Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 99 Hadiah


__ADS_3

"Jangan merepotkan, kami cuma sebentar kok." Viona menggeser duduknya agar Rasya duduk bersama mereka.


"Kami cuma mau pamit, kalau mau pulang ke Surabaya! kalau Om sih pasti akan sering ke Jakarta mengingat kerja sama dengan mas Suyoto dan Samudra sendiri." Imbuhnya Fatir sambil meneguk minumnya.


"Ooh, gitu?" Rasya mengangguk pelan.


"Tante akan merindukan mu, Nak!" ucap Viona menatap lembut ke arah Rasya yang menunduk. Ada rasa berat dalam hati Rasya seakan berpisah dengan orang tua kandung saja.


"Aku juga pasti akan kehilangan Tante dan Om. Kenapa Tante gak tinggal di kota ini saja?" Rasya membalas tatapan Viona yang menggetarkan hati.


"Kalau untuk tinggal, Tante gak bisa karena di sana ada adik mu dan usaha kerjaan Tante di sana pula." Balas Viona sambil memeluk bahu Rasya dengan penuh kasih.


"Ooh, iya kalau begitu." Lirihnya Rasya.


"Ini. Kami mau memberikan ini buat kamu." Viona memberikan sebuah kotak kecil dan sejumlah uang ke kepada Rasya.


"Apa ini Tante?" Rasya menatap heran kepada Viona dan Fatir yang yang menyodorkan barang tersebut.


"Ini buat kamu." Viona membuka kotak tersebut dan mengambil isinya yang ternyata sebuah kalung emas berhias permata biru.


"Ini, buat aku?" Rasya merasa tidak percaya dengan yang dia lihat dan dia dengar itu.


"Iya, buat kamu. Hadiah dari om dan Tante! terimalah?" ucap Viona sambil tersenyum manis kepada Rasya.


"Benar, Itu hadiah dari kami buat kamu. Pakailah?" imbuhnya Fathir sambil menunjukkan wajah yang begitu ramah dan begitu menyayangi gadis yang ada dihadapan matanya itu.


"Tapi, rasanya ini terlalu mewah, Om. Tante." Rasya begitu ragu-ragu untuk menerimanya.


"Nggak, biasa aja kok. Terima ya? sini Tante pakaikan!" Viona mengarahkan tangannya untuk memasang kalung itu di leher Rasya.


Rasya sedikit memunggungi Viona. Dengan perasaan yang tidak menentu dia terdiam, dan memegang kalung yang sedang Viona pasangkan tersebut.


"Tuh ... kan cantik, cantik sekali kamu pakai," kata Viona menatap intens pada Rasya.


"Aku, aku nggak tahu harus berkata apa? hanya kata terima kasih yang bisa aku ucapkan, dan semoga Allah yang membalas kebaikan Tante dan Om," Rasya menunduk sambil memegangi tangan Viona.

__ADS_1


"Iya sama-sama. Aamiin. Terima kasih atas doanya? ya sudah Tante pulang dulu ya? baik-baik kamu di sini!" sambil merangkul bahu Rasya dipeluknya erat.


"Tante juga hati-hati, Om. Terima kasih? sudah memberikan hadiah ini pada ku dan aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa?" ucap Rasya yang ditujukan pada Fatir.


"Tidak perlu kamu membalasnya, kamu terima dan mau pakai aja kami sudah bahagia kok," balasnya Fathir.


Kemudian mereka pun berpamitan, karena harus segera ke bandara. Rasya mengantarnya sampai ke depan pintu.


"Nanti kapan-kapan, Om pasti akan mengunjungimu di sini, dan sekali lagi kamu baik-baik ya?" ujar Viona sambil berdiri di depan pintu memegangi kedua tangan Rasya erat.


"Ooh ya, kamu harus pandai-pandai mengambil hati Samudra, bagaimanapun dia itu suamimu. Bagus-bagus kalau dia nggak jadi menikahi kekasihnya," ucap Fatir penuh dukungan pada Rasya dan samudra.


Viona menatap ke arah Fatir yang mendukung Rasya dan Samudra bersama.


"Omongan, Om itu benar. Kamu harus pandai mengambil hati Samudra, buat dia mencintaimu. Jangan biarkan kekasihnya memiliki dia seutuhnya, karena Samudra juga yang hak kamu sebagai istrinya." Sambung Fiona.


Rasya tersenyum dan hanya mengangguk, jujur dia kurang paham dengan yang mereka berdua ucapkan, namun berusaha untuk mencerna maksud dan tujuan dari Fiona juga Fatir tersebut.


"Ya, sudah. Kami pergi dulu. Assalamualaikum?" kata Viona dan fatir berbarengan.


Setelah mereka tidak lagi terlihat oleh manik Rasya. Membalikan badan untuk kembali masuk, namun sebelum menutup pintu. Paket belanjaan online dia datang.


"Ooh ... belanjaan ya Mas? berapa semuanya?" tanya Rasya kepada pengantar paket tersebut.


"Semuanya Rp 150.000. Non!" sahutnya si pengantar paket tersebut.


Rasya segera merogoh sakunya untuk mengambil uang dari Samudra yang buat belanja online itu. "Kembaliannya buat Mas ajalah." kata Rasya.


"Kembaliannya rp50.000 apa nggak kebanyakan?" orang itu sedikit bengong.


"Nggak ambil aja, Makasih ya Mas? Rasya segera mengambil belanjaannya, buru-buru masuk dan mengunci pintu kembali.


"Lumayan ... rp50.000×10 orang aja dalam sehari, rp500.000 deh. Ongkos jalan." Gumamnya orang tersebut sambil membawa langkahnya menjauhi unit Samudra.


"Sekarang capcus ... masak." Gumamnya Rasya sambil mengeluarkan bahan-bahan dari kantongnya.

__ADS_1


"Aku mau masak terong goreng ah, tapi ... terongnya sama besar, mirip punya tuan muda! eh salah?" tangan Rasya menutup mulutnya sambil tertawa, mengingat yang pernah dia lihat dari Samudra waktu itu.


Lalu dia menggelengkan kepalanya kasar. Untuk membuang pikiran yang kemana-mana.


"Timun ini juga mirip sama punya tuan," ucap Rasya.


Tangannya memegangi timun, ditatapnya dengan intens, lantas dia tergelak tertawa sendiri, tetap aja sayuran yang barusan Rasya sebutkan itu menyambung dengan yang pernah dia lihat itu dari Samudra.


"Hi hi hi ... jadi malu!" Rasya mulai eksekusi terong dan timunnya. Menggoreng ayam dan ikan juga telor.


Sayur bening bayam campur jagung. Sambal goreng buat temanya timun.


Rasya menghentikan aktivitasnya, meraba dan melihat kalung yang menggantung di lehernya.


"Ya Allah ... seumur hidup baru kali ini aku memakai kalung, cincin juga." Netra nya beralih melihat pada cincin yang melingkar di jari manisnya yang di dalamnya ada nama Samudra.


"Ooh, iya, uang yang dari Tante Viona di mana ya? aku lupa nyimpan dimana?" Rasya balik ke ruang tengah mendekati meja sofa yang tadi, dan benar saja berapa lembar uang yang berwarna merah itu ternyata tergeletak di sana.


Rasya segera mengambil dan memasukkannya ke dalam saku roknya.


"Untung di sini, tapi untuk apa ya? uang sebanyak ini? orang belanja aja tinggal minta sama Tuan kok, terus aku menyimpan uang buat apa?" kepala Rasya menggeleng.


Lantas buru-buru balik lagi ke dapur untuk meneruskan masaknya, sambil bernyanyi lagu-lagi kesukaannya.


🎶jika aku terpaksa ... sehidup memendam rasa. Tentu engkau pun tahu, sebabnya hatiku terluka.


🎶cobalah kau pikirkan ... kesilapan dirimu, tanpa belas kasian, kau menyiksa dibatinku.


"Hik hik hik ... kok jadi sedih sih menyanyikan lagu ini?" ucap Rasya sambil menuangkan lauk pauk yang sudah matang ia simpan di meja.


Dalam waktu sekejap, masakan pun sudah siap tinggal menatanya di meja, Rasya begitu menikmati perannya sebagai istri khususnya sebagai asisten di unit tersebut. Hatinya yang merasa bebas dan bahagia, walau kadang sikap Samudra bikin jengkel ....


.


Tolong bila ada typo yang salah! tandai dan bilang ya? agar aku segera revisi.

__ADS_1


__ADS_2