu Riska pun keluar dari kamarnya Samudra, kini hanyalah Samudra dan Rasya yang berada di kamar tersebut.
Samudra masih menggunakan handuk di pinggangnya berjalan mendekati rahasia yang paling atas tempat tidur.
"Sya, apa benar ibu hamil?" suaranya pelan menatap intens ke arah wajah Rasya.
Kedua manik matanya Rasya terbuka, melihat ke arah Samudra. "Ya ... mana aku tahu? aku kan gak pernah hamil sebelumnya?"
Kemudian punggung tangan Samudra menyentuh pelipis Rasya yang mulai normal kembali suhunya. "Terus sekarang kau masih pusing dan mual-mual?" sambungnya Samudra.
"Sudah sedikit membaik kok," jawabnya Rasya seolah dia baik-baik saja, padahal belum ada perubahan nya lagian obat pun masih di tangan Ubai.
Samudra mengelus rambutnya Rasya, dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari wajahnya sang istri.
dengan pelan jangan mendorong dada Samudra. "Pakai baju sana ... dari tadi gitu terus?"
"Baju mana? kan belum di siapin, istri ku masih juga baringan." Balas Samudra sambil masih di posisi yang sama berbaring miring menghadap ke arah sang istri.
"Ya ampun ... gak ngerti amat ya? istrinya sedang sakit!" Rasya mengibaskan selimutnya lalu bangun.
Namun geph! tangan Rasya, Samudra tangkap. "Tiduran saja, aku bisa ambil sendiri kok."
Rasya mengarahkan pandangan pada Samudra dan keduanya saling tatap dengan mesra. Sejenak pandangan mereka terkunci satu sama lain.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Bos, saya bawakan obat buat, Nana!" suara Ubai dari balik pintu.
Membuat meraka menghentikan acara tatap-tapan nya. Kepala Samudra menoleh ke arah pintu. "Masuk?" Pekik nya.
Ubai pun mendorong pintu, lalu masuk setelah memastikan kalau tidak ada yang signifikan dari dalam. Takutnya mengganggu Samudra dan Rasya.
"Ini obat Nona, diminum ya? jangan lupa, Nona biar cepat sembuh." Ubai memberikan obat tersebut pada Rasya.
__ADS_1
"Makasih, Tuan Ubai. Sudah repot-repot untuk ku?" sambut Rasya sembari menunjukan senyum yang tipis.
"Sama-sama, Nona. Semoga kau cepat sembuh." Balas Ubai sambil membalas senyuman dari Rasya.
Samudra mendelik tidak suka pada Ubai. "Sudah? sudah belum cuap-cuap nya? kau jangan ganggu aku dong ...."
Ubai tersenyum pada Samudra seraya berkata. "Sorry, bukan maksud mengganggu? tapi memberikan obat agar segera diminum biar cepat sembuh!"
"Ya sudah, sana? pulang sana. Atau makan dulu sebelum balik ke kantor," sambung Samudra mengingatkan Ubai untuk makan sebelum pergi.
"Baiklah. Aku pergi dulu, selamat beristirahat? sekali lagi cepat sembuh ya?" Ubai berdiri bersiap untuk pergi.
Tinggallah Samudra yang masih bertelanjang dada di samping Rasya, Rasya sendiri meminum obatnya agar cepat sembuh.
Tangan Samudra menarik pipi Rasya, lalu mengecupnya pipi sebelahnya dengan mesra.
"Em ... aku mau tiduran! ngantuk nih!" gumamnya Rasya.
"Ya, sudah ... kau tiduran di dada ku sini?" Samudra memeluk kepala Rasya beriringan dengan dia sendiri yang membaringkan kepalanya ke bantal.
Kini keduanya sudah berbaring saling pelukan. Apalagi mungkin karena obat yang bereaksi, Rasya pun merasa ngantuk berat.
Samudra mencium kening Rasya dengan mesra. "Tidur lah, i love you!"
"Hem." gumamnya Rasya sambil terpejam.
Di lantai bawah, Ubai selesai makan dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Tiba-tiba Vera menghampiri.
"Tuan Ubai apa kabar? lama kita tidak bertemu. Kau semakin tampan saja." Sapa Vera dengan gaya genitnya.
"Lho, kok kau ada di sini?" Ubai menatap heran pada Vera yang berada di sana.
"Aku kan ikut Rasya, secara aku itu saudaranya kan? jadi apa salahnya aku berada di tempat dia tinggal!" Vera memperlihatkan sikap yang angkuh.
"Sejak kapan kau saudara dia? bukankah kau itu musuh dia? sebab kau kan membenci, Nona dari dahulu juga bukan?" Ubai menatap sini ke arah Vera.
Bu Riska yang sedari tadi berad di sana dan mendengarkan obrolannya hanya menghela nafas panjang, dia mengamati dengan intens ke arah Vera yang berjalan meninggalkan tempat tersebut.
"Hem, emangnya dia tidak suka bukan sama Rasya, Bai?" selidik Bu Riska menatap penasaran pada Ubai.
"Iya ... begitulah." Jawab Ubai sambil beranjak dari duduknya terus berpamitan.
Vera yang jalan-jalan mengamati dan menghapal keadaan rumah besar tersebut. Matanya dibuat sering terbelalak bila menemukan pemandangan yang indah dan mewah.
"Wah ... benar-benar ya, ini rumah orang kaya! di dalam lebih dari yang terlihat dari luar. Sungguh eksotis banget ... ya Tuhan ... aku baru lihat kolam renangnya, aw aw-aw, aw ... luas dan airnya bok ... bening buanget ..." Vera begitu heboh melihat-lihat sekitar rumah tersebut.
"Jadi pengen nyemplung ke sana!" gumamnya Vera sambil celingukan dan melihat apakah ada orang?
Terlihat ada beberapa asisten yang sedang mengerjakan tugasnya di beberapa titik. Vera buru-buru mendekati kolam dan menurunkan kakinya.
"Berr ... seger nya ... sejuk bagaikan di surga!" Vera menunjukan ekspresi wajah yang teramat menikmati suasana.
"Aku harus bisa tinggal di sini, apapun caranya." Ucap Vera penuh ambisi.
Hari sudah menunjukan malam, Rasya baru saja selesai makan dengan yang lain. Bu Riska menyuguhkan puding yang dari penampilannya saja bikin menggugah selera.
Sorot mata Rasya tertuju pada puding tersebut. "Kue puding ya Mah? sepertinya enak sekali tuh?"
"Iya sayang, makan lah! barusan kau makan sedikit seksi. Nanti kau kurus yang malu Mama pada orang tua mu, dikira gak di kasih makan. Gimana? mertua yang jahat dong Mama." Bu Riska tersenyum.
"Mama bisa aja, aku makan sedikit karena aku kurang enak badan. Kalau aku sehat juga pasti makan banyak!" sahut ya Rasya.
"Lihat badan mu itu, dulu pas kita ketemu kau kurus banget seandainya aku peluk juga gak bakalan terasa! sekarang tubuh mu berisi. Gak seperti dulu yang gak dikasih makan." Samudra bicara seperti itu sambil melirik sinis pada Vera yang dengan ekspresi biasa saja, wajah tanpa bersalah gitu.
"Iya-iya ... sudah mendengarnya 98 x, iya. Aku tahu itu," Rasya menggerakan bibirnya ke depan yang di tujukan pada Samudra.
__ADS_1
"Tapi, biarpun kurus kau nafsu juga ya Sam? ha ha ha ..." pak Suyoto nimbrung dibarengi dengan tertawa.
"Nggak, siapa bilang?" elak Samudra.
"Bohong Pah. Dia itu suka banget iseng gitu sama aku," timpal Rasya.
"Itu iseng, bukan nafsu Rasya ... beda!" ucap Samudra pada Rasya.
"Oo, beda ya?" Rasya nyengir sambil menikmati pudingnya dengan lahap.
Vera memutar bola matanya jengah. "Dasar, tidak tahu antara iseng dan nafsu saja tidak bisa membedakan."
"Kau kapan akan pergi dari sini? bukannya kau hanya ingin numpang jalan saja, bukan untuk menginap di sini apalagi mimpi tinggal di sini!" Samudra menatap tajam ke arah Vera.
Pak Suyoto, Bu Riska dan Rasya. Ikut melihat ke arah Vera, ingin tahu jawaban apa yang akan dia berikan.
Vera terlihat kikuk, mendengar pertanyaan Samudra. "I-iya, niat aku memang seperti itu tapi kan bagaimana? interview nya diundur dan aku nggak tahu harus tinggal di mana! emangnya kalian tega aku tinggal di kolong jembatan gitu?"
"Kau kan ber'uang, kau bisa kontrak rumah bukan? ngekos! karena bila kerja pun kau butuh tempat tinggal, bukan numpang di tempat orang?" jelas Samudra.
"Tolonglah ... biarkan aku nginep di sini berapa hari lagi? sampai interview dan aku diterima, barulah aku mau ngekos. Masa nggak dikasih kesempatan sih?" ucap Vera penuh permohonan dan menunjukan ekspresi wajah yang memelas.
"Sekarang Kau bilang seperti itu? apa tak tega? bla-bla, bla-bla. Bla, dulu juga kau tidak peduli kan dengan rasa mau kayak gimana Dia?" Tegas Samudra kembali. "Sudahlah, kau cari kosan sana? nggak usah tinggal di sini. Muak saya lihatnya."
"Aish ... kau mengusir ku? kau lupa ya? istri mu sampai sebesar ini karena orang tua ku juga!" Kini Vera nyolot sambil sedikit menghentakkan sendok ke piring.
"Kak Vera? kau tidak sopan seperti itu di rumah orang!" Rasya akhirnya mengeluarkan suara juga pada Vera.
Vera berdiri dan menunjuk pada Rasya dan samudra. "kau dan suamimu itu tidak tahu berterima kasih kau hidup sampai sekarang ini karena keluargaku juga bukan hidup di gelandangan di jalan bukannya kau tinggal di kolong jembatan--"
"Heh! saya tahu benar! kalian merawat istriku itu dengan imbalan, Dulu ketika balita kalian merawatnya itu dengan imbalan dari si penculik, sampai kalian bisa membeli rumah. Jadi itu rumah siapa? rumah Rasya juga! dan setelah orang tuanya Rasya tahu dan mengambil dia dari orang tuamu! orang tua mu juga diberikan imbalan yang banyak, yang fantastis. Jadi kalian merawat dan menjaga Rasya itu nggak ... gak main-main woiii ... bukan cuma-cuma." Suara Samudra begitu menggebu-gebu.
Wajah Vera begitu merah, dia tampak marah pada samudra.
"Sekarang kau seolah minta dihargai atau di balas Budi? sudah gila kau?" tambahnya Samudra.
"Dasar kau tidak tau diri? tidak tau balas Budi." Tangan Vera mengepal dan mengambil sendok hendak di lempar ke arah wajah Samudra.
Rasya yang melihat itu dibikin panik. "Kak Vera ja--"
Namun langsung tangan Vera ditangkap oleh tangan Pak Suyoto. "Apa-apaan kau? kau tidak perlu membuat onar di sini, kalau memang kenyataannya seperti itu? buat apa kamu marah? terima saja."
Vera memukul meja, dia merasa sangat tidak dihargai di rumah itu. Manik matanya tertuju pada semua yang ada di sana!
"Ternyata ini perlakuan kalian pada tamu, bagaimanapun saya di sini adalah tamu. Tapi kalian memuakkan, seperti bi-na-tang!" teriak Vera hingga suaranya memenuhi ruang tersebut.
"Lu yang seperti bi-na-tang, kau wanita tak ubahnya singa lapar yang mencari mangsa. lu pikir gua tidak tahu akal busuk mu yang berpura numpang ada interview lah, bohong! semua itu bullshit hanya omong kosong karena sebenarnya kamu ingin menikmati hidup senang seperti Rasya, bukan?" pekik Samudra kembali.
"Lu yang bi-na-tang, lu yang seperti singa, dan kalian semua seperti a-n-j-ing! dari luar terhormat tapi dari dalam kelihatan boroknya!" teriakan Vera membuat asisten yang berada di luar pun berdatangan ke tempat tersebut.
Samudra dan pak Suyoto semakin mengepalkan tangannya, rasanya ingin sekali menghantam atau memukul mulut gadis itu. Bila saja tidak bisa tidak dapat mengontrol emosinya.
Bu Riska yang memegangi Rasya yang tampak panik tersebut, dan dia tampak berusaha meredam emosinya yang sebenarnya meluap-luap, gadis itu justru tidak tahu diri, padahal dirinya sudah mengijinkan menginap.
"Kau sendiri tidak bersyukur ya?" kalau kau sudah saya ijinkan menginap di sini, tapi kok kamu malah kurang ajar ya?" suara Bu Riska pelan dan ditujukan pada Vera.
Vera mengedarkan pandangan pada Bu Riska dengan tajam, giginya mengerat. Mata melotot. Dan tangannya mengangkat piring bekasnya makan lalu di hempaskan.
Break. Break, break ... beradu dengan piring mangkok yang ada di meja.
"Saya akan pergi dari sini! agar kalian puas." Vera bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil tas, untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Sana pergi? saya tidak sudi melihat wajah mu lagi walau sekilas." Teriak Samudra.
Rasya tampak shock, kegarangan Vera terlihat lagi setelah sekian lama tidak nampak di ruang mata ....
__ADS_1
.
.