
Setelah makan malam,Nana Dan lusi memutuskan untuk Bersantai di ruang keluarga.
Di mansion semewah dan semegah itu,hanya ruang keluarga lah yang menjadi favorit semua keluarga,padahal ada beberapa spot lainnya yang lebih manarik.tapi hanya ruang keluarga lah yang selalu di pilih.
Sesaat mereka diam,rasa canggung masih terasa sesekali.Nana tersenyum ke arah lusi begitu pun sebaliknya.
Ari sendiri tengah berada di ruang kerjanya, ada beberapa urusan yang harus di selesaikan.
Lusi:"Kak ipar."ucapnya yang mana memecah keheningan.
Nana menatap lusi yang tadi memanggilnya.
Nana:"Panggil Nana,saja."sahutnya sopan.
Lusi tersenyum"Itu tidak sopan,kak ipar."ucap lusi sopan.
Nana:"Emm baiklah,Lu-si."sahutnya gugup.
Lusi:"Jangan gugup begitu kak,santai saja."merebahkan tubuhnya malas.
Ternyata dia baik juga,aku pikir dia akan seperti nona jenia. batin nana.
Lusi dan nana terus mengobrol dengan santai,nana sendiri sudah tidak canggung lagi.karena lusi sendiri orangnya begitu cepat akrab dan menyenangkan.
Mereka mengobrol layaknya sahabat,padahal mereka baru saja bertemu.dan lusi menanyakan awal mula Nana dan ari bertemu,Nana dengan malu dan canggung menceritakan pernikahan ini bisa terjadi.tapi hanya sebagian saja yang nana ceritakan,ada beberapa hal yang tidak seharusnya lusi tahu. apalagi Nana dan lusi baru bertemu.
Lusi mengangguk-anggukan kepalanya ketika nana sudah selesai bercerita.
Lusi:"Unik juga ya."ucapnya yang selesai memakan buah segar di atas meja.
Nana hanya tersenyum malu.
Tak lama lusi mendekat ke arah nana matanya menatap anak tangga mansion seperti melihat kondisi.
Nana merasa kaget dan kebingungan,ketika lusi duduk di sebelahnya.
Lusi:"Kak ipar,bagaimana malam pertama dengan kak Ari.apa miliknya b**ar dan panj**ng."pertanyaan itu membuat nana batuk-batuk.
uhukkk... uhukkkk... Seketika lusi memberikan minumman yang sudah tersedia di atas meja.
Lusi:"Minum,kak."menyodorkan segelas Air dan nana menerimanya.
Pertanyaan yang sederhana,tapi kenapa sangat sulit untuk di jawab.batin nana yang tengah meminum Air.
Lusi:"Ya sudah,kalau kak ipar tidak mau cerita tidak apa-apa."Memakan kembali buah dengan malas.
Nana hanya diam,dia merasa itu tidak pantas untuk di ceritakan.
Tak lama lusi dan nana kembali mengobrol, lusi memberitahukan kalau dia di Sini(Negara) hanya Dua minggu saja.setelah itu dia akan kembali ke Negara M untuk melanjutkan pendidikannya.
Lusi:"Maka dari itu,kak ipar harus menemani aku berbelanja dan berkeliling Kota besar A."wajahnya begitu berseri-seri.
Lusi merasa nyaman mengobrol dengan nana istri dari sepupunya itu.
Nana:"Aku tidak bisa menemani kamu, berkeliling kota besar A dan berbelanja. karena-
Nana tidak melanjutkan ucapanya,lusi sendiri seketika mengerti dengan jalan pembicaraan itu.
Lusi:"Kak Ari begitu menjaga kamu ternyata kak ipar,aku jadi iri."mengelus pundak nana.
Apanya yang membuat iri,aku tersiksa.ingin rasanya bebas hanya untuk keluar menghirup udara segar kota ini,tapi itu hanya mimpi.aku bisa keluar waktu itu ketika aku kabur,tapi hanya sebentar.batin nana sedih.
Lamanya mereka mengobrol,dari arah tangga. mata Nana dan lusi seketika menengok ke arah suara itu.
Lusi:"Kak Ari,sudah selesai.?"tanyanya ke arah Ari yang berjalan pelan menghampiri istrinya.
Ari menjawab lewat anggukan kepalanya.
Ari:"Hon,ayo tidur."menarik tangan nana pelan.
Nana mengangguk dengan cepat,sebenarnya hatinya masih ingin mengobrol dengan sepupu dari suaminya itu.
__ADS_1
Nana:"Lusi,Saya ke kamar dulu."berdiri dan di balas anggukan oleh lusi yang tengah duduk tenang.
Mata lusi menatap kepergian kedua pasutri muda itu,samar dia tersenyum.
Lusi:"Beruntungnya kak ipar,bisa mendapatkan laki-laki seperti kak Ari.padahal dia hanya gadis dari Desa,tuhan itu Adil."gumamnya dengan merentangan tangannya keudara untuk membuang rasa pegalnya
Lusi:"Uaaahhhh aku mengantuk."beranjak bangun dan melangkah ke arah kamarnya.
.
.
.
Ari yang sudah selesai dengan urusan bersih-bersihnya,kini tengah menunggu dengan tidak sabar ke datangan istrinya di atas ranjang.
Ari:"Hon cepat,aku sudah tidak sabar."merengek memanggil-manggil nana yang tengah berada di dalam kamar mandi.
Ari:"Sabar ya junior,sebentar lagi kamu akan bertemu dengan surgamu."bergumam dengan menatap celanya yang sudah mulai sesak.
Pintu kamar mandi kini terbuka,seketika mata ari menatap istrinya yang begitu cantik dan seksi.dengan kemeja putih miliknya yang mana memperlihatkan paha mulus dan putih istrinya.
Ari menelan salpirnya dengan cepat,ketika melihat Istrinya yang berjalan pelan menghampirinya.
Ari:" wow,hon."menatap nana penuh dengan gairah.
Nana:"Ingat ya,hanya sebentar."ucapnya malu-malu.
Ari mengagguk dan mulai menerkam istrinya.
aku tidak berjanji,honey.gumam hati Ari.
Malam semakin larut,Kamar mewah itu begitu hangat dan menggairahkan.pasalnya Nana terus mendesah ketika suaminya menggagahinya.
.
.
Lusi begitu berharap bisa bertemu Kembali dengan Sekertaris jaka,tapi waktu dan tempatnya begitu tidak pas.
Lusi:"Wah kak ipar,kalungnya cantik sekali."menatap leher nana yang berhias kalung cantik dengan permata berwarna biru tua.
Kalung Nana yang sempat di curi itu,kini sudah bisa nana kenakan kembali.karena suminya meminta sekertaris jaka mengambilnya dari kantor polisi,setelah menjadi barang bukti.
Nana:"Terimakasih."sahutnya malu.
Lusi terus menatap kalung bermata biru itu, Nana merasa heran dengan lusi yang terus menatap kalungnya.
Nana:"Ada apa,lusi.?"tanyanya penasaran.
Lusi:"Kamu tau kak ipar,ini kalung bukan sembarang kalung.?"ucapnya yang masih menatap kalung nana.
Perlahan tangan nana menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.
Nana:"Maksudnya.?"menggeleng tidak mengerti.
Lusi:"Di balik batu permata ini,ada alat pelacaknya."jawabnya dengan tangan yang tengah menyentuh permata biru itu.
Nana diam,perlahan otaknya berjalan mundur.
Apa karena kalung ini dia bisa menemukanku, tapi bukannya sudah di curi orang.eh..tapikan kalung ini,!ya ya,sekarang aku mengerti. sejauh mana pun aku pergi tuan Ari pasti menemukanku.batin nana.
Lusi:"Jadi kak ipar,kemana pun kamu pergi. Suami tampanmu itu akan dengan mudah menemukanmu."mentap nana kagum.
Nana tidak menjawab,dia masih bingung dengan apa yang lusi ucapkan.
Apa dia begitu mencintaiku.batin nana dan seketika tersenyum.
.
.
__ADS_1
Di sebuah mansion mewah,tepatnya mansion tuan samuel.
Jenia menatap pantulan dirinya di depan cermin
Jenia:"Lihat saja gadis kampung,apa yang akan aku lakukan."gumamnya yang tengah memasangkan anting kecil di telinganya.
Jenia sudah selesai berlibur di Negara M,dan sudah dua hari lebih dia berada di kota A.
Dan hari ini dia berniat untuk mendatangi Nana dan Ari di mansion,karena tuan samuel sudah memberi tahukan kepada dirinya.kalau Ari dan istrinya kembali tinggal di mansion, selama tuan surya dan mommy kei berada di Negara B.
.
.
Dengan cepat jenia menjalankan mobil miliknya,dia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di mansion dan bertemu Nana. entahlah,saat ini otaknya tidak bisa berpikir dengan baik,emosi dan rasa marah sudah mengusainya.
Jenia:"Ari hanya miliku,dan akan tetap menjadi milikmu.wanita kampung itu tidak pantas bersanding dengan Ari."gumamnya dan sesekali memukul setir.
Lamanya jenia membawa mobilnya,kini dia sudah sampai di depan mansion tuan surya.
Sejenak jenia menghentikan mobilnya di pinggiran jalan dekat mansion,jenia sengaja tidak berhenti di depan gerbang mansion yang menjulang tinggi.dia takut terlihat oleh camera Cctv yang ada di sisi gerbang.
Jenia:"Aku tidak boleh takut,cinta harus di perjuangkan."guammnya.
Ketika kakinya ingin menginjak pedal gas, matanya menatap gerbang yang terbuka.
Jenia:"Siapa itu yang keluar.?"menatap lekat mobil mini Cooper yang perlahan keluar dari dalam mansion.
Jenia:"Tunggu,itu bukannya Lusi.?"mengerutkan keningnya.
Ya,Jenia menatap kaca mobil mini Cooper yang terbuka.dan melihat sang pengendara yang tengah berbicara dengan penjaga gerbang.
Jenia:"Ya itu lusi,dia di sini.?"masih menatap mobil yang di yakini di bawa lusi.
Tanpa berpikr panjang,jenia menginjak pedal gas dan menjalankan mobilnya untuk menyusul mobil mini Cooper itu.
Lusi dengan santai membawa mobilnya,dia hanya sediri.tadi ketika bersama nana,lusi memutuskan akan keluar sebentar berkeliling kota besar A,tapi niat hatinya ingin datang ke perusahaan Atmaja grup dia ingin bertemu sekertaris jaka.
Lusi:"Masih jam kerja."menatap jam di tangannya.
Ketika sedang asik membawa mobilnya,mata lusi menatap kaca spion yang ada di sisi pintu mobil.
Lusi:"Mobil siapa itu,kenapa aku merasa mobil itu terus mengikutiku.?"menatap mobil merah di belakangnya.
Lusi tidak menambah kecepatan mobilnya,dia malah menepi mungkin mobil di belakang adalah orang yang mengenalnya.
Melihat mobil yang di bawa lusi menepi dan berhenti,seketika jenia menyalip mobil lusi yang sedari tadi diam tidak bergerak.
Lusi membuka pintu mobil dia berniat untuk turun.
Bersamaan dengan itu,jenia pun membukan pintu Mobilnya dan turun.
Lusi yang kini tengah berada di ambang pintu mobil,seketika memundurkan kakinya ketika matanya menatap orang di depannya.
Lusi:"K-kau.!"wajahnya begitu ketakutan.
Jenia terus berjalan dia bahkan tersenyum senang.
Jenia:"Hai lusiana,apa kau masih ingat padaku."menyapa dengan suara dinginnya.
Lusi menelan salpirnya dengan kasar, tubuhnya bergetar,detak jantungnya begitu cepat di rasa.
Kini Lusi dan jenia tengah berhadapan.
Kenapa aku harus bertemu dengan wanita ini lagi. batin lusi.
.
.
Note:Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.
__ADS_1