
Ketika tengah malam. Samudra keluar kamar dan penasaran dengan kamar Rasya yang tidak tertutup rapat pintunya.
Melangkah maju. Mendekati sebuah kamar yaitu yang ditempati oleh Rasya. Tangan Samudra menarik handle untuk menutupnya, tetapi manik matanya melihat Rasya tidur telungkup tanpa selimut yang menutupi tubuhnya.
Dengan refleks langkahnya maju Samudra tertuju pada tempat tidur tersebut, sejenak berdiri di tepi tempat tidur terutama pada tubuh Rasya yang telungkup itu. Tangannya tidak jauh dari ponsel baru yang Samudra berikan.
"Dasar gadis bagasi. Eh gadis satu milyar, tidur gak pake selimut! bukannya gak tahan dengan suhu AC?" gumamnya Samudra sembari menggeleng.
Lengan kekar Samudra menarik selimut yang Rasya tindih, lalu memasang selimut tersebut ke tubuh gadis itu, Sampai menutupi pundaknya.
Lanjut menggantikan lampu menjadi temaram dan mematikan AC juga. Samudra berdiri memandangi wajah gadis itu yang menyamping.
Bibir Samudra tertarik ke samping, melengkung membentuk sebuah senyuman tipis. Tanpa sadar Samudra duduk di tepi tempat tidur tersebut tatapannya semakin lekat dan jarinya menyentuh rambut Rasya yang terurai. Dimainkannya perlahan.
"Hem ... cantik juga ini gadis bagasi alias gadis satu Miliyar ku." Samudra memicingkan matanya dan tangan dengan betahnya melintir rambut gadis yang sedang tertidur tersebut, netra nya pun anteng memandangi.
"Eeh, ngapain gue memuji dia? ih ... apa istimewanya dia?" Samudra melonjak berdiri, memutar badan lalu pergi melintasi pintu. Lalu menutupnya.
Kemudian Samudra kembali ke kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit dengan bibir yang mengembang.
Mengingat sang kekasih yang selalu memberi sentuhan kasih sayang seperti di pipi, kening dan di bibir. Malah sebentar lagi mereka akan bertunangan.
Namun detik kemudian Samudra melonjak bangun dan menurunkan kakinya ke lantai.
Perutnya terasa keroncongan. Cacing-cacing di dalam sana beramai-ramai berdemo, mengeluarkan suaranya. Meminta jatah masing-masing.
Samudra berjalan kembali menuju ruang makan, kali saja masih ada sisa makanan yang masih bisa dia makan.
Namun apa daya, tidak ada masakan sedikitpun yang bisa Samudra makan, hanya nasi saja yang ada di Magicom.
"Hah ... sial, gak ada makanan lagi. Perutku lapar?" Samudra mengusap perutnya yang semakin kacau dengan yang berdemo.
__ADS_1
Mengambil air minum lantas diteguknya. Siapa tahu dapat mengganjal rasa lapar yang kini menyerang. Tetapi sia-sia, tangan Samudra menuangkan kembali air ke dalam gelas. Namun sekarang ukurannya tidak banyak.
Samudra bawa gelas itu menuju kamar Rasya, entah apa maksudnya pemuda tersebut. Membawa air ke kamar tersebut.
Retttt ....
Pintunya Samudra dorong lalu masuk, berjalan dengan langkah lebar. Bibirnya tersenyum.
Menyimpan gelas di atas nakas. berdiri yang tidak jauh dari Rasya berbaring namun kini sudah merubah posis nya menjadi terlentang.
"Hei ... gadis bagasi. Eh gadis satu milyar, ah apalah itu, bangun?" Samudra membangunkan Rasya yang sedang tidur nyenyak tersebut.
Namun gadis itu tidak bergeming, membuat Samudra kembali mengeluarkan suara baritonnya itu.
"Hi ... bangun! buatkan saya makanan, lapar nih?" berharap Rasya bangun dengan cepat.
Tetapi tetap nihil. pergerakan gadis itu cuma mengusap ujung bibirnya saja. Tanpa membuka matanya sama sekali.
"Bangun ..." kini suara Samudra memekik lebih keras dan dekat telinga Rasya.
Rasya hanya menggaruk-garuk kepalanya lalu menarik selimut menutup kepalnya.
Bibir Samudra menyungging. sambil menggelengkan kepalanya. Lantas tangan Samudra mengambil gelas yang tadi dia bawa, dengan tidak merasa ragu. Memercikan air ke wajah Rasya yang tertidur lelap.
Mendapat percikan air. Sontak Rasya melonjak bangun sambil bersuara, namun mata masih juga tertutup. "Hujan-hujan, payung mana payung?"
Dengan cepat tangan Rasya menarik tubuh Samudra yang sedang sedikit membungkuk ke arahnya.
Samudra kaget, tak ayal tubuhnya malah tertarik dan terjembab dia atas tubuh Rasya auto terdorong ke belakang.
Membuat wajah mereka begitu dekat. Kedua siku tangan Samudra menjadi tumpuan menahan beban tubuhnya agar tidak menindih tubuh mungil tersebut.
__ADS_1
Dengan dada yang berdebar, Samudra menatap wajah cantik Rasya yang hanya berjarak beberapa Senti itu. Sehingga napas samudra yang mendadak memburu menyapu kulit wajah Rasya yang kini terbuka kedua matanya. Membalas tatapan Samudra.
Ketika Rasya tersadar. Rasya menjerit dan dengan reflek mendorong tubuh Samudra dengan kedua dengkulnya sekuat tenaga. "Aaaaaa ...."
Menjadikan tubuh Samudra kini terjembab ke belakang, terduduk ke lantai dan sontak meringis merasakan tulang ekornya yang nyeri.
"Kamu apa-apaan mendorong saya?" pekik Samudra sambil meringis, pinggangnya pun tak ayal terasa sakit.
Rasya memegang selimut menutupi dadanya, tampak ketakutan. "Anda yang apa-apaan? kau mau perkosa aku ya, jangan, Tu-Tuan. Aku masih pera-wan."
"Kau sudah gila apa? siapa yang mau perkosa kamu? sembarangan kalah ngomong!" Samudra berusaha bangun lantas mendudukkan dirinya di sofa dengan wajah tetap meringis.
"Terus anda mau apa menindih tubuh ku kalau gak mau mesum? dasar laki-laki tidak mau mengakui kesalahannya." Rasya tidak percaya begitu saja, jelas-jelas wajah mereka begitu dekat dan tubuh Samudra sudah jelas berada di atas tubuhnya.
"Saya mau bangunkan kamu, masakan saya sesuatu. Perut saya lapar! bukan mau mesum? sembarangan.
"Bohong? buktinya kau berada di atas tubuhku dan hampir mencium ku kan? Aaaaa ... jangan-jangan kau sudah mencium ku! itu ciuman pertamaku! atau kau sudah menggerayangi tubuh ku kan? ngaku?" Rasya tetap tidak percaya.
"Kau ini sudah gila apa ha? mana ada saya melakukan itu? saya tidak tertarik sama tubuh mu itu yang kecil tidak ada menarik-narik nya buat saya. Kau itu tidak selevel dengan saya, tipe wanita idaman saya bukan seperti kamu," ungkap Samudra dengan suara keras.
"Akh, bohong! mana aku tahu kalau anda melakukannya. Orang aku sedang tidur, kan?" Rasya kekeh dengan pendiriannya.
Samudra semakin kesal dengan Rasya yang keras kepala dan tidak mempercayai omongan dirinya. "Terserah! mau percaya atau tidak. Yang jelas saya tidak melakukan apapun."
Samudra berdiri dan mendekati Rasya dengan mata melotot, saat ini Samudra menjadi marah. Dia paling gak suka kalau omongannya ada yang bantah.
Rasya semakin ketakutan. "An-anda mau apa? ja-jangan apa-apakan aku, Tu-Tuan aku masih pera-wan ti-tidak tahu apa-apa," omongan Rasya semakin ngelantur dan ucapannya terbata-bata.
Samudra meraih tangan Rasya yang langsung mendapat tepisan kasar dari gadis itu. Namun tangan Samudra kembali menggenggam kuat tangan Rasya, Rasya di tarik paksa untuk mengikuti langkahnya yang lebar keluar dari kamar tersebut.
Rasya kaget dan berusaha berontak. "Mau dibawa kemana aku,Tuan? tolong jangan sakiti aku, aku mohon, Tuan?" suara Rasya memelas ....
__ADS_1