Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 150 Buket bunga


__ADS_3

Hari ini Samudra dan keluarga akan mengadakan jumpa pers, namun Samudra malah menghilang entah kemana? yang ada hanya Ubai dan kedua orang tua Samudra. Yang tidak tahu harus berkata apa, mau bilang yang sesungguhnya atau menutupi? karena yang seharusnya memberikan konfirmasi adalah Samudra pribadi.


Sehingga acara jumpa pers pun tidak memberikan informasi yang jelas, dikarenakan orang yang bersangkutan itu tidak ada hadir di tempat.


"Terus Samudra kemana, Bai? tadi bersama kamu kan di kantor kenapa ke sini nggak bareng?" tanya pak Toyota kepada ubay sang asisten putranya.


"Saya kurang tahu, Om. Saya dari kantor sendiri, tadi pun dia bilang mau ke sini. Tapi entah! aku telepon berkali-kali nggak diangkat!" Ubai menggelengkan kepalanya, merasa pusing tidak mengerti dengan pemikiran Samudra.


Terus dia di mana dong? Mama telepon pun nggak diangkat Pah." bu Riska perlihatkan wajah yang cemas.


"Tenang, Mah ... tenang! mungkin dia sengaja menghindari wartawan saja," ucap pak Suyoto menenangkan sang istri.


"Iya bener, Tante. Mungkin dia sedang menghindar saja dari media, Mungkin dia belum siap juga untuk yang dikonfirmasi pada media," tambah Ubai sembari mengangguk membenarkan perkataan dari pak Suyoto.


"Terus gimana dengan media sendiri? mereka tuh akan terus mendesak kita meminta konfirmasi, kita harus bilang apa? terus! bilang kita sedang akting gitu?" tanya bu Riska pada sang suami dan Ubai melihatnya bergantian.


Pak Suyoto dan Ubai saling bersitatap. Mereka pun merasa bingung karena tidak punya wewenang untuk mengatakan yang sesungguhnya.


"Kemana sih Sam ... setidaknya mama telepon itu diangkat, Pah ..." gumamnya bu Riska kembali.


"Iya sabar ... nanti juga Samudra kembali, dia bukan anak-anak lagi dan dia harus punya tanggung jawab sendiri," Pak Suyoto terus menenangkan sang istri seraya mengusap punggungnya dengan lembut. Dia pun sebenarnya kesal dan kebingungan.


"Sebaiknya kita bubarkan saja medianya, kita nggak jadi untuk memberikan konfirmasi hari ini, karena orang yang bersangkutan berhalangan hadir di sini," ucapnya Ubai kepada Pak Suyoto dan bu Riska.


"Oke-oke, terserah kamu sajalah. Bai, saya pusing memikirkannya anak itu benar-benar bikin malu dan tidak bertanggung jawab," gerutu pak Suyoto dan menyerahkan semuanya pada Ubai.


Kemudian Ubai menemui para media yang berada di depan, Ubai berusaha menjelaskan dengan hati-hati.


Sebagian wartawan pun mengerti walaupun sedikit merasa kecewa, karena mereka tidak mendapatkan berita yang akurat, jumpa pers yang sudah ditunggu-tunggu batal begitu saja. Dikarenakan ketidak hadirannya Samudra.


Ada juga berapa media yang menggerutu kecewa, benar-benar dibuat kecewa! mereka merasa berada di tempat tersebut hanya membuang-buang waktu saja, tanpa mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.


Pada akhirnya media pun bubar dan Pak Suyoto memohon maaf yang sebesar-besarnya, kepada semua media yang sudah hadir di tempat tersebut.


Beberapa saat kemudian orang tua Karin pun datang, menemui Pak Suyoto dan bu Riska juga ingin ketemu dengan samudra.


"Assalamu'alaikum ... kebetulan sekali kalian sedang ada berkumpul!" Papanya Karin mengulurkan tangan kepada orang tua Samudra.


"Wa'alaikumus salam ... silakan duduk? berdua saja?" sambut pak Suyoto sambil menyilakan duduk kepada kedua tamunya.


"Benar kami cuma berdua saja, mana Samudra? kami ingin bertemu dia?" tanya Bundanya Karin, sambil mendudukkan dirinya di sofa berseberangan dengan tuan rumah.


"Justru itu kami sedang mencari-cari keberadaan Samudra! barusan kami mau mengadakan jumpa pers, eh ... si Samudra nggak tau ke mana? nggak datang-datang!" sahutnya bu Riska dengan tatapan yang ditujukan kepada calon besannya disebut.


Ubai memandangi wajah-wajah kedua tamu yang duduk tidak jauh dari dirinya duduk itu, yang tampak kurang bersahabat dan mungkin memendam kemarahan.


"Wah ... akan ada perang dunia kedua nih sepertinya," batinnya Ubai sambil terus mengawasi keduanya.


Setelah sejenak mereka terdiam! kemudian lama-lama mereka pun mengungkapkan kesalahannya, terhadap tingkah laku Samudra yang gencar diberitakan.


"Saya penasaran, siapa sebenarnya gadis tersebut? sehingga mereka berdua berciuman di tempat umum seperti itu. Sungguh tidak punya malu dan seharusnya Samudra sadar, kalau dia itu calon suami orang dan sebentar lagi akan menikah," ungkap papanya Karin.


Pak Suyoto dan bu Riska saling bertukar berpandangan, mereka bingung harus menjelaskan apa kepada mereka berdua?


"Kalau begini caranya, jelas saya ingin membatalkan pernikahan mereka berdua, karena saya tidak ingin putri saya dipermainkan oleh putra anda, Samudra." Ibunya Karin menatap tajam pada pak Suyoto bersama istri.

__ADS_1


"Saya pun ... tidak pernah menyangka kalau akan terjadi seperti ini, dan saya pun tidak tahu apa-apa tentang masalah mereka berdua," jawabnya Pak Suyoto berusaha tenang.


"Terus, bagaimana dengan pernikahan yang sudah tinggal menunggu waktu? kenapa tega-teganya Samudra berbuat itu di belakang putri saya? bukankah dia sendiri yang memutuskan harus cepat-cepat menikah? sebab Karin sendiri dia pengen masih berkuliah, Samudra sendiri yang ingin menikah cepat-cepat." Kini nada bicara ibunya Karin meninggi.


"Benar ... memang kami pun yang mendukung pernikahan mereka, karena menurut kami Samudra sudah cukup umur untuk menikah. Dan melihat kedekatan mereka berdua apa salahnya jika Samudra dan karin secepatnya menikah? untuk menghindari salah satunya fitnah," ungkapnya bu Riska dengan nada yang tetap tenang.


"Menghindari fitnah? apa maksudnya? emangnya yang Samudra lakukan dengan gadis itu tidak menimbulkan fitnah? bukankah mereka berdua justru telah melakukan berzina? bahkan di hadapan orang banyak!" sergah bundanya Karin seraya mengerutkan keningnya, menatap tajam ke arah Bu Riska.


Lagi-lagi bu Riska dan sang suami saling bertukar berpandangan, bahkan kini melirik karena Ubai seolah meminta bantuan untuk menjelaskan kepada temunya tersebut.


"Jelas-jelas, kalau Samudra dan Karin itu emang pacaran dari lama, bersentuhan tangan atau apalah, itu wajar! lah ini gadis baru yang nggak jelas asal-usulnya main di sosor aja, di mana ulat malu kalian? sementara kalian punya nama yang cukup terkenal putranya berlaku seperti itu," ujar papanya Karin dengan nada cibiran.


"Mendingan batalkan sajalah pernikahannya mereka! nggak usah dilanjutkan lagi, malu ya tinggal malu. Dari pada nantinya Samudra menyakiti hati putri saya." Sambung mamanya Karin tersebut.


Bu Riska tampak menghela nafas panjang, lalu berkata. "Soal itu ... sebaiknya biarlah Samudra dan karin yang keputusannya. Kita semua tidak ada hak untuk membuat keputusan sendiri, apalagi saat seperti ini pernikahan mereka tinggal menghitung waktu saja." Timpalnya bu Riska lirih.


Sebenarnya orang tua Karin memendam rasa sangat kecewa dengan perlakuan Samudra yang seolah permainkan hati Karin, yang notabene nya calon istri. Kalau tau akan begini ... buat apa rencana pernikahan dipercepat?


"Dimana sekarang Samudra nya? dia ruruh dia keluar? saya mau bicara!" pinta papanya Karin dia yakin kalau Samudra ada di mension tersebut. Mengingat hari sudah sore dan Ubai pun ada di sana, dan pernikahan pun akan di langsungkan di tempat tersebut.


Di luar, dekor pun sudah terlihat mulai di pasang-pasang. Mengingat acara pernikahan tinggal tiga hari lagi.


"Kan tadi sudah dibilang! kami mau mengadakan konferensi pers, namun Samudra nggak datang-datang! jelas sekarang ini Samudra tidak ada di tempat ini, justru kami pun sedang menunggu dia!" timpal pak Suyoto mulai kesal.


Kini Ubai sedang berjalan mondar-mandir sembari menelepon Samudra, berharap satu kali pun diangkat oleh pemuda tersebut. Namun pada kenyataannya tetap sama, telepon dari Ubai nggak diangkat oleh Samudra.


"Gimana. Ubai? ada kabarnya dari Samudra?" tanya Bu Riska menjadi khawatir kalau kenapa-napa." Tanya ibu Riska kembali.


Lagi-lagi Ubai menggeleng sambil menyimpan ponselnya dalam saku. Dia jadi tidak habis pikir.


"Laki-laki yang baik itu masih banyak yang akan menyayangi putri kita, masih berjubel juga pria yang naksir Karin. Walaupun hubungan mereka itu sudah lama, kenapa baru sekarang Samudra kok kelihatan belangnya.'' Tambahnya ibunda Karin.


Kendati kita harus menanggung malu karena pernikahan anak kami batal! biarpun undangan sudah tersebar, kesiapan pun sudah 95% lagi." Lanjut papanya Karin kembali sembari menatap ke arah pak Suyoto dan Bu Riska.


"Beneran, Pah mendingan menanggung malu sekarang daripada nanti setelah menikah, anak kita digituin. Dikhianati bahkan diduakan! saya tidak sudi putri saya di melanjutkan pernikahannya dengan Samudra." Tambahnya ibunda Karin.


"Memang benar. Kami selaku orang tuanya Karin, tidak tega bila putri kami yang semata wayang itu menderita dan dalam rumah tangganya nanti. Sedari kecil Karin tidak pernah hidup menderita atau disakiti, hidup dia penuh kasih sayang dari ayah dan ibunya. Dia selalu mendapatkan yang dia mau! dia selalu mendapatkan kebahagiaan," ucap papanya dengan nada lantang.


"Sebaiknya ini di obrolkan dengan Samudra, mengingat acara sudah semakin dekat. Maunya di lanjut atau di batalkan? terserah. Saya sebagai orang tua tidak bisa berbuat apa-apa," ujar pak Suyoto.


"Iya, biar jelas dan membatalkan ke pihak WO biar gak jadi di pasang." Bu Riska melirik ke arah halaman yang sudah mulai di pasang tenda dan bunga-bunga lainnya.


...---...


Samudra sedang menguntit Karin yang ingin dia ajak bicara tentang pernikahan yang tinggal menunggu waktunya.


Karin yang sampai detik ini masih marah terhadap Samudra, dia begitu sulit di hubungi ataupun di temui. Seperti saat ini Samudra berusaha menemui Karin untuk meminta kejelasan soal pernikahan mereka berdua.


Biasanya Karin kalau marah itu gak pernah selama ini, dan Samudra sering dengan cepat bisa membujuk dengan kata-kata juga dengan karangan bunga kesukaannya Karin.


"Dengan bunga ini, aku harap kau hatimu bisa luluh?" gumamnya Samudra sambil memandangi bunga yang cantik nan indah berada di tangannya itu.


Kaki Samudra turun dari mobil dan kepalanya mendongak ke arah sebuah gedung yang di yakini Karin berada di salah satu ruangan dalam gedung tersebut.


Dia berjalan menyusuri jalan untuk memasuki dan mencari Karin. Kebetulan Karin sedang ada pemotretan buat iklan.

__ADS_1


Setibanya di tempat. Samudra langsung berdiri memeluk bunga untuk sang kekasih.


Karin yang melihat kedatangan Samudra, tersenyum dalam hati. Walaupun masih marah sama Samudra. Namun tetap dalam hati yang paling dalam dia tetap cinta sama pria yang sudah lama menjadi kekasihnya itu.


Samudra mendekati Karin yang lagi break, dia berlutut di hadapan Karin. "Sayang? aku minta maaf soal itu, anggap saja itu sebuah kesilapan ku, dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan memenuhi apapun permintaan dari cinta ku!"


Hati Karin dibuat langsung meleleh dengan kelakuan Samudra itu, hatinya dibuat berbunga-bunga seindah bunga yang ada di tangan Samudra saat ini.


Manik mata Karin celingukan melihat kanan dan kiri. Dengan sorot mata yang berbinar dan wajah merona bahagia.


"Ambil-ambil, bunganya ambil." Kata orang-orang yang berada di sana. Sambil menepuk tangan.


Membuat Samudra mengukir senyuman di bibirnya, mendapat dukungan dari orang-orang yang berada di sana. "Sayang, maafkan aku ya? lusa kita akan menikah. Masa kau masih mau marah pada ku? aku sangat mencintai mu! dengan sepenuh jiwa ku."


Samudra mendongak sembari menyerahkan buket bunga pada Karin yang menunduk menatap ke arah dirinya dengan lekat.


"Kau serius tidak akan mengulangi lagi? tidak akan membuat aku kecewa lagi?" Karin menatap Samudra semakin lekat.


"Aku janji sayang, dan apa selama ini aku mengecewakan mu? tidak pernah bukan?" Samudra terus meyakinkan Karin yang tampak luluh lagi.


Karin mengambil buket bunga tersebut seiring dengan senyuman yang mengembang dari bibirnya. Kemudian Samudra pun berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Meminta Karin masuk ke dalam pelukannya.


Karin pun yang terus memandangi kekasihnya dengan terus tersenyum manis. Lalu menyeruak memeluk pria tersebut dengan erat. "Aku juga sangat mencintai mu beb ...."


Keduanya berpelukan dengan erat, sesekali Karin mencium pipi Samudra kanan dan kiri. Kemudian kembali memeluk Samudra semakin erat. "Kenapa kau tega sih melakukannya dengan wanita lain? apa kau tidak mendapatkan nya dariku?"


"Em ..." gumamnya Samudra gak tahu harus menjawab apa? kerena ciuman itu memang dia sengaja lakukan pada Rasya, itu salah satu yang dia sukai dari Rasya.


Karin memudarkan pelukannya, lalu kedua tangannya membingkai wajah Samudra yang tampan tersebut, ditatapnya sangat dekat. "Apa kau tidak puas dengan ciuman dariku?"


Sorot mata Karin tertuju pada bibirnya Samudra. Kemudian mendekat dan menyatukannya dengan bibir ia yang seksi, beberapa saat adegan itu menjadi pemandangan yang biasa di mata orang-orang yang berada di sana.


Dan samudra hanya menikmati apa yang Karin berikan padanya padanya, seintens apapun dan mesra apapun rasanya beda dengan ketikan dia menyentuh Rasya. Dengan Rasya lebih gregetan, gemas serta menimbulkan sensasi yang berbeda.


Karin terus *******, dan menyapu seluruh permukaan bibir Samudra yang hanya diam menikmatinya.


"Aku ingin menghapus jejak wanita lain dari bibirmu, nggak akan ada lagi jejak wanita lain yang menempel di dirimu, kamu hanya milikku, Sam?" Karin memberi tetapan yang begitu lekat pada Samudra, dia nggak rela bila Samudra bersentuhan dengan wanita lain.


Selanjutnya Karin mengajak Samudra ke kamar hotel tempatnya menyimpan barang-barang miliknya. Ketika Karin dan Samudra masuk! orang-orang yang berada di dalam kamar tersebut pun keluar, mengerti dan memahami pada kedua sejoli tersebut.


"Kita pulang sekarang sayang?" Samudra sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tersebut.


"Nanti saja lah, masih sore kok!" jawabnya Karin sambil menarik tangan Samudra, di ajaknya duduk di tepi tempat tidur.


Kemudian Karin memeluk lengan Samudra dan meletakkan kepalanya di dada pria tersebut dengan manja.


Samudra mengecup keningnya penuh kasih sayang. Wanita ini memang sejak lama dia cintai dan gak pernah berpaling pada wanita lain kecuali Rasya yang mampu membuat hatinya goyah ....


.


.


Aku turut berduka atas musibah yang menimpa daerah Cianjur dan sekitarnya. Tgl 21 november 2022. Semoga Allah memberi ketabahan pada yang sudah merasa kehilangan. Materi ataupun keluarga nya.


Dan bagi korban yang meninggal dunia semoga meninggalnya husnul khotimah Aamiin ya Allah 🤲

__ADS_1


__ADS_2