Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 1015 Bermuram


__ADS_3

Sudah berapa hari ini Rasya jarang ada di apartemen, karena dia bantu-bantu di rumah Pak RT. Mereka mengadakan acara anniversary perkawinan Pak RT dan Adam yang kebetulan barengan.


Tentunya Viona serta putrinya ada di sana, membuat mereka bertemu dan berkumpul, menumpahkan kasih sayang satu sama lain.


Saat ini Samudra tengah duduk sendiri di ruang tengah, di depan televisi, sementara dia sendiri sibuk dengan laptopnya dan Ubai baru saja pulang dari apar teman tersebut.


"Sya? Sya? ambilkan saya minum? haus nih," pekik Samudra kepada Rasya.


Suasana hening, gak ada yang nyaut tidak ada pula segelas air minum yang tersuguh kan di meja.


Kepala Samudra menoleh ke arah belakang, celingukan. "Sial, gue lupa. Dia kan nggak ada di sini, ck." Samudra bercak kesal.


Akhirnya dia berdiri membawa langkahnya untuk mengambil air minum ke dapur sendiri.


Setelah kembali ke tempat semula, lalu mengambil ponsel yang berada di atas meja. Menelpon Rasya dan menyuruhnya untuk segera pulang.


"Cepat pulang?" cuma dua kata yang Samudra diucapkan di ujung telepon tersebut.


Selanjutnya ponsel, Samudra lempar ke atas sofa.


"Sudah beberapa hari ini! masa iya belum selesai juga? gerutu Samudra.


Kemudian Samudra meminum air yang barusan dia ambil untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokan nya yang terasa kering itu.


Setelah meneguknya, lumayan lebih terasa segar. Lalu ia kembali menyibukkan diri dengan laptop yang kini berada dalam pangkuan, sambil menunggu Rasya pulang.


...---...


"Siapa sayang, yang telepon?" tanya Fiona pada Rasya yang baru saja menerima sebuah telepon.


"Ooh itu, Tante. Tuan Sam menelpon menyuruhku cepat pulang," jawabnya Rasya sambil menyimpan ponsel ke dalam sakunya.


"Ya ... padahal nginep aja di sini?" kata Viona tampak masih kangen pada Rasya.


"Sayang, biarkan saja Rasya pulang, dia kan suaminya dan itu juga kewajibannya Rasya, kita nggak boleh melarangnya pulang," lirihnya Fathir pada sang istri.


Viona melirik sembari mengangguk. "Iya sih, ya udah. Kalau kamu mau pulang, antar sama paman Adam ya?" Viona mengalihkan pandangannya pada Rasya.


"Iya, Tante. Makasih, pada Om juga atas pengertiannya!" Rasya menunjukan senyumnya kepada Viona dan Fathir.


"Ya ... kok Rasya mau pulang? sepi lagi dong di sini?" kata Wiwi dan Lusi.


"Iya, Bi ... gampang lah, nanti aku kan bisa main kapan-kapan ke sini lagi, itupun jika pintu rumah kalian terbuka." Kata Rasya sambil tersenyum manis.


"Ooh, iya dong. Pintu rumah kita akan selalu terbuka buat dirimu apalagi Mbak dan Mas sudah menganggap mu seperti anak sendiri. Bisa-bisa saya dipecat jadi adik ipar, kalau nggak bukakan pintu untukmu," ucap Wiwi dan didukung dengan anggukan dari Lusi.

__ADS_1


"He he he masa sih? masa kalian dipecat dari adik ipar?" Rasya menggeleng sambil tertawa kecil.


"Iya, bisa aja. Kenapa nggak? wih ... apalagi kalau kamu itu emang anaknya yang hilang bisa-bisa?" Lusi gantung kan perkataannya.


"Bisa-bisa apa, Bi?" tanya Rasya sambil berdiri.


"Iya, kalau saja putri kami yang hilang itu Rasya, alangkah bahagianya kami berdua dan juga keluarga," timpal Viona dengan raut wajah yang agak sedih.


"Ahk, Tante. Jangan sedih dong ... aku kan jadi ikutan sedih," ucap Rasya sambil memeluk Viona dengan erat.


"Anggap saja, aku ini putri anda yang hilang! ih ngarep ya? he he he ... lagi-lagi Rasya tersenyum kecil. Lalu dia berpamitan kepada semuanya.


"Yu. Mau diantar sama siapa? paman Sidar atau Paman Adam? kami sudah siap sedia untuk mengantar mu. Kemanapun," ucap Sidar yang ditujukan kepada Rasya.


"Sama Paman Adam saja, tadi kan yang ditunjuk saya yang harus mengantar dia ke apartemennya," ucap Adam sambil menunjuk dadanya.


"Itu kan, kata Mbak Viona. Jadinya sama siapa yang mau ngantar, ya ... terserah Rasya lah," timpal Sidar.


"Nggak ada, sama paman Adam saja," tangan Adam menarik tangan Rasya.


Lantas tangan Rasya yang satunya lagi ditarik oleh Sidar.


Rasya kebingungan. "Ya, ampun ... kalian berdua kenapa sih? ya sudah, aku pulang sendiri aja lah. Aku malas kalau rebutan kayak gini, kaya tukang ojeg di perapatan jalan," ucap Rasya sembari menggaruk kepalanya.


Semua yang ada di sana tak elak tertawa melihat tingkah laku Adam dan Sidar kayak anak kecil yang merebutkan mainan.


"Kan ini juga mainan, boneka cantik dari India. Rasya keponakan saya," sahutnya Adam.


"Tapi dia juga keponakan saya, bukan keponakan mu seorang." Timpal Sidar yang tidak mau kalah dari Adam.


"Uuuh ... aku aja yang jelas-keponakannya gak di rebutan begitu? nggak disayang nggak diperhatikan seperti itu." Gerutu Citra sambil memanyunkan bibirnya ke depan.


"Siapa bilang gak disayang Citra? kami semua juga sayang dong sama putri bunda dan Ayah yang ini, paman aja yang aneh-aneh," ungkap Viona sambil merangkul bahu putrinya itu.


Citra melepaskan diri dari pelukan sang bunda. "Mbak Rasya beruntung deh, ketemu langsung disayang sama keluarga ku," ucap Citra yang tampak cemburu pada sosok Rasya.


"Sayang ... jangan gitu ah, sama aja kok, apalagi kami sayang. kamu selama ini, ucap Viona dengan nada sedih.


"Bunda, aku cuma bercanda kok!" balas Citra sambil memeluk bundanya itu. "Aku tahu Bunda menganggap Mbak Rasya itu sebagai Mbak Vivian yang hilang itu, aku juga sayang Mbak Rasya kok!" tambah anak itu.


"Terima kasih sayang? Bunda sayang kalian berdua." Lirihnya Viona.


Sejenak Rasya mematung, mendengar obrolan anak dan ibu itu, melihat keduanya yang berpelukan sangat erat bikin hatinya merasa iri.


"Ya, sudah. Kita antar Mbak Rasya ke depan yu?" ajak Viona pada putrinya itu, Citra.

__ADS_1


"Ayo!" anak itu pun berdiri memegang tangan sang bunda.


Adam dan Sidar sudah duluan keluar rumah, menyiapkan motor untuk mengantarkan Rasya ke apartemen yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari situ.


"Aku pamit pulang dulu ya? sepertinya berapa hari ini aku nggak ada di apartemen. Sebab aku mau diajak ke mansion oleh Tuan muda, dalam acara pertunangannya itu," ucap Rasya pada Viona sambil berjalan bergandengan dengan Viona.


"Rasya. Bagaimanapun Sam adalah suamimu, apa kamu rela di Madu? Tante saja, tentunya nggak rela bila melihat kamu diduakan seperti itu!" lirihnya Viona dengan nada sendu.


Sejenak Rasya terdiam sambil terus berjalan, memikirkan omongan Viona. "Aku nggak apa-apa kok, Tante. Lagian pernikahan kami kan cuma ... terpaksa, ya ... anggap saja sebuah pernikahan untuk menolongku."


"Seharusnya, Samudra itu memilih salah satu kamu atau dia? tapi sih menurut om kalau dia memang memilih kekasihnya itu berarti dia harus melepaskan dirimu, yang sudah jelas-jelas kamu istrinya." Tambah om Fatir.


"Apapun keputusannya nanti, aku akan terima itu kok, Tante! lagian selama aku masih diterima di antara mereka pun, aku sudah bersyukur. Alhamdulillah," sambungnya Rasya yang terdengar pasrah.


Viona dan Fatir saling tukar pandangan. "Kami berdua ... akan membuka hati dengan setulus-tulusnya, untuk menerima Kamu Rasya. Seandainya kamu diceraikan oleh Samudra! pulanglah ke dalam pelukan kami berdua yang akan menerimamu dengan senang hati, kan Mas?"


"Tentu, omongan Tante itu benar, kami akan menerimamu dengan segenap hati akan menyambut mu dengan bahagia dan tanpa pamrih pula. Karena kehadiran mu itu sebagai anak kami juga yang telah hilang," tambahnya Fatir sembari mengangguk.


Rasya mengangguk pelan dengan tatapan penuh haru, lalu mencium kedua tangan mereka berdua, Fatir dan Viona.


"Baiklah, aku mau pulang dulu. Assalamualaikum." Rasya mengundur diri seraya melambaikan tangannya itu.


"Wa'alaikumus salam ...."


Dan ketika Rasya mau menaiki salah satu motor milik Adam atau Sidar, terdengar suara klakson mobil dan ternyata mobil Samudra sudah berada di depan sana.


Rasya pun menghampiri dengan segera. "Tuan? anda menjemput ku?" tanya Rasya sembari berdiri.


"Masuk? diminta pulang sedari tadi juga, sudah jam berapa nih? bukannya pulang? betah amat di sini?" cecar Samudra sambil mendorong pintu agar terbuka lantas Rasya masuk.


"Aku tuh ... mau pulang, diantar sama paman Adam atau paman Sidar. Nggak perlu dijemput kok! nggak minta jemput juga," balas Rasya sambil memakai sabuk pengaman.


"Ya sudah, kalau gak mau dijemput silakan keluar?" ucap Samudra.


Rasya tertegun dan menatap ke arah Samudra. Beberapa kali Rasya menelan saliva nya yang berasa tercekat di tenggorokan. rasanya sakit, sedih. Kata-kata itu seakan menusuk ke dalam jantung.


Sesaat kemudian, Samudra melirik sekilas. Lalu mengalihkan kembali pandangannya ke depan.


"Kenapa nggak turun? silakan turun, aku akan pulang!" jelas Samudra pada lawan bicaranya itu.


Lagi-lagi perkataan Samudra menyakitkan perasaan Rasya, sehingga Rasya terus terdiam dan kedua manik matanya tampak berkaca-kaca.


Di teras, masih berada semua orang di sana melambaikan tangan kepada Rasya. Mungkin kalau saja siang hari akan terlihat bahwa raut wajah Rasya berubah menjadi bermuram durja, keceriaan yang tadi ada itu hilang seketika ....


.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya?


__ADS_2