
Pas Karin terbangun, dia mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan yang rasanya tidak ia kenal sama sekali. Maniknya yang indah terus mengitari ruangan tersebut.
Karin memutar memorinya untuk mengingat kejadian apa yang sudah ia lalui semalam, beberapa kali jari-jemarinya menggosok manik matanya sembari bergumam. "Aku berada dimana sih?"
Sembari memegangi kepalanya juga yang terasa sedikit pening dan pusing.
Karin kebingungan, dengan yang sudah terjadi pada dirinya, ketika kesadaran nya pun pulih. Betapa kagetnya dia ketika netra nya menangkap ada pria gempal berada di sampingnya tanpa baju dan masih tertidur nyenyak itu.
"Ya, ampun ... apa yang sudah terjadi padaku?" Karin memegangi kepalanya. Apalagi ketika ia mengibaskan selimut dan mendapati tubuh nya yang tidak berkain sedikit pun itu.
Karin melonjak bangun dan mendapati bercak merah di seprai bawah tubuhnya. Dia mengusap wajahnya kasar, ada rasa sesal dan kehilangan menghantui jiwanya.
"Ahhhhhh ... tidak ... apa yang sudah kau lakukan pada ku? dasar kau bejat, kurang ajar. An-jin-g lu, mo-ny-et lu. Bandit tua dasar." Karin teriak-teriak sambil memukul-mukul pria itu membabi buta.
Membuat pria itu terbangun dan kaget, tangannya langsung menyambar tangan Karin yang terus-terusan memukul. dirinya. "Apa-apaan ini?
"Kau bandit tua yang yang apa-apaan? kau sudah meniduri ku, kurang ajar." plak! telapak tangan Karin menampar pipi kanan pria itu.
"Kau sudah gila ya! ngamuk pada orang yang sedang tidur," bentak pria itu sembari melotot dan tangannya mengunci tangan Karin serta menatap intens ke arah tubuh Karin yang di tutupi selimut namun merosot.
"Kau yang sudah gila sudah merenggut kesu-cian ku! kau yang gila dan tidak tahu diri? kau sudah merenggut yang ku punya. Kau pikir aku wanita nakal apa hah? aku wanita baik-baik brengsek?" Karin berusaha menarik tangannya dan berusaha memukul kembali.
Namun yang ada, tubuh Karin di dorong ke belakang dan langsung tubuh gempal dan kekar itu, menindih tubuhnya Karin yang masih polos tersebut.
Jiwa lelakinya kembali mencuat dan berhasrat untuk mengulang yang semalam lagi. Kedua netra nya yang nakal memandangi Karin dengan hasrat yang menggebu. Karin berontak dan mengangkat dengkulnya. Agar memberi jarak antara tubuhnya.
Namun tangan pria itu membukanya dan menindihnya, sehingga tubuh mereka rapat tanpa celah.
"Lepaskan keparat? kau sudah merenggut ku, tanpa permisi kau sudah datang mengambil kesucian ku! cuihh." Karin meludahi wajah pria itu.
Pria itu mengusap wajahnya yang kena cipratan air liur dari Karin, menatap dengan sangat tajam, lantas membungkam mulut Karin dengan mulutnya, menciumi Karin dengan kasar.
"Kau tidak perlu menolak cantik, bukankah semalam kita begitu menikmatinya?" suara pria tersebut bergetar dan dari wajahnya pun sudah ketara dipenuhi dengan nafsu syahwat yang bergelora.
Bisikan pria tersebut bikin merinding dan was-was, takut juga cemas. Karin teriak-teriak memanggil nama asistennya dan meminta tolong.
"Percuma kau meminta tolong, teriak pun percuma karena tempat ini kedap udara sayang. Cantik ... buat apa kau buang-buang energi untuk itu hem? santai, rileks agar kita bisa menikmati satu sama lain. Kau begitu nikmat baby, saya tidak menyangka kalau kau ternyata masih virgin sebelumnya, ohk ... saya sangat beruntung mendapatkan kevirginan mu baby?"
Pria itu berucap sambil terus mencumbu Karin tanpa henti dan penuh hasrat yang sangat besar.
"Tolong? tolong ... lepas bandit tua, lepaskan saya? saya tidak sudi melayani mu, lepaskan ...."
Karin terus meronta ingin keluar dari kungkungan pria tersebut, kedua tangannya terkunci di atas kepala sehingga mengekspos yang ada di tubuhnya itu. Semakin membuat pria itu leluasa untuk melancarkan semua aksinya.
Karin yang terus berontak pun sia-sia, karena tenaga Karin kalah dengan tenaga pria gempal dan kekar tersebut. Dan lama-lama tubuh Karin melemas, capek.
"Sebaiknya kau itu nurut saja, buat apa berontak cantik! tidak ada gunanya juga, yang ada kau capek sendiri. Dan kau tidak perlu munafik! karena tubuh mu ini merespon setiap sentuhan dari ku! buktinya kau sudah banjir duluan ha ha ha ...."
Pria itu semakin menempelkan bagian tubuhnya pada Karin, yang kini tampak pasrah dan buliran dari sudut matanya pun menetes membasahi ke ujung tinga.
__ADS_1
"Kan enak, begini santai. Dan mari kita bersenang-senang dengan ku? kau tidak perlu khawatir! kau akan mendapat bayaran yang fantastis dari ku. Dan itu janji ku padamu," jari tangan pria itu menyeka air bening dari sudut mata Karin.
Sungguh Karin menyesali ini semua, yang tadinya ingin melepas virgin nya itu dengan sang kekasih, Samudra. Namun beberapa kali Samudra menolak karena kekeh ingin halal dulu, tetapi pada kenyataannya Samudra malah mengkhianatinya dengan cara menikahi wanita lain.
Dan timbullah kebencian di hati pada wanita yang sudah merebut Samudra dari tangannya. Dia yakin hubungannya dengan Samudra tidak akan hancur bila tiada ada wanita tersebut dalam kehidupan Samudra.
"Aku benci kamu wanita penggoda, Kau yang sudah merebut kekasih ku! dasar wanita ******, wanita penggoda. Wanita perebut calon suami orang, ku sumpahi hidupmu tidak akan tenang, dan suatu hari nanti Samudra akan kembali padaku, karena akulah cinta sejatinya." Batin Karin bermonolog.
Sementara pria itu terus mengeluarkan suara keenakannya yang memenuhi ruang tersebut.
...---...
"Aku mau yang ini kartu undangan!" Samudra mengamati stempel kartu undangan pernikahannya nanti.
"Nggak-gak, aku maunya yang seperti ini. Lebih cantik dan menarik pokoknya lebih bagus." Rasya malah inginkan yang lain.
"Tidak sayang, yang ini lebih modern dan bagus, elegan. Benarkah Mah?" Samudra melirik ke arah sang bunda.
Bu Rasya mengangguk lalu melihat-lihat keduanya yang memang sama-sama bagus itunya.
Kemudian Viona pun perhatikan kedua kartu tersebut. Bagus, Mbak! dan ini paling bagus dari percetakan ini!"
"Gimana dong? anak-anak maunya berbeda-beda." Bu Riska sedikit mengeluh dengan pilihan anak dan mantunya.
"Aku maunya yang ini Bunda." Rasya menunjukan kartu yang sebelah kiri.
"Saya lebih suka yang ini nih, lebih bagus dan elegan." Tunjuk Samudra pada yang sebelah kanan.
"Kau gimana sih? undangan itu buat di sebar, bukan untuk di koleksi. Gimana sih?" ketus Samudra pada sang istri.
"Itu benar sayang ... bukan buat koleksi lho!" Bu Riska membenarkan perkataan dari putranya.
"Bunda?" Rasya menoleh pada sang bunda.
Viona menunjukan senyumnya sembari berkata. "Memang benar kata mama Riska dan Sam. Sebagus apapun undangannya, kan bukan buat kita sendiri tapi buat dikasihkan orang."
"Iih, gimana sih? kok aku gak da dukungan sama sekali sih?" Rasya kesal dan memajukan bibirnya ke depan.
"Makanya sudah, nurut saja pada ku, kalau kau mau koleksi aku belikan satu saja." Samudra mencubit pipi Rasya kanan-kiri.
"Em ... sakit!" Rasya menepuk pipinya.
Sementara pihak dari percetakan tersenyum lalu berkata. "Kartu yang jadi pilihan tuan muda memang kualitasnya lebih bagus dan harga nya pun lebih mahal."
Samudra memainkan matanya pada Rasya, seolah berkata kalau pilihannya lebih berkualitas dan lebih mahal.
"Tuh kan ... lebih mahal?" Rasya menatap kartu tersebut.
"Kualitas bagus dan harga mahal itu tidak masalah sayang, sebab harga mengikuti kualitas." Timpal Bu Riska.
__ADS_1
Viona pun mengangguk ke arah Rasya yang akhirnya menyetujui pilihan dari Samudra.
"Baiklah. Kalau begitu! aku ngikut saja lah!" ucap Rasya pasrah.
Setelah sepakat dengan desain kartu undangan, dan sekitar dua ribu undangan harus dengan cepat selesai. Dan mereka pun menyetujui permintaan klien nya.
Kemudian Bu Riska, Viona dan Rasya juga Samudra, langsung beranjak dan berjalan beriringan keluar dari gedung tersebut.
"Aku mau makan, lapar?" gumamnya Rasya ketika melihat ke arah tukang seblak dan baso tusuk.
Viona yang sudah ada janji dengan Bu Riska akan ke kedai dan kebetulan pak Suyoto pun sudah berada di tempatnya Fatir. Memilih untuk di jemput supir.
Membiarkan Rasya dan Samudra berdua menghabiskan waktu bersama di sana, sebelum nanti sore berangkat ke Jakarta.
"Bunda sama mama mau pulang dengan supir, kalian kalau mau jalan-jalan, silakan saja." Viona menatap ke arah Rasya yang sedang mengedarkan pandangannya ke lain arah.
"Ha? capek lah Bunda jalan-jalan, kan Sam bawa mobil. Masa mau jalan ahk?" protes Rasya.
"Itu maksud Bunda. Jalan pakai mobil sayang ..." Viona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Terus aku ditinggalin gitu?" tanya Rasya pada sang ibunda.
"Ya, itu bagus. Dengan senang hati, Bunda. Mama! pengertian banget." Samudra tersenyum.
"Iih, apaan sih?" Rasya mendelik pada Samudra yang menunjukan giginya yang putih bersih itu.
"Iya, Mama ada janji dengan ayah Fatir di kedai. Nanti kalau kalian ingin menyusul ke sana saja." Balas Bu Riska pad putranya.
"Kayanya nggak deh, Bun. Oya nanti sore kita bertemu di rumah untuk balik ke Jakarta," ucap Samudra.
"Ya sudah, kalau begitu. Mama pergi dulu ya? itu mobilnya sudah datang ya jeng?" Bu Riska melirik pada Viona.
"Iya. Mbak, kita pergi sekarang? sayang. Bunda pergi dulu ya?" Viona memeluk hangat dan mencium keningnya singkat.
"Bunda hati-hati ya?" Rasya mencium punggung tangan bunda dan mama Riska.
"Mau kemana nih?" tanya Samudra setelah mama mertua dan mama Riska pergi dengan mobil jemputan nya.
"Mau makan itu, seblak dan baso tisuk! beli dulu ya?" Rajuk Rasya sembari memegangi tangan Samudra.
Kedua netra nya Samudra melihat ke arah tangan yang dipegangi Rasya, dan Rasya langsung melepaskannya takut Samudra tidak suka.
"Kenapa di lepas?" tanya Samudra heran.
"Takut kau tidak suka!" Rasya seraya berjalan melipir untuk menjangkau yang jualan seblak.
Samudra menyusul dan meraih tangan Rasya yang terus berjalan ....
.
__ADS_1
.