Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 98 Kewajiban


__ADS_3

"Iya, Bos. Lapar dari semalam sibuk kerja, nggak sempat," sahut Ubai.


"Makan lah, Bai. Emang gak ada restoran yang buka apa?" tanya Samudra sambil duduk dan menarik piringnya.


"Ada, tapi malas. Lagian lebih enak makan di sini, gratis, ha ha ha ..." jawab Ubai Sambil tertawa.


"Nggak usah ketawa! nanti makananmu muncrat," kata Samudra lagi.


"Sudah, jangan suka debat kalau mau makan? membaca doa makan, jangan banyak bicara," pinta Rasya sambil menyodorkan segelas air putih di depan Samudra.


Kemudian Sam dan Rasya sarapan berbarengan, sementara Ubai lebih dulu selesai makannya.


"So sweet ..." ucapnya Ubai sambil mesem.


"Apa maksudmu?" tanya Samudra sambil mendelikkan sebelah matanya pada Ubai.


"Nggak. Cuma bilang so sweet doang." Ubai datar sambil meneguk segelas air minumnya.


"Tuan Ubai, sibuk gak hari ini?


temani aku belanja yuk? aku pengen belanja langsung deh," ucap Rasya, yang ditujukan Ubai.


"Ya ... dibilang sibuk ya sibuk." Jawabnya Ubai. "Tapi kalau mau aku temenin sih, boleh. Tetapi setelah jam makan siang, gimana?"


"Boleh, iya tidak apa-apa kok," sambut Rasya.


Samudra melihat keduanya bergantian, dia ingin melarang namun dia sendiri nggak ada waktu untuk menemani Rasya hari ini. Sebab kebetulan ada janji sesi pemotretan bersama Karin, untuk undangan nanti.


"Kenapa gak online aja sih belanjanya? dan itu akan mempermudah kamu sambil mengerjakan pekerjaan rumah?" Samudra menatap ke arah gadis itu.


"Sekali-kali Boleh dong ... keluar belanja, boleh ya boleh ya?" Rasya memohon pada Samudra. "Aku bosen di rumah terus!"


"Baiklah, tapi jangan lama-lama." Samudra mengijinkan Rasya pergi bersama Ubai.


"Makasih, makasih banyak, Tuan?" Rasya memegang tangan Samudra sesaat lalu ia lepas kembali.


Samudra memandangi tangannya yang barusan dipegang oleh Rasya.


"Nanti siang mau dimasakin apa? dan yang ada cuma ayam saja!" tanya Rasya pada Samudra.


"Terserah! yang penting enak," jawabnya Samudra dingin.


"Hem ..."Rasya mengerucutkan bibirnya ke depan, bikin Samudra gemas melihatnya.


"Lagian, semalam aku tanya masih ada nggak stok dapur? kamu bilang masih ada, tiba-tiba sekarang nggak ada. Gimana sih? kata Samudra agak kesal.

__ADS_1


"Iya maaf? aku lihat kemarin masih ada, eh ... ternyata sudah habis," lirihnya Rasya sambil menunjukkan barisan giginya yang putih itu.


"Sebentar?" pinta Samudra pada Rasya.


Rasya terdiam melihat Samudra yang mengambil tisu, lalu mengusap bibir Rasya yang ada merahnya, mungkin cabe yang menempel di dekat giginya.


Rasya tertegun dan deg-deg-degan menerima perlakuan Samudra yang manis dan perhatian juga.


Sedangkan Ubai menjadi salah tingkah, melihat mereka seperti itu. Merasa tidak enak berada di antara mereka berdua.


"Ya ... makan di luar aja kenapa sih? sekali-sekali kan?" celetuk Ubai sambil melihat ke arah lain.


"Baiklah, buat makan siang ... aku belanja online aja," sambungnya Rasya dan yang lainnya biar belanja lagi sama tuan Ubai nanti, yang online untuk makan siang saja."


"Terserah," Samudra dingin sambil menghabiskan makannya. Setelah meneguk minumnya, Samudra beranjak dari duduknya. Siap untuk berangkat kerja.


"Tuan? uang belanjanya mana?" tanya Rasya sambil membuka tangannya.


"Aku nggak ada uang cash, nanti saja aku transfer ke Ubai, kan belanjanya juga sama Ubai," jawab Samudra kembali.


"Eeh ... buat belanja online, aku kan nggak punya rekening." Sambung Rasya. "Lagian semalam, uangnya Tuan di dompet masih banyak kok!" kata Rasya dengan polosnya, mengingat dompet Samudra semalam banyak uang cash nya.


Samudra terdiam sejenak, dia juga ingat, kalau semalam uang cash nya dipakai untuk makan malam dan belanja keperluan Karin. Namun dia coba merogoh sakunya, kali saja ada menyelip uang cash di dompet.


"Nih, ini Mungkin cukup untuk belanja online, lagian ... yang penting buat nanti siang doang!" Samudra menyerahkan uang tersebut kepada Rasya .


Rasya langsung menyambutnya dan berterima kasih pada Samudra. "Makasih, Tuan?"


"Nona. Sebenarnya tuan mu ini memang berkewajiban untuk memberimu uang, bukan menitipkan tapi memberi." Kata Ubai ketika melihat Samudra memberikan uang itu pada Rasya.


"Sudah, jangan banyak ceramah. Aku tahu kewajiban ku," ungkap Samudra Sambil melengos pergi. Lebih dulu meninggalkan unitnya, Ubai menyusul dari belakang.


Kini keduanya, sudah berada di dalam mobil mewah tersebut. Untuk pergi ke kantor dan kali ini Samudra lah yang pegang kemudi.


"Besok jadi, pergi ke luar kota dan semuanya sudah aku siapkan, dan kemungkinan kita menginap di sana," Jelas Ubai.


"Iya, kau urus aja lah." Jawab Samudra sambil memfokuskan pandangan ke depan.


Ubai tidak kembali mengeluarkan suaranya, melainkan menatap roda-roda besi lainnya.


"Untuk hari ini, aku sibuk ada urusan dengan Karin," ungkap Samudra tanpa menoleh.


"Oke," Ubai mengangguk.


"Nona Rasya gimana? diantarkan ke Mension. Atau di apartemen ini saja? Ubai melirik ke arah Samudra.

__ADS_1


Sejenak Samudra terdiam, tidak menjawab pertanyaan dari Ubai. "Biar Mulan aja yang aku suruh ke apartemen, untuk menemani dia," pada akhirnya Samudra menjawab.


"Begitu juga bagus, yang penting dia tidak sendirian." Ubai mengangguk setuju.


"Perhatian amat sama dia?" sinis Samudra, melirik sekilas lalu kembali mengedarkan penglihatannya ke depan.


"Biasa aja ah, emang kenapa? ada yang aneh gitu?" Ubai malah balik bertanya pada Samudra.


Samudra menggeleng. "Tidak, tidak kenapa-napa kok."


Hening!


Kini keduanya terdiam memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing dengan pandangan ke depan.


Setibanya di kantor, mereka Langsung mulai aktivitasnya seperti biasa. Samudra masuk ke ruangannya begitupun dengan Ubai .


...---...


Setelah Samudra dengan Ubai pergi, tinggallah Rasya di apartemen tersebut. Menjalankan tugas-tugasnya di sana, sambil menunggu belanjaan datang, seperti biasa! setelah selesai membersihkan unit yang ditinggalinya.


Rasya nyetrika pakaian-pakaian yang sudah kering, sambil menonton acara kesukaannya.


Ning nong ....


Ning nong ....


Suara bell berbunyi, Rasya menoleh ke arah pintu. "Siapa ya yang datang? ganggu aja kalau orang lagi sibuk juga?" Rasya meninggalkan setrikaan yang udah dicabut duluan.


Rasya berjalan mendekati pintu dan seperti biasa, mengintip dulu sebelum dibuka.


"Tante Viona sama Om Fatir? ada apa mereka datang lagi? katanya mau balik ke kotanya?" tanya rahasia dalam hati, tangannya menarik handle setelah membuka kuncinya.


"Assalamualaikum ..." Viona Langsung memeluk Rasya setelah Rasya berdiri dihadapannya.


"Wa'alaikumus salam!" jawabnya Rasya, hatinya merasa kaget datang-datang Viona langsung peluk saja.


Sesaat kemudian, Rasya mengajak tamunya untuk masuk. "Ayo masuk, Om. Tante?"


Setelah Viona melepas pelukannya, Rasya berjalan memasuki unit lebih dulu. Lalu menyilakan tamunya untuk duduk, sementara dia mengambil air minum sebentar ke dapur.


Sesaat kemudian Rasya kembali dengan membawa dua gelas air minum buat Viona dan Fatir ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2