Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 32 Angin segar


__ADS_3

"Cantik dong ... sekarang aja Citra cantik apalagi nanti!" sahut Bu Asri di sela makannya penuh pujian.


"Benarkah, aku pengen menjadi model ah. Boleh kan Yah, Bun?" tanya Citra yang di arahkan pada kedua orang tua nya tersebut.


"Boleh, boleh jadi apa saja. Asal itu baik, kami pasti mendukung kamu kok." Fatir memberi dukungan pada keinginan putrinya ini.


"Tetapi. Aku mau jadi penceramah ah. Berpidato, eh berarti aku harus masuk pondok gitu ya? kalau mau menjadi penceramah!" lagi-lagi menatap ke arah Fatir dan Viona.


Semua yang berada di meja makan, menganggukkan kepalanya pelan. Apalagi Fatir sangat bersemangat mengangguk-anggukan kepalnya.


"Apalagi mondok, Ayah akan sangat mendukung Citra. Selepas keluar sekolah dasar. Citra langsung masuk pondok--"


"Sekolah SMP gimana, Yah?" Citra memotong perkataan sang ayah. dengan sangat penasaran.


"Ya, kan di pondok sekolahnya." Tambah Fatir. "Citra di pondok sambil melanjutkan sekolah juga yang tentunya lebih banyak keagamaan nya juga."


"Oma juga akan sangat mendukung Citra mondok. Agar menjadi anak yang lebih faham agama, gak seperti Oma ini!" timpal Bu Asri sambil menunjukan senyumnya.


Suasana hening. Hanya suara sendok yang bertemu piring saja yang terdengar begitu nyaring. Mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing, sambil menikmati sarapannya.


"Permisi?" suara seseorang dari arah belakang mereka.


Tentu mereka dikagetkan dengan suara yang tiba-tiba hadir di sana. Semua mendongak. Ternyata dia adalah orang yang pernah Fatir dan Viona suruh untuk mencari keberadaan putri Vivian yang hasilnya selalu nihil, tidak membuahkan hasil yang baik.


Fatir tersenyum dengan sangat ramah. "Iya, silakan duduk kita sarapan bersama?" ucap Fatir menunjuk ke arah kursi.


"Terima kasih, biar saya menunggu di sofa saja." Orang tersebut membalikan tubuhnya menuju sofa.


Fatir dan Viona juga Bu Asri saling bertukar pandangan. Kemudian segera menghabiskan makannya.


"Bun, Ayah. Citra berangkat dulu ya? tapi sama siapa? kalau Ayah ada tamu," keluh anak itu sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut.


"Sayang, jangan garuk-garuk gitu ah. Nanti rambutnya gak rapi, di antar sama supir ya. Nanti pulangnya Bunda yang jemput. Kita ke kedai ayah!" bujuk Viona sambil mengambil bekal Citra. Ia masukan ke dalam tas nya.


"Asyik ... mau diajak ke kedai. Sik asik, Sik asik mau ke kedai. Mau makan mie ayam yang bua ...nyak ... sekali." Anak itu malah bernyanyi riang sambil menyalami ayah, bunda dan Omanya.


Kemudian Fatir dan istri menghampiri tamunya yang sudah disuguhi segelas kopi dan kue nya.m oleh asisten rumah barusan.


"Berasa kaget ini. Ada apa ya?" tanya Fatir langsung to the points, bertanya keperluan tamunya.


"Em begini. Tentang pencarian putri anda yang hilang itu." Kata orang ini membuat Viona merasa penasaran.

__ADS_1


"Iya, gimana? apa anda menemukan sesuatu? kabar yang baik gitu?" tanya Viona yang tidak sabar dengan jawaban orang tersebut.


Orang tersebut menoleh pada Viona. lalu kembali berkata. " Ada sedikit informasi. Mungkin akan menjadi titik terang buat anda sekeluarga."


"Informasinya apa ya? jangan bikin kami penasaran, bapak!" timpal Bu Asri. Ikut penasaran.


"Em, saya mendapat informasi kalau pada waktu itu, ada yang mendapatkan balita entah dari siapa, balita perempuan. Dan di urus oleh kelurga tersebut." Tambah orang tersebut.


"Tau alamatnya? tapi valid gak info nya?" tanya Fatir ragu-ragu. Seperti yang sudah-sudah sering salah sasaran.


"Valid, ini valid. Dan saya mau ke sana tapi ingin hubungi anda terlebih dahulu," sambungnya.


"Ya udah, Mas. Kita ke sana sekarang?" Viona beranjak lalu menarik tangan Fatir, rasanya dia sudah tidak sabar lagi.


Viona tampak tidak sabar lagi untuk membuktikan informasi tersebut. Berasa mendapat setitik terang tentang keberadaan putrinya yang hilang itu.


"Ibu ikut?" Bu Asri berjalan mendekati.


"Tidak, Bu ... Ibu di rumah saja." Pinta Fatir pada sang ibu mertua, tidak setuju bila beliau ikut. Sebab ini masih belum valid menurutnya.


Lalu mereka langsung meluncur ke lokasi atau alamat yang di dapat. Selang satu jam lebih, akhirnya tiba di sebuah perkampungan.


Fatir mencari tahu alamat yang mereka maksudkan.


"Benar, penghuninya bapak Muhidin?" tanya Fatir kembali.


"Ooh, bukan. Itu rumahnya mas Karyo. Bukan Muhidin. Kalau Muhidin sih sudah lama pindah entah kemana!" jawabnya.


"Apa bapak tahu pindahnya kemana?" selidik Viona teramat penasaran dengan keberadaan orang tersebut.


"Ooh ... pindahnya tidak tahu, Sudah lama sekali soalnya." Jawab pria itu.


"Apa benar, beliau menemukan balita perempuan waktu itu?" tanya Fatir lagi.


Sebentar laki-laki tersebut terdiam. Keningnya mengerut seakan mengingat-ingat kisah lama. "Kalau tidak salah sih. Benar, tapi pindah kemana-mana nya kurang tahu. Sebab waktu itu dia tinggal di kampung ini juga hanya ngontrak."


Viona menghela napas panjang, rasanya kembali berputus asa. "Kita tanyain ke RT di sini, Mas."


Fatir memutar kemudi melajukan kembali mobilnya. Namun sebelum pergi. Fatir dan Viona berterima kasih serta memberikan sejumlah uang pada pria tadi sebagai ungkapan terima kasih.


Setelah muter-muter, akhirnya ketemu juga dengan rumah ketua RT di sana. Lalu Fatir nanya-nanya tentang keluarga yang bernama Muhidin.

__ADS_1


Kata Pak RT, memang dia pernah dengar ada warga di kampung itu bernama pak Muhidin. Tapi gak tau jelas juga, sebab sudah lama banget dan bukan dia juga yang menjabat ketua RT waktu itu.


Dan mengenai anak asuhnya kurang tau juga. Sebab anaknya ada tiga, perempuan semua. Itupun kalau tidak salah.


Fatir dan Viona menghela napas panjang, lesu dengan informasi yang kurang memuaskan ini. Keduanya saling bersitatap dengan tatapan sendu.


"Apa gak ada yang tau sama sekali kepindahannya! dari sini kemana gitu?" tanya Fatir untuk yang terakhir kalinya bertanya.


"Tidak, tidak ada laporan pindahnya ke mana?" lagi-lagi menggeleng.


"Tapi,Pak beneran kan orang ini? dan ini foto baby yang saya cari." Viona masih penasaran dengan menunjukan dua lembar foto.


Pria itu mengamati dengan seksama. "Kalau lelaki ini sepertinya iya, tapi untuk bayi nya saya kurang tahu juga."


Lagi-lagi Viona dan Fatir bersitatap. Disertai hembusan napas yang berat.


"Ya sudah, terima kasih atas infonya dan maaf sudah mengganggu waktu anda," Fatir mengajaknya bersalaman.


Akhirnya Fatir dan Viona pulang tanpa hasil yang memuaskan, mereka pulang membawa hati yang resah gelisah. Yang tadinya berasa mendapat angin segar, berubah pengap dan menyesakkan.


Lagi-lagi keduanya menghela napas panjang dan kecewa. Lesu dibuatnya, usaha yang tidak berbuahkan hasil.


" Mas, gimana ini? mau kemana lagi?" tanya Viona menatap lekat sang suami.


"Sabar ya sayang? mungkin belum waktunya saat ini untuk menemukan dia." Mengusap lembut bahu sang istri yang tampak sedih.


"Lain kali, cari info yang lebih tepat sasaran ya?" Fatir melirik ke arah orang tersebut yang tampak bingung.


"Maaf, Tuan. Itu kesalahan saya." Orang itu menunduk merasa bersalah lalu berpamitan.


"Ya, terima kasih?" Fatir mengangguk pelan.


"Ya Sudah, kita pulang saja." Fatir memutar kemudi untuk pulang, setelah orang tersebut turun dari mobilnya.


Akhirnya mereka pun pulang tanpa membawa hasil yang signifikan. Viona berwajah sedih terlihat jelas dari rautnya tersebut.


... ---...


Kini Rasya sedang bersantai di sofa, menonton acara televisi kesukaannya. Kadang tertawa, kadang bersedih. Dibarengi dengan ngemil makanan yang tersedia di lemari pendingin yang isinya sekarang sudah menyusut


Tangannya bergerak mengambil kantong makanan yang kosong. "Ya ... habis?" memastikan bahwa kantongnya kosong melompong ....

__ADS_1


.


Ayo, mana nih dukungannya? Like komen dan vote nya juga.


__ADS_2