
Flashback.....
Ari melangkah masuk ke dalam Mansion dengan senyuman yang menghiasi wajah Tampannya. sebenarnya, Ari ingin melakukan apa yang di katakan Sekertaris Jaka untuk menggendong Nana tapi ia terlalu Gengsi untuk melakukannya.
Melihat Tuan muda Ari datang. semua
Pelayan di Mansion itu berbaris untuk menyambut sang Tuan muda.
"Selamat datang, Tuan Muda." Seru Para Pelayan menyambut Ari dengan membungkuk memberi hormat.
Seperti biasa, Ari hanya memberi reaksi tidak perduli, kakinya berjalan angkuh tanpa menjawab salam dari para pelayan.
Ketika kakinya akan melangkah menaiki tangga. secara cepat kaki tingginya berhenti berjalan tapi tubuhnya tidak berbalik.
"Kalian jangan beranjak pergi dulu? pastikan posisi kalian tetap seperti ini! karena, calon istriku akan masuk! sambut dia seperti yang kalian lakukan ketika menyambut ku." perintahnya. lalu kakinya kembali berjalan meninggalkan para pelayan yang tengah kebingungan.
Para pelayan saling tatap merasa heran akan ucapan yang baru saja di katakan Ari, apa benar di luar ada calon istri Tuan muda Ari? tapi bagaimana mungkin, mengingat Ari begitu tertutup. siapa gerangan wanita itu? wanita mana yang mau menjadi pelampiasan si Tuan muda yang angkuh, kira-kira itu yang di pikirkan para pelayan.
Flashback off
.
.
Nana dan Sekertaris Jaka di sambut oleh para Pelayan dengan tubuh membungkuk memberi hormat kepada dirinya dan Sekertaris Jaka. jelas karena itu adalah perintah Ari.
"Selamat datang Nona muda, dan Selamat datang Sekertaris Jaka." Seru para pelayan kompak.
Nana yang melihat orang-orang menyambutnya dengan jumlah yang tidak sedikit hanya tersenyum canggung, dan dengan polosnya! Nana mengulurkan tangan berniat untuk menyalami orang-orang yang ada di hadapan nya.
Para Pelayan di buat heran akan sikap Nana, pasalnya calon Istri Tuannya itu bersikap ramah dan dengan polosnya ingin menyalami mereka.
"Perkenalkan, Nama saya Nana Amelia." ucap Nana kepada salah seorang Pelayan yang ada di barisan depan dengan senyuman manis yang menghiasi wajah lelahnya.
Si Pelayan tidak berani menyambut tangan Nana yang masih mengayun di udara. dirinya hanya diam terpaku melihat tangan Nana seolah bingung harus berbuat apa? detik berikutnya, Pelayan itu melirik Sekertaris Jaka seolah meminta jawaban apa boleh menerima salam dari Nana atau tidak.? begitulah arti tatapan pelayan itu kepada Sekertaris Jaka.
Sekertaris Jaka menganggukkan Kepala kearah Pelayan itu tanda pelayan itu boleh menerima salam tangan Nana.
Si pelayan tersenyum sumringah. kemudian tangannya ia usapkan keatas permukaan bajunya sebelum menerima menjabat tangan Nana. "Selamat datang Nona Nana,
Nama Saya Cika, Nona."
__ADS_1
"Salam kenal. Nona Cika." sahut Nana senang karena ada orang yang bisa berbicara sopan kepada dirinya.
"Maaf Nona, Panggil saja nama saya Cika." wajah si pelayan terlihat memerah karena di panggil dengan sebutan Nona.
"Itu terdengar tidak sopan Nona Cika, anda terlihat lebih tua dari saya." Ucap Nana tidak enak.
"Tidak Nona, saya hanya pelayan di sini."
"Tapi-
"Mau sampai kau berdiri di situ?" Suara bariton itu memecah keheningan yang tercipta di dalam mansion.
.
.
Sebenarnya, tadi Ari tidak benar-benar pergi ke kamar, dirinya menunggu Nana masuk, dan ingin melihat ekspresi sang dara melihat Pelayan yang menyambut dirinya. dan benar saja dugaan ari. bahwasanya Nana akan melakukan hal yang konyol! dengan menyalami satu persatu Pelayan yang ada di dalam Mansion.
Gadis ini benar-benar polos dan konyol, dia akan menyalami Pelayan ku satu persatu? dasar Gadis desa. cibir Ari dalam hati.
"Kalian semua kembali bekerja, mau sampai kapan berdiri di situ." .Perintah Ari kepada semua Pelayan di saat kakinya menuruni anak tangga.
Semua Pelayan mengangguk patuh dan secara bersamaan bubar barisan meninggalkan Nana yang masih berdiri seperti patung.
"Kenapa kau lama sekali? untuk apa menyalami mereka itu tidak berguna, mereka hanya Pelayan di sini." celoteh Ari ketus.
"Tapi, tuan Ari-"
"Sudahlah, kau selalu saja menjawab." ucap Ari kesal karena Nana selalu saja memberi jawaban atas pertanyaannya.
Pria ini benar-benar menyebalkan, tadi dia bertanya tapi- menyebalkan. batin Nana tidak terima. ketika Ari memberi jawaban seakan tidak mau kalah.
"Pelayan? antar gadis ini ke kamarnya." memerintah tapi matanya terpaku melihat Nana.
Dari arah belakang datang satu pelayan wanita dengan menundukkan kepala "Mari Nona muda, saya antar ke kamar."
"Bantu dia bersiap, untuk makan malam." titahnya lagi.
"Baik, Tuan"
Nana tidak bisa berbuat apa-apa. dirinya memutuskan untuk mengikuti Pelayan itu karena itu lebih baik dari pada harus beradu argumen dengan pria seperti Ari.
__ADS_1
.
.
"Jaka, ikut aku."
"Baik, Tuan"
Di dalam ruangan yang terlihat Mewah dengan cat berwarna Gold yang di aplikasikan dengan warna Putih menambah kesan mewah Ruang Kerja Ari, di dalamnya begitu bersih dan terawat benar-benar tempat nyaman untuk menghabiskan waktu di sana.
Setelah membersihkan diri, Ari dan Sekertaris Jaka sudah berada di Ruang Kerja untuk Membahas beberapa urusan kantor yang belum terselesaikan.
Ari duduk manis di kursi kerjanya, sedangkan Jaka berada di hadapannya. Keduanya nampak serius.
"Apa ada masalah di kantor hari ini? ketika kita pergi ke Desa X.? " Tanya Ari.
"Tidak Tuan Muda, semua dalam kondisi baik.."
Ari mengangguk pelan dirinya tahu Jaka bisa di andalkan. "Dan, masalah keuangan kantor, sudah kau atasi?" pertanyaan ini adalah bukti ketika Jaka sibuk di Butik sehingga melupakan Nana.
"Sudah Tuan Muda, tidak ada yang perlu anda khawatirkan, bagian keuangan sudah mengkonfirmasi kepada saya tadi ketika kita di Butik, Tuan."
"Baguslah, aku tidak mau membuat Daddy Kecewa kepada ku." kata-kata itu syarat akan sebuah makna. ingat dirinya adalah kebanggaan Tuan Surya pemilik perusahaan Atmaja grup.
"Oh ya, Jaka? kapan Daddy dan Mommy pulang?" Tanya Ari lagi. mengingat kedua orangtuanya berada di suatu negara untuk keperluan kerja seperti biasa.
"Sekitar tiga hari lagi,Tuan." Jawab Jaka yang sedang menatap ponselnya.
"Apa adikku akan ikut pulang?"
"Saya belum mendapat Informasi lagi, Tuan."
"Baiklah, kau boleh pergi, beristirahatlah."
Jaka mengangguk cepat dan beranjak bangun lalu ia membungkuk sebelum keluar "Baik Tuan Muda, saya permisi."
"Mm."
Ari menutup mata setelah Jaka keluar dari dalam ruang kerjanya. wajahnya terlihat datar memang itu sudah menjadi ciri khasnya. Ari menghela napas panjang lalu tubuhnya bersandar. "Tiga hari lagi Daddy dan Mommy akan pulang, aku harus membuat alasan yang tepat untuk meyakinkan Mereka kalau Aku Akan Menikahi Gadis itu? terutama Daddy!"
.
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA