Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 185 jadi ilpil


__ADS_3

"Tante! kau itu hanya mertua dan uang yang Rasya pakai itu dari suaminya dan itu hak nya Rasya sebagai istri. Jadi Tante tidak usah ikut campur ya?" Vera berucap kasar dan tatapan yang tajam terhadap Bu Riska.


Membuat Bu Riska mengepalkan tangannya. Benar-benar membuat dia marah marah-marah nya. Giginya mengerat, Rasya segera menenangkan Bu Riska dengan cara mengusap dada sang ibu mertua.


"Sabar, Mah ... dia memang begitu perangnya. Yu Mah? kita pergi saja dari sini!" Rasya menarik tangan Bu Riska agar menjauh dari tempat tersebut.


"Pergi sana? orang yang ku butuhkan Rasya kok, ngapain ikut campur?" gerutu Vera sambil memasukan makanan ke mulutnya.


Setelah berada di luar ruangan, Bu Riska menarik tangannya dari genggaman Rasya.


"Untung kamu tidak terdidik seperti itu, Nak?" ucap Bu Riska sembari mengontrol emosinya.


"Sabar ya, Mah ... dia memang begitu, Mamah cuma berhadapan dengan satu orang saja. Aku dua orang, Mah. Tiga malah!" ucap Rasya sambil mengusap bahu sang ibu mertua.


"Ya Allah ... kau kuat hadapi orang seperti lebih dari satu?" tanya Bu Riska yang direspon oleh Rasya dengan anggukan.


"Kau begitu kuat, tegar dalam menghadapi kenyataan hidup. Mama tidak bisa membayangkan gimana menderitanya hidup mu di kala itu!" Bu Riska memeluk Rasya.


Pak supir hanya berdiri seperti ajudan saja, tidak bergerak dan tidak bersuara. Hanya melihat dan menggerakkan netranya.


"Mah, aku ke sana dulu ya? tunggu sebentar!" Rasya melepas pelukan Bu Riska lalu mengayunkan langkahnya kembali ke ruangan inap Vera.


"Kak, Vera bisa menyakitiku. Menghina ku, membentak ku dan apalah namanya? tapi kenapa harus dilakukan pada keluarga suami ku? Ku sudah biasa dengan sikap kak Vera, tapi jangan pada mereka!" ucap Rasya setelah tiba di hadapan Vera.


"Kau, berani ya sekarang dengan ku? mentang-mentang sudah kaya ya? ingat kau dulu makan sama garam--"


"Kak, aku makan sama garam karena ulah kalian, bukan karena ibu dan bapak susah! tapi kalian tega sama aku dan menjadikan ku hidup tidak layak." Suara Rasya bergetar dan menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.


"Kau itu ya? ku doakan pernikahan mu itu hancur! biar jadi janda kau, karena sesungguhnya kau itu sudah di takdirkan hidup menderita." Vera mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Rasya.


Kedua netra Rasya berkaca-kaca, hatinya terasa sakit menerima sumpah serapah dari mulutnya Vera yang sungguh tak berpendidikan itu.


"Kak Vera jangan begitu, gimana kalau doa itu menimpa kak Vera sendiri? kak Vera mau seperti itu? kak Vera benar-benar ya! aku malas berhadapan dengan orang seperti kak Vera lagi!" Rasya berbalik dan meninggalkan Vera.


"Bodo amat, emang saya pikirin apa?" Vera melanjutkan makannya dengan bibir komat-kamit.


"Sayang kenapa kamu? kok nangis?" menik mata bu Riska melihat ke arah pintu ruangan tempat Vera di rawat dan Rasya pergantian.


Bu Riska berpikir, Ini pasti upahnya Vera, wanita itu pasti sudah menyakiti hati Rasya, mantu kesayangannya itu.


"Aku nggak apa-apa, Mah, yuk kita pulang? sahutnya Rasya sambil mengusap pipinya yang terlihat basah.


"Oke! kita pulang? ngapain di sini? kamu nggak dihargai sama sekali, Mama jadi ilpil melihatnya! padahal ... kemarin Mama sudah merasa kasihan sama dia itu. Bahkan Mama ada niat untuk membantu, memberi dia pekerjaan. Tapi ... melihat sikapnya seperti itu, ih ... amit-amit," ucap Bu Riska, kepalanya menggeleng sembari menggandeng tangan Rasya pergi dari tempat tersebut.


"Maaf ya, Mah ... sekali lagi aku minta maaf karena kak Vera sudah menyakiti hati Mama?" ucap Rasya merasa tidak enak.

__ADS_1


"Sudahlah nggak apa-apa, jangan dipikirin! yang penting kita tidak bertemu lagi dengan orang seperti itu, malas Mama!" ucap Bu Riska sambil berjalan.


Setelah melewati koridor Rumah sakit, akhirnya mereka bertiga sampai juga di tempat parkiran. Lantas memasuki mobil tersebut untuk menuju pulang! namun sebelum pulang, Bu Riska mengajak Rasya untuk mampir ke butiknya yang berada di sebuah Mall.


"Kira-kira, Samudra marah gak ya? kalau aku ikut sama Mama?" tanya Rasya yang teringat kepada suaminya.


"Samudra nggak bakalan marah, apalagi perginya sama Mama. Tenang saja, kalau marah Mama yang nggak akan marahi dia balik, oke?" bu Riska meyakinkan sang mantu.


"Oya, ya sudah! aku chat dulu ya Samudra nya?" kemudian Rasya mengeluarkan ponselnya dan memberitahu pada Samudra kalau dia akan jalan dulu dengan Mama Riska.


Namun lama ditunggu, tidak ada balasan dari Samudra. Mungkin dia sedang sibuk sehingga dia tidak membalas chat dari Rasya.


"Dia tidak membalas, Mah?" manik Rasya menoleh ke arah Bu Riska.


Tidak apa, mungkin sedang sibuk dia," timpalnya bu Riska kembali.


"Ooh iya, dia kan lagi meeting Mah. Katanya hari ini ada meeting." Rasya baru ingat kalau Samudra mengatakan hari ini ada meeting.


"Iya nggak apa-apa." Lanjut Bu Riska.


Mobil yang ditumpangi Rasya dan bu Riska melaju dengan kecepatan sedang, melewati kuda-kuda bersi lainnya! jalanan yang tampak begitu ramai serta cuaca yang begitu panas membuat tenggorokan Rasya dan Bu Riska itu haus, ingin dengan cepat-cepat sampai di tempat tujuan.


Selang berapa puluh menit kemudian, akhirnya mobil pun sampai di tempat yang dituju. Di depan sebuah Mall yang besar dan pengunjungnya pun tampak ramai.


"Iya, di sini. Yu masuk?" ajak Bu Riska.


"Tapi, itu namanya Mall?" Rasya menoleh ke arah ibu mertuanya.


"Iya sayang, di sini butik, Mama berada. Di dalam Mall tersebut." Bu Riska menunjukkan senyumnya kepada Rasya.


"Ooh gitu ya? jadi penasaran kok banyak pengunjung kayak gini ya? kayak swalayan uang ada di departemen gitu," ucap Rasya kembali, maklum. Seumur hidupnya baru kali ini memasuki Mall sebesar ini.


"Di sini itu, ada tempat pembelanjaan ada tempat permainan dan bermacam-macam toko juga, ponsel. baju, Furniture dan banyak lagi," jelas bu Riska.


"Oo! jadi penasaran aku!" gumamnya Rasya sambil berjalan mengikuti langkah Bu Riska.


Sebelum ke butik, bu Riska mengajak Rasya untuk makan di restoran dan kebetulan dia merasa haus sekali.


"Iya nih, Mah, tenggorokan ku kering banget nih, pengen yang seger-seger jus buah atau apalah," Rasya menyetujui ajakan dari sang ibu mertua.


Mereka berdua memilih duduk di dekat dinding yang tidak jauh dari pintu masuk, Bu Riska pun dengan cepat memesan minum dan makanannya.


"Mau makan apa sayang?" tanya Bu Riska kepada Rasya.


"Ada menu nasi gak?" Rasya menetap ke arah sang ibu mertua.

__ADS_1


"Ada, emang mau pesan apa? Mama mau pesan mie goreng sama kentang goreng saja." Kata bu Riska.


"Em ... kalau gitu sama saja lah, Mah. Sama kentang nya juga dan sambel." Akhirnya Rasya pesan yang sama.


Tidak lama kemudian, pesanan pun datang dan kedua nya langsung menikmati pesanannya itu. Namun yang pertama-tama mereka berdua menikmati adalah minumannya yang terasa segar ... dikala sudah melewati tenggorokan.


"Maknyus ... seger nya ... tenggorokan ku merasa kena air hujan setelah meneguknya, he he he ...."


Bu Riska hanya menunjukan senyumnya ke arah sang mantu yang terkadang tampak polos.


...---...


"Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena beberapa hari ini lebih sibuk di luar dan ... masalahnya apa? kalian pasti mengerti lah, dan saya harap kalian semua bisa datang ke Surabaya nantinya." Jelas Samudra di tengah-tengah meeting nya.


"Tapi sebenarnya bagi yang malas datang ke Surabaya. Di Jakarta pun akan di adakan pesta dan mengunggah liv dari Surabaya langsung agar tamu yang di sini pun bisa menikmati suasana yang ada di Surabaya." Tambah Samudra kembali.


Ubai berbisik. "Ini meeting soal kerjaan, Bos. Bukan meeting soal resepsi."


Samudra nyengir setelah di omongin oleh Ubai, dan yang lainpun tampak saling berbisik.


"Sorry, keluar dari tema." Kata Samudra.


"Maklum, terlalu semangat akan acaranya." Timpal Ubai sambil mesem.


Lanjut, Samudra memperbincangkan masalah kerjaan demi kelangsungan perusahannya. Di bantu oleh Ubai untuk penjelasan nya.


"Saya beri kesempatan kalian untuk instruksi?" Samudra mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang berada di meja meeting.


Kerena tidak ada yang instruksi. Samudra anggap semua setuju dengan keputusan yang dibuat oleh CEO, jadi meeting pun di tutup.


"Oke, dengan diam nya Kelian semua yang menandakan setuju. Jadi ... meeting kita akhiri saja, cukup di sini dan silakan nikmati hidangannya masing-masing," jelas Samudra sambil beranjak dari duduknya.


Begitupun dengan Ubai yang mengikuti langkah Samudra dari belakang dengan membawa map di tangan.


Keduanya berjalan di koridor kantor yang akan menghubungkan dengan ruang kerja pribadinya.


"Jadi kita ke luar kota nya besok?" Samudra melirik ke arah Ubai yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Samudra yang lebar tersebut.


"Jadi, dan pagi-pagi kita akan berangkatnya. Saya sudah sediakan tiket ke Banjarmasin nya." Jawab Ubai dengan nada serius.


Samudra tidak menjawab. Berarti akan meninggalkan Rasya di apartemen sendirian, berat deh berjauhan lagi. Mana sekarang juniornya minta di manja mulu lagi ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2