
"Teruslah tertawa, agar aku terus bisa menikmati betapa cantiknya wajahmu. Teruslah senyum itu menghiasi bibirmu, aku terpesona untuk memandangi selalu." Gumamnya Azam seraya tidak berhenti memandangi wajahnya Rasya.
Gumaman Azam terdengar jelas oleh Hesya, membuat bibirnya Hesya melengkung membentuk sebuah senyuman dan melirik ke arah Azam. Pemuda tampan dan usianya mungkin hanya terpaut satu atau 2 tahun saja itu tampak sangat mengagumi sosok keponakannya itu.
Rasya yang mendekati pagar dan berdiri di sana begitu menikmati indahnya sunset yang berwarna merah jingga, lalu terdengarlah sayup-sayup suara adzan yang begitu mengalun indah. Yang menyelisik ke dalam hati, Rasya teringat kembali dengan sebuah nama yang tiada lain adalah Samudra.
"Sudah malam, kita masuk yu?" ajaknya Rasya pada Citra dan tantenya, setelah menghela nafas yang terasa berat.
"Ayo! sudah magrib nih sambutnya Citra dan Hesya, mereka bertiga berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Azam hanya mengikuti ketiga wanita tersebut dari belakang, langkahnya yang teratur dengan tangan dimasukkan ke saku celananya, membuat auranya tampak mengagumkan mata wanita yang memandang.
Di panggung sedang ada pergelaran wayang kulit sebagai hiburan, dan pengunjungnya pun lumayan banyak membuat suasana ramai.
Rasya yang memilih berada di kamarnya, dipanggil oleh sang adik, yaitu Citra. "Mbak? kata Bunda Mbak Vivian makan malam dulu?" pekik Citra dari balik pintu.
Rasya yang sedang baringan pun terbangun, dan menurunkan kakinya ke lantai berjalan dengan malas mendekati pintu. Cklek. Blak!
"Rasanya Mbak masih kenyang deh, bilangnya sama Bunda, begitu. Mbak masih kenyang!" kata Rasya pada Citra yang berdiri di depan pintu.
"Beneran gak mau makan?" selidik Citra ingin meyakinkan dirinya.
"Iya beneran, Mbak masih kenyang! lagian di kamar juga banyak buah-buahan," jawabnya Rasya kembali.
"Yo wes ... tak bilangin," Citra pun berbalik meninggalkan pintu tersebut.
Kemudian Rasya kembali menutup pintu, dan berjalan mendekati tempat tidurnya kembali.
Dering ponsel Rasya berbunyi di atas nakas dekat tempat tidur tersebut. Rasya langsung menoleh nya dia yakin kalau itu pasti samudra yang menelpon.
Bibir Rasya tertarik ke samping membentuk senyuman, segera mengambil ponsel tersebut dan hendak menerimanya. Namun rupanya itu bukan dari Samudra melainkan dari Ubai.
^^^Rasya: "Halo? Tuan Ubai apa kabar! baru ingat aku ya?"^^^
^^^Ubai: "Bukan baru ingat, Nona. Tapi aku benar-benar sibuk! ya kerjaan di kantor dan juga untuk persiapan pernikahan Samudra juga."^^^
Sejenak Rasya terdiam mendengar perkataan Ubai barusan, hatinya mendadak terasa nyeri ketika mendengar kata-kata pernikahannya Samudra.
^^^Rasya: "Oh, sudah dekat ya?"^^^
^^^Ubai: "Iya, Nona. Tinggal berapa hari lagi dan kami pun akan menjemput anda ke sana."^^^
^^^Rasya: "Iya nih. Aku juga pengen segera ke sana, sudah lama aku nggak ke apartemen rasanya rindu."^^^
^^^Ubai: "Anda rindu sama apartemen atau orangnya, Nona?"^^^
^^^Rasya: "Akh, Tuan ramah bisa saja! aku rindu sama suasana apartemen. Rindu dengan suara-suara yang sering mengolok-olok ku."^^^
^^^Ubai: "Itu sama saja dengan anda merindukan orangnya, Nona ... tenang saja! tidak lama lagi kita akan bertemu."^^^
^^^Rasya: "Tapi buat apa, Tuan Ubai kami bertemu? karena sebentar lagi dia tidak akan membutuhkanku lagi."^^^
^^^Ubai: "Jangan bersedih, Nona ... seandainya tuan mu sudah tidak membutuhkan mu lagi, aku di sini sangat membutuhkanmu dan akan menjagamu. Seperti yang pernah aku bilang dulu kau jangan khawatir itu."^^^
^^^Rasya: "Aah ... Tuan Ubai, kata-katamu buat aku terharu. Aku menjadi sedih."^^^
^^^Ubai: "Kau tidak perlu bersedih, Nona. Aku akan membuatmu tertawa dan selalu bahagia nantinya."^^^
^^^Rasya: "Aah ... cukup Tuan Ubai, jangan di teruskan lagi. Aku tidak kuat mendengarnya."^^^
^^^Ubai: "Sekarang kau sedang apa Nona? apa kau sudah makan?"^^^
^^^Rasya: "Aku sedang bersantai saja di kamar, aku belum makan malam karena aku masih merasa kenyang."^^^
Ubai: "Makanlah, Nona nanti sakit. Jangan menyiksa dirimu, jangan terlalu banyak pikiran karena aku akan selalu merindukanmu."
Tok ....
Tok ....
Tok ....
__ADS_1
"Mbak Mbak keluar sebentar?" pekiknya Citra dari balik pintu kamar Rasya.
"Ya ... sebentar," balasnya Rasya dengan cepat menjawab pekikan dari Citra, adiknya.
^^^Rasya: "Tuan Ubai sudah dulu ya? sudah dulu? aku dipanggil sama adik aku!"^^^
^^^Ubai: "Baiklah, Nona ... jangan lupa makan ya? jangan tidak makan! nanti kau sakit."^^^
Kemudian Rasya menyimpan ponselnya di atas nakas, dan dia sendiri kembali menurunkan kakinya dari tempat tidur untuk mendatangi pintu.
"Ada apa, Citra?" tanya Rasya dengan tutur yang lembut.
"Itu, di bawah ada tamu. Kata Bunda mereka ingin bertemu denganmu!" jawabnya Citra sambil menunjuk kebelakang.
Rasya menggaruk tengkuknya, dia merasa malas banget untuk turun. "Citra, mau kan bantuin, Mbak ya? mau kan?"
"Bantuin apa itu, Mbak?" selidik Citra menatap penasaran.
"Bilang saja kalau, Mbak itu sudah tidur, soalnya Mbak males turun! Mbak capek menemui tamu dari pagi tadi. Ya-ya? tolong ya? bilang gak enak badan atau apalah. Ya?" pinta Rasya penuh harap kepada sang adik.
Citra menatap ke arah Rasya yang tampak lesu, mungkin Rasya memang kecapean pikirnya Citra. "Oke lah, kalau begitu." Citra pun memutar badannya meninggalkan kamar Rasya kembali.
Rasya menutup pintunya setelah Citra pergi, dan melangkah kakinya dengan teratur ke tempat tidur semula, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut.
Rasya mencoba memejamkan kedua matanya, membayangkan sosok Samudra. Entah kenapa Rasya sangat merindukan pemuda itu. Kendati rasa sakit di dalam hatinya dengan Samudra yang akan menikah dengan wanita lain, perlahan jarinya menyentuh jari yang melingkar di jari manis tangan kanannya itu.
Di mana cincin itu ada nama Samudra dan waktu itu disematkan ke jarinya ketika mereka menikah di apartemen, disaksikan oleh warga termasuk paman Adam dan Sidar.
Tanpa dia sadari dari sudut matanya yang terpejam, tampak buliran air mata yang mengalir bening ke samping pipinya.
"Kenapa kita harus menikah? kenapa juga rasa ini tiba-tiba hadir menguasai hati. Dan kini justru hanya menyiksaku!" gumaman lembut dari bibirnya Rasya sambil tetap terpejam.
"Ya Allah ... apa aku salah bila aku menyayangi suamiku? jika aku nggak mau kehilangan dia, tapi aku juga nggak mau diduakan, sakit dada ini bila mengingat suamiku dengan wanita lain. Aku nggak rela!" Rasya terus bermonolog sendiri tanpa dia membuka kedua matanya itu.
Tidak jauh dari Rasya, ada seorang pria berdiri dan mendengar jelas setiap ungkapan perasaan Rasya, tanpa terasa air bening pun jatuh ke tangannya yang dilipatkan di dada. Kendati demikian, dengan egonya yang tinggi dia mengusap kasar pipinya itu seraya membuang nafasnya kasar, lalu membawa langkahnya mendekati gadis itu.
"Kau sedang apa? kenapa tidak mau menemui ku?" tanya pria yang berkemeja putih bergaris pendek tersebut.
Sontak Rasya terbangun, dan membuka kedua matanya setelah mendengar suara bariton tersebut. Rasya benar-benar terkesiap dibuatnya tidak menyangka kalau Samudra ada di sana.
"Kenapa kau tidak mau menemui ku?" ulang Samudra sambil mendudukkan dirinya di tempat tidur, tempatnya di samping Rasya.
"A-aku mana tahu kalau kau yang datang? aku tidak tahu kalau dirimu datang ke sini." Rasya menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukankah tadi ... adik mu menyuruhmu untuk turun dan menemui tamu?" tegas Samudra dengan menatap lekat.
"I-iya, tadi Citra bilang seperti itu. Tapi aku nggak tahu kalau tamunya itu, Tuan muda. Dia tidak bilang seperti itu! makanya aku males turun, aku capek dari tadi pagi pada menemui tamu," akunya Rasya.
Sesungguhnya Rasya mencoba menyembunyikan perasaannya saat ini. Dadanya yang terus berdebar dan jantungnya yang berdegup begitu kencang, tidak menyangka sama sekali kalau Samudra berada di sana saat ini. Di samping dirinya.
Rasya membuang nafasnya dari mulut saya berkata dalam hati. "Tenanglah Rasya, jangan kau tampak kaku dan gugup, jangan memperlihatkan kalau kau salah tingkah, tenang dan santai lah."
"Kenapa kau tampak gugup?" tanya Samudra sembari menoleh pada Rasya yang berada duduk di sampingnya itu.
"Ha? siapa bilang aku gugup? tidak, biasa saja." Elaknya Rasya sambil menautkan jari-jarinya yang berkeringat dingin itu.
Samudra yang duduk dan menumpukkan kedua sikunya di atas kaki dengan posisi sedikit membungkuk, terlihat membuang nafas dengan sangat panjang. "Kapan kau akan ikut denganku?" tanya Samudra dengan pelan.
"Aku tidak tahu," jawabnya Rasya.
"Kenapa tidak tahu? bukankah aku masih menjadi istriku?" sambungnya Samudra.
"Aku tahu itu. Dan mungkin detik-detik ini adalah menunggu waktu, dimana aku dilepaskan karena kau sudah tidak membutuhkanku lagi," lirihnya Rasya sambil menunduk melihat ke arah tangannya yang bertaut.
"Huuuh ..." Samudra membuang nafasnya dari mulut berkali-kali. "Kenapa kita nggak menikmati saja detik-detik terakhir, masa-masa kita bersama, sudah lama kau meninggalkanku tidak mengurusku!" ungkapnya Samudra.
Kata-kata Samudra itu membikin hati rasa terharu, dia mengakui kalau semenjak pak Muhidin meninggal. Dia lepas, tidak pernah mengurus Samudra lagi.
Rasya menoleh ke arah Samudra yang kini mendudukkan dirinya dengan tegak, Samudra pun menoleh dan menatap lekat ke arah Rasya sehingga tatapan mereka pun bertemu.
Sejenak mereka berdua menikmati tatapan mereka yang terkunci. Dan dengan perlahan tangan Samudra menyentuh tangan Rasya, menggenggamnya dengan lembut.
__ADS_1
Sejenak tak ada kata-kata yang terucap dari bibir mereka berdua. Melainkan tangan dan mata mereka yang berbicara. Kemudian sorot mata Samudra mengarah pada bibir ranum Rasya yang rasanya sudah lama sekali tak ia sentuh.
Terakhir dia menyentuhnya ketika di penginapan waktu itu. Semenjak itu mereka terpisah oleh jarak dan waktu dan baru sekarang mereka bertemu kembali.
"Apa kau sudah makan?" tanya Samudra dengan suara yang sangat pelan.
Rasya menggeleng. "Aku tidak lapar."
Perlahan namun pasti, wajah Samudra semakin mendekati wajah Rasya yang melihat sendu ke arah wajah tampan itu, jaraknya yang begitu dekat sehingga hembusan napasnya pun terasa menyapu di kulit wajahnya Rasya.
"Tuan?" gumamnya Rasya sangat pelan dan nyaris tidak terdengar.
"Hem!" balasnya Samudra yang tidak kalah pelan juga.
Semakin dekat wajah Samudra, Rasya memejamkan kedua manik matanya. Seolah sangat menyambut kedatangan Samudra.
Sentuhan itu pun tidak terelakan lagi, penyatuan bibir keduanya yang dengan lembut dan penuh kehangatan. Samudra semakin menyapu semua permukaannya bibir Rasya dan me-lu-mat manisnya.
Tangan Samudra pun beralih pada tengkuk gadis itu, seolah ingin menguncinya agar tidak bergerak. Samudra terus menikmati benda itu penuh gairah sehingga tak ayal si kecil namun adakalanya kuat pun bangun.
Namun akal sehatnya Samudra masih berjalan dengan normal. Sehingga dia tidak berani melakukan yang sesungguhnya ingin dia lakukan terhadap Rasya, yang statusnya istri namun sampai detik ini belum pernah ia sentuh lebih. Apalagi mengambil kesu-cian nya!
Dada Rasya naik turun, tampak sekali dia yang terus berdebar. Nafas keduanya saling bersahutan, saking begitu intens nya penyatuan tersebut. Membuat Rasya kehabisan oksigen dan membuat tangannya memukul-mukul dada Samudra meminta di lepaskan.
Samudra pun segera melepasnya dan membiarkan Rasya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dari sekitaran. Dengan wajah yang masih berdekatan, Samudra pun tidak membuang-buang waktu untuk menyatukan kembali bibirnya. Setelah memastikan Rasya sudah punya cadangan oksigen yang cukup.
Ketika mereka sedang asyik melakukan itu, daun pintu ada yang menggedor, sehingga mereka berdua sontak menjauh dan mengusap bibirnya masing-masing yang lembab.
"Rasya? kau sedang apa, Nak?" suara Viona setengah berteriak dari balik pintu.
Rupanya Samudra tadi mengunci pintu tersebut. Setelah dia masuk kamar Rasya.
"Iya, Bunda. Aku sedang duduk-duduk saja," jawabnya Rasya sambil melihat ke arah Samudra.
Samudra berpindah duduknya ke atas sofa dan berpura-pura mengambil buku untuk membacanya. Dia yang tampak gugup berusaha untuk tenang sambil membuka buku tersebut.
Sekilas senyuman Rasya menyungging, melihat tingkah laku Samudra yang pura-pura duduk santai dan membaca buku, kemudian Rasya berjalan mendekati daun pintu.
Cklek!
Rasya membukanya dan tampak Viona berdiri menatap ke arah Rasya dan planga-plongo ke dalam kamar, lantas mendapati Samudra yang sedang duduk santai di sofa sambil membaca buku.
"Ada apa, Bunda?" tanya Rasya yang berusaha untuk memenangkan dirinya agar tidak terlihat panik ataupun gugup, seolah-olah tidak terjadi apapun.
"Ooh ... kalian sedang ngobrol ya?" tanya balik sang Bunda.
"Iya, Bunda. Kami sedang mengobrol," jawabnya Rasya seraya mengangguk, melirik ke arah Samudra yang sedang anteng membaca buku.
"Itu, emangnya kamu nggak mau menemui pak Suyoto dan Tante Riska? mereka ada di bawah, Ubai juga!" kata Viona sambil menunjuk ke suatu arah.
"Ha? emang ada tuan ramah?belum lama ini Ubai menelpon tapi nggak bilang kalau dia datang." Gumamnya Rasya.
"Iya, ada di bawah. Emangnya Sam tidak bilang kalau Ubai pun datang?" selidik Viona kepada Rasya.
Rasya menoleh ke arah Samudra seraya bertanya. "Kenapa nggak bilang, kalau tuan Ubai ikut ke sini juga?"
Samudra melirik. "Buat apa aku bilang? nanti juga kamu tahu sendiri," suara Samudra dengan nada dingin.
"Ya sudah, temui dulu sebentar. Gak enak, ya?" titahnya sang Bunda pada Rasya.
"Baiklah aku mau menemuinya dulu," Rasya meninggalkan kamar tersebut tanpa menoleh pada Samudra. Bersama sang Bunda Rasya turun untuk menemui pak Suyoto dan Bu Riska yang sesungguhnya mereka adalah mertuanya.
Setelah Rasya dan Viona pergi, Samudra melempar buku yang ada di tangannya itu ke meja. Hatinya merasa kesal karena dia ditinggalkan sendiri di sana. "Ubai lebih penting apa dari aku? sialan!"
Tetapi dia malah memilih untuk berbaring di atas sofa tersebut sambil menyisir ruang kamar Rasya, yang tampak mewah dan nyaman di tempat tidurnya ada berapa boneka dari mulai yang kecil sampai yang terbesar.
Kemudian Samudra bangun kembali dan mendekati sebuah meja, di sana terpajang sebuah foto anak balita yang sedang tengkurap dan menunjukkan gusinya yang belum tumbuh gigi tersebut.
"Foto ini pasti Rasya, ketika masih kecil, yang mereka panggil baby Vivian," gumamnya Samudra sambil menyentuh foto tersebut lalu mengusapnya dengan bibir di tarik ke sping ....
.
__ADS_1
.
Terima kasih reader ku yang masih setia menemani ku🙏